Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 32 Super Hero Sakit


__ADS_3

"Sebenarnya aku masih berharap ada keajaiban, Zi. Ku harap Reza bisa berubah demi anaknya, tapi ternyata aku salah. Dia malah gak mengakui anak ini," ucap Kak Nia dengan suara pelan sambil mengusap lembut perut buncitnya.


Ku tahu ia pasti sedih dan ini berat untuknya. Bayangan masa depan yang suram sudah tergambar jelas. Bagaimana wanita muda sepertinya harus mengurus bayi tanpa sosok suami?


"Sekarang aku sudah bertekad untuk membesarkan anak ini sendirian," ucapnya lagi. Ia tersenyum, meski senyuman itu palsu. Dia hanya pura-pura tegar.


Ya, siap atau tidak, memang itu yang akan ia hadapi kelak. Dan aku hanya bisa mendoakan semoga hidupnya mendapatkan keberkahan karena dengan tulus ia mau merawat bayi tidak berdosa itu.


Aku mengangguk. Ku usap bahunya sebagai bentuk kepedulianku. "Masih ada kami disini, Kak. Anak ini gak akan kekurangan kasih sayang, percayalah!"


Malam harinya, Reza dan keluarganya datang ke rumah. Kali ini papanya turut hadir. Reza dan Mamanya lebih kalem dan tidak banyak bicara seperti siang tadi.


"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas perlakuan Reza dan istri saya," tutur papanya Reza.


"Terutama pada kamu, Nia. Maaf kalau selama ini papa gak tahu perbuatan mereka di belakang papa."


"Papa sempat berharap akan adanya kesempatan untuk rumah tangga kalian yang baru seumur jagung ini. Tapi karena ini sudah keputusan kalian berdua. Papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu dan calon anak kamu."


Masalah ini kami anggap selesai. Tinggal terserah Reza dan Kak Nia, kapan akan mengurus percerai-an mereka.


Kini aku tidak perlu repot-repot menghadapi Reza lagi, karena jika ia masih punya rasa malu, dia tidak akan mungkin menggangguku lagi. Dia tidak akan merasa percaya diri untuk memintaku kembali padanya.


"Sekarang, tinggal satu urusan lagi yang belum selesai," ucap Papa saat hanya ada papa, aku dan mama di ruang keluarga.


"Urusan apa, Pa?" tanyaku penasaran.


"Urusan kamu dan Zayn. Apa keputusan kamu, Zi? Semakin lama kamu menunda, maka semakin menjauh Zayn darimu."


Aku mengangkat bahu. "Aku masih ragu, Pa."


"Kalau dia menjauh, berarti dia bukan jodohku," jawabku enteng seolah hal itu bukan masalah besar.


Sebesar apapun aku mencintainya, kalau aku belum siap melangkah menuju pernikahan, aku bisa apa?


"Apa kamu gak ingin menikah seperti wanita lain, Zi? Umur kamu semakin bertambah, loh," ucap Mama.


"Teman sebaya kamu bahkan ada yang sudah punya anak 2."


Aku tersenyum tipis. "Bukan Zia yang kelamaan nikah, Ma. Mereka aja yang terlalu cepat menikah!"

__ADS_1


"Kamu yakin mau menyia-nyiakan pria sebaik, setampan dan semapan Zayn?" tanya mama dengan senyum menggoda.


"Kasih satu nasehat yang buat aku yakin untuk menerimanya, Ma." Ku peluk tubuh mama dan ku sandarkan pipiku di bahunya.


"Ehm, nasehat ya ...." Mama tampak berfikir sejanak.


"Mama gak tau harus meyakinkan kamu seperti apa." Tangan mama perlahan bergerak merangkul bahuku.


"Mama cuma mau bilang, dengan menikah, kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang gak akan kamu dapatkan selama kamu belum menikah," ucap Mama yang tidak ku mengerti.


"Contohnya apa, Ma?" Ku tatap wajah mama yang begitu dekat.


"Garis dua," sambar papa. Mama dan papa kompak tertawa.


Aku mendengus kesal. Ku lepas pelukanku dan aku cemberut. Aku juga tahu hal itu. Kalau aku mendapatkan garis dua sebelum menikah, itu artinya aku mengikuti jejak Kak Nia.


Aku masuk ke dalam kamar karena mama dan papa terus mendesakku. Ku lihat ponselku yang ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Mas Zayn.


Ku hubungi lagi, malah dia yang tidak menjawab telpon dariku.


"Mungkin dia rindu," gumamku sambil terkekeh.


"Sebenarnya apa yang ku cari? Pria seperti apa yang ku harapkan bisa menjadi suamiku kelak? Kenapa aku terus saja ragu kepada Mas Zayn?"


Aku berdecak kesal. Ku ambil guling dan ku peluk erat. Ku berdoa dalam hatiku semoga Tuhan memberikan satu petunjuk untuk lebih meyakinkanku kalau perasaan Mas Zayn gak main-main.


Pagi ini, ku lihat kembali ponselku. Ada beberapa panggilan dari Mas Zayn. Aku memang baru saja selesai mandi.


Ku hubungi kembali nomornya dan ku dengar suara Zia.


"Hallo Sayang," sapaku lembut padanya.


"Papa kemana, Nak?" tanyaku kemudian.


"Papa sakit, Tante."


Jawabannya membuatku terkejut. Ternyata Mas Zayn bisa sakit juga. Tentu, dia kan manusia biasa sepertiku.


"Sakit apa, Sayang? Sekarang papa ada dimana?" Aku bergegas mengambil dompet dan memasukkannya ke dalam tas.

__ADS_1


Sepertinya aku harus segera kesana. Kasihan Zilla, pasti gadis kecil itu sedang sedih.


"Papa sedang tidur, Tante. Tadi malam sudah diperiksa kok, sama Om Dokter."


Syukurlah kalau dia sudah ditangani. Dan sepertinya dokter tersebut adalah dokter pribadi atau mungkin sahabat Mas Zayn, sehingga Zilla memanggilnya Om.


"Apa ... tante boleh ke sana, Sayang?" tanyaku ragu-ragu.


Zilla tidak memintaku untuk datang ke sana. Mungkin alasannya karena sungkan, atau karena dia marah sebab hubungan ku dan papanya masih jalan di tempat dan semua itu karena ulahku.


Aku segera berangkat setelah Zilla mengizinkan aku untuk datang. Tak lupa ku bawa beberapa cake dan buah sebagai buah tangan.


Asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Mas Zayn menyambutku dengan ramah. Mereka mempersilakan aku masuk dan langsung membawaku ke kamar Mas Zayn.


"Apa gak sebaiknya saya tunggu disini, Bi?" tanyaku.


"Non Zilla yang meminta Mbak Zia untuk langsung masuk ke kamar Bapak," jawab wanita berusia sekitar 30an tahun itu.


"Non, Mbak Zianya sudah sampai, nih!" ucap wanita itu memberi tahu Zilla setelah mengetuk pintu kamar.


Aku berdiri dan perlahan tanganku memegang handle pintu dengan perasaan ragu. Wanita itu sudah pamit pergi sesaat setelah Zilla mempersilakan aku untuk masuk.


Perlahan aku membuka pintu kamar itu. Ku lihat Zilla sedang duduk di atas ranjang sementara papanya sedang bersandar di headboard.


Aku tersenyum saat keduanya menatapku. Balasan senyum hangat dari keduanya membuatku tak ragu untuk melangkah mendekati mereka.


"Sayang!" sapaku sambil memeluk Zilla. Ya, Zilla. Bukan papanya. Hehehe.


"Cantik banget sih," pujiku sambil memegang rambut panjangnya yang di kepang dua.


"Tante juga cantik," balasnya kemudian.


Zilla tampak kalem hari ini. Dia tidak banyak bertanya karena sepertinya dia sedang sibuk dengan game di ponsel papanya.


Aku menarik sebuah kursi di dekat cermin rias. Ku tatap wajah Mas Zayn yang memang terlihat pucat. Tapi, meski begitu penampilannya selalu rapi. Sebuah kaos dan celana pendek saja membuatnya tetap terlihat keren. Ia tersenyum simpul kepadaku.


Debaran di dada selalu datang saat aku dan dia berada dalam jarak sedekat ini. Tapi, aku sudah terbiasa dengan debaran yang menyenangkan ini.


Ku lirik ke arah nakas, terdapat sebuah piring yang berisi makana sudah habis setengahnya. Pasti Mas Zayn tidak menghabiskan sarapannya.

__ADS_1


Ku balas senyumnya. Aku tidak mau menciptakan suasana canggung diantara kami. Sehingga aku bertanya, "Super hero bisa sakit juga ternyata."


__ADS_2