
"Ba-bagaimana ini semua ...." Tenggorokanku rasanya tercekat tak sanggup lagi melanjutkan kata-kataku.
Ku tatap Mas Zayn yang berekspresi datar. Ku tatap mama dan papa yang tampak kebingungan.
Perlahan tapi pasti, kepalaku semakin terasa pening. Aku berusaha melangkah dan berpegangan pada sandaran sofa.
Mama dan papa membantuku untuk duduk. "Ada apa, Zi? Surat apa itu?" tanya papa.
Dengan tatapan kosong ku berikan kertas malapetaka itu pada papa. Aku tidak bisa memaafkan jika akhirnya Reza memenangkan permainan ini.
"Dari mana kamu mendapatkan ini, Zayn?" tanya papa tegas. Aku masih bisa mendengarnya meski kini aku tengah menutup wajahku dengan telapak tanganku.
Tangisku pecah karena apa yang selama ini ku perjuangkan sudah hilang. Kepemilikan toko sudah berpindah tangan atas nama Reza. Aku menyesal bisa sebodo*h ini sampai tidak tahu kapan Reza mencuri tanda tanganku.
"Dari Nia, Om. Dan inilah alasannya kenapa Reza terus mengejar Nia," jawab Mas Zayn.
Aku menatap pria yang terlihat buram di mataku karena air mata yang menggenang. Aku mendapat jawabannya. Ini tujuan Reza terus mencari kak Nia. Ini yang dia cari dari Kak Nia.
Lalu, Kak Nia? Sebenarnya dia itu seperti apa? Kenapa sikapnya berubah-ubah. Dia benci padaku, tapi kenapa dia rela pergi dari Reza demi mempertahankan surat ini? Bukankah ini artinya dia tidak ingin surat ini sampai ke tangan Reza?
Jawaban Mas Zayn membuat kami semua menemui Kak Nia malam ini juga. Kami masuk ke dalam mobil Mas Zayn. Dia khawatir kalau aku atau papa mengemudikan mobil sendiri, dan akhirnya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena sedang kalut sebab masalah besar ini.
Mas Zayn mengetuk pintu rumah Kak Nia. Mama dan papa menatapku khawatir. Aku mengangguk samar untuk meyakinkan mereka kalau semua akan baik-baik saja.
"Zayn ..." sapa Kak Nia saat ia membuka pintu dan terlihat wajah Mas Zayn. "Tumben malam-malam datang kesini?" tanyanya tapi seketika ia mengerti saat melihat kearah kami bertiga yang berdiri di samping pintu.
Kak Nia sepertinya mengerti kalau cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Ia mempersilakan kami masuk tanpa banyak bicara.
Ia berjalan menuju dapur dan Mas Zayn memanggilnya. "Jangan buatkan minum, Nia! Duduklah disini!" perintah Mas Zayn dan kak Nia langsung berbalik dan duduk di depan kami.
Aku, mama dan papa duduk di satu sofa yang sama sementara Mas Zayn duduk di sisi kanan kami. Ku tatap wanita hamil yang sedang menunduk itu. Dia diam dan terus saja diam.
"Nia, ceritakan pada mereka yang sebenarnya telah terjadi!" Perintah Mas Zayn.
"Kamu ingin masalah ini cepat selesai, kan?"
__ADS_1
Nia mengangguk. Ia menatap kami bertiga dengan mata berkaca-kaca. "Sebelum Nia menceritakan semuanya, tolong maafkan Nia, Ma, Pa. Zia, maafkan aku yang telah berbuat jahat padamu."
Ia menyeka air matanya. Ia juga berusaha mengatur nafasnya. Ia terlihat memegang perutnya yang mungkin sedang kram karena stress.
"Aku gak tau harus mulai dari mana, kalian boleh tanya apapun setelah aku menjelaskannya."
"Dulu, aku memang salah telah mencintai Reza. Dan aku gak tahu kalau dia ternyata hanya memanfaatkanku."
"Reza mempengaruhiku dengan mengatakan kalau bisnis kamu semuanya dimodali oleh papa sementara aku harus bekerja setengah mat*i di perusahaan orang lain."
"Padahal aku tahu, gak seperti itu sebenarnya. Tapi, Reza meyakinkanku kalau papa dan mama pilih kasih lalu kalian membohongiku."
Aku menghela nafas saat mendengar pengakuan pertamanya yang semuanya adalah bohong besar. Aku memang dibantu papa, tapi sudah ku kembalikan dengan cara mencicilnya. Dan benar, dia tahu semua itu. Aku menggadaikan sertifikat rumah ke Bank untuk membeli tanah dan bangunan karena awalnya aku menyewa ruko saat baru merintis usahaku.
"Reza membuat rencana untuk mencuri toko dan mengubah atas namanya. Lalu dia berjanji akan menikahiku, dan kami akan hidup bersama karena saat itu aku sudah hamil."
Pengakuannya membuatku geram. Kalau rencana itu memang ada, untuk apa Reza melamarku?
"Reza gak pernah mengatakan kalau dia telah melamar kamu, Zi. Enggak sama sekali." Dia menangis sesenggukan karena menyesali semua yang telah terjadi.
Aku melihat kembali Kak Nia yang dulu ku kenal. Baik buruknya dia, aku sudah menerimanya sebagai saudara. Tapi, Reza mengubahnya menjadi orang lain. Ku tahu, pasti pria itu menggunakan status kami yang sebagai anak kandung dan anak angkat untuk membuat Kak Nia semakin iri padaku.
"Selama ini, aku menyimpan surat ini sebagai jaminan agar dia mau meneruskan pernikahan kami setelah kalian mengetahuinya."
"Aku ingin anakku lahir dengan nama ayahnya di akta kelahiran. Apa keinginanku ini berlebihan, Ma?"
"Reza setuju dengan kesepakatan kami. Mungkin karena dia takut aku merusak surat ini dan dia gak mendapatkan apapun," ujar Kak Nia lagi.
"Lalu, tiba-tiba dia mengatakan kalau kamu memintanya untuk melakukan tes DNA," ucapnya sambil melihat wajahku.
Deg!
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Dan Kak Nia menjelaskan lebih banyak fakta yang membuatku semakin merasa bersalah padanya.
Ternyata Reza menyiksanya dan memperlakukannya secara kasar, mengambil semua perhiasan termasuk kartu ATMnya supaya dia mau menyerahkan surat yang selama ini ia akui masih tertinggal di rumah kami, yaitu di kamarnya. Ia berbohong dan Reza percaya karena selama ini dia tidak pernah menunjukkan lagi surat itu setelah mereka memutuskan untuk menikah.
__ADS_1
"Jadi, terakhir kali dia melihat surat ini, saat kalian belum menikah?" tanyaku mencoba memastikan.
Kak Nia mengangguk. "Ya, karena selama ini aku mengatakan padanya, aku ingin jaminan untuk anakku sehingga aku baru akan menyerahkan surat ini saat anakku sudah lahir."
"Kalau memang begitu, kenapa Reza mengejar surat ini sekarang? Bukannya dia tahu kalau anak kalian belum lahir?"
"Karena pertengkaran kami, Zi. Karena aku menyadari Reza telah mengadu domba kita. Dia mau membuatku semakin dibenci dan dia mau aku semakin membenci kamu."
"Mungkin dengan begitu, dia mengira aku akan menyerahkan surat itu agar kamu kesusahan."
Ya, masuk akal juga dan untungnya Kak Nia tidak melakukannya. Dia masih mempertahankan surat ini ditangannya.
Aku memijat keningku yang terasa pusing karena semua fakta ini terkesan berputar-putar. Semuanya seperti benang kusut yang tidak tau harus ku urai dari mana.
"Intinya, Nia memang bersalah karena hubungan Nia dan Reza awalnya serius sampai mereka menipu kamu, Zi," ucap Mas Zayn menarik kesimpulan.
"Dan sekarang Nia adalah korban karena Reza gak sabar untuk menguasai usaha kamu," lanjutnya.
"Tapi kenapa baru sekarang. Kenapa gak kamu sobek saja surat itu dihadapan Reza?" tanya Papa pada kak Nia.
"Dia gak berdaya, Om!" seru Mas Zayn membuat papa marah.
"Om tanya sama dia, Zayn. Bukan sama kamu!"
"Kalau aku melakukannya, dia akan membun*hku dan anakku ... Pa." Kak Nia masih menangis.
"Kalau ku beri tahu kalian, yang ada aku pasti di tuduh dan kalian akan semakin benci padaku tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan."
"Sama seperti mengenai tuduhan aku selingkuh."
Aku menunduk lemah. Orang yang dia maksud adalah aku. Aku yang dengan bod*ohnya percaya pada Reza.
"Kita harus lapor polisi, kalau begitu."
"Jangan, Pa?" rengek Kak Nia. "Aku gak mau masalah surat ini malah membuatku mendekam di penjara karena aku yang meminta tanda tangan Zia waktu itu."
__ADS_1
Dasar Reza licik! Dia sengaja mau cuci tangan rupanya. Dia pintar juga, karena jika kasus ini ku bawa ke jalur hukum, kemungkinan yang jadi tersanga adalah Kak Nia. Batinku kesal.
"Aku akan tetap memberinya pelajaran," aku bergumam. Tekadku sudah bulat. Pria itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal.