
Sudah hampir satu minggu aku dirawat di rumah sakit dan akhirnya aku bisa bebas dari tempat yang membuat aktivitasku sangat terbatas itu.
Aku rindu datang ke toko dan aku rindu dengan adonan roti. Aku sampai menyusun rencana mengenai aktivitas apa yang akan ku lakukan saat aku keluar dari rumah sakit.
Selama aku berada di rumah sakit, setiap hari Mas Zayn selalu datang. Seharian dia menjagaku dan beralasan ia sedang mengambil cuti. Lalu, beberapa hari terakhir saat dia sudah kembali bekerja, dia selalu datang saat malam hari.
"Aku mau ke toko, Ma," ucapku yang baru saja keluar dari kamar padahal mama baru saja mengantarku dan memintaku untuk istirahat.
Mama mendelik kesal. "Kamu bandel banget, sih Zi! Besok, mama temani!" seru Mama tak senang karena aku terus memaksa untuk pergi.
"Kamu baru pulang dan langsung ingin ke sana. Zayn, yang mengantarkan kamu saja belum pulang!"
Mas Zayn senyum - senyum sendiri saat mama memarahiku. Dia senang melihatku susah, sepertinya.
"Ya, kalau gitu, sekalian saja dia yang mengantar kita, Ma!" ucapku kemudian. "Kan, mumpung Mas Zayn belum pulang."
"Zayn harus kembali ke kantor, Zi," sergah mama.
"Papa juga harus kembali bekerja." Papa segera berdiri.
"Ayo, Zayn!" ajak Papa seolah mereka bekerja di tempat yang sama.
"Papa ...." rengekku membuat papa melirik kesal.
"Saya bisa mengantar kalian, kok Tan," jawab Mas Zayn membuatku tersenyum menang.
"Saya yang antar mereka, Om. Kan, sejalan sama kantor," lanjut Mas Zayn sambil menatap papa.
Aku mendorong pintu kaca tebal itu dengan tanganku yang tidak sakit. Aku masuk dan membuat karyawanku membulatkan mata.
"Mbak Zia?" sapa salah satu karyawanku.
Riri yang sedang membantu melayani pembeli, seketika menatapku. Ia bahkan langsung memeluk dengan erat sangking senangnya melihat kedatanganku.
"Akhirnya, yang selama ini ku nanti-nanti, muncul juga!" serunya senang.
"Nunggu kamu datang lagi tuh, kayak nunggu bintang jatuh, tau gak?" tanyanya yang ku anggap berlebihan.
"Nyaman banget ya, disana? Sampai betah banget. Gak ingat pulang," godanya.
__ADS_1
"Nyaman apaan. Rasanya kayak burung dalam sangkar emas," ucapku kesal. Padahal ia tahu aku selalu mengeluh bosan saat di rawat tapi dia malah bercanda seperti itu.
"Loh, kok bisa? Bukannya pacaran terus ya di sana?" tanyanya.
"Oopss, maaf Tante?" Riri menutup mulutnya karena baru menyadari kalau mama ada di belakangku.
Mama dan Papa sepertinya tidak menganggap serius hubunganku dan Mas Zayn sejak mereka tahu kalau pria itu adalah abang iparku. Dan mereka menganggap semua perhatiannya sebagai bentuk rasa simpati saja. Tapi, entahlah. Aku kan hanya mengira-ngira. Hehehe.
"Mbak Zi, selamat datang kembali." Ku lihat beberapa karyawanku berbaris rapi dan mengatakannya secara serentak.
Mereka berlebihan. Padahal mereka menjengukku di rumah sakit dan tahu kalau kondisiku sudah baik baik saja.
"Coba kalian nge-dance lagi!" perintahku yang dibalas dengan tatapan tajam. Mata mereka membulat sempurna.
Kemarin mereka menari bersama untuk menyemangatiku. Sebenarnya, lebih mirip pemandu sorak tim basket sih. Semua aksi mereka kulihat dari rekaman CCTV yang Riri minta agar aku mengecek rekaman itu. Ternyata ada hadiah tak ternilai dari mereka. Lumayan menghiburku yang bosan diatas ranjang rumah sakit.
Mereka yang awalnya mengerumuniku bak semut menemukan gula, kini malah berbalik seolah tak mendengar perintahku.
"Hei, kalian!" Jeritku saat mereka kembali bekerja.
Riri menatapku dan mengangkat bahunya. Bibirnya mencebik. "Jangan tanya aku!" Dia ikut berbalik dan masuk ke dapur.
"Oh Tuhan, kenapa para karyawanku pada kurang ajar begini, sih?" gumamku kesal.
Aku berbalik. "Apanya yang sudah, Ma?"
"Sudah melihat tokonya. Kita bisa pulang sekarang? Mama sudah pesan taksi online dan supirnya sudah menunggu di depan."
Aku terpelongo. "Mama pesan taksi? Kapan?"
"Tadi, saat kita di jalan."
"Mamaaaa!" rengekku manja. "Kita baru sampai, Ma. Aku bahkan belum masuk ke dapur."
"Ya sudah, masuk sana! Mama tunggu di sini. Lima menit." Mama menunjukkan lima jemari tangannya. Mama sedang mode tegas sebab khawatir padaku.
"Astaga, Mama!"
Beberapa hari kemudian, aku tak menduga ada tamu istimewa yang datang ke rumahku malam-malam begini saat papa sedang di acara di masjid pula. Bukan Mas Zayn, Zilla ataupun Reza, tapi Kak Nia.
__ADS_1
"Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Mama dengan nada lembut, yang sepertinya tidak tega untuk membentak kak Nia yang tampak lusuh dan pucat.
Kak Nia duduk di kursi teras dan aku memilih berdiri di dalam rumah. Kak Nia sepertinya tidak tahu kalau aku ada di sini.
"Kandunganku lemah, Ma. Aku mengalami flek sejak pagi tadi. Aku butuh istirahat, Ma. Reza membuatku kelelahan karena aku diperlakukan seperti pembantu di rumahnya," adu Kak Nia dengan suara lirih.
Aku berdiri bersandar di balik tembok. Aku merasa prihatin atas nasib yang ia alami setelah menikah. Apa ini karma untuknya? Kalau memang iya, mengapa datang terlalu cepat? Mengapa harus janin itu yang merasakannya juga?
"Ini pilihanmu, Nia. Maka jalanilah!" ucap Mama tegas.
"Tapi, Ma. Nia mohon, Nia butuh tempat tinggal, Ma. Nia harus menyelamatkan janin ini, Ma. Nia ... Nia harus menyelamatkan janin ini."
Ku dengar dia memohon pada mama. Dia seperti bunglon. Ia bisa berubah dalam sekejap. Kemarin-kemarin, ia begitu garang bak serigala, melabrak dan menuduhku mempengaruhi suaminya. Lalu kini, dia seperti seperti anak kucing yang berharap untuk dipungut kembali.
"Maaf, Nia. Saya tidak bisa berbuat banyak."
Mama menyebut dirinya saya. Itu artinya mama benar-benar tak menganggap Kak Nia sebagai anaknya lagi.
Aku berdiri di depan pintu. Aku baru melihat dengan jelas perubahannya yang seratus delapan puluh derajat. Kantung matanya terlihat jelas, perutnya tampak buncit dan rambutnya kusut ta terurus.
Dia membulatkan mata saat mama bicara tegas seolah dia adalah orang asing. "Nia butuh tempat tinggal, Ma," ucapnya sambil menyeka air matanya.
Aku masuk ke dalam kamarku. Ku ambil beberapa lembar uang dari dompetku. Aku segera turun dan ku lihat dia berlutut di kaki mama.
Aku menyodorkan sejumlah uang itu di hadapannya. Ia dan mama kompak menatapku.
"Ambillah! Dan cari kos-kosan atau kontrakan untuk kamu tinggali sementara," perintahku padanya.
Dia tampak ragu menerimanya. Ku tahu ia sangat butuh uang itu. Ia menahan malu demi beberapa lembar uang yang dulu bisa ia dapat dalam seminggu.
Karirnya hancur saat ia menikah dengan Reza dan menu*sukku dari belakang. Ia di PHK dan ia hanya mendapat pemasukan dari nafkah yang Reza berikan. Itupun kalau diberi.
"Dosa besar saat seorang istri pergi dari rumah tanpa izin suami. Pernikahan kalian baru seumur jagung tapi sudah seperti ini."
"Aku gak sanggup hidup disana, Zi. Mamanya sangat cerewet dan mata duitan, Zi. Mamanya membuatku harus mengerjakan semua pekerjaan rumah." Dia malah curhat.
"Semua uang dan perhiasanku mereka rampas." Kak Nia menangis keras. Bahunya bergetar naik turun.
Aku dan mama saling tatap. Dia sedang berbohong atau tidak? Kalau dia berbohong, tidak mungkin juga keadaannya mengenaskan seperti ini.
__ADS_1
"Kamu juga selingkuh dengan pria lain," ungkapnya lagi.
"Astaga! Aku gak selingkuh, Zi. Kenapa kamu menuduhku?"