Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 36 Rahasia


__ADS_3

Pagi yang indah ini, gerimis membasahi bumi. Sinar matahari enggan menampakkan pesonanya, sama seperti diriku yang masih menutup seluruh tubuh dengan selimut tebal.


Aku tidak tidur, karena sibuk terus-terusan senyum sendiri saat teringat permintaan papa kemarin malam. Papa meminta cucu yang harus kami penuhi pada bulan depan. Sedikit menggelikan sih. Apa mungkin bisa secepat itu?


Selanjutnya bayangan malam pertama bermunculan difikiranku. Bagaimana aku harus bersikap? Apakah tidak akan terasa canggung kalau seandainya hanya ada aku dan dia di dalam kamar?


Setiap kali mengingat itu, seluruh bulu romaku berdiri tegak. Tak bisa ku bayangkan bagaimana malunya aku, tidur tanpa busana di ... arrhhh!


Ku garuk kepalaku yang tak gatal sehingga seluruh rambutku berantakan. Aku mengubah posisi. Aku tidur tengkurap dan membenamkan wajahku di bantal.


Tok ... tok ....


Aku mendengar suara kaca yang diketuk. Ah, mungkin hanya salah dengar.


Tok ... tok ....


Suara itu lagi. Aku bangun dan melihat ke arah balkon kamarku. Mataku membulat sempurna saat kulihat Mas Zayn sedang berdiri di luar, bersandar pada pagar balkon dengan memakai celana training berwarna hitam dan sweter hoodie berwarna senada.


Aku mengucek mataku. Semakin mendekati pernikahan sepertinya aku mulai stres dan muncul halusinasi seperti ini. Mungkin juga karena aku terus memikirkannya.


Ku lihat kearah jendela lagi. Dan dia masih disana. Sekarang malah tersenyum ramah sambil melambaikan tangannya. Ah, manis sekali.


Aku memiringkan kepalaku sambil tersenyum manis pada sosok yang ku kira hanya ada dalam anganku.


"Buka pintunya," ucapnya meski tak ku dengar. Aku hanya melihat gerak mulutnya.


Aku terkesiap. Jadi ini nyata? Aku membulatkan mataku. Aku bergegas turun dari tempat tidur dan merapihkan rambutku.


"Malu sekali. Bisa-bisanya aku bertindak sebod*oh ini," gumamku merutuki diri sendiri.


Aku sebenarnya tidak benar-benar baru bangun tidur. Aku sudah sholat subuh dan membuka tirai jendela dan tirai pintu menuju balkon.


Aku membuka pintu dan langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan. "Kamu ngapain disini, Mas? Dan dari mana kamu naik? Papa tahu, gak?" Aku melihat ke kanan dan ke kiri untuk melihat situasi.


Dia duduk di sofa kecil di samping pintu. "Papa kamu tahu, kok."


"Ha? Aku gak percaya," sergahku.

__ADS_1


"Kamu fikir, bagaimana caranya aku naik ke sini?" tanyanya.


"Memanjat dinding?"


Aku mengangguk karena ku fikir juga demikian. Dia pasti terlihat keren saat berhasil naik ke lantai dua dengan memanjat dinding bak aktor di film-film action.


Dia malah tertawa. "Papa kamu yang pegangi tangga di bawah sana," ucap Mas Zayn sambil menunjuk ke arah bawah dengan dagunya.


Rasa penasaran membuatku perlahan bergerak mendekati pagar pembatas. Benar saja, tangga lipat setinggi 3 meter itu masih berdiri tegak di bawah sana. Sementara papa terlihat sedang duduk sambil ngopi di gazebo depan rumah.


Dengan perasaan kesal karena semua tak seperti ekspektasiku, aku mendekatinya dan duduk di sampingnya.


"Cemberut melulu. Mandi sana!" usirnya, tapi tangannya terulur menyentuh rambut panjangku.


"Belum mandi, kan?" tanyanya.


"Sudah. Sejak subuh tadi," jawabku singkat. Aku menyandarkan kepalaku di sandaran sofa.


"Oh ya?" tanyanya sambil menatapku.


"Bagus deh, jadi nanti setelah menikah kamu sudah terbiasa mandi pagi-pagi," jawabnya tanpa menatapku.


Aku tahu arah bicaranya. Aku malas menanggapinya lagi. Aku malah penasaran kenapa dia ada disini dan sejak kapan?


"Awalnya sih mau jogging, terus mampir ke sini karena orang-orang W.O akan mulai mendekor rumah ini. Berhubung cuaca kurang mendukung, akhirnya ku putuskan untuk langsung ke sini."


"Kenapa gak lewat pintu?" tanyaku sewot saat teringat kekonyolan beberapa menit lalu.


"Kalau lewat pintu, aku gak akan melihat kalau kamu masih sangat cantik meski baru bangun tidur sekalipun."


Aku menatapnya dalam. Apa dia memang seromantis ini? Kata-katanya memang sederhana dan sama sekali di tidak mengejekku padahal wajah dan rambutku sangat berantakan, tadi.


Apa pria pemain memang seperti ini? Semua kata-katanya begitu sopan dan membuat lawan bicaranya melambung hingga ke awan?


Persiapan pernikahan pun mulai dilakukan. Tidak ku sangka kalau akan serepot ini. Beberapa barang-barang dari W.O terlihat berserakan di ruang tamu rumah kami.


Ku duduk di anak tangga dan melihat bagaimana sebuah tim yang terdiri dari enam orang itu bekerja dengan sangat kompak.

__ADS_1


Mas Zayn belum pulang, dia malah sibuk berbincang dengan papa. Dia sebenarnya tidak datang sendirian. Ia membawa Zilla juga. Gadis itu sedang duduk di luar sambil memainkan game di sebuah ponsel.


Panjang umur gadis kecil itu, dia tiba-tiba muncul dan berjalan mendekatiku. Aku merentangkan tanganku dan mendekapnya.


"Sudah capek main gamenya?" tanyaku.


Dia menggeleng. "Belum. Dan Zilla kesini mau minta bantuan tante untuk menyelesaikan game ini."


Ku lihat layar ponselnya dan ternyata ia sedang memainkan game tebak gambar. Tentu ini sangat mudah untukku. Kami tertawa bersama saat berhasil menjawab setiap tantangan.


"Aduh, Zilla mau ke toilet sebentar, Tante." Gadis kecil itu memegang perutnya yang terasa sakit karena sudah tak bisa menahan rasa ingin buang air besar.


Aku berhenti memainkan game tersebut. Dan wallpaper ponsel itu mencuri perhatianku. Ponsel itu memang milik Mas Zayn, tapi entah ponsel yang keberapa karena sepertinya ponsel ini tidak pernah pria itu bawa saat bersamaku.


Wallpaper itu sama sekali bukan fotoku melainkan foto almarhumah istrinya bersama Zilla.


Aku tersenyum kecil dan aku penasaran untuk mengetahui lebih jauh isi ponsel itu. Terlihat ada dua SIM Card yang terpasang, tapi aku sama sekali tidak pernah tahu nomor ponsel lain selain yang biasa ku hubungi.


Tanganku tergerak untuk membuka aplikasi pesan. Aku menghela nafas dan meletakkan ponsel itu ke lantai.


"Aku gak boleh melanggar privasinya," gumamku dengan perasaan bimbang.


Tapi, akukan calon istrinya. Batinku membela diri.


Akhirnya dengan lancang, ku buka aplikasi pesan berwarna hijau itu. Jujur saja, aku merasa deg-degan karena takut jika aku menemukan fakta yang mengejutkanku.


Aku tersenyum senang, karena hanya ada nomor orang tua angkat mamanya Zilla, dan nomor Bik Mumun serta Pak Marno. Tapi, ternyata belum selesai sampai disitu. Ada nomor tanpa nama di bagian paling bawah. Nomor yang tak asing bagiku.


Bukankah ini nomor ponselku? Batinku.


Aku merasa Mas Zayn tak pernah mengirimkan pesan padaku dengan nomor lain. Tapi kenapa dia pernah mengirimkan pesan dengan ponsel ini?


Ku buka pesan itu dan mataku membulat sempurna. Fakta paling mengejutkan membuatku tak bisa berkata-kata lagi.


Aku merasakan sesak di dadaku. Ku coba untuk berfikir positif. Ku telepon nomorku sendiri. Dan tak butuh waktu lama, nomor ponsel itu muncul di layar ponselku.


Air mataku menetes. Apakah ada rahasia lain yang Mas Zayn sembunyikan dariku?

__ADS_1


__ADS_2