Terjebak Wasiat Dan Perjanjian

Terjebak Wasiat Dan Perjanjian
Isi Hati


__ADS_3

Flashback


Vina memberikan kode kepada Alex bahwa Richard sudah tertidur, lalu Alex menyuruh beberapa temannya untuk menggotong tubuh Rich ke kamarnya Vina. Salah satu dari mereka yang bernama David menolak dengan alasan dia ingin segera pulang karna ada urusan.


Dan semuanya pun sudah disetting serapi mungkin, mulai dari teman-temannya Vina, pelayan yang mencampuri minuman dengan obat tidur (akhirnya obat tidur juga gengs😁), dan juga penyebar berita itu yang awalnya disebar lewat social media.


Di lain tempat, Dahlia sampai di mansion. Dalam perjalanan, beberapa kali Dahlia menahan untuk tidak menitikan air mata karna perasaan sakitnya namun dia tahan di depan Okan dan Oliv.


" Makasih ya kak, Liv."


Okan menahan Dahlia. " Lia! Tolong pikirin lagi, jangan pulang malam ini ya. Please!! " pinta Okan.


" Iya Li. Mending besok aja. Atau malam ini kamu nginep di apartemenku dulu ya. Biar truckmu aku yang bawa."


Setelah di desak lagi akhirnya Dahlia menurut dan dia segera berkemas-kemas mengambil beberapa pakaiannya.


Back to Vina!!


Pesta sudah dibubarkan. Alex keluar dari kamar setelah urusannya selesai. Vina memandang wajah Rich yang tertidur di sampingnya setelah dia membuka baju bagian atasnya dan memeluk Richard.


Setelah beberapa lama, saat Vina akan memejamkan matanya, Richard mengigau.


" Lia jangan pergi!! Lia aku mencintaimu, aku ingin menikahimu."


Sebenarnya Vina sedikit sakit mendengarnya. Alhasil ide liciknya muncul, yang awalnya dia hanya mengambil foto wefie nya dengan Richard yang seolah dia sedang bertelanjang, dia juga merekam suara racauan Richard karna Richard juga mengatakannya berulang-ulang.


Flashback off


" What the fu...k!!!" maki Richard setelah membaca artikel itu.


Rich tidak ingin gegabah. Dia berusaha tenang dan mengingat kejadian demi kejadian semalam. Tapi tetap saja pikirannya tidak tenang sebelum tau keadaan Dahlia apalagi jika tau berita itu.


Pertama Rich memutuskan untuk menghubungi Faisal.


[" Sal, loe bisa ke rumah gue sekarang?"]


[" Tuan, apa bener berita itu?"] tanya Faisal tanpa menjawab permintaan Rich.


Rich menghela nafas. [" Yang jelas itu ga bener. Makanya gue minta sekarang loe ke rumah gue. Karna gue butuh bantuan loe."]


Sambil melihat jam tangannya Faisal mengiyakan. [" Iya iya baik. Saya segera kesana."]


[" Oya Sal. Parkir mobil loe di tempat lain. Karna di luar gerbang masih banyak reporter."]


[" Baik tuan."]


10 menit kemudian Faisal sampai. Richard menghampiri Faisal dan masuk ke mobil sambil terengah-engah.


" Tuan ga papa?" tanya Faisal dengan heran.


" Gue ga papa, tadi gue abis panjat pager belakang rumah biar bisa keluar," jawab Rich sambil mengatur nafasnya.

__ADS_1


Faisal tetap belum paham. " Lalu kenapa sampai kecapean gitu tuan. Bukannya tuan Richard jago olahraga."


" Loe mau tau?" tanya Rich yang dijawab anggukan oleh Faisal.


" Tapi gue punya syarat, pertama loe jangan ketawa dan kedua loe jangan panggil gue tuan kalo di luar kantor. Gue risih dengernya. Kaya ketua gangster aja kemana-mana dipanggil tuan."


" Ok Ok. Saya janji tuan...eh maaf Richard."


" Gue abis dikejar Bulldog milik tetangga," ucap Richard dengan lirih.


Faisal melotot dan berusaha menahan tawanya. " Trus gimana dengan berita itu? Apa yang perlu saya bantu?"


" Gue pengen ketemu sama Dahlia. Loe bisa anter gue?"


" Maksudnya kita pergi ke Bandung?" tanya Faisal tidak percaya dan dibalas anggukan oleh Rich.


" Bukannya saya melarang Rich, tapi untuk keadaan sekarang ini lebih baik kamu gunakan waktumu untuk membersihkan namamu dulu dan fokus dengan pekerjaan. Apalagi pelelangan tender akan diadakan seminggu lagi." jelas Faisal.


Richard menghela nafas lagi. " Iya bener juga. Kalo gitu anter gue ke apartemen Alex. Biar nanti gue pulang naik taksi online aja."


Faisal mengangguk kemudian mereka melaju ke tempat tujuan masing-masing. Di tengah perjalanan, Faisal memberi tahu kepada Richard soal pembebasan Roni. Tentu saja Richard terkejut.


*** ***


Apartemen Alex


Bel berbunyi. Alex membuka pintu dan kaget melihat siapa yang datang setelah melihat CCTV luar pintu.


" Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karna pak Alex sudah membebaskan saya," ucap Roni saat duduk.


Alex menyunggingkan bibirnya.


" Gue ini bukan tipe orang yang menelantarkan orang kepercayaan gue. Loe juga ga khianati gue kan dengan mengatakan semuanya kepada polisi?"


" Saya hanya bilang kalo saya merekrut 3 orang staff. Tapi pak Alex tenang saja, karna saya tidak menyebut nama pak Alex."


" Bagus. Rencana selanjutnya gue akan hubungi loe. Tapi inget...." Alex menggantung kalimatnya dan mengambil sesuatu dari laci meja. " Loe kesini kalo gue yang nyuruh. Ini sebagai uang muka. Dan ponsel ini hanya untuk ngehubungin gue."


Mata Roni berbinar melihat amplop coklat itu.


Setelah Roni pergi, tinggal Richard yang datang dengan muka kesalnya.


" Lex, gue minta penjelasan! Kenapa semalem gue bisa tidur bareng Vina padahal semalem loe kan yang nganter gue pulang ke rumah?"


" Tenang Rich. Kan loe sendiri yang semalem minta minum lagi setelah Dahlia pergi. Ya kan? Karna acara belum selese dan loe tertidur ya jadi gue pindahin ke kamar tamu dulu. Soal foto, ya loe tanyain langsung ke Vina, mungkin temennya yang iseng." kata Alex mengelak.


" Siapa dia? Biar gue temuin dan suruh dia buat bersihin nama gue. Gue pusing Lex saking banyaknya yang ngetweet dan DM gue."


" Gue rasa loe harus menemui Vina dulu. Dan untuk yang menyebarkan berita atau foto itu, biar gue yang urus."


Richard mengangguk. "Thanks Lex."

__ADS_1


Richard mengusap mukanya dengan kasar. Dia frustasi, belum masalah pekerjaan selesai, datang lagi masalah lain.


Lalu dia teringat perkataan Faisal tadi.


" Oya Lex, loe tau kalo Roni udah bebas?"


Alex gelagapan. Shit!! Apa mereka bertemu di bawah?


" Benarkah? Kapan? Kok bisa?"


" Kata Faisal ada yang membayar jaminan. Tapi dia belum tau siapa penjaminnya."


Alex bernafas lega. Lalu Richard meminta kepada Alex untuk numpang ke toilet. Setelah Rich keluar dari toilet, dia sejenak ingin menjernihkan pikirannya dan menuju balkon belakang. Richard teringat Dahlia dan langsung mengambil ponselnya. Dia berniat untuk menelfon Dahlia tapi takut tidak diangkat lagi, akhirnya dia memutuskan mengirimkan pesan saja.


πŸ“¨ Li, aku tau sekarang kamu lagi sibuk ngurus ekspor bunga yang mau dikirim hari ini. Tapi tolong sempetin baca pesan aku. Maaf kalo aku udah bikin kamu kecewa dengan pemberitaan di media. Kamu pasti udah tau kan?


πŸ“¨ Tapi yang perlu kamu tau bahwa berita itu sama sekali ga benar. Aku ga nidurin Vina. Kita emang sama-sama mabuk, tapi kita ga mungkin nglakuin itu apalagi dengan sengaja. Kamu tau kan kenapa? Karna hati aku udah dicuri oleh sang pemilik bunga yang bernama Dahlia.


πŸ“¨ Maaf kalo aku egois, tapi yang perlu kamu tau kalo aku sakit banget ngeliat kamu ditolong sama si cowok blasteran itu. Tapi aku tahu kamu udah ga suka sama dia kan?


πŸ“¨ Untuk saat ini aku belum bisa nerusin pekerjaan di perkebunan dulu, karna aku mesti nyelesein kerjaan di perusahaan. Tapi please Li, bantu aku nyelesein semuanya dengan tidak marahan sama aku. Karna aku jadi ga bakal konsentrasi bekerja kalo kita marahan. Ok?


πŸ“¨ Kamu ga perlu jawab semua pesan aku, yang paling penting kamu mau mengerti semua isi hati aku walaupun entah kapan kamu mau membacanya.


Sementara di seberang sana, Dahlia yang memang sedang membaca pesan itu, dadanya terasa sesak. Tanpa pikir panjang dia langsung membalas pesan Richard yang tak terduga.


πŸ“¨ Ok.


Richard langsung tersenyum mendapat balasan walaupun sesingkat itu. Tapi setidaknya, Rich sedikit mendapat secercah harapan yang membawanya kepada rencana yang akan menyelesaikan satu persatu masalahnya.


Setelah sedikit tenang, Rich akan berpamitan kepada Alex. Namun saat melewati ruang kerja Alex yang kebetulan terbuka sedikit, tidak sengaja Rich melihat sebuah map di atas meja yang memang mejanya sangat dekat dengan pintu.


Kok kaya ga asing ya. batin Rich.


Namun saat Rich akan membuka map itu, suara Alex menghentikannya.


"Rich!! Om Hendra barusan telfon. Katanya loe disuruh ke rumahnya."


Rich menutup kembali map itu yang belum sempat dia baca dan berjalan mendekati Alex.


" Eh iya. Gue emang niatnya mau kesana. Oya Lex, itu dokumen apaan ya?"


" Oh, itu rencana anggaran material bulan lalu dari sekretaris gue."


"Oh. " jawab Rich dengan datar namun ada yang mengganjal di pikirannya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Dokumen apa itu??Akan terungkap di bab-bab terakhir. Thanks for reading till this part.


Jangan lupa dukungannya ya

__ADS_1


__ADS_2