
Setelah beberapa hari, Mas Zayn tak pernah lagi terlihat datang untuk sarapan di toko kueku. Aku merasa sedikit kehilangan sekaligus merasa bersalah. Apakah aku sudah kelewatan batas saat memberi nasehat padanya malam itu? Ku rasa sangat wajar jika aku memintanya lebih perhatian pada Zilla.
Ah, entahlah. Aku tidak tahu, tapi yang pasti aku juga ingin yang terbaik untuk keponakanku. Terserah dia mau marah atau tidak, yang penting aku sudah menyampaikan sesuatu yang salah dari caranya mengasuh Zilla.
Enak saja, dia menyerahkan hampir seluruh tanggung jawabnya pada Bik Mumun. Jika menurutnya memberikan segala kebutuhan Zilla adalah cara terbaik untuk menunjukkan rasa tanggung jawab sebagai seorang ayah, lalu bagaimana dengan tanggung jawab seorang ibu yang kini juga ada di pundaknya? Tidak bisakah dia meluangkan sedikit waktu untuk putrinya?
Aku sepertinya harus mulai terbiasa dengan ketidak hadiran Mas Zayn. Ya, walaupun wajah tampannya kadang ku rindukan. Ah, seandainya dia bukan iparku.
Ku buang fikiran itu jauh-jauh. Terpesona dengan seorang duda ternyata rasanya sangat menyiksa. Belum lagi jika masa lalunya yang penuh dengan kebahagiaan. Aku jadi merasa tidak percaya diri untuk membahagiakannya.
Astaga! Otakku, berhentilah berandai-andai untuk bisa menjadi spesial baginya.
Dengan langkah lesu, aku keluar dari toko kue. Sudah jam 10.15 malam, dan aku segera mengunci pintu toko. Aku bersiap pulang dengan mengendarai sepeda motorku. Aku sudah memakai helm, tapi seseorang yang baru saja datang membuatku menghela nafas panjang.
"Zi, aku ingin bicara," ucap Reza yang sedang menahan stang sepeda motorku.
Dia lagi, dia lagi!
"Bicara apa lagi, Za? Belum puas kamu membuatku menjadi terlibat dalam masalah kalian? Belum puas kamu melihatku menjadi sasaran kemarahan istri kamu?"
Aku kelelahan dan kedatangannya membuat emosiku cepat naik. Aku sudah malas meladeninya.
"Aku berubah fikiran, Zi," ucapnya cepat.
"Aku gak akan melakukan tes DNA sekarang. Aku ingin menunggu sampai bayi itu lahir karena aku memikirkan resiko yang akan Nia tanggung," lanjutnya.
Aku mengangguk. Baguslah kalau dia bisa menekan egonya. Biar bagaimanapun janin itu tidak berdosa. Tidak sepantasnya janin itu menjadi korban atas perselisihan kedua orang tuanya.
"Maka dari itu, please, tunggu aku!"
Uhuk!
Aku terbatuk. Menunggunya? Astaga, apa urat malunya sudah putus semua.
"Zi. Kamu gak apa-apa?" tanyanya panik.
Aku mengangkat tanganku dan menahannya agar tidak semakin mendekat. Sialan si Reza ini, aku sampai terbatuk saking terkejutnya.
"Aku gak apa-apa. Maksud kamu, menunggu bagaimana, Za?"
__ADS_1
"Menungguku bercerai darinya," jawab Reza.
Aku menghela nafas panjang. "Meski kamu adalah pilihan terakhir yang ku punya, aku lebih memilih untuk tidak menikah, Za."
Wajahnya berubah masam. Ia sepertinya tidak menyukai ucapanku. Lalu aku harus bagaimana? Menerimanya yang dengan sadar dan sengaja meninggalkanku?
"Zi, ayolah! Aku percaya perasaanmu gak mungkin berubah secepat ini."
Hello, Reza! Kenapa kamu begitu percaya diri?
"Aku yakin, kamu masih mencintaiku!"
Reza meraih tanganku dan aku mencoba melepaskannya. Tapi sayang, Reza terlalu kuat memegang tanganku. Aku yang sedang duduk di atas motor nyaris terjatuh jika ia tidak menahannya.
"Lepas, Za! Kita sudah selesai dan gak akan ada kesempatan untuk bisa bersama lagi," berontakku karena Reza sudah berani menyentuhku.
Aku berhasil melepaskan tanganku dan aku menyembunyikan di saku depan hoodie yang ku pakai.
"Aku menyesal, Zi!" teriaknya keras dan ku lihat dia meneteskan air mata.
Apa seperti ini penampakan buaya yang tengah menangis? Karena jujur saja, ini sangat menggelikan.
"Dan aku menyesal pernah tergoda oleh bujuk rayunya. Aku menyesal pernah terjerumus dalam jebakannya."
"Dan kamu tahu? Dia sengaja melakukan ini karena iri padamu. Dia ingin memiliki semua yang menjadi milikmu!" Reza terus berusaha meyakinkanku.
Aku memutar bola mataku. Aku tak percaya begitu saja. Saat resepsi pernikahannya, Reza juga tampak bahagia seolah Kak Nia memang gadis tepat yang menjadi pilihannya. Lalu, sekarang dia menyesal? Kenapa Reza begitu terlihat berbeda dari Reza yang ku kenal dulu. Apa Reza yang asli memang seperti ini?
"Dengan terus-terusan menyalahkannya aku semakin bersyukur bisa lepas dari pria pecundang seperti kamu!" Aku menuding tepat di depan wajahnya.
Aku benci sekali melihatnya. Ingin rasanya ku luapkan emosiku dengan melontarkan sumpah serapah di depan wajahnya.
Aku membuang muka untuk meredam emosiku yang bisa meletus kapan saja. Malas sekali melihat pria yang tidak gentle sepertinya. Apa sesulit itu untuk mengakui kesalahannya dan memperbaiki keadaan yang sempat kacau karena ulahnya?
"Zi, kamu harusnya faham dengan posisiku!" Ia kembali memohon. Ia bahkan berani menyentuh daguku agar aku melihat wajahnya.
"Lepas!" Ku tepis tangannya dengan sekuat tenagaku.
"Kalau dia gak mau, jangan dipaksa, Bro!" Itu suara Mas Zayn!
__ADS_1
Aku dan Reza kompak menoleh ke asal suara. Pria yang memakai celana pendek selutut dan kaos berkerah itu berjalan semakin mendekat.
"Jangan dipaksa! Dia bukan lagi milikmu! Jangan merasa sok berkuasa!" lanjut Mas Zayn.
"Bukan urusanmu!" Reza juga berjalan maju untuk mendekati Mas Zayn.
Keduanya kini saling bertatap muka. Wah, aku harus segera turun dari motor dan mendekati keduanya sebelum mereka saling mence-k*ik.
"Kamu hanya iparnya!" Reza menunjukkan seringainya.
Dia tahu hubungan antara aku dan Mas Zayn? Dia mencari tahu siapa Mas Zayn?
"Lalu, apa masalahmu?" tanya Mas Zayn dengan tangan terlipat di dada.
"Aku justru lebih berhak dari pada kamu yang cuma berstatus sebagai mantan!" ucapnya penuh penekanan sehingga wajah Reza berubah kusut seperti cucian kotor dalam ember.
Oh, aku suka kata-katanya! Sadarkan pria itu kalau dia hanya berstatus sebagai mantanku.
"Serakah! Setelah kakaknya, kamu ingin adiknya juga," tuduh Reza, tapi Mas Zayn tidak bereaksi sama sekali.
Eh, eh, kamu menebak demikian? Asal kamu tahu, ya Za! Aku juga gak mau menerima dia yang belum move on.
"Aku jadi penasaran, sebenarnya apa hubungan antara kalian berdua?" Reza menunjukku dan Mas Zayn bergantian. Ia tampak berfikir, dan tangannya menyentuh dagunya.
"Kalian benar-benar punya hubungan spesial, atau hanya pura-pura hanya untuk datang ke resepsi pernikahanku dan Nia?"
Reza tiba-tiba tertawa. "Astaga! Ku yakin kalian hanya pura-pura." Ia seperti merasa ada hal yang sangat lucu yang perlu ditertawakan.
"Kamu gak perlu meminta bantuannya hanya untuk menunjukkan kalau kamu baik-baik saja tanpa aku, Zi," ucap Reza senang.
"Dan kamu!" Reza menatap Mas Zayn dengan senyum tipis, sementara jemarinya menunjuk wajah tampan pria yang berhasil mempesonaku itu.
"Kamu cuma pelampiasan!" Reza tertawa lagi.
Mas Zayn melirikku yang merasa deg-degan karena ucapan Reza itu. Tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Aku dan Mas Zayn memang tidak punya hubungan istimewa, tapi dia juga bukan pelampiasan bagiku.
"Ku harap ini cukup untuk membuatmu percaya!" ucap Mas Zayn.
Dan dalam hitungan detik, tubuhku terasa melayang. Mas Zayn menarikku, mendekap tubuhku dan setelahnya hanya sentuhan lembut yang ku rasakan menyapu permukaan bibirku.
__ADS_1