Terjebak Wasiat Dan Perjanjian

Terjebak Wasiat Dan Perjanjian
Semobil berdua


__ADS_3

Tak berapa lama Richard turun dan menuju meja makan. Rich heran setelah melihat menu sarapan kali ini.


" Ky..mana roti bakar sama kopinya?" tanya Rich.


Kiky menghampiri tuannya


" Kata non Dahlia, mulai sekarang menunya harus diselingi dengan sayuran dan jus buah tuan."


Richard langsung melirik ke arah Dahlia yang sudah memulai sarapannya dari tadi.


" Gue ga mau makan sandwich,"


ucap Rich dengan kesal.


" Kalo ga mau makan ya udah ga usah dimakan.." jawab Lia dengan santai.


Richard pun geram, dia langsung mengambil jasnya dan meninggalkan rumah.


Bibi Mun yang ga tega langsung menahan Rich agar mau sarapan, tapi ga berhasil. Dahlia pun berinisiatif membawa bekal untuk Richard, dengan buru buru dia menghabiskan sarapan dan menyusul Richard, semoga saja dia belum berangkat.


Benar dugaannya, Rich sedang menunggu pak Agus yang sedang mengelap sambil memanaskan mobilnya.


" Tunggu tunggu.. Aku berangkat bareng kamu ya, kita kan satu tujuan."


Hanya dua kata penolakan Richard


" MIMPI LOE!!!"


"Pak Agus, bukain gerbangnya!" seru Richard.


Dahlia pun ga kehabisan akal, dia langsung membuka pintu mobil kursi depan yang kapasitasnya memang hanya muat dua orang.


" Eh eh, ngapain loe..keluar loe!!" usir Rich.


Dahlia tetap kekeh " Bareng sekalian deh,,kita kan kerja di tempat yang sama."


" Mobil gue, duit gue, keluar sekarang juga," paksa Rich yang akhirnya menarik seatbelt secara paksa.


Dahlia tetap pada posisinya, dan terjadilah perebutan dengan posisi pipi Rich menempel di pipi Dahlia. Saat keduanya sama sama menoleh, hidung merekapun bersentuhan, bibir mereka hanya berjarak sekitar 3cm..Deru nafasnya pun terdengar oleh keduanya.


Reflek pandangan Rich beralih ke bibir Dahlia yang mungil.. Dahlia yang menyadari dulu langsung mendorong dada Richard.


Rich segera menepis pandanganya kemudian berdiri dan mengembalikan ekspresi semula.


" Baiklah, kalo itu mau loe..Jangan teriak dan nyuruh gue berhenti di tengah jalan ya kalo nanti gue ngebut," Rich menyerah, Dahlia pun hanya bisa senyum.


Akhirnya!!! Hal seperti ini aja harus ada perebutan dulu,dan tadi....akhhh udah lah Lia.


Batin Dahlia sambil memasang kembali seatbeltnya dengan jantung yang berdegup kencang.


***


Di tengah perjalanan yang padat dan tentu saja berkali kali macet, Dahlia mencoba mencairkan suasana yang dari tadi hening.


" Kamu....mau kapan mulai bekerja di perkebunan??"

__ADS_1


" Kenapa loe tiba tiba tanya gitu? Gue kan udah berkali kali bilang, gue ga bakal pergi ke tempat itu apalagi buat bekerja," jawab Rich tanpa menoleh ke arah Dahlia.


" Emangnya kamu ga suka bertani,berkebun atau bercocok tanam?"


" Gaa!!!" ketus Rich.


Dahlia pun kepo " Trus apa cita cita kamu?"


" Mendirikan perusahaan, seperti yang loe liat sekarang,"


" Bukan itu..Maksud aku kalo kamu bukan pewaris keluarga Wiratama, apa keinginan kamu?" tanya Dahlia yang mulai nyaman memulai obrolan.


Rich terdiam sejenak


Baru kali ini ada cewe yang nanyain privasi kaya gini, kebanyakan bangga dengan profesi gue sekarang..Rich


" Ok ok..aku dulu ya..kalo aku bukan pemilik perkebunan bunga, aku pengen jadi arsitek yang profesional, "


Richard pun menoleh " Gue nih, lulusan arsitek!!" jawabnya dengan sombong.


" Oya?? Wah keren..pasti pusing ya?" puji Dahlia.


" Ga akan pusing dan susah kalo loe cukup pintar, " jawab Rich sambil tertawa.


Dasar musang. batin Dahlia


" Ceehh!! Sombong. Ok ok sekarang giliran kamu..apa cita cita kamu?"


Dengan ragu Rich pun menjawab


" Seniman."


" Seniman itu kan banyak, memang apa yang kamu suka?"


" Penyanyi sama pemain musik."


Dahlia membelalakan matanya


" Benarkah?? Kalo gitu, tuan Richard bisakah kamu menyanyikan satu lagu untukku?" pinta Dahlia sambil memelas yang dibuat buat.


" Ga lah, gue malas," jawab Rich


Setelah dipaksa Rich tetap ga mau menuruti keinginan Dahlia.


Nih cewe, antusias banget..beda banget sama kelakuan nya kemarin kemarin.batin Rich sambil tersenyum tipis.


Saat di traffic light yang terakhir, Rich mendengus kesal.


" Sial, lampu merahnya lama banget."


Dahlia melirik dan sedikit menyunggingkan bibirnya seakan tau keluhan Rich


" Kenapa?? Laper?? Di rumah banyak makanan pake kabur segala.


Tapi kamu tenang aja, aku udah siapin khusus buat kamu.." ujar Lia sambil mengambil kotak bekal di paperbag yang tadi dia bawa.

__ADS_1


" Nih..aku suapin.." Dahlia menyodorkan sosis panggang.


Rich masih terdiam " Kenapa, ga mau??" tanya Dahlia.


" Kalo ga mau ya udah," dengan cepat Rich menarik tangan Dahlia,dan memakan sosis tersebut sekali lahap.


Dahlia menahan tawanya " Gimana, enak?"


" Coba sandwichnya," pinta Rich


Tadi ga mau, makanya jangan gengsi..


Dahlia


" Baiklah Tuan Rich,"


Sambil melanjutkan perjalanan menuju kantor, Rich menghabiskan makanan yang dibawa Dahlia.


***


Sesampainya di kantor


Dahlia turun dari mobil bersama dengan Rich dan ditatap heran oleh karyawan lain, termasuk pak Eko security yang kemarin menjadi suruhan nya Rich untuk ngeprank Dahlia.


" Selamat pagi pak Richard,selamat pagi bu Dahlia," ucap pak Eko sambil hormat dan hanya Dahlia yang menjawab


" Selamat pagi pak Eko!" Rich menatap heran pada Dahlia.


Setelah memasuki ruangan, Dahlia duduk dan mengambil dokumen yang sudah disiapkan di meja. Tak berapa lama Faisal dan Olivia datang setelah mengetuk pintu.


" Pagi bu Lia!" sapa Olivia, walaupun kepada sahabatnya sendiri, tapi Olivia bersikap formal jika berada di kantor.


" Pagi Liv, pagi mas Faisal..Oya,silahkan duduk."


" Gini bu Lia, aku belum dapet meja kerja."


" Oya Liv, maaf ya kemarin belum mulai kerja jadi ga kepikiran.. Ehmm, kalo gitu gimana kalo kita satu ruangan aja, jadi kita bisa ngerumpi," ajak Dahlia dan dijawab anggukan oleh Olivia sambil senyum sumringah tapi langsung disela oleh Faisal.


" Maaf bu Lia, saya tau kalian bersahabat, tapi saat ini jabatan kalian kan beda..Dan akan sangat tidak etis jika Presdir satu ruangan dengan seorang sekretaris," ujar Faisal


Setelah dipikir pikir " Gitu ya mas, kalo gitu gimana kalo Olivia satu ruangan dengan mas Faisal, jadi Olivia bisa belajar langsung dari mas Faisal," pinta Dahlia setelah mendapat kode dari Olivia yang menyipitkan matanya.


Faisal pun membulatkan matanya sambil menunjuk dirinya sendiri, sementara Olivia hanya mengangguk angguk, senyumnya pun lebih sumringah lagi.


Faisal ga bisa berbuat apa apa selain menerima. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan.


" Oya bu Lia, ngomong ngomong kapan tuan Richard memulai bekerjanya di perkebunan. Bukannya saya mau memaksa, tapi semakin berjalannya waktu, dia harus memenuhi syarat perjanjian mulai dari sekarang.


" Gimana ya mas, Lia juga bingung. Walaupun kita satu rumah, tapi kita sama sekali ga pernah ngobrol apalagi membahas tentang perjanjian itu."


Tiba tiba Olivia berucap sambil memandang Faisal


" Kalo kita satu ruangan, pasti jadi lebih sering komunikasi."


Ucapan Olivia sontak membuat Dahlia mendapat ide.

__ADS_1


" Mas Faisal, Lia ada satu permintaan..Lia pengen satu ruangan dengan Richard..Tolong pindahin semua barang barangnya Richard kesini," perintah Dahlia yang membuat Faisal dan Olivia melotot.


Mohon maaf jika cerita kurang berkenan, soal vote,rate dan like monggo seikhlasnya saja, itu hak para readers, yang penting jangan saling menjatuhkan 😁😘#staysafe


__ADS_2