Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 30 Keadilan


__ADS_3

"Sabar, ya," ucap Mas Zayn prihatin.


Ia mengusap punggung tanganku sebagai bentuk rasa simpatinya pada gadis malang sepertiku. Dia menggenggam tanganku seolah tahu aku sedang tidak baik-baik saja.


Tante Rani baru saja pergi dengan alasan sudah ditunggu oleh suaminya setelah ia tampak ketakutan karena mataku terus melihat ke arah cincin yang ia pakai meski berusaha ia sembunyikan. Aku melirik antingnya dan dia juga semakin panik. Ia langsung pergi seperti maling yang takut ketahuan.


"Aku harus bagaimana, Mas?" tanyaku resah. Ku harap Mas Zayn bisa membantu.


Tindakan Reza dan keluarganya benar-benar keterlaluan. Kak Nia sampai tidak diakui anak lagi oleh mama dan papa demi bisa bersama putranya, tapi balasan yang dia terima lebih kejam dari apa yang ku rasakan karena pengkhianatannya.


"Selesaikan semua masalah ini, Zi. Minta Nia untuk menyelesaikannya dengan keluarga Reza," jawab Mas Zayn.


"Semua harus diungkap dengan jelas agar keluarga Reza tidak bisa lagi bersandiwara dan pura-pura baik sama kamu."


"Dengan resiko, Kak Nia melahirkan tanpa suami? Kasihan bayi gak berdosa itu Mas, kalau sampai Kak Nia dan Reza berpisah."


"Reza dan keluarganya juga gak menginginkan anak itu, Zi," sahutnya cepat.


Aku diam sejenak. Benar juga yang ia katakan. Sekarang saja, Reza sudah lepas tanggung jawab. Ah, alih-alih tanggung jawab, dia malah sengaja membuat Kak Nia tidak betah tinggal di rumahnya.


"Kita memang gak berhak untuk ikut campur urusan rumah tangga mereka, Zi. Tapi, memperbaiki nama baik Nia adalah kewajiban kita karena kita tahu yang sebenarnya."


"Kasihan dia. Dia tega mengkhiananti keluarganya sendiri demi Reza, tapi kini dia ditinggalkan oleh pria itu."


"Apa itu karma untuknya, Mas?" tanyaku.


Mas Zayn tertawa tanpa suara. "Biarkan itu menjadi urusan Tuhan."


"Karma atau bukan, anggap saja itu adalah ujian dalam hidup dan pernikahannya."


Berapa hari berikutnya, Reza kembali datang ke toko. Alasannya untuk membeli cake, tapi aku tahu itu bukan satu-satunya alasan.


"Mama bilang, kemarin kalian bertemu di Mall ya?" tanyanya padaku yang sedang menata cake di etalase.


Untung saja, toko sedang sepi, sehingga tidak perlu khawatir ada pelanggan yang terganggu.


"Hem," jawabku malas.


"Kata mama, kamu datang sama cowok yang menemani kamu ke resepsi pernikahanku. Tapi kalian belum pacaran, kan?" tanyanya sok akrab seolah tidak pernah ada masalah apapun diantara kami.


Aku meliriknya dengan ekspresi datar. Apa urusannya aku pacaran dengan Mas Zayn atau tidak. Bukankah itu hakku dan dia tidak berhak melarangku?

__ADS_1


"Mama juga bilang kalau kamu mau balik lagi sama aku," ujarnya.


Aku menghentikan aktivitasku. Ku tatap matanya yang berada di seberang etalase. Jika dia berada cukup dekat denganku, mungkin aku akan menginjak kakinya.


"Urusan kamu dengan Kak Nia, bagaimana?" tanyaku dengan ekspresi datar.


"Dia sudah ku ceraikan," jawabnya dengan senyum lebar.


Apa dia tidak bisa berfikir jernih? Siapa wanita yang mau dengan pria yang telah menyianyiakan istrinya yang sedang hamil?


"Apakah bisa wanita yang sedang hamil di ceraikan?" tanyaku dan dia enggan menjawab.


"Datanglah ke rumah, istrimu disana!" perintahku.


Wajahnya berubah tegang. Ia kaget karena mengetahui Kak Nia ada di rumahku. Padahal selama ini aku yang ngotot kalau Kak Nia tidak ada di rumahku dan aku mengaku tidak mengetahui keberadaannya.


"Dia ada di rumah kamu?" tanya Reza yang sepertinya tak percaya dengan ucapanku.


Aku mengangguk. "Temui dia!" perintahku lagi. "Selesaikan masalah kalian dan segera bawa dia pergi dari rumahku!" ucapku sengit. Aku hanya pura-pura karena aku ingin melihat bagaimana reaksinya.


Reza menyeringai. "Kenapa gak kalian usir saja. Bukankah mama sama papa kamu sudah gak mengakui dia sebagai anak lagi?"


"Gak takut ketiban karma karena menyia-nyiakan istri dan anak sendiri, heh?" tanyaku sambil berlalu meninggalkannya.


"Dia balik, Zi!" bisik Nia yang masih memperhatikan Reza sementara aku membelakangi pria itu pura-pura sibuk.


"Biarkan saja. Lebih cepat dia pergi, maka akan lebih baik!"


Aku pulang ke rumah setelah mama menghubungiku dan mengatakan kalau Reza datang ke rumahku bersama mamanya.


Aku masuk ke dalam rumah dengan menggandeng tangan seseorang yang sedari tadi merasa khawatir untuk berhadapan dengan Reza.


Aku memang baru menjemput Kak Nia. Aku berbohong soal Kak Nia yang berada di rumahku dan aku yakin mama pasti bisa menghandle Reza dan Tente Rani.


"Sebenarnya kemana Nia, Tante?" Ku dengar Reza bertanya pada mama. Kami memang masuk dari pintu belakang agar bisa mendengar percakapan mama dan Reza.


"Dia belum kembali padahal saya sudah menunggunya hampir setengah jam."


"Coba periksa barang berharga kalian, Bu. Saya khawatir Nia mencurinya," ucap Tante Rani.


Kak Nia yang sedari tadi hanya menunduk mendadak menegakkan kepala karena tak percaya mendengar ucapan tante Rani yang sanggup memfirnahnya di hadapan mama.

__ADS_1


Kak Nia menatapku dan menggeleng pelan. Air matanya menetes perlahan. Ya Tuhan, dia bukan kak Nia yang dulu, yang pemberani, yang percaya diri, dan tegas.


Apa penderitaan bisa membuatnya berubah jadi selemah ini?


"Saya tidak pernah mengajarkan anak-anak saya untuk mencuri, Bu Rani," jawab Mama tak suka.


"Dia hanya anak angkat, Bu. Dan sikapnya itu bisa menurun dari orang tua kandungnya," balas Tante Rani membuatku geram.


"Dia ikut dengan saya selama lebih dari 20 tahun. Jika anda menghinanya, itu artinya anda juga menghina saya, Bu Rani."


"Saya akui, saya gagal mendidiknya. Dan satu-satunya yang pernah ia curi adalah Reza."


"Dia mencuri Reza dari adiknya, tapi putra ibu malah membuatnya sengsara."


"Pengorbanan yang sia-sia. Menu-suk saudara sendiri demi seonggok batu tak berguna!"


"Cukup!" Tante Rani berdiri. "Anda telah menghina dan memfitnah anak saya!"


"Saya akan melaporkan anda ke kantor polisi ...."


"Silakan!" jawabku yang tak sanggup lagi bersembunyi di balik tembok.


Aku maju bersama Kak Nia membuat Reza dan mamanya membelalakkan mata.


"Pulang sekarang!" bentak Reza. Reza maju ke depan hendak meraih tangan Kak Nia.


Ku tahan tangannya dan ku hempaskan asal. "Jangan kasar!" bentakku tak kalah keras.


"Dia istriku. Bukankah kamu yang menyuruhku untuk membawanya pulang, Zi?" tanya Reza melemahkan volume suaranya.


"Percuma kamu ajak dia pulang. Surat kuasa itu sudah gak ada lagi di tangannya," ujarku.


Seketika wajah Reza dan Tante Rani menegang. Aku tersenyum puas melihat mereka seperti orang yang kalah sebelum berperang.


"Kenapa hanya toko roti yang harganya gak seberapa itu, Za?" tanyaku.


"Kamu gak akan kaya." Aku menggeleng sambil tertawa.


"Aku cuma gadis miskin yang merintis usaha dari nol, setidaknya carilah yang lebih kaya, Za."


"Oh, atau karena aku terlalu mudah kamu tipu, heh?" Ku lipat tanganku di dada dan ku tatap tajam matanya.

__ADS_1


__ADS_2