
Ku peluk tubuh mama saat kami sudah sampai di rumah. Setelah mengantar kami sampai ke depan rumah, Mas Zayn langsung pamit pulang karena Zilla sepertinya sangat kelelahan.
Aku mengusap punggung mama yang kembali bergetar. Ku tumpahkan juga tangisku yang berusaha ku tahan karena aku tidak ingin terlihat lemah di depan Mas Zayn dan Zilla.
"Dia mirip sekali sama kamu, Zi," kata mama lirih sambil terisak.
"Seandainya kedua tangan mama ini yang membesarkannya, mungkin keluarga kita akan menjadi keluarga yang paling bahagia," ucap mama semakin mengeratkan pelukan kami.
Aku mengangguk di bahu mama. "Mama benar, Ma. Dan kita malah harus dipertemukan dengan fakta ini saat dia sudah tiada, Ma."
"Selama ini, kita sangat dekat, Ma. Tapi, kenapa kita baru dipertemukan sekarang?" Aku juga marah pada situasi ini.
Reza direbut kak Nia, lalu Mas Zayn adalah suami mendiang kak Kania. Mengapa aku selalu tidak beruntung kalau soal urusan percintaan?
"Katanya sudah ikhlas, tapi masih ditangisi lagi. Sudah yuk, semangat!" Papa menepuk bahu kami berdua. Aku tahu dia hanya sok tegar, padahal hatinya juga tengah hancur.
Aku dan mama kompak menghapus air mata kami. "Apa memaafkan mereka itu adalah keputusan yang tepat, Pa?" tanyaku yang heran dengan keputusan papa.
Papa dan Mas Zayn memang sempat bicara berdua. Aku tidak tahu apa yang pria itu katakan sehingga bisa membuat papa membuat keputusan yang menurut kami tidak masuk akal. Pak Tono dan istrinya bersalah, tapi kenapa papa tidak melaporakannya ke pihak berwajib?
Papa merangkul bahuku dan bahu mama. Papa tersenyum kecil, tapi air matanya hampir tumpah. "Papa bisa saja memenjarakan mereka, tapi bagaimana dengan Zilla?"
"Zilla cucu kandung kita, Ma. Mama pasti akan sangat menyayanginya, mama pasti akan menerimanya dengan tangan yang terbuka lebar sebagai pengganti curahan kasih sayang mama yang tidak tersampaikan pada Kania."
"Zayn bertanya, dengan memenjarakan mereka, apa tidak akan menggangu psikisnya Zilla?"
__ADS_1
"Papa sempat memikirkan hal yang sama. Apakah Zilla akan baik-baik saja kalau kakek dan neneknya mendekam di penjara?"
Papa benar, karena selama ini Pak Tono dan Bu Tuti adalah kakek dan neneknya yang tentunya sangat ia sayangi. Lalu, bagaimana jika dua orang tersebut dipenjara karena pernah menc*ulik mamanya?
"Kalian lihat sendiri, kan? Dia saja sangat kebingungan tadi, saat Zayn pelan-pelan menjelaskan pada mereka bahwa mama dan papa adalah orang tua kandung mamanya," ucap Papa lagi.
"Jadi, anggap saja kita sedang berkorban untuk Zilla. Anggap saja kita sedang menunjukkan sayang kita pada mendiang Kania. Kania pasti akan sedih saat melihat Zilla bersedih."
Aku faham maksud dan tujuan papa. Memang hanya papa yang bicara pada Zayn dan kedua mertuanya itu. Sementara aku, mama dan Zilla duduk di belakang rumah mereka, tepatnya di sebuah tempat duduk di bawah pohon rambutan yang masih berbunga.
Aku sengaja menjauhkan mama saat kami terus melanjutkan melihat moment-moment yang Pak Tono dan Bu Tuti abadikan mengenai Kak Kania. Mereka berdua sepertinya sengaja mempersiapkan semuanya sebagai bukti kalau mereka menyayangi kak Kania seperti anak sendiri. Atau memang mereka melakukannya karena ingin mengingat setiap momen penting dan tumbuh kembang Kak Kania.
Aku dan mama akhirnya menerima dengan ikhlas keputusan papa ini. Berat memang, tapi ku yakin ini yang terbaik. Apa lagi saat ini dalam hidup kami, ada Zilla yang sudah seharusnya kami perhatikan.
Hampir seminggu semenjak hari itu, akhirnya mama siap untuk bertemu lagi dengan Zilla. Mama mengajakku untuk menjemput Zilla di sekolahnya. Tentu aku merasa sangat senang.
"Kita akan ke rumah Tante Zia?" tanyanya senang.
"Iya, dong! Zilla mau kan, main kesana?"
Gadis kecil itu mengangguk sambil tertawa. "Harusnya setiap hari tante jemput Zilla. Karena Zilla bosan di rumah sendirian terus," keluh gadis kecil itu.
"Papa kamu gak akan mungkin kasih izin buat tante menjemput kamu setiap hari, sayang!" ucapku padanya.
"Kenapa begitu, Tante?" tanyanya. "Zilla bisa kok, bilang ke papa kalau Zilla mau dijemput Tante sama Oma setiap hari."
__ADS_1
Aku tertawa melihatnya dari spion. Dia sedang duduk di kursi belakang bersama mama, sementara aku mengemudikan mobil.
"Karena Zilla sekolah, Nak. Zilla gak boleh kecapek-an dan harus istirahat yang cukup supaya gak sakit. Jadwal sekolah Zilla saja begitu padat," jawab mama berusaha membuatnya mengerti. Tangan lembut mama mengusap rambutnya.
Ku lihat ia tampak murung tapi aku bisa mengembalikan senyumnya. "Tante bisa izin ke papa kok, kalau Zilla mau menginap saat libur nanti."
"Yeeee!" soraknya. "Beneran, Tante, Oma?"
Mama mengangguk. Aku melihat air matanya kembali menggenang. "Beneran, Sayang! Kita bisa jalan-jalan saat siang, dan bisa bermain di rumah saat malam."
Zilla sepertinya merasa sangat senang. Ia tampak tidak sabar untuk bisa menginap di rumah kami. Mungkin selama ini ia begitu kesepian, hidup dengan seorang papa yang terkadang bekerja hingga larut malam. Dan ia hanya bersama Bik Mumun dan asisten rumah tangga lainnya.
Dan sekarang aku faham kalau uang tidak bisa membeli kehangatan sebuah keluarga. Aku bersyukur, sejak dulu mama selalu menemaniku dan memberikan kasih sayang penuh padaku, pada pengkhianat bernama Tania itu juga.
Mengingat kak Nia, selalu membuatku geram. Mengapa dia mendapatkan kasih sayang mama sementara kakakku entah mendapat kasih sayang seperti itu juga atau tidak.
Kak Nia hidup berkecukupan sementara kakak kandungku hidup dalam kesederhaan. Pasti hal itu juga yang paling mama sesalkan. Ah, entahlah. Aku tidak boleh lagi memikirkan hal itu. Zilla sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa uang tidak menjamin kebahagiaan. Dia kesepian di rumah sebesar itu. Apa Mas Zayn tidak punya orang tua lagi? Aku memang belum pernah menanyakan hal itu. Kenapa aku tidak ditakdirkan untuk menjadi manusia kepo, sih?
Aku mengantar mama pulang dan bersiap untuk kembali ke toko kue. Aku meninggalkan Zilla dan mama di rumah. Aku ingin mereka punya quality time.
"Zilla mau tante bawakan sesuatu, nanti?"
Zilla menggeleng. "Tante cepat pulang, karena Zilla ingin main sama tante," ucapnya. Permintaannya sangat sederhana, ia ingin ditemani.
Ku usap pucuk kepalannya. "Tante usahakan pulang lebih cepat ya."
__ADS_1
Aku memang harus segera ke toko kue untuk membuat kue baru lagi karena stok mulai menipis. Aku akan berusaha untuk segera kembali dan menemani Zilla bermain.