Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 34 Restu


__ADS_3

Keputusanku untuk menikah dengan Mas Zayn semoga bukan keputusan yang salah. Terlalu sulit membuat keputusan yang begitu besar seperti ini terlebih setelah dulu aku begitu gegabah menerima Reza yang ternyata tega menyakitiku.


Mas Zayn memang sosok sempurna, tapi statusnya yang duda dan sebagai abang iparku pula, membuatku sedikit takut kalau hubungan kami mencuri perhatian banyak orang. Aku takut mama dan papa malu untuk ke dua kalinya setelah kelakuan Kak Nia dan Reza.


Papa memeluk Mas Zayn saat pria itu memohon restu papa untuk meminangku. Tanpa pertunangan, hubungan kami akan langsung melangkah ke pernikahan dalam waktu dekat.


"Kenapa terlalu terburu-buru, Nak? Apa kalian sudah fikirkan matang-matang? Lalu bagaimana dengan persiapannya?" tanya mama meskipun papa sudah setuju kalau pernikahan kami akan berlangsung minggu depan.


"Apa yang harus kita tunggu, Tante? Bukankah menunggu jawaban darinya saja sudah terlalu lama. Aku cuma takut kalau dia berubah fikiran lagi."


Papa tertawa mendengar alasannya. Sebenarnya tidak seperti itu. Kami merasa niat baik memang harus segera dilaksanakan karena biasanya akan banyak cobaan dan godaan yang datang dan menghalangi niat baik itu terlaksana.


"Mama hanya khawatir kalian terlalu kerepotan dan akhirnya kelelahan. Meski begitu, mama merestui kalian, Nak. Jaga dia ya, Zayn. Tarik saja telinganya kalau dia bandal." Ujung-ujungnya aku juga yang kena. Mama selalu saja menganggapku seperti anak kecil.


Aku tertawa. Ku peluk tubuh mama yang tampak lebih kurus. Dia pasti kepikiran dengan masalah yang telah berlalu itu. Aku akan berusaha menjalani kehidupanku dengan lebih baik lagi agar mama tidak memikirkanku secara berlebihan. Aku tidak mau mama stres dan jatuh sakit.


Sebagai sepasang calon pengantin pada umumnya, tentu saja kami melakukan persiapan semaksimal mungkin.


Pernikahan yang sempurna memang bukan tentang seberapa mewah, tapi yang terpenting adalah rasa khidmat dan berjalan lancar.


Akad nikah sengaja diadakan di rumah dan dihadiri para tetangga dan kerabat dekat agar mereka tahu dengan siapa aku menikah. Agar tidak timbul fitnah dan muncul isu kalau aku merebut suami orang. Kami memang mengkhawatirkan kesalah fahaman seperti itu.


Bagian dari persiapan yang paling lama selesai adalah memilih kebaya yang akan ku pakai saat akad.


"No! Jelek, Tante!" Dengan mengerutkan hidungnya, Zilla mengacungkan jari telunjuk dan mengerakkannya ke kanan dan ke kiri tanda ia tak suka dengan kebaya yang ku pakai.


Dia malah lebih repot saat membantuku memilih kebaya dibanding papanya yang lebih banyak diam sembari menatapku yang entah berapa kali keluar masuk fitting room.


"Zilla, ini sudah yang ke empat loh! Masa dari tadi say no terus." Aku protes karena aku sudah lemas.


Semua kebaya yang ku coba sudah pas di tubuhku, tapi gadis kecil ini selalu berkomentar buruk.


"Ini yang terakhir, Tante! Promise!" ucapnya mengacungkan jari kelingking.


Seorang pegawai butik memberiku setelan kebaya yang Zilla pilihkan.

__ADS_1


Dengan langkah gontai aku masuk lagi ke fitting room untuk memakai kebaya pilihannya.


Sama seperti yang sebelumnya, yang ini juga pas di tubuhku. Bagian dada yang tidak terbuka memang terasa lebih nyaman menurutku.


"Bagaimana?" tanyaku dengan muka masam. Aku sudah siap dengan kata no yang akan ku dengar beberapa detik lagi.


Dia tersenyum lebar. "Sempurna!" serunya senang.


Aku membulatkan mata. Antara senang karena drama mencoba kebaya sudah berakhir atau karena komentarnya yang begitu berbeda.


Ku lihat Mas Zayn menatapku. Dia memang duduk agak jauh di belakang Zilla. Dia mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum lebar.


Astaga! Aku tak percaya kenapa dia jadi begitu antusias. Padahal sedari tadi ekspresinya tampak biasa saja.


"Apa secantik itu, Sayang?" tanyaku pada Zilla karena aku heran melihat respon papanya.


"Iya, Sayang!"


"Iya, Tante!"


Mas Zayn dan Zilla menjawab bersamaan. Aku merasa geli. Padahal yang ku tanya adalah Zilla tapi papanya juga ikut menjawab. Dia ingin ku panggil Sayang, uh?


"Iya, papa kan cuma bantu jawab, Sayang!" jawab Mas Zayn yang salah tingkah. Ia melirikku sekilas.


"Papa, lapar," bisik Zilla saat kami baru saja keluar dari butik.


Ku lihat jam tanganku dan memang sudah waktunya makan siang. Pantas saja cacing di perutku juga protes minta makan.


Mas Zayn mengusap rambut putrinya. "Mau makan apa?"


Kami masuk ke tempat makan sesuai dengan pilihan Zilla. Gadis itu terlihat bahagia karena kami libatkan dalam persiapan pernikahan kami 5 hari lagi.


Entah dunia ini yang terlalu sempit atau memang takdir yang selalu mempertemukan kami, mataku melihat Reza yang sedang menggandeng tangan seorang wanita cantik.


Ia dan wanita itu tampak bahagia. Mendadak hatiku memanas karena aku tidak terima dia bersenang-senang dengan wanita lain sementara kakakku sedang kesulitan membawa janin dalam perutnya.

__ADS_1


Kak Nia selalu kerepotan saat ia harus bolak balik ke kamar mandi karena usia kehamilan yang semakin mendekati persalinan. Dan Reza malah tidak sedikitpun peduli padanya.


Anak yang tidak kamu inginkan telah kamu sia-siakan, Za. Bagaimana kalau kelak Tuhan mengujimu dengan cara tidak menghadirkan anak meski kamu menginginkannya? Bukankah karma itu ada?


"Hei, lihat apa?" tanya Mas Zayn membuatku terkesiap.


Aku mengelus dadaku. Aku membuang fikiran buruk itu. Mengapa aku seperti menyumpahinya? Aku tidak boleh seperti itu. Tuhan lebih tahu bagaimana cara untuk menguji hambanya.


"Reza?" Mas Zayn menatapku setelah ia juga melihat arah yang ku lihat tadi, di mana Reza berada.


"Dia dengan wanita lain." Aku tertawa miris. "Apa semua laki-laki seperti itu?"


"Aku dalam pengecualian," jawab Mas Zayn cepat.


Aku mengerutkan keningku. Dia begitu yakin mengatakannya. Ya, aku percaya sih, kalau dia tidak sejahat Reza. Aku juga percaya kalau dia tidak suka mempermainkan wanita.


"Pa, itu tante hamil," ucap Zilla spontan sambil menunjuk ke kanan.


Aku melihat Kak Nia sedang membawa beberapa paperbag di tangannya. Ia berjalan agak kesulitan.


"Kak Nia sedang apa disini?" gumamku panik.


Selain aku takut dia melihat Reza, aku juga takut kalau dia pingsan. Wajahnya terlihat lelah dan sedikit pucat.


"Kak," sapaku setekah aku menghampirinya.


"Kamu disini, Zi? Sama siapa?" tanyanya.


Aku menunjuk Mas Zayn dan Zilla, lalu segera membawanya ke meja kami.


"Kakak belanja banyak?" tanyaku sambil menuntunnya.


"Keperluan buat baby, Zi," jawabnya semangat. Dia sepertinya menjadikan janin itu sebagai harapannya dan juga seseorang yang harus ia bahagiakan suatu hari nanti.


"Kakak harusnya belanja online saja. Capek tau, jalan keliling mall begini," omelku.

__ADS_1


"Aku mau pilih langsung dan memastikan kalau semuanya terbuat dari bahan yang berkualitas, Zi," jawabnya.


Aku maklumi karena dia masih baru merasakan kehamilan. Wajar kalau dia begitu bersemangat meski suaminya ... ya, kalian tahu sendirilah!


__ADS_2