
Kedatangan kak Nia kemarin malam membuat mama dan papa bertanya padaku tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Mengapa Kak Nia sampai menuduhku telah mempengaruhi Reza untuk melakukan tes DNA pada janin dalam kandungannya?
Ku jawab saja dengan sejujur-jujurnya, mengenai kedatangan Reza. Mama dan papa merasa tenang karena aku tidak terpengaruh oleh Reza. Kedua orang tuaku dengan tegas memperingatkanku agar tidak kembali pada Reza dan membuat masalah baru kembali muncul.
Aku mengangguk mantap. Aku sendiri tidak mau berhubungan lagi dengan Reza. Semuanya selesai saat aku menyaksikan langsung akad nikah mereka.
"Astaga!" keluhku saat ku lihat nama Reza muncul di layar ponselku. Ini sudah entah berapa puluh kali ia menghubungiku. Sengaja ku abaikan karena pasti dia hanya akan mengeluh soal istrinya. Atau mungkin, dia ingin menanyakan mengenai kedatangan istrinya kemarin malam ke rumahku.
Ku blokir saja nomornya. Aku malas berurusan dengan keluarga mereka lagi. Mereka yang akan punya anak, mereka yang berbuat, dan mereka juga yang ragu, masa iya aku yang dituduh ini itu segala macam sama kak Nia.
"Zi, ada Reza di depan!"
Aku terkejut saat tiba-tiba Riri membuka sedikit pintu ruanganku dan melapor kalau pria yang baru saja menghubungiku ada di sini.
"Katakan kalau aku gak ada disini, Ri!" pintaku.
"Yaaaaa ... aku sudah terlanjur bilang kalau kamu ada di dalam, tapi sedang sibuk!" jawabnya penuh penyesalan yang dibuat-buat. Aku kesal melihat wajahnya yang seperti sedang mengejekku. Lihat saja, nanti! Pasti akan ku balas.
"Riri!" gumamku menahan geram.
Aku segera berdiri dan keluar dari ruanganku. Ku cubit sedikit pinggangnya dan dia malah terbahak.
"Hahaha! Aku ingin melihat kamu mengusirnya, Zi!" ucap Riri yang saat ini malah memeluk lenganku.
"Aku suka drama yang protagonis wanitanya kuat dan gak cengeng," lanjutnya lagi.
Aku memutar bola mataku. Ku dorong pelan tubuhnya agar menjauh dariku. "Kalian semua sama saja!" ucapku sinis.
"Suka sekali melihatku marah-marah. Umur 25 berasa 30 kalau begini terus, Ri," omelku.
"Good luck, cintaaaah!" Dia malah menyemangatiku dengan menepuk bahuku beberapa kali lalu sebelum pergi memberiku cium*an perpisahan dengan jemari tangan yang ia tempelkan di bibirnya.
Aku menarik nafas panjang sebelum menghabiskan energiku untuk mengusir Reza dari sini.
"Ada apa lagi, Za?" tanyaku padanya.
Di dalam toko sedang sunyi karena kebetulan masih jam kerja. Hanya ada beberapa orang yang datang silih berganti untuk membeli cake.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak menjawab telfonku?" tanyanya. Ia seketika berdiri dan jarak kami tidak terlalu jauh.
Aku melihat kantung matanya semakin gelap. Matanya juga tampak cekung. Ku rasa dia memang lebih kurus dibanding saat masih bersamaku.
Kamu stress, Za? Kenapa? Istri kamu banyak maunya, ya?
"Zi ...." Reza meraih tanganku dan segera ku tepis.
"Za, please! Pergi dari hidupku dan urus kehidupan kamu sendiri," pintaku yang malas mendengar kata-katanya lagi. Ku rasa sudah lebih dari cukup aku membiarkannya menggangguku. Aku tidak mau kalau tiba-tiba istrinya datang dan mengamuk lagi.
"Nia gak melakukan apapun padamu, kan?" tanyanya yang sedang khawatir. Aku tidak tahu itu sungguhan atau hanya pura-pura.
"Sekarang pergilah dan jangan pernah datang lagi!" Aku berbalik dan meninggalkannya.
Kenapa dia harus merasa khawatir? Mama dan papa pasti juga tidak akan membiarkan kak Nia melakukan hal buruk padaku tadi malam.
"Aku ingin kita kembali lagi, Zi!" Permintaannya sungguh aneh. Dia ingin kembali setelah berkhianat. Dia ingin kembali setelah menik*amku dengan bel*ati? Besar juga nyalinya? Atau dia yang tidak punya rasa malu?
"Aku akan buktikan kalau bayi dalam kandungan Nia bukan darah dagingku. Lalu, aku akan mengejar kamu lagi," ucapnya membuat hatiku semakin tergelitik.
Aku tidak habis fikir dengan sifatnya yang ternyata sangat kekanak-kanakan itu. Apa selama ini aku terlalu dibutakan oleh cinta sehingga tidak pernah melihat sifat aslinya ini?
Aku berhenti melangkah dan menoleh tanpa berbalik badan. "Jangan mimpi!"
Dia mengatakan akan membuktikan kalau janin itu bukan anaknya? Dengan cara apa? Apakah melalui tes DNA? Apa dia tidak memikirkan resikonya jika melakukan tes DNA pada bayi yang masih berada di dalam kandungan? Ah, mungkin saja dia malah berharap kalau janin itu akan gugur.
Aku kembali ke ruang kerjaku. Sejak kedatangannya kemarin aku kehilangan mood untuk membuat cake. Jadi, ku serahkan semuanya pada kokiku.
Baru setengah jam aku masuk, Riri sudah kembali menampakkan batang hidungnya di depan pintu.
"Zi," panggilnya pelan.
"Apa lagi Riri!" marahku. "Usir saja kalau dia masih disana!" ucapku tegas karena mengira Riri akan memberi tahu kalau Reza belum juga pulang.
"Zilla ada di luar! Dia nangis!" Riri langsung pergi tanpa menungguku.
Aku terkejut. Mataku membulat dan aku segera berjalan cepat dan merangkul bahu Riri setelah sejajar dengannya. "Dia kenapa?"
__ADS_1
Riri mengangkat bahunya. "Mana aku tahu, Zi! Kamu kan pawangnya," jawabnya kesal.
"Ceilee, jutek amat!" Aku sempat menggodanya dengan mencolek dagunya sebelum menemui Zilla.
Dia marah? Tentu tidak, antara hatiku dan hati Riri sudah tidak ada lagi kata sakit hati meski kami saling ejek sekalipun.
"Hai, Sayang!" sapaku pada Zilla yang menunduk karena malu setelah ku dapati mata dan hidungnya merah.
"Zilla kenapa, Nak?" tanyaku. Dia menggeleng.
"Kalau gak kenapa-kenapa, lalu air mata itu jatuh karena apa?" tanyaku mengusap kepalanya.
Dia seketika masuk dalam pelukanku. Dia menangis sedih dan aku belum ingin bertanya lagi. Ku biarkan dia menyelesaikan tangisnya.
Setelah beberapa lama, Zilla menghapus air matanya. Ia yang masih memakai seragam sekolah itu menatapku dalam sehingga membuatku yakin kalau ada masalah serius yang sedang gadis kecil ini hadapi.
"Kenapa Tuhan gak adil sama Zilla tante? Kenapa Tuhan cepat sekali memanggil mama?" tanya ditengah isak tangisnya.
Pertanyaan berat yang harus ku jawab. Aku sendiri tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Gara-gara itu, Zilla harus ikut studytour ditemani sama Bik Mumun. Sedangkan teman yang lain ditemani sama mamanya, Tante," ucapnya merajuk.
"Zilla diejek sama teman-teman, Tante!"
Oh, apa dia dibu*lly? Aku harus melakukan sesuatu.
"Zilla kan sudah tahu jawabannya. Karena Tuhan sayang sama mama. Mama Syla pasti juga sudah menyerah dengan sakitnya, Sayang!" Aku menenangkannya.
"Tante mau gak menemani Zilla?"
Permintaannya sangat sederhana. Aku langsung mengangguk. Jika mendengar cerita teman-temannya yang akan pergi bersama ibunya, ku rasa wajar kalau Zilla merasa iri. Apa lagi, dia pasti selalu diejek karena lebih sering terlihat bersama pengasuh dan supir pribadinya.
"Kapan waktunya, sayang?" tanyaku.
"Minggu depan, Tante!" jawabnya lemas.
"Tante akan menemani Zilla," ucapku kemudian.
__ADS_1