Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 35 Cucu


__ADS_3

"Mulai sekarang kamu harus pulang lebih cepat, Zi! Aku gak mau kamu sakit karena kelelahan," ucap Mas Zayn yang mondar mandir mengikutiku yang sedang sibuk di dapur toko.


Aku sedang memanggang roti untuk ku jual besok. Karyawan yang biasa membantuku izin pulang karena sedang tidak enak badan. Jadi, aku mengerjakan semuanya sendirian.


Aku sudah mengatakan alasannya pada Mas Zayn dan dia tetap bersih keras untuk memintaku pulang lebih awal.


"Harusnya kamu tahu kalau aku begini karena mengkhawatirkanmu!" ucapnya dengan suara agak keras.


Aku menghentikan pekerjaanku. Aku menatapnya yang mulai terlihat gelisah. Mungkin dia sadar kalau sudah meninggikan nada suaranya dan dia juga tahu kalau aku tidak suka itu. Aku paling anti dibentak.


"Zi," suaranya mulai melemah.


Aku membuang muka dan kembali melanjutkan pekerjaanku dengan menahan sesak di dada. Aku terbiasa mendengar Riri berteriak padaku, tapi tidak dengan teriakan Mas Zayn.


Aku mendiamkannya sampai aku selesai dan aku bersiap pulang. Dia bergerak seperti bayanganku dan mengikuti kemanapun kakiku melangkah.


"Zia, tunggu!" Dia menarik tanganku saat kami akan keluar dari toko.


"Aku minta maaf," ucapnya tulus.


Aku berbalik dan ku tatap tajam matanya. Ia menghela nafas. "Aku minta maaf."


Aku menghempaskan tangannya. Ku tatap matanya yang merasa bersalah itu. "Kamu tahu pekerjaanku sejak awal, Mas."


"Kamu tahu jam berapa aku biasanya pulang dan apa saja yang ku lakukan di sini," ucapku padanya.


"Lalu, kenapa kamu protes, Mas? Apa karena sekarang kamu merasa punya hak untuk mengaturku?" tanyaku sinis.


"Bu-bukan begitu, Zi. Pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi dan kamu terus-terusan pulang larut malam, aku takut kalau kamu sakit," ujarnya sambil memegang kedua lenganku.


"Aku bisa jaga kesehatan, Mas. Aku tahu sampai mana batas kemampuanku. Kalau aku capek, aku pasti istirahat sebentar, dan nanti aku bisa lanjut lagi." Aku kesal karena sekarang dia begitu egois.


"Maaf," ucapnya lirih.


Aku mengangguk dan kami bersiap pulang. Di dalam mobil, aku dan dia saling diam. Aku masih kesal dengannya sementara dirinya mungkin merasa bersalah. Selama ini aku pun belum pernah melihatnya marah.


"Aku juga minta maaf, Mas," ucapku dan dia seketika menoleh ke arahku.


"Aku tau kamu gak mau kalau aku sakit menjelang pernikahan kita."


Dia menggenggam tanganku dan ia kembali fokus mengemudi. Dia tidak bicara apapun hingga kami sampai di rumah.


Tanganku masih dalam genggamannya. Ia kini menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.


"Berjanjilah, Zi."


Janji?


"Kita gak akan memilih berpisah karena sebuah masalah kecil," ucapnya dengan suara lembut.

__ADS_1


"Aku manusia biasa yang sesekali pasti akan kalah dengan egoku. Aku pasti sesekali akan sulit untuk meredam amarahku."


"Dan jika saat kamu melihatku seperti itu, ku mohon, peluk aku," lanjutnya.


"Peluk?" tanyaku. Dia marah dan aku harus memeluknya.


Mas Zayn mengangguk. "Ya, supaya aku sadar kalau untuk bisa memiliki kamu harus melewati perjalanan panjang."


Dia merentangkan tangannya. "Dan sekarang aku butuh pelukan."


Dengan sedikit ragu, aku masuk ke dalam dekapannya. Kedua tangannya seketika memeluk tubuhku. Ku rasakan salah satu tangannya mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang.


Mas Zayn diam mematung. Entah apa yang sedang ia lakukan. Aku bergerak sedikit dan ku coba melihat wajahnya. Dia memejamkan mata?


"Mas, kita bisa disidak papa, nih?" bisikku karena jika sampai papa keluar dari dalam rumah dan melihatnya memelukku seerat ini, ku yakin papa akan mengamuk.


"Biarin aja, biar diminta nikahin kamu segera," ucap Mas Zayn dengan tenang.


Aku memukul lengannya. "Kita memang mau nikah, Mas!"


Dia tertawa dan dadanya bergetar. Ia melepaskanku dan menangkup kedua pipiku.


"Aku gak mampir, ya."


Aku mengangguk. Lagi pula, siapa yang memintanya untuk masuk. Sekarang sudah hampir jam 11 malam, mana mungkin ku biarkan dia masuk.


"Di sini aja. Kamu bisa langsung balik, Mas."


Dia mengangguk tapi sama sekali tidak mengubah posisinya.


"Lepasin, dong! Bagaimana caranya aku bisa masuk kalau pipiku kamu tahan begini, Mas?" protesku karena tangannya belum juga lepas dari wajahku.


"Karena aku belum selesai," ucapnya dengan suara berat.


Aku membulatkan mata karena belum sedetik, ia sudah menciu*mku. Menempelkan bibirnya yang terasa lembut dan manis.


Dia menghapus jejak bibirnya dan menyatukan kening kami. Nafasnya memburu. Tangannya berada di sisi kanan dan kiri leherku.


"Mas ...." bisikku dengan tangan yang berusaha menahan dadanya agar tidak semakin mendekat dan menekan tubuhku.


Tatapan matanya berselimut kabut ga*irah dan aku tidak mau dia melampaui batas.


Dia menunduk dan meletakkan keningnya di bahuku. "Aku ..."


"Tiga hari lagi, Mas!" bisikku karena sepertinya aku tahu kemana arah bicaranya.


Dia tertawa pelan. "Gak boleh nyicil ya?" tanyanya.


Aku memang belum berpengalaman soal melampiaskan ga*irah. Tapi, mama dan Riri banyak mengajari dan memperingatkan aku kalau pria yang sedang bersamaku ini adalah seorang duda.

__ADS_1


Dia sudah berpengalaman dan sangat wajar jika sesekali ia menginginkan hal itu. Apalagi dia yang sudah menganggur selama dua tahun.


Aku mengusap bagian belakang kepalanya. "Sepertinya gak bisa, Mas. Cintaku bukan panci yang bisa dicicil," candaku.


Dia tertawa. Dia menatapku sekarang. Aku mengusap wajahnya. Mataku tertuju pada alisnya yang tebal, matanya yang sedikit sipit dan hidung mancungnya. Lalu, aku menatap lama pada bibirnya yang berhasil membuat jantungku nyaris copot. Mungkin ini pertama kalinya aku dan dia seint*im ini.


"Kenapa? Mau coba lagi?"


Belum sempat menjawab, dia sudah melakukannya lagi. Kali ini hanya beberapa detik.


Aku sedikit kecewa sih, tapi sepertinya ini lebih baik dari pada akhirnya dia meminta lebih.


"Ada papa," bisiknya. Dan hal itukah yang membuatnya berhenti?


Kali ini, jantungku benar-benar hampir copot. Ku lirik ke arah teras dan papa sedang melipat tangannya di dada sambil melihat ke arah kami. Jarak mobil Mas Zayn dan teras rumah lumayan jauh, ada tanaman mama yang tidak berani kami dekati karena kalau tersenggol, berarti cari mat*.


Aku segera keluar dari mobil saking paniknya. Dan Mas Zayn malah ikut keluar.


"Mau apa?" tanyaku dengan suara pelan.


"Ketemu papa," jawabnya enteng.


Aku memijat keningku. Ini sih seperti maling yang mendatangi polisi dan memberikan pengakuan.


"Kita hadapi papa dengan senyuman," ucapnya sambil tersenyum.


Mas Zayn menggandeng tanganku dan melangkah dengan percaya diri. Aku sampai menatapnya heran meskipun jika orang lain yang melihat wajahku, jelas seperti orang yang sedang ketakutan.


"Selamat malam, Pa." Mas Zayn menjabat tangan papa.


"Maaf kalau sampai kemalaman, Pa."


"Hem ...." jawab Papa membuatku semakin ketar-ketir.


"Masuk, Zi!" perintah papa dan aku terkejut menatapnya.


"Masuk sekarang! Papa mau bicara sama Zayn!" Suaranya terkesan dingin. Papa sepertinya benar-benar marah.


Aku masuk dengan langkah kecil. Ku lirik Mas Zayn yang tampak tersenyum manis. Aku berhenti di dekat pintu untuk mendengar obrolan mereka.


"Kamu jangan sembunyi disitu, Zia!"


Astaga! Papa tahu saja kalau aku masih belum masuk ke dalam kamar.


Aku tak menjawab dan tetap berdiri disana. Penasaran sekali dengan apa yang akan papa katakan padanya.


"Masih normal, kan Zayn?" Ku dengar papa bertanya seperti itu. Entah apa yang normal dan aku tidak mendengar Mas Zayn menjawab.


"Bagus kalau begitu! Segera beri papa cucu bulan depan!" Setelahnya papa tertawa sambil menepuk sesuatu yang ku yakin adalah bahu Mas Zayn.

__ADS_1


__ADS_2