
Aku berjalan menuju tempat dimana aku dan Mas Zayn akan melakukan akad nikah. Sebuah titik di rumah ini yang menjadi tempat peristiwa bersejarah dalam hidup kami, yaitu sahnya pernikahan kami.
Aku berjalan dengan langkah kecil. Di sisi kiri dan kanan ada mama dan kak Nia yang menggandeng tanganku. Debaran jantungku berdetak puluhan kali lebih cepat dari pada langkah kakiku.
Terlihat tamu undangan menatap ke arahku membuatku merasa malu. Mereka sepertinya takjub melihat penampilanku yang mama dan kak Nia puji sejak tadi. Ini memang kali pertamanya aku dimake up habis-habisan seperti ini. Aku saja hampir tidak mengenali wajahku sendiri.
Aku duduk bersimpuh di samping Mas Zayn yang sempat tersenyum simpul padaku tanpa mengatakan apapun. Aku suka potongan rambutnya yang terlihat rapi meski ia memakai peci.
Tak menunggu waktu lama, akad nikah segera dilaksanakan. Papa dan penghulu duduk di depan kami.
Tangan papa dan Mas Zayn saling menjabat. Jangan tanya bagaimana perasaanku, tentu rasa haru menyeruak dalam hati. Dua orang yang ku sayangi sedang melajukan proses untuk memindahkan tanggung jawab atas diriku.
Bukankah begitu? Bukankan setelah ini, aku bukan lagi menjadi tanggung jawab papa, melainkan tanggung jawab Mas Zayn, suamiku. Ahhh! Suamiku? Rasanya terdengar menyenangkan.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Zayn Alfareza bin Syahrendra dengan putri kandung saya Zia Almahira dengan mas kawin sebesar seratus juta rupiah dibayar tunai."
Aku bisa mendengar tarikan nafasnya, Mas Zayn bersiap untuk mengucap kalimat kabulnya.
"Saya terima nikah dan kawin Zia Almahira binti Faisal dengan mahar seratus juta rupiah dibayar tunai."
Para saksi mengatakan kata sah, maka sejak detik ini aku telah menjadi istri Mas Zayn. Aku adalah ibu sambung untuk keponakanku sendiri.
Terasa aneh memang, tapi inilah takdir. Aku justru merasa bersyukur, karena setidaknya Zilla punya mama tiri yang baik hati sepertiku.
Acara ini berlangsung cepat dan tanpa kendala sedikitpun. Kami juga menyempatkan menyapa beberapa tamu untuk mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka.
Semua tamu sudah pulang saat waktu menunjukkan jam 3 sore. Aku bersiap menghapus make up dan duduk di depan cermin rias.
"Aku merasa ada sebuah beban yang terlepas begitu saja. Ringan sekali rasanya," ungkap Mas Zayn yang sedang merebahkan diri di atas ranjangku.
Dasar Pak Duda! Dia sama sekali tidak terlihat gugup, bahkan dengan santainya dia berbaring di ranjangku, tempat keramat yang sama sekali belum pernah ia sentuh.
Aku tetap melanjutkan pekerjaanku menghapus make up dengan kapas dan micellar water.
"Justru beban kamu bertambah satu, Mas, yaitu aku."
Dia malah tertawa. "Kamu itu anugrah, bukan beban, Zi."
"Mungkin karena aku sudah memenuhi keinginan Zilla. Kamu lihat sendiri, dia sangat bahagia. Dia pun mengerti kalau kita butuh waktu untuk berdua."
Aku mengangguk. Zilla cukup memahami situasi dengan tidak muncul tiba-tiba disini dan menjadi pengacau untuk pengantin baru sok malu-malu seperti kami. Eit, salah! Hanya aku yang malu-malu.
"Pasti Kak Nia yang membuatnya mengerti," tebakku karena Kak Nialah orang yang bersama Zilla sejak pagi tadi.
__ADS_1
Zilla yang selalu menemaniku saat aku sedang make up beberapa kali melontarkan pertanyaan yang aku sendiri sulit menjawabnya.
Kak Nialah orang yang menjawab semua pertanyaan Zilla termasuk mengenai kapan dia akan punya adik.
"Nia?" tanya Mas Zayn yang kini sudah duduk di atas ranjang.
Di cermin, tatapan kami saling bertemu dan aku mengangguk. "Ya, kak Nia menjawab pertanyaan Zilla yang tak bisa ku jawab."
"Apa?" tanya Mas Zayn.
Aku tersenyum malu. "Kapan Zilla akan punya adik seperti teman-temannya?"
Aku tak lagi menatap matanya.
"Dan aku gak tahu, Kak Nia menjelaskan apa padanya karena Kak Nia mengajaknya keluar dari kamar agar tidak mengganggu tim make up bekerja."
"Zilla memang pintar!" Mas Zayn turun dari ranjang dan kedua tangannya bertumpu di meja rias sehingga mengukung tubuhku.
Aku terkejut dengan keberaniannya. Aku harusnya bersiap untuk terbiasa menerima perlakuan pria berpengalaman ini, yang ku yakin akan banyak mengejutkanku.
"Kapan kita kasih adik buat dia?" Kini si papa malah bertanya padaku.
Ya, mana aku tahu! Memangnya memberi Zilla adik semudah jalan ke warung dan membelinya dengan harga dua ribu rupiah?
"Bagaimana kalau sekarang?" tanyanya saat aku tak kunjung menjawab.
Aku berbalik, meski ruang gerakku sangat terbatas, akhirnya aku berhasil menatap wajahnya. Ia sedikit membungkuk agar jarak diantara kami tidak terlalu jauh.
"Sore-sore begini?" tanyaku dengan kening berkerut.
Bukan malam pertama dong namanya, melainkan sore pertama.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Kamu pernah dengar istilah sore pertama, Mas?" tanyaku dengan berani. Aku sepertinya cukup cepat untuk menyesuaikan diri dengan tatapannya yang selalu berhasil membuatku berdebar.
Dia tertawa. "Jadi, aku harus menundanya sampai malam?"
Aku mengangguk.
Dia menghela nafas dan menyatukan kening kami selama beberapa detik. Dia menjauhkan wajahnya, membuatku merasa tak enak hati karena menolaknya, padahal ini adalah hari pertama aku menjadi istrinya.
"Kamu benar," ucapnya. "Dan hal baru bagi kamu."
__ADS_1
"Wajar kalau kamu belum siap." Dia mengusap kepalaku.
"Bukan begitu, Mas." Aku benar-benar takut dia marah dan kecewa padaku.
Aku menahan tangannya agar dia tidak kemanapun. Aku takut dia meninggalkanku di hari pernikahan kami. "Kamu marah, Mas?"
Dia menggeleng. "Enggak."
"Serius?" tanyaku tak yakin karena ekspresinya datar.
Dia mengangguk. "Gak harus buru-buru, kok, karena kita akan buat adik untuk Zilla, di suatu tempat."
Aku menatapnya heran. "Dimana, Mas?"
Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah bukti transaksi kalau dia sudah memesan sebuah kamar hotel ternama.
"Di- di sini?" tanyaku gugup.
"Ya, kenapa? Kamu gak suka, Zi? Biar ku cancel kalau kamu gak mau," ucapnya.
Aku menahan tangannya agar ia tidak membatalkannya. Hal ini memang sesuatu yang kami tidak rencanakan.
"Bukannya gak suka, Mas. Aku cuma kaget karena kita sama sekali gak merencanakan untuk menginap di hotel," ucapku memberi alasan.
"Maaf, ya. Aku juga memikirkan hal ini tadi malam. Aku hanya ingin bersikap adil padamu dan almarhumah Arsyla."
"Dulu, saat aku masih belum semapan sekarang, aku juga mengajaknya menginap di hotel."
"Dan saat ini, aku sudah cukup mapan, dan aku juga harus mengajak kamu."
Aku menatap wajahnya. "Kenangan kalian pasti terlalu manis, ya Mas?"
"Kamu sampai teringat pernikahan kalian beberapa jam menjelang pernikahan kita," ujarku dengan pelan.
Mas Zayn mengusap pipiku. "Aku gak pernah melupakan siapapun yang pernah menjadi bagiandari hidupku, Zi."
"Meski bahagia atau torehan luka sekalipun yang orang itu berikan padaku."
"Apalagi Arsyla yang telah memberikan Zilla untukku dan ketika kepergiannya yang sama sekali aku gak siap," ungkapnya.
"Semua itu hanya kenangan, dan Arsyla adalah sebuah pembelajaran agar aku bisa memperlakukan kamu dengan sebaik-baiknya."
Aku memeluknya. Dia selalu terlihat tidak baik-baik saja saat membahas masa lalunya.
__ADS_1
"Dan aku akan menemani masa depan kamu sampai maut yang memisahkan kita, Mas."