
Aku dan Mas Zayn melihat ke arah suara itu berasal. Kulihat gadis dengan piyama tidur berlari kencang ke arah kami dan membuat rambut panjangnya bergerak seperti diterpa angin.
Aku menatap Mas Zayn sekilas dan pria itu hanya mengangguk kecil. "Aku tahu putriku, Zi."
Mas Zayn segera melompat dari gazebo saat Zilla semakin dekat. Mas Zayn berusaha menangkap gadis kecil itu. Aku tahu, dia khawatir kalau Zilla terjatuh.
Namun, Zilla malah berlari melewati tubuh Mas Zayn dan berhenti di depanku. Ia menatapku dan tersenyum kecil. Aku balas menatapnya dengan sedikit kebingungan.
"Kata papa, Zilla boleh berteman sama tante."
Aku mengangguk. Lalu, setelahnya yang kurasakan adalah pelukan hangat. Kakiku yang menjuntai ke bawah sepertinya tidak menjadi penghalang baginya untuk memelukku.
Tangannya melingkari tubuhku dan kepalanya menempel di perutku. Sungguh, rasanya begitu menyenangkan. Apakah dia begitu merindukan mamanya?
"Zilla senang bisa bertemu tante Zia," ucapnya.
Aku melirik Mas Zayn yang masih berjongkok dan kini tengah menatap kami berdua.
"Tante sangat mirip dengan mama. Tapi, mata mama coklat seperti Zilla," ucapnya tanpa ingin ku potong sedikitpun.
Jadi, karena itu dia langsung mengetahui kalau aku bukan mamanya. Dia gadis yang cerdas, dan dia begitu mengenali mamanya. Dan ini membuktikan bahwa ia sangat menyayangi wanita yang sudah tiada itu.
Zilla melepas pelukannya. Ia menatapku dan bergerak untuk duduk disampingku. Aku membantunya untuk naik dan kami duduk dengan posisi yang sama hanya saja tubuh kami saling berhadapan.
"Boleh Zilla pegang pipi tante?"
Aku mengangguk. "Boleh, dong!" Aku mana tega menolak keiinginnya. Manik matanya memancarkan kerinduan yang sangat dalam.
Aku sedikit menunduk dan mendekatkan wajahku agar tangannya sampai untuk memegang pipiku. Perlahan tangannya bergerak mendekat ke area wajahku. Ia menyentuh dan mengusap pipiku secara perlahan dengan punggung tangannya. Lalu, ia melakukan hal yang sama menggunakan telapak tangannya.
Aku tersenyum kecil, tapi yang ku lihat malah air matanya yang menetes. Aku tidak ingin menghapusnya. Aku ingin membiarkan dia berdamai dengan perasaannya.
"Kenapa tante baru datang sekarang?" tanya dengan suara tercekat.
Ya Tuhan, kenapa makhluk seindah dirinya harus merasakan sakit seperti ini?
"Kenapa ... tante baru menemui ... Zilla sekarang?"
Aku tidak tega melihatnya terisak sampai kesulitan untuk bicara seperti ini. Aku menangkup pipinya.
"Karena Tuhan baru mempertemukan kita sekarang, Sayang." Ku usap rambutnya yang hitam dan lebat itu.
"Tante juga menyesal baru bertemu kamu sekarang. Anak baik, anak kuat dan anak cantik." Air mataku tak mampu lagi ku tahan, aku menangis.
Mas Zayn, dia yang harusnya bertanggung jawab atas hal ini. Dia yang mempertemukan kami dan membuat kami menangis bersama seperti ini.
__ADS_1
"Zilla bisa menyentuh pipi mama,"
Aku tidak bisa lagi menahan diriku. Ku peluk tubuh mungilnya dan ku usap rambutnya. Ku dekap tubuhnya dengan penuh kasih sayang.
Mas Zayn benar, ditinggal oleh seseorang yang waktunya sudah habis di dunia ini rasanya memang sangat menyakitkan. Aku bisa merasakan apa yang Zilla rasakan.
Pelukan dan isak tangisnya membuatku tersadar bahwa masih ada yang menginginkan kehadiranku. Meskipun aku hanya dianggap sebagai bayangan mamanya.
"Tante, apa bisa kita bertemu setiap hari?" tanya Zilla mendongak menatapku.
Aku pun menunduk menatap wajahnya. "Zilla mau ketemu tante setiap hari?"
Zilla tampak mengangguk berkali-kali. "Mau tante."
"Oke..." Ku lepas dekapanku dan ku tangkup pipinya dengan kedua telapak tanganku. Ku tatap matanya dengan posisiku yang sedikit membungkuk.
"Tapi, janji ya sama tante, kalau kamu gak boleh nangis lagi."
"Kamu gak boleh murung lagi. Gak boleh sedih-sedih lagi."
"Kalau rindu mama, kamu bisa langsung doa sama Tuhan."
"Doa anak yang solehah, pasti akan Tuhan kabulkan."
Zilla menangguk. "Zilla gak akan nangis lagi, Tante. Zilla juga gak akan sedih-sedih lagi."
"Tante akan selalu ada di sana," ucapku.
Matanya berbinar dan ia mencium pipiku. "Terima kasih, Tante."
"Zilla mau tidur dulu, ya Tante. Kita cerita lagi besok siang. Tunggu Zilla pulang sekolah ya, tante!" Ia melambaikan tangannya.
Benar saja, hari berikutnya, Zilla benar-benar datang. Aku yang sedang memeriksa keuangan toko merasa terkejut saat Riri tiba-tiba masuk ke ruanganku.
"Zi, ada yang cari kamu, tuh!"
"Siapa?" tanyaku jutek. Aku sedang menghitung keuntungan toko, tapi Riri malah mengacaukannya.
Riri mengangkat bahu. "Entah siapa. Pokoknya anak perempuan, kecil, dan menyebutmu dengan sebutan tante Zia.
Ku tinggalkan laporan keuangan dan bergegas keluar dari ruanganku.
"Kenapa gak bilang dari tadi!" marahku.
"Kan, sudah ku beri tau, Ziaaaa!" Riri tampak kesal.
__ADS_1
Aku mengedarkan pandangan dan ku lihat bocah itu duduk di sebuah meja. Gadis kecil itu masih memakai tas dan juga seragam sekolahnya. Rambutnya diikat dua dan dikepang.
"Hai, sayang!" sapaku ramah sambil melambaikan tanganku.
Zilla seketika langsung memelukku dan mengatakan kalau dia merindukannku.
Aku tertawa. "Tadi malam, kita baru saja ketemu, Sayang."
"Tapi, Zilla beneran kangen, Tante!" Dia seperti sedang merajuk.
Aku menyentuh ujung hidungnya dengan ujung jari telunjukku sehingga gadis itu tertawa.
"Kamu mau makan kue apa?" tanyaku.
Aku membawanya ke belakang etalase agar ia bisa memilih sendiri kue favoritnya.
"Ini yang sering ada di kamar papa," Zilla menunjuk satu jenis kue yang diselimuti dark coklat.
Oh, jadi Mas Zayn membeli itu hanya untuk dirinya sendiri?
"Kalau yang ini, Zilla sukaaa. Zilla mau yang ini juga, Tante," ucapnya sambil menunjuk cheese cake yang juga sering dibeli oleh Mas Zayn.
Kami duduk di salah satu meja. Ku lihat dia makan dengan lahap. Aku senang melihatnya ceria seperti ini.
"Kamu datang sama siapa, sayang?"
"Sama pak Marno dan Bibi Mumun, Tante," jawabnya.
"Mereka siapa?" tanyaku.
"Pak Marno itu supir yang suka mengantar Zilla ke sekolah, kalau Bibi Mumun itu orang yang suka bantu Zilla siap-siap ke sekolah," jawabnya.
Oh, mungkin Bi Mumun itu pengasuh Zilla dari kecil.
"Kamu sudah bilang papa kalau mau datang kesini, Sayang?"
Dia mengangguk. "Sudah dong, Tante. Papa juga mau menyusul katanya."
"Itu papa," teriaknya sambil menunjuk arah pintu masuk.
Aku berbalik. Benar saja, makhluk tampan itu sedang berjalan mendekat ke arah kami. Dia melambaikan tangan ke arah putrinya yang tertawa ke girangan.
"Hai Sayang." Mas Zayn mencium pipi Zilla dan duduk di samping gadis itu.
"Ri, seperti biasa." Mas Zayn memesan pada Riri.
__ADS_1
Aku melihat kemana arah matanya tertuju. Dan Riri sedang kebingungan melihat kami bertiga. Aku lupa memberi tahunya kalau Mas Zayn ternyata seorang duda beranak satu.
Setelah ini aku harus bersiap mendengar banyak pertanyaan yang keluar dari mulutnya.