Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 26 Surat Kuasa


__ADS_3

"Kenapa kamu selalu merebut apapun yang ku inginkan, Kak!" ucapku di sela isak tangis yang sejak tadi tak sanggup lagi ku tahan.


"Dulu kasih sayang orang tuaku yang harus rela ku bagi. Lalu Reza dan sekarang Mas Zayn."


Aku memang tidak langsung pulang ke toko atau ke rumah setelah melihat dengan jelas wanita yang selama ini membuatku penasaran. Aku duduk di pinggir danau di sebuah taman kota. Cahaya senja mulai membias di permukaan air kolam tapi tak sedikitpun membuatku ingin segera pulang.


Berkali-kali ku usap air mata yang enggan berhenti keluar. Ku hembuskan nafas lewat mulut berkali-kali. Aku perlahan mulai berfikir, apakah ini cara Tuhan untuk memberi tahuku siapa Mas Zayn yang sebenarnya?


"Oke, Zia! Hidup harus tetap berlanjut meski seluruh orang yang kamu percaya adalah para pengkhianat!" ucapku menyemangati diri sendiri setelah hampir setengah jam aku duduk sendirian di sini.


Aku pulang ke rumah setelah menukar sepeda motor milik karyawanku dengan sepeda motorku sendiri. Dengan langkah gontai aku masuk ke dalam rumah.


Aku baru menyadari pintu rumah tidak tertutup. Itu berarti sedang ada tamu. Ah, aku ingat ada mobil di depan tapi tidak ku perhatikan mobil siapa itu.


Sayup ku dengar papa sedang bicara dengan seseorang di ruang keluarga. "Semua keputusan ada pada Zia. Om gak bisa kasih jawaban apapun pada kamu, Zayn," ucap papa.


Aku berdiri di tempat dan ku intip sedikit ternyata Mas Zayn dan kedua orang tuaku sedang duduk saling berhadapan di sofa.


Bicara soal keputusan, keputusan apa yang papa maksud?


"Saya serius untuk menjadikannya istri, Om. Saya tidak pernah main-main dengan keputusan saya." Mas Zayn membuat dadaku berdebar, tapi tanganku mengepal karena geram.


Bisa-bisanya dia melamarku padahal dia sedang berhubungan dengan wanita lain.


"Saya mencintainya dan juga ingin memenuhi keinginan Zilla, Om. Saya rasa apa yang Zilla inginkan sangat sederhana, dia ingin tantenya sebagai pengganti mamanya," ucap Mas Zayn lagi.


Aku sudah tidak tahan dengan ocehannya yang malah membawa-bawa nama Zilla supaya papa kasihan padanya.


"Jangan pernah menjadikan Zilla sebagai alasan, Mas!" Aku muncul secara tiba-tiba sehingga mereka melihat ke arahku.


"Sebagai seorang pria harusnya kamu punya pendirian, Mas."


"Ma-maksud kamu apa, Zi?" tanyanya.


"Di sini, kamu melamarku tapi selama ini kamu menyembunyikan Kak Nia dari suaminya. Untuk apa, Mas?" tanyaku sambil menahan emosi.


Aku menyeringai saat melihat mama dan papa terpaku karena terkejut mendengar ucapanku. Aku akan membuka topeng pria ini di hadapan kalian. Aku tahu, kalian juga sudah tertipu dengan kebaikannya, kan?


"Aku bahkan melihat kamu mengantarkannya ke dokter kandungan, memberikannya tempat tinggal, hingga mengiriminya buah-buahan."

__ADS_1


Masih belum selesai, tapi Mas Zayn sudah menunduk lesu. Ia sama sekali tidak ingin membela diri, nih? Apa semua fakta yang ku buka telah membuatnya merasa kalah?


"Belum cukup sampai disitu, Ma, Pa." Ku tatap kedua orang tuaku bergantian. "Kalian akan lebih tercengang mendengar ini."


"Dia," ucapku sambil menunjuk wajah Mas Zayn. "Dia menitipkan Zilla ke rumah kita dan mengaku sedang ke luar kota. Padahal di waktu yang sama, aku melihatnya sedang mengantar Kak Nia."


"Segitu gak mau diganggunya, kamu Mas?" tanyaku dengan senyum meremehkannya.


"Kamu sampai menyuruh anak kamu ke sini karena merasa bersalah gak bisa menemani tidurnya, hem?"


Aku menggeleng pelan. "Lantas, untuk apa kamu memintaku dari mama dan papa sementara sudah ada wanita lain yang kamu urus?"


"Kamu sedang menyembunyikan istri orang, loh!" ucapku menyadarkannya karena itu adalah perbuatan buruk. Dia salah karena membantu seorang istri untuk pergi dari suaminya sebelum menyelesaikan masalah rumah tangga mereka.


"Gak takut kalau suaminya tiba-tiba melaporkan kalian ke pihak berwajib?" tanyaku.


"Dan, ya. Jangan berharap bisa menikah denganku meski Zilla sekalipun yang menjadi alasannya, Mas."


"Mama dan papa sama sepertiku, kok!" Aku menatap mama dan papa yang sepertinya kecewa dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Kita sama - sama kecewa atas kepura-puraannya." Ku menatap Mas Zayn sekilas.


"Padahal kita pernah membahas mengenai tujuan Reza yang seperti menginginkan sesuatu sehingga mencari kak Nia." Ku mengingatkannya soal percakapan kami beberapa hari lalu.


"Lalu sekarang aku yang bertanya-tanya, apa tujuan kamu melakukan ini padaku?"


Aku berdiri dan menyeka air mataku. "Aku kalah, Ma. Kak Nia selalu berhasil mengalahkanku," ucapku dengan suara tercekat.


Aku berbalik untuk masuk ke dalam kamar. Mama dan Papa sama sekali tidak bicara sepatah katapun.


"Tunggu, Zi!" Mas Zayn akhirnya bersuara setelah diam sedari tadi.


"Semua yang kamu lihat belum tentu benar, Zi."


Aku berbalik dan tertawa remeh. "Aku gak rabun untuk sekedar melihat wajah Kak Nia," ucapku tegas.


"Aku hanya bod*h karena terlalu percaya dengan kebaikan kamu, Mas."


"Iya, wanita itu memang Nia. Dia yang datang padaku. Bukan aku yang dengan sengaja mencari celah untuk memiliki hubungan dengannya." Dia membela diri.

__ADS_1


Dia tampak serius, tapi bukankah memang seperti itu saat seseorang sedang membela dirinya?


"Dia memohon dan meminta bantuanku, Zi. Dia membutuhkan perlindungan," ucapnya meyakinkanku.


"Kalau begitu, lindungi saja dia, Mas. Dan jangan pernah lagi mengharapkan aku!"


"Aku belum selesia, Zia!" tegas Mas Zayn.


"Cukup, Zayn! Jangan membuat keributan di sini!" bentak Papa yang sedari tadi hanya diam.


"Jelaskan saja lain waktu!" pinta Papa.


"Zia, masuk ke kamar!" perintah Papa padaku.


"Om, tante, Zia!" Mas Zayn mulai menurunkan nada suaranya.


"Nia hanya korban," ucap Mas Zayn lagi.


"Kenapa kamu membelanya, Zayn? Apa yang wanita itu katakan padamu? Dan apa yang kamu dapat sehingga berani mengatakan itu pada kami yang sudah jelas-jelas ia khianati?" tanya Papa.


"Nia berada dalam pengaruh Reza, Om. Selama ini dia dikendalikan oleh Reza."


Aku tertawa. Lucu sekali rasanya mendengar apa yang dia ucapkan.


"Reza kan, suaminya. Pria itu juga dulu adalah teman tidurnya sampai dia hamil anaknya Reza. Wajar saja kalau dia bisa dipengaruhi oleh pria itu," ucapku.


"Dan sekarang, Nia ingin lepas dari Reza, tapi dia gak berani, Zi," sambar Mas Zayn.


"Terlalu banyak masalah yang sedang dia pikul sendirian."


Aku membuang muka. Malas sekali mendengarkan ocehan Mas Zayn.


"Kamu tahu kenapa Reza mencari Nia padahal selama ini Nia begitu dia benci?"


Aku menatapnya tanpa ekspresi. Aku tidak menjawabnya. Tapi aku sedang berfikir, apakah dia sudah tahu tujuan Reza yang sebenanrnya?


Mas Zayn mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkan selembar kertas itu padaku. "Baca ini baik-baik!"


Ku terima kertas itu dan ku baca isinya. Mataku membulat sempurna. Bagaimana bisa surat kuasa ini dibuat lengkap dengan tanda tanganku?

__ADS_1


Surat kuasa atas tanah dan toko kue milikku yang ku berikan pada Reza. Kenapa bisa ada surat seperti ini? Kapan surat ini dibuat dan ku tanda tangani?


__ADS_2