
"Maaf, papa gak bisa menemani Zilla, Sayang!" ucap Mas Zayn penuh sesal saat ia mengantarku dan Zilla sampai di sekolah.
"Enggak apa-apa, Pa. Kan ada tante Zia yang menemani," jawabnya senang sambil melihat kearahku. Aku sedang berdiri di belakangnya dan mas Zayn sedang berlutut di depannya.
Pria itu semakin hari semakin tampan saja. Apa ini hanya perasaanku saja atau memang mataku yang tidak bisa melewatkan yang segar-segar. Ah, terserahlah, ku anggap saja wajahnya seperti vitamin A yang bagus itu kesehatan mata.
Sesuai janjiku, aku akan menemani Zilla untuk ikut. Awalnya aku mengira, pihak sekolah akan membawa anak-anak kelas dua ini ke sebuah museum atau kebun binatang seperti saat aku sekolah dulu, ternyata mereka akan pergi ke sebuah tempat untuk mengajari anak-anak bagaimana caranya menanam pohon dan banyak aktivitas lainnya.
"Maaf jadi merepotkan kamu, Zi," ucapnya dengan senyum manis. Ah, diabetes, diabetes deh!
"Gak repot kok, Mas. Zilla kan juga anakku! Aku akan melakukan apapun agar ia tidak sedih lagi."
Seketika ku lihat seorang ibu menatap ke arahku. Entah bagian mana yang salah dari ucapanku. Apa kata anakku atau kata sedih?
Aku dan Zilla beserta rombongan masuk ke dalam sebuah bus. Kami mendapat tempat duduk paling belakang yang bisa diisi sampai 5 orang. Aku hanya berharap, aku tidak memuntahkan isi perutku karena aku belum pernah duduk di kursi ini saat naik bus.
"Mama barunya Zilla, Ya?" tanya seorang ibu yang duduk di samping Zilla.
Aku mengerutkan keningku, karena tidak menyangka ibu ini tahu kalau Zilla tidak punya mama. Ku balas saja dengan senyum kecil.
Seorang ibu yang duduk di depanku juga menoleh kebelakang. "Loh, mama barunya Zilla, toh! Saya kira Nanny barunya," ucap Ibu memakai perhiasan emas hampir satu kilogram mungkin.
Astaga! Aku dikira babysitternya si Zilla. Ku lihat diriku. Aku memakai sepatu, celana jeans, kaos putih dan jaket denim. Apa penampilanku sama seperti Bik Mumun?
Aku tersenyum kecil. "Bukan, Bu. Saya tantenya."
"Alhamdulillah," seru kedua ibu-ibu itu dengan wajah bahagia.
"Pak Dud idola kita masih jomblo!" ucap Ibu di sampingku tadi.
Aku membulatkan mataku. Pak Dud? Pak Duda maksudnya? Idola mereka? Oh God, kali ini kepalaku benar-benar berdenyut. Ternyata Mas Zayn yang juga idolaku menjadi idola ibu-ibu orang tua dari teman-temannya Zilla. Pantas saja, pria calm itu malas mengantar dan menjemput Zilla. Ternyata dia enggan menjadi santapan mata genit ibu-ibu ini.
Ah, aku malah geli sendiri. Tidak bisa ku bayangkan seperti apa reaksi Mas Zayn saat ibu-ibu ini menyerbunya bak artis terkenal.
__ADS_1
Zilla berbisik di telingaku. "Ibu itu suka sama papa, Tante!" Dia menunjuk ibu yang berada di depanku.
Zilla tertawa sambil menutup mulutnya saat aku membulatkan mata. Pantas saja, dia mengira aku sebagai babysitter Zilla, ternyata diam-diam dia cemburu, toh!
"Zilla tahu dari mana, Sayang?" bisikku di telinganya. Aku penasaran saja, dari mana Zilla tahu hal itu
"Dia mamanya William, Tante. William gak punya papa karena papanya sudah menikah lagi," jawab Zilla dengan polos.
Oh, jadi ini kisah cinta belum sampai antara Mbak Janda dan Mas Duda? Ah, aku merasa anak bawang kalau berada diantara keduanya. Tapi, tunggu dulu! Aku tidak yakin kalau Mas Zayn akan tertarik dengan wanita yang norak seperti itu.
"Mamanya sering bilang kirim salam ke papa ya, Zilla. Gitu tante," bisiknya lagi membuatku menahan tawa. Zilla bahkan hafal betul nada bicara mamanya William.
Kami tiba di tempat tujuan. Disini, anak-anak diajarkan untuk menanam pohon, memberi makan kelinci, memberi makan ikan, melukis, dan bermain beberapa alat musik.
Perjalanan ini terasa sangat seru saat aku melihat Zilla yang begitu cerdas tampak bahagia. Aku dan wali murid lainnya hanya mengawasi saja karena mereka sudah dibantu guru-guru dan pemandu.
"Calon istrinya, Pak Zayn, ya?"
"Masih gadis atau sama seperti Pak Zayn?"
Astaga, aku diserbu banyak pertanyaan saat tengah memperhatikan Zilla yang sedang bersiap meluncur di wahana flying fox. Aku sedang merekam aksinya untuk ku kirim kepada Mas Zayn.
Zilla tertawa senang saat tubuhnya meluncur dengan batuan seutas tali dan pengaman lainnya yang dipasang ditubuhnya. Ku letakkan ponselku dan ku tatap ibu-ibu kepo disekitarku.
"Saya tantenya, Zilla, Bu. Bukan calon mamanya, bukan babysitternya dan juga bukan pacar dari papanya Zilla," ucapku untuk menjawab pertanyaan mereka.
"Kenapa enggak pernah kelihatan menjemput Zilla ke sekolah?"
"Saya pernah kok menjemputnya, mungkin pas ibu enggak melihatnya."
"Saya sibuk, Bu. Ah, ya kalau ada waktu mampir dong ke toko kue saya." Sekalian saja aku promosi pada mereka. Kali aja salah satu dari mereka akan menjadi langganan tetapku.
Ku ambil beberapa potong cake yang sengaja ku bawa agar mereka mencicipi hasil karya dari tanganku sendiri. Mereka memuji rasanya yang enak.
__ADS_1
"Kalau mau nambah, datang ke toko ya, Bu. Saya gak bawa banyak soalnya."
"Kalau mau coba layanan pesan antar, bisa kok!" Ku ambil dompet dalam tasku dan ku serahkan sebuah kartu nama dimana ada nama sekaligus nomor telepon toko.
"Di W.A aja, Bu. Fast response, kok! Asal di jam kerja." Ah, aku memang gak sia-sia ikut dalam acara anak sekolah ini. Lumayan juga bisa promosi.
Malam harinya, aku menemui Mas Zayn di sebuah cafe. Toko kueku belum tutup tapi entah kenapa pria itu memintaku untuk menemuinya disana.
"Thank's ya, Zi, karena sudah bersedia menemani Zilla hari ini," ucapnya.
Astaga! Tubuhku lumayan lelah, dan dia mengajakku bertemu hanya untuk mengucapkan terima kasih?
"Zilla cerita, katanya kamu diganggu mamanya teman Zilla ya?" tanya Mas Zayn.
Aku tertawa. "Lumayan sedikit mengganggu, Mas. Tapi, gak masalah, kok!"
Ya, karena toko kue ramai diserbu oleh mereka yang sengaja mampir sore tadi.
"Jujur, aku gak tau kalau Zilla minta kamu yang menemaninya. Dia baru bilang beberapa hari sebelum kalian berangkat. Aku sudah menyetujui keberangkatannya dan meminta Bik Mumun untuk menemaninya."
Aku menceritakan kejadian dimana Zilla menangis karena merasa kurang beruntung sebab tidak punya mama.
"Mulai sekarang, ku rasa kamu harus mengantarnya ke sekolah, Mas," ucapku padanya.
"Zilla sudah besar dan dia mulai pandai membandingkan antara dirinya dan teman-temannya." Aku ingin bicarakan hal ini sejak kemarin dan ku rasa ini saat yang tepat.
"Dia seperti kurang perhatian, Mas."
"Dia kan sudah di urus oleh Bi Mumun, Zi. Bik Mumun baik, kok. Dia juga telaten mengurus Zilla," jawab Mas Zayn.
"Harusnya dia merasa beruntung meski hanya punya papa, Mas. Tapi, dia ternyata merasa gak seberuntung itu. Karena apa? Karena kamu lebih memilih sarapan disini dibanding mengatarkannya ke sekolah."
"Please, jangan egois!" Aku jadi terbawa perasaan begini. Aku hanya merasa miris melihat Zilla yang sepertinya tidak berdaya untuk melayangkan protes pada papanya.
__ADS_1
Mas Zayn tampak terkejut dengan ucapanku yang begitu berani. Apa dia menyadari kalau dirinya belum menjadi papa yang baik? Ku rasa dia tidak pernah berubah. Dulu, saking sibuknya, dia sampai tidak tahu kalau Kak Kania sakit keras. Lalu, dia mengulang hal yang sama pada Zilla.