
"Tania selingkuh dengan pria lain, Zi," ulang Reza membuatku semakin ingin bersorak senang.
Akhirnya, karma itu sampai juga padamu Reza. Benar kata orang, kalau dulu karma berjalan, sekarang sudah naik jet pribadi, cepat sampainya.
"Kamu pasti senang ya, karena aku mendapatkan balasannya," ucapnya kemudian.
Aku melipat tanganku diatas meja. Ku lihat dirinya yang menatapku lesu. "Bukan tentang senang atau tidak, tapi aku benar-benar gak mau tau lagi hal sekecil apapun tentang kamu, Za."
"Kita sudah selesai," lanjutku menegaskan kalau antara aku dan dia tidak ada hubungan apapun lagi.
"Maaf karena aku sudah menggoreskan luka di hati kamu, Zi," ucapnya seperti menyesali hal yang sudah terjadi.
Reza berusaha menggenggam tanganku, tapi aku menghindar dengan menjauhkan tanganku dan menyembunyikannya di bawah meja.
"Luka itu sudah sembuh meski bekasnya masih ada, Za. Dan bekas itu ku jadikan pengingat dan pelajaran kalau aku pernah sakit karena pengkhiantan sehingga aku tidak akan jatuh karena alasan yang sama."
Reza menatapku. Aku benci tatapannya yang seolah kasihan padaku. Aku tidak butuh belas kasihnya. Kemana dia selama ini? Menikmati status pengantin baru lalu melupakan aku yang ia tusu*k dengan belati?
"Kenapa pacar kamu ditinggal sendirian disana?" Reza melirik ke arah belakang dimana Mas Zayn yang sedang fokus pada ponsel di tangannya.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah, Za? Apa aku harus terus berada di sampingnya?" tanyaku membuat Reza terdiam.
Kenapa Za? Kamu merasa tersindir? Kamu sadar, kalau dulu selalu mengekangku? Dan sekarang kamu heran saat melihat Mas Zayn yang tampak santai tanpa aku temani meski aku ada disini?
Dulu, kamu begitu posesif, tapi akhirnya aku tetap kalah karena saat aku tidak ada, kamu malah memanfaatkan waktu itu untuk bermain api dengan kak Nia.
"Enggak semua laki-laki sepertimu, Za. Suka mengekang, tapi sendirinya berkhianat," ucapku seenteng-entengnya.
Reza menatapku dengan mata berkaca-kaca. Dia salah mengira aku akan kasihan padanya. Hatiku ini sudah sekeras batu jika itu menyangkut dirinya.
Ah, kenapa kami jadi membahas masa lalu yang menyebalkan itu?
"Ada lagi yang ingin kamu katakan, Za?" tanyaku dan ia menggeleng pelan.
Aku berdiri. "Selesaikan masalah kalian dan jangan libatkan aku lagi!"
"Oh! Jadi begini kelakuan kalian dibelakangku?" teriak Kak Nia yang tiba-tiba sudah berada di dekat kami.
Alu terkejut dan seketika langsung menatap wanita yang wajahnya merah padam itu. Dia marah karena suaminya bicara denganku?
__ADS_1
"Kamu harusnya tahu, dia suamiku, Zia. Aku kakakmu dan dia abang iparmu!" teriak Kak Nia membuatku menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Kakakku?" tanyaku menahan tawa. Sebelah alisku terangkat.
"Kamu harusnya menjauhinya, Zi. Dia memang mantan kamu, tapi sekarang dia suamiku!" Tangannya menunjuk-nunjuk wajahku seolah aku adalah maling suami orang.
"Sudah, Nia!" Reza berusaha menahan Kak Nia agar tidak semakin mengamuk. "Malu dilihat orang!" bisik Reza.
"Malu? Tahu malu juga kamu, Za?" tanya Kak Nia membentak Reza.
"Pergilah! Jangan berteriak seperti di hutan ..."
"Terserahku. Mulut ini milikku!" potong Kak Nia.
Memang benar, itu mulutnya. Dia berteriak sampai sobek pun itu urusannya.
"Silahkan kalian berteriak, dan bertengkar, tapi please, jangan disini! Aku gak mau kamu melahirkan disini!" Ku usir saja sekalian. Enak saja dia datang dan marah-marah padahal suaminya yang datang sendiri tanpa diminta.
"Perempuan gatal! Mulai sekarang menjauhlah darinya. Hubungan kalian sudah selesai!" Tudingnya lagi di wajahku.
Aku menatapnya malas. Ku garuk kening yang tidak gatal dengan jari telunjukku. "Dia yang datang ke sini malah menuduhku."
Ku lirik karyawanku yang mengulum senyum. Riri di ujung sana mengacungkan jempolnya. Ah, kalian memang supporter terbaikku. Lalu Mas Zayn, ku lihat dia menutup mulutnya dengan tangan yang mengepal menahan tawa.
Wajah Kak Nia mulai terlihat masam. Reza sampai membawa paksa tubuh wanita yang tengah mengandung itu. Sebenarnya aku malas meladeninya, tapi ucapannya sudah sangat keterlaluan.
Kak Nia menuduhku akan merebut suami yang ia dapat dengan cara merebutnya dariku. Ah, aneh sekali. Mana mungkin aku mau kembali pada pria sepertinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya seseorang padaku.
Aku terkejut karena aku tengah melihat kepergian Reza dan Kak Nia. Bukan karena cemburu, tapi aku hanya ingin memastikan kalau Reza berhasil membawa pergi istrinya itu.
"Tentu," jawabku singkat pada Mas Zayn yang berdiri di sampingku.
"Ku fikir dia mau mengajakmu untuk kembali bersama," ucap Mas Zayn.
Aku tertawa tanpa suara. "Besar juga nyalinya kalau memang itu tujuannya."
"Mungkin saja, kan. Apa lagi ia tampak menyesal setelah tahu kalau istrinya suka selingkuh."
__ADS_1
Aku tertawa. "Bukan urusanku, Mas."
Beberapa hari berlalu, malam ini, aku yang sedang duduk di balkon kamar terkejut melihat kemunculan kak Nia di depan gerbang rumah. Ia mendorong-dorong gerbang seperti sapi yang mengamuk.
"Zia, buka pintunya! Aku ingin masuk!" teriaknya menyebut namaku.
Dengan malas aku turun dan ku lihat mama dan papa sampai terbangun dari tidur mereka.
"Siapa yang mengamuk malam-malam begini, Zi?" tanya Papa.
"Kak Nia datang, Pa."
Mama dan papa tampak terkejut. Seketika papa berjalan di depanku untuk menghadapi kak Nia.
"Pa, sudah pa. Jangan tersulut emosi!" Aku mengejar papa dan mengusap bahunya.
"Mau apa kamu datang ke rumah ini lagi? Pintu rumah ini sudah tertutup rapat untukmu!" Saat ini papa sudah berhadapan dengan Kak Nia yang berada di luar pagar besi itu. Sementara aku dan mama ada dibelakang papa.
"Aku ingin menemuinya!" Kak Nia menunjukku.
Aku mendekat dan kini mata kami saling bertatapan. "Ada apa lagi?" tanyaku malas.
"Dasar perempuan genit!"
"Loh, kamu yang genit!" balasku.
"Apa yang kamu katakan pada Reza, hah?" tanyanya membentakku.
Papa geram dan mengusirnya, tapi ia bergeming. "Aku gak akan pergi sebelum aku menarik rambutnya dan mencakar wajahnya!"
Aku tertawa pelan. "Memangnya apa salahku, heh?"
"Kur*ang ajar! Apa yang kamu katakan pada Reza?"
"Dia memintaku untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan kalau anak ini adalah darah dagingnyanya atau bukan!"
Aku menghela nafas. "Kenapa takut saat kemarin-kemarin kakak begitu yakin kalau Reza adalah papanya?"
"Tutup mulutmu! Pasti kamu yang memintanya untuk melakukan itu agar kalian bisa bersama suatu saat nanti." Nia lagi-lagi menuduhku. Mama sampai merasa geram. Mama ikut mengusirnya karena mengganggu ketenangan rumah ini.
__ADS_1
"Catat ini, Kak! Aku gak akan pernah memungut kembali apa yang sudah ku buang!"