
Waktu terasa berhenti detik itu juga saat aku merasakan hembusan nafasnya menyapu wajahku. Aku menahan nafas saat Mas Zayn menci*um dengan penuh kelembutan.
Namun, semua itu tidak berlangsung lama karena Reza menarik tubuh Mas Zayn dan mengh*ajarnya habis-habisan.
Reza membuat tubuh Mas Zayn terbaring di tanah dan seketika ia naik ke perut Mas Zayn dan melayangkan tin*ju beberapa kali ke wajah tampan itu.
Mas Zayn berhasil menahan tangan Reza dan dalam sekejap ia berhasil bangun dan membalas puk*ulan Reza.
"Stop!" teriakku karena keduanya seperti kesetan*an. Tidak ada yang mau mengalah.
"Kalau kalian gak berhenti, kalian gak akan bisa lagi bertemu denganku!" ancamku dengan suara keras.
Aku berjalan mundur. "Asal kalian tahu, kalian sama tidak berartinya bagiku!" bentakku dan aku bergegas mengendarai sepeda motorku.
Ku tinggalkan mereka berdua yang hanya bisa terdiam melihat kepergianku. Aku melajukan sepeda motorku dengan kecepatan tinggi agar mereka tidak bisa mengejarku.
Namun aku salah. Saat aku sampai di rumah, sorot lampu diiringi deru suara mobil menyusul di belakangku.
Ku hela nafas panjangku saat ku tahu itu adalah mobil Mas Zayn. Ia segera keluar dari dalam mobil.
"Zi, tunggu sebentar!" pintanya.
Aku duduk di lantai teras dan dia juga ikut duduk di sampingku. Wajahnya penuh dengan luka memar dan sudut bibirnya sedikit ada bercak darah akibat ulah Reza.
Dia tampak menunduk dan sesekali meringis sambil memegang sudut bibir yang ku yakin terasa perih.
"Akan ku ambil kompres. Tunggulah disini!" Aku berdiri, tapi ia meraih tanganku dan menarikku untuk duduk lagi.
"Luka kamu harus diobati, Mas!"
"Ada luka yang lebih parah dan aku baik-baik saja sampai saat ini," ucapnya sambil menatapku.
Keningku berkerut. Luka apa?
"Di sini." Ia menunjuk dadanya. Matanya diselimuti kesedihan dan aku tidak tahu apa penyebabnya.
"Lukanya lebih parah, Zi. Ku kira sudah sembuh, tapi aku salah. Dan luka yang belum kering itu kembali berdarah."
__ADS_1
Semakin ke sini, aku semakin tidak mengerti apa maksudnya. Aku hanya menatap wajahnya dan ia seketika membuang muka dan menatap lurus ke depan.
"Kamu benar, Zi. Aku sudah mengulang kesalahan yang sama," ucapnya tiba-tiba.
Ku lihat wajahnya dari arah samping. Siluet hidung mancung dan lekuk bibir yang terlihat jelas itu kini tampak melengkung. Mas Zayn tertawa, tapi ia menunduk dan mengacak rambutnya.
Dia terlihat sekacau ini? Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Kesalahan apa yang sudah ia perbuat?
"Kamu benar, Zilla memang kurang mendapat perhatian dariku," ucapnya sambil menatapku sekilas.
Mataku membulat. Oh, jadi tentang itu.
"Setelah malam itu, malam dimana kamu membuka fikiranku, aku bertekad untuk mengubah semua yang ku rasa salah."
"Aku menemaninya sarapan, dan mengantarnya ke sekolah jika aku sempat. Aku menemaninya saat dia akan tidur, dan ku bantu ia mengerjakan PR nya."
Ternyata itu alasannya kenapa ia tidak pernah datang lagi ke toko kue.
"Seminggu ini, dia berubah drastis. Dia lebih ceria dan melibatkan aku dalam banyak hal. Dia banyak bercerita tentang apa yang ia lakukan selama seharian."
Mas Zayn tertawa. "Dia terlihat berbeda, dia jauh lebih bahagia. Dan aku terlihat seperti orang tua yang sesungguhnya."
"Sakit rasanya saat menyadari aku sendiri yang membuatnya terluka," lanjut Mas Zayn.
"Dan kamu tahu, hal lain yang membuat hatiku semakin tak karuan?"
Aku menggeleng.
"Malam itu, aku pulang dan ku lihat ia sudah terlelap. Zillaku, putri cantikku sedang meringkuk di atas ranjang. Ia memeluk foto mamanya dan aku melihat jejak air mata di pipinya. Bulu matanya masih basah dan aku bisa menebak kalau dia baru saja terlelap. Nafasnya yang teratur membuatku memberanikan diri untuk mengambil foto itu dan menaikkan selimutnya."
Aku mendengarkan semua cerita Mas Zayn. Mungkin ia butuh teman untuk mengeluarkan semua isi hati dan beban fikirannya.
"Lalu, kamu tahu? Di meja belajarnya aku melihat ini!" Mas Zayn mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia membuka galeri foto dan tampak sebuah gambar khas anak kelas 2 SD.
"Ini adalah kamu dan Zilla," ucap Mas Zayn menunjukkan gambar orang lidi yang ukurannya besar dan kecil dengan nama tante Zia dan Zilla di bawahnya. Mungkin itu sebagai keterangan siapa orang yang Zilla maksud.
Dan di sampingnya lagi, ada gambar yang sama dengan keterangan kata Mama.
__ADS_1
Aku belum mengerti apa maksudnya, tapi yang pasti Zilla menganggapku penting dalam hidupnya.
"Dan tulisan di belakang kertas itu," lanjut Mas Zayn sambil menggeser layar ke kiri.
Ku baca tulisan tangan Zilla yang membuat darahku berdesir hebat. Detak jantungku semakin berdetak kencang.
Ku ulang untuk membacanya agar aku yakin, aku tidak salah mengartikan maksudnya.
Zilla bahagia Ma karena tante Zia menemani Zilla hari ini. Dan tante Zia membuat Zilla sama seperti teman yang lain, yang ditemani sama mamanya.
Kalau tante Zia jadi mama baru buat Zilla, mama marah tidak?
Ku beranikan diri melihat wajah Mas Zayn yang ternyata kini tengah menatapku. Mungkin ia menunggu responku mengenai apa yang ia tunjukkan ini.
"I ... ini?" Lidahku terasa keluh.
Mas Zayn mengangguk. "Dia masih mengharapkan kamu, Zi. Dia ingin kamu jadi mamanya, dan bukan tantenya."
Aku menghela nafas panjang. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan, Mas?" tanyaku.
Ku kira masalah ini sudah selesai setelah kami tahu kalau Zilla adalah keponakanku sendiri, tapi ternyata keinginannya masih sama.
Mas Zayn mengangkat bahu. "Reza benar, Zi. Aku cocok disebut serakah dan tamak. Setelah Arsyla, kini malah kamu."
"Jika hal itu menjadi sesuatu kebahagiaan buat Zilla," ucapnya meraih tanganku.
"Apa kamu bersedia mewujudkannya, Zi?" tanyanya dengan tatapan memohon.
"Aku gak bisa menjanjikan kehidupan rumah tangga yang bahagia, tapi aku akan mengusahakan untuk menjadikan kalian berdua sebagai prioritasku."
"Ucapan kamu malam itu menjadi tamparan keras bagiku. Aku melupakan putri yang Tuhan titipkan padaku. Dan ku yakin, Zilla adalah alasan Tuhan mempertemukan kita."
Aku melihat kesungguhan dari matanya. Dan permintaannya semata-mata hanya untuk Zilla. Apa aku harus menerimanya? Atau aku menolaknya dan mengabaikan keinginan Zilla?
Dia tidak bisa menjanjikan kebahagiaan. Apa karena tidak ada sedikitpun rasa sayang untukku? Aku bisa saja menerimanya, lalu kehidupan rumah tangga seperti apa yang kelak akan kami jalani?
Apa aku bisa percaya pada pria ini begitu saja? Apa aku harus mengalah demi mewujudkan keinginan Zilla? Lalu, bagaimana dengan masa depan dan kebahagiaanku? Apa aku harus mengorbankan semuanya hanya demi melihat putri kecilnya bahagia? Bukankah dia begitu egois dengan memintaku memenuhi keinginan putrinya tanpa menjamin kebahagiaanku?
__ADS_1
"Boleh ku fikirkan ini dulu, Mas?" tanyaku sambil perlahan ku lepaskan tanganku.