Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 25 Wanita Lain


__ADS_3

Kak Nia benar-benar hilang bak di telan bumi. Tidak ada yang tahu kabarnya, termasuk Reza. Selama beberapa minggu ini, pria itu beberapa kali datang ke rumah sambil mengamuk karena mengira kami telah menyembunyikan Kak Nia.


Awalnya aku benci Kak Nia, tapi semakin kesini aku semakin khawatir padanya. Kesalahannya memang sangat besar, tapi akibat yang ia terima jauh lebih besar. Lihat saja, hidupnya kini lebih hancur dari pada aku.


Aku sengaja berkeliling ke beberapa kawasan yang ramai dengan rumah kos dan kontrakan kecil untuk mencari keberadaannya. Namun, aku tidak menemukannya. Apa mungkin dia sedang di rumah sakit atau klinik karena terjadi masalah dengan kandungannya? Atau dia pergi ke luar kota? Dia pergi kemana?


Di tengah jalan, aku melihat Mas Zayn berada di keluar klinik dokter kandungan bersama seorang wanita yang ia bantu untuk masuk ke dalam mobil.


"Mas Zayn?" seketika dadaku berdebar-debar. Pria yang ku kira baik dan jujur itu ternyata tega membohongiku.


Untuk apa dia memintaku untuk menikahinya sebulan lalu kalau sebenarnya ada wanita lain yang sedang dekat dengannya.


Mereka datang untuk menemui dokter kandungan, apa mungkin wanita itu tengah hamil?


Aku menghela nafas berat. Apa begitu caranya untuk menikung pacar atau gebetan wanita lain, yaitu dengan hamil duluan?


Reza dan Mas Zayn ternyata sama saja. Aku mengikuti mobilnya dari belakang agar aku bisa membungkam mulutnya saat ia berani memintaku untuk menjadi istrinya dengan mengatas namakan permintaan Zilla.


Mereka masuk ke sebuah kawasan perumahan yang rata-rata rumahnya tipe 36. Aku berhenti agak jauh karena mobil Mas Zayn berhenti di salah satu rumah berpagar putih.


Tiba-tiba, ponselku bergetar. Ku lihat nama Riri yang muncul di layar. Aku berdecak kesal. "Menggangu saja!"


Aku menjawab telfonnya dengan mata yang masih memantau mobil Mas Zayn. "Hallo, ada apa, Ri?"


"Ada apa, ada apa, ada Zilla disini nanyain kamu terus. Mana pelanggan ada yang komplain, dan pesanan untuk PT Maju Bersama belum di antar, Zi," ucapnya cepat khas orang yang tengah marah.


"Ha, pelanggan kompalain? Kok bisa? Terus, kenapa pesanananya belum diantar?" tanyaku terkejut karena saat ku tinggalkan toko pagi tadi, semua baik-baik saja.


"Makanya, cepat balik!" perintahnya tanpa memikirkan siapa aku. Aku bosnya, loh! Kok gak ada harga dirinya sedikitpun di matanya. Dia malah mengakhiri panggilan telpon secara sepihak.

__ADS_1


Aku ragu, lebih baik ku pantau Mas Zayn atau mengurus masalah toko. Ah, Mas Zayn belum pernah menafkahiku dan karyawanku. Belum pernah membelikanku mobil dan membantu mereka membayar kredit motor. Jadi, lebih baik aku kembali ke toko.


Mas Zayn bisa ku urus nanti. Bangkai yang ia simpan pasti lama-lama akan tercium juga baunya.


Aku sudah pernah dibohongi Reza dan sekarang aku tidak akan bisa dibohongi oleh Mas Zayn. Aku akan terus menunda untuk menjawab permintaannya. Aku ingin melihat selihai apa dia menyembunyikan rahasianya.


Aku masuk ke dalam toko dan ku lihat Zilla sedang duduk di salah satu meja. Aku berjalan mendekat dan menyapanya seperti biasa.


"Hai Sayang," sapaku sambil mencium pipinya. Aku berlutut di depannya. "Tumben main ke sini? Gak ngabarin tante pula?"


"Merindukan tante, yaaa?" tanyaku menggoda. Ia seketika tertawa geli.


Dia menggeleng. "Papa yang menyuruh, Tan!"


"Kata Papa, Zilla boleh main ke sini. Malam ini, papa juga menyuruh Zilla untuk menginap di rumah Oma sama Opa, karena papa harus pergi ke luar kota," ucapnya dengan polos.


Aku tertegun. Mas Zayn meminta hal itu? Dia mau ke luar kota padahal aku baru saja mengikuti mobilnya. Apa dia sedang membohongi Zilla? Apa ia ingin menghindarkan pertemuan antara Zilla dan wanita yang bersamanya tadi? Apa ia ingin menghabiskan malam bersama wanita itu sampai harus mengirim Zilla ke rumah kami?


Aku terkesiap. Aku menatap wajahnya dan tersenyum simpul. "Tante senang, Sayang karena nanti malam kamu yang menemani tante bobok." Ku cub*it pelan pipinya karena gemas.


Aku gemas pada papanya juga. Bisa-bisanya mengaku ke luar kota padahal sedang enak-enakan dengan pacarnya.


Mas Zayn punya pacar? Tentu iya. Lalu siapa wanita yang ku lihat tadi kalau bukan pacarnya?


"Sudah makan siang?" tanyaku.


Zilla mengangguk. Ku ajak dia untuk masuk ke ruanganku agar ia bisa menungguku di dalam sambil menonton tv dan tiduran di sofa. Aku masih harus mengurus masalah yang terjadi hari ini.


Beberapa hari berlalu, Mas Zayn tidak pernah datang. Zilla hanya satu kali menginap di rumah. Lalu, saat aku bertanya mengenai papanya, dia mengatakan kalau papanya selalu lembur dan pulang malam.

__ADS_1


Kasihan sekali dia. Mas Zayn berubah hanya sesaat. Ia menemani Zilla nanya saat kemarin aku menasehatinya, dan sekarang ia sudah tidak lagi perhatian pada putrinya.


Aku ingin mencari tahu mengenai Mas Zayn yang sepertinya punya kesibukan lain selain bekerja. Ya, dia sibuk pacaran dengan wanita itu.


Sore ini, aku memutuskan untuk datang ke rumah yang kemarin. Aku ingin memastikan siapa wanita itu sebenarnya. Aku merasa tidak asing dengan bentuk dan ukuran tubuhnya, tapi aku tidak yakin juga siapa wanita itu.


Aku mengendarai sepeda motor salah satu karyawanku. Ku pinjam saja sekalian jaket dan helmnya. Ku pakai masker agar tak ada yang mengenaliku.


Di tengah perjalanan aku melihat mobil Mas Zayn berhenti di sebuah toko buah. Aku turun dan pura-pura memilih buah jeruk dan anggur.


"Dengan Mas Zayn?" tanya pria berjaket dan helm hijau pada Mas Zayn yang sedang berdiri di samping mobilnya.


Mas Zayn ternyata sudah memesan taxi online untuk mengantarkan buah-buahan itu ke rumah seseorang.


Aku harus mengikuti yang mana? Tukang ojek atau Mas Zayn? Ah, untuk apa aku mengikuti tukang ojek itu? Aku kan harusnya mencari tahu siapa wanita yang Mas Zayn antar waktu itu.


Ku abaikan Mas Zayn yang sudah pergi entah ke mana. Aku memilih untuk tetap ke rumah itu. Dan satu hal yang mengejutkan adalah ojek online yang Mas Zayn pesan ternyata memasuki kawasan perumahan yang sama dengan tujuanku.


Aku mengikutinya hingga berhenti di rumah yang kemarin.


"Sebenarnya siapa wanita itu? Kenapa Mas Zayn begitu perhatian sampai harus mengirimkan buah?" gumamku yang merasa kecewa.


Lalu siapa aku baginya? Kenapa sikapnya saat aku sedang sakit waktu itu begitu baik dan perhatian? Kenapa aku merasa diatas awan seolah aku adalah satu-satunya wanita yang tengah dekat dengannya. Batinku.


Seorang wanita dengan daster selutut keluar setelah ojek online itu berteriak memanggil.


"Wanita itu hamil besar?" gumamku.


Mataku terasa panas saat ku lihat wajahnya dengan jelas. "Kak Nia?" gumamku dengan perasaan hancur berkeping.

__ADS_1


Perlahan pandanganku mulai kabur karena air mata yang menggenang dan siap untuk terjun ke pipi.


Aku segera pergi. Sesak sekali dada ini saat mengetahui siapa wanita yang selama ini Mas Zayn sembunyikan. Pantas saja, kak Nia tidak ada kabar sama sekali. Reza juga tidak bisa menemukannya, ternyata Mas Zayn adalah tamengnya.


__ADS_2