
Kedua kaki dan tanganku bergetar hebat saat aku melihat toko kue ku sudah hangus terbakar. Bangunan satu lantai itu kini hanya menjadi seonggok bangunan usang penuh kenangan.
Aku tak sanggup turun dari mobil, terlebih saat ku lihat Riri dan semua karyawanku sedang menangis di pinggir jalan. Bahkan mereka yang belum harusnya belum berganti shift malah sudah disana.
Jojo dan Putra sedang berdiri bersama papa. Dan tangan Jojo terlihat terlilit perban, mungkin dia mengalami luka bakar.
"Kita turun sekarang?" tanya Mas Zayn yang sedari tadi menggenggam tanganku.
Mas Zayn membantuku untuk turun dari mobil. Kami berjalan mendekat dan Riri langsung memelukku.
"Zia ...." Ia terisak. Kami sama-sama menangis tanpa mengatakan apapun lagi. Aku tahu, dia sama sedihnya sepertiku karena toko kue ini seperti rumah kedua baginya dan juga tempatnya menggantungkan hidup.
"Anak-anak gak ada yang terluka, kan Ri?" tanyaku setelah kami saling berpelukan cukup lama.
Riri menggeleng. "Cuma Jojo." Riri menunjuk ke arah Jojo.
"Kami sempat menyelamatkan beberapa barang-barang, termasuk sejumlah uang yang kebetulan sedang ku hitung."
Aku mengangguk dan ku tepuk bahunya beberapa kali. "Kalian selamat, itu sudah sangat berarti untukku."
Bohong sebenarnya, aku tidak mungkin baik-baik saja saat apa yang ku rintis dari nol musnah dalam sekejap.
"Dugaan sementara adalah korsleting listrik, Zi," ucap papa yang saat ini sedang menenangkan aku.
Mama tak melepaskan pelukannya di pinggangku. Mas Zayn juga tetap disampingku. Semua karyawanku juga bersimpati atas musibah yang terjadi padaku.
"Zilla belum bisa dihubungi," ucap Mas Zayn saat aku memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Bagaimana dengan Nia, Zayn?" tanya papa.
Mas Zayn juga menggeleng. "Gak aktif, Pa."
"Lapor polisi, Mas!" perintahku cepat. Entah kenapa aku merasa bukan suatu kebetulan toko kue terbakar terjadi bersamaan dengan menghilangnya Zilla dan kak Nia.
Mas Zayn segera menghubungi pak Marno untuk mencari mereka ke rumah kak Nia. Siapa tahu mereka berada di sana.
Mas Zayn tampak lesu. Aku mendekati dan memeluknya yang sedang duduk bersandar di sofa. Mama dan papa pergi Kak Nia dan Zilla mencari yang pergi dengan mobil papa.
"Mas, apa gak sebaiknya kita ikut mencari di jalan-jalan? Siapa tahu ada pengunjuk, Mas."
Mas Zayn menggeleng. "Kita tunggu kabar, kalau ada informasi terbaru, kita baru fikirkan langkah selanjutnya yang harus kita tempuh."
"Kamu gak khawatir, Mas?" tanyaku saat melihat dia yang menolak untuk mencari.
__ADS_1
"Sangat, Zi. Sangat khawatir, tapi aku harus tetap tenang."
"Bagaimana kalau Zilla-"
"Ssstt! Jangan berfikiran macam-macam. Kita doakan semoga mereka baik-baik saja. Aku hanya berfikir positif, kalau Nia pulang ke rumah dan mereka malah istrahat disana."
"Kamu percaya sama Kak Nia, Mas?" tanyaku yang kembali meragukan kak Nia. Aku takut dia melakukan hal buruk pada Zilla karena iri padaku, mungkin.
"Aku tahu dia orang baik, Zi."
Tak berapa lama, Pak Marno menghubungi dan mengatakan ada mobil dengan plat yang sama seperti mobil ayah terparkir di rumah Kak Nia. Namun, kondisi rumah masih terkunci.
Kami segera pergi ke sana. Aku sangat khawatir dengan kondisi Zilla dan Kak Nia. Jika memang terjadi sesuatu, itu artinya sudah sejak beberapa jam yang lalu.
Jika mereka diculik, maka entah sudah sejauh mana pelakunya membawa mereka. Lalu, jika terjadi sesuatu dengan kandungan kak Nia, maka bagaimana paniknya Zilla menghadapi situasi itu?
Aku menangis. Ku gigit bibir bawahku agar aku tak bersuara. Sesak sekali dada ini. Baru hari ke dua aku menjadi mamanya Zilla, tapi aku tidak bisa menjaganya.
Mama dan papa sudah tiba di sana. Aku dan Mas Zayn segera turun. Aku dan Mas Zayn mengintip ke dalam mobil dan melihat ponsel Zilla terjatuh di lantai mobil.
"Handphone Zilla, Mas!" pekikku panik.
"Mas, ini gak beres, Mas! Zilla gak mungkin meninggalkan handphonenya di mobil."
"Mas, lapor polisi, Mas!" pekikku panik. Aku mengguncang lengan Mas Zayn dan pria itu menenangkanku.
"Sebentar, Zi!"
Mas Zayn mengambil kunci pintu rumah itu yang ia simpan di dalam tanah di pot yang menggantung di teras rumah.
Mas Zayn membuka pintu dan memeriksa isi rumah yang tampak rapi tapi sedikit berdebu. Kak Nia memang sudah beberapa lama tidak pulang ke rumah ini.
"Maaf pak, saya mau tanya, sejak kapan mobil ini terparkir disini, Pak?" tanya Mas Zayn pada tetangga yang kebetulan sedang keluar rumah.
"Sejak siang, Pak."
"Orang yang mengendarai mobil itu pingsan, Pak! Dan temannya membawanya ke dalam mobil lain."
Aku dan Mas Zayn saling tatap. Siapa kira-kira orang yang pria itu maksud?
"Apa anak kecilnya juga ikut, Pak?" tanya Papa.
Pria itu mengangguk. "Ya, anak kecil itu juga ikut, Pak."
__ADS_1
"Mas, cctv!" pekikku saat menyadari ada cctv di teras rumah yang ditempati Kak Nia.
Kami masuk ke dalam. Aku melihat layar laptop yang sengaja Mas Zayn simpan di rumah itu.
"Ada dua orang, Mas!" bisikku saat melihat dua orang turun dari mobil yang berhenti di belakang mobil Kak Nia. Seorang pria yang memakai topi dan wanita berambut sebahu.
Kak Nia membuka pintu mobil dan pria itu seperti sedang membekapnya.
"Dia dibius!" pekik Mas Zayn.
Lalu wanita yang datang bersama pria itu menuntun Zilla untuk berjalan masuk ke dalam mobil. Zilla dalam keadaan sadar, tapi terlihat kalau wanita itu menodorkan benda tajam ke punggung Zilla.
Mungkin pria yang merupakan tetangga kak Nia itu tidak melihat kejadian ini seluruhnya, sehingga keterangannya tidak sama persis dengan apa yang terekam cctv.
Wajar saja kalau tidak ada yang curiga karena Nia digendong dalam keadaan pingsan. Mereka juga terkesan datang bersamaan.
"Kurang ajar!" Mas Zayn menggebrak meja. Ia marah karena merasa bersalah atas kejadian yang menimpa putrinya ini. Tidak seharusnya kami meminta Zilla menyusul ke hotel.
Laporan polisi sudah kami buat. Ku harap pihak berwajib bisa menemukan mereka dalam keadaan baik-baik saja.
Malam ini, kami tak bisa tidur. Aku dan Mas Zayn tidak tahu harus mencari mereka ke mana lagi.
"Zilla sudah makan, sayang?" gumam Mas Zayn yang duduk terpaku di depan pintu balkon kamarku.
Aku memeluknya dari belakang. Dia butuh dukungan, dia butuh pelukan dan dia butuh ketenangan.
"Zilla baik-baik saja kan, Zi?"
Aku mengangguk. "Pasti, Mas. Dia pasti baik- baik saja."
"Siapa orang yang tega melakukan ini pada putriku yang gak bersalah, Zi?"
Aku melepas pelukanku. Aku duduk di sampingnya. "Bukan dia targetnya, Mas!" ucapku. Tiba-tiba saja fikiran seperti itu terlintas di benakku.
"Lalu siapa?"
Aku menggeleng karena tiba-tiba aku malah merasa tidak yakin. "Entahlah, Mas. Entah kak Nia, aku atau kamu."
"Karena Kak Nia juga menghilang dan Zilla adalah bagian terpenting dalam hidup kita."
Ponsel Mas Zayn bergetar. Aku mengambilnya dan melihat nomor baru yang menghubungi.
Aku segera menjawab dan mengeraskan volumenya agar Mas Zayn bisa mendengar.
__ADS_1
"Jika ingin putrimu tetap hidup, siapkan uang satu milyar!" Tiba-tiba panggilan diakhiri.