
Aku masih bergelung dalam selimut. Seluruh tubuhku terasa remuk akibat pertarungan antara aku dan suamiku. Ya, suamiku. Sekarang aku sudah punya suami, eh.
Mataku enggan terbuka meski aku menyadari telah memiliki suami. Jika wanita lain, mungkin akan terkejut melihat seorang pria berbaring di sampingnya saat pagi pertama setelah pernikahan, maka berbeda denganku. Aku tak terkejut sedikitpun saat dada bidang ini berada tepat di depan mataku karena sepanjang malam aku sudah beberapa kali dibangunkan oleh pemilik dada bidang itu.
"Selamat pagi, Sayang!" sapa Mas Zayn sambil merengkuh tubuhku, menarikku dalam pelukannya.
Pelukan hangatnya membuatku semakin menenggelamkan wajahku. Malu sekali rasanya saat mengingat apa yang telah kami lalui sepanjang malam ini.
"Jawab dong, Zi," pintanya dengan suara lembut.
"Apa kehabisan tenaga membuat kamu kehabisan suara juga, hem?" tanyanya menggodaku. Tangannya mulai liar mengusap punggungku dari dalam selimut.
Aku mencubit punggungnya dan ia malah tertawa. "Aduh, Pak polisi!"
"Tolong saya! Saya korban KDRT," ucapnya kemudian.
"Kalau seperti ini kamu sebut KDRT, lalu yang kamu lakukan padaku tadi malam disebuat apa, Mas?" Aku mendorong pelan dadanya dan kini kami saling berhadapan dengan posisi miring.
Ia terlihat berfikir sejenak lalu tertawa. "Ritual kenikma*tan!"
Aku menatap wajahnya yang sangat tampan meski baru bangun tidur. Ternyata begini rasanya saat kita sudah punya teman tidur yang mudah-mudahan akan selalu menjadi teman hidup.
Aku berharap pernikahan ini akan membawa kebahagiaan. Aku berharap semoga Tuhan segera mempercayakan seorang bayi pada kami berdua.
"Jangan terlalu lama di dalam, Zi. Aku juga ingin mandi!" teriak Mas Zayn di depan pintu kamar mandi.
Aku memang memutuskan untuk segera mandi sebelum Mas Zayn mengajakku untuk mengulang ritual yang ia maksud untuk yang kesekian kali.
"Sabar sebentar, Mas!" balasku yang sedang berdiri di bawah guyuran air shower. Aku masih ingin berlama-lama disini meski ujung jemari tanganku sudah mulai keriput karena terlalu lama terkena air.
"Aku masuk, Zi!"
"Jangan!" teriakku panik. Setelahnya, malah ku dengar ia sedang tertawa.
"Sialan," gumamku. Dia ternyata hanya mengerjaiku. Aku kan sudah mengunci pintu kamar mandi. Jadi, untuk apa aku panik.
Waktu cepat berlalu, tak terasa siang berganti malam dan malam kembali berganti dengan siang.
"Jam berapa Zilla datang, Mas?" tanyaku yang sudah tak sabar untuk bertemu Zilla yang rencananya aka menyusul kami hari ini. Namun, sejak pagi hingga siang bergini, Zilla belum juga datang.
"Entahlah Zi, setengah jam yang lalu, Zilla mengatakan kalau mereka sudah di jalan. Mungkin macet, tapi kenapa baru saja Zilla gak menjawab telepon dariku," jawab Mas Zayn yang sudah mencoba kembali menghubungi Zilla.
__ADS_1
Ku coba untuk menghubungi papa yang rencananya akan mengantar Zilla ke sini. Cukup lama papa tak menjawab telpon dariku.
"Hallo, Pa," sapaku.
"Ada apa, Zi?" tanya papa.
"Sudah sampai dimana, Pa? Kenapa kalian belum sampai?"
"Belum sampai? Zilla belum sampai, Zi?" tanya papa dengan nada terkejut.
Aku menatap Mas Zayn dengan ekspresi kebingungan. "Belum, Pa. Zilla papa yang antar, kan?"
"Enggak!"
"Ha? Kok bisa? Bukannya tadi, papa sama mama yang antar Zilla?"
"I-iya, tapi papa sama mama ada urusan mendadak. Sekarang papa sama mama sedang di taxi."
"Terus Zilla sama siapa, Pa?" tanyaku panik dan sedikit kecewa karena ternyata ada hal yang lebih penting bagi mereka selain Zilla.
"Berikan padaku!" Mas Zayn meminta ponsel di tanganku.
Mas Zayn terdengar hanya mengatakan iya dan iya saat bicara dengan papa. Aku tak mendengar apa yang papa katakan, tapi ekspresi Mas Zayn tampak sedih sekaligus panik.
"Gak ada apa-apa. Kata papa Zilla diantar sama Nia," jawab Mas Zayn.
Aku menghembuskan nafas lega. Ku kira papa membiarkan Zilla pergi sendiri entah itu bersama supir atau naik taxi.
"Biar ku coba hubungi Nia dulu!" Mas Zayn yang masih berdiri perlahan berjalan menjauh dariku dan mendekati jendela.
Mas Zayn menggeleng pelan. Ia sepertinya sedang khawatir. Apa terjadi sesuatu dengan Zilla?
"Nia bisa nyetir, kan Zi?" tanya Mas Zayn.
Aku mengangguk. "Bisa, kak Nia bisa nyetir, Mas!" jawabku spontan.
Mas Zayn terlihat menghembuskan nafas lega. "Nia gak angkat telpon dariku. Mungkin dia lagi nyetir."
"Mungkin saja, Mas."
"Balikin handphone ku, Mas!" pintaku tapi Mas Zayn tidak menggubris.
__ADS_1
"Kita sambut mereka di lobby, yuk!" Ajaknya sambil meraih tanganku untuk ia gandeng.
Aku bisa merasakan tangannya sangat dingin. Ia segera membawaku keluar dari kamar setelah menyambar tas selempang miliknya. Ya, isinya adalah beberapa barang berharga yang ia bawa termasuk uang dan kartu ATM.
"Mas, sebenarnya ada apa?" tanyaku saat kami hanya berdua di lift.
Dia malah memelukku. Aku semakin bingung. "Gak ada apa-apa."
"Terus kenapa kamu peluk aku?"
"Aku cuma ingin tahu, enak atau enggak, pacaran di dalam lift!" jawabnya bercanda.
Aku memukul dadanya pelan sambil tertawa. Aku melihat wajahnya yang masih terlihat menyembunyikan sesuatu di balik senyumnya yang palsu itu.
Kami menunggu di lobby hotel hampir setengah jam, tapi Zilla dan kak Nia belum juga datang. Mas Zayn berulang kali menghubungi Kak Nia dan Zilla, tapi tidak ada yang menjawab panggilannya.
"Kita pergi cari mereka, Zi!" Mas Zayn mengambil mobil sementara aku menunggu di lobby sambil terus mencoba menghubungi mereka dengan ponsel Mas Zayn.
"Papa?" gumamku saat melihat nama papa muncul di layar ponsel Mas Zayn.
Aku segera menjawab panggilan itu. Bukanya mau melanggar privasi, tapi sepertinya papa menghubungi Mas Zayn karena ada hal penting.
"Zayn, jauhkan Zia dari handphonenya," ucap Papa panik saat aku belum menyapanya. Papa sepertinya tidak tahu kalau aku yang menjawab panggilannya.
"Jaga Zia, Zayn! Toko kue terbakar hampir 80 persen dan pemadam baru saja datang!"
Deg!
Seketika lututku terasa lemas. Ponsel ditanganku seketika merosot meski masih ku genggam. Apa ini alasannya sehingga Mas Zayn tidak mengembalikan ponselku?
Aku duduk di anak tangga dengan pandangan kosong. Bukankah toko kue yang papa maksud adalah toko kue ku? Sudah terbakar? Hampir 80 persen?
Air mataku tumpah, toko kue yang ku bangun dari nol sudah sirna. Toko kue yang menghidupi karyawanku yang merupakan keluarga menengah bawah. Jika toko kue itu tidak ada lagi, bagaimana caranya aku bisa tetap mempekerjakan mereka?
Mas Zayn menekan klakson dan aku segera berlari menuju mobil. Aku duduk di depan dan memasang sabuk pengaman dengan cepat.
"Kita ke toko, Mas!" perintahku padanya.
Mas Zayn malah bengong menatapku. "Kita ke toko kue, Mas, sekarang!"
"Tapi, Zi ...."
__ADS_1
"Aku sudah tahu, Mas!" rengekku dengan bahu berguncang karena menangis. "Toko terbakar hampir 80 persen, Mas! Dan api belum padam."
Aku mengguncang lengannya. "Antar aku ke sana, Mas!"