
Happy reading!!! Selalu jaga kesehatan!!!
Dahlia pun tak dapat menahan tawanya melihat ekspresi Richard.
"Kenapa harus marah Rich? Kamu cemburu?" tanya Dahlia yang sebenarnya tidak perlu dia tanyakan.
"Perlu aku jawab?" tanya balik Rich.
"Tidak usah, aku udah tau jawabannya. Cuma....."
Richard menoleh. "Cuma apa?"
"Aneh," jawab Dahlia dengan santai.
"Kok aneh?"
"Ya iya lah. Cemburu kok sama pria tua," Dahlia pun menertawakan ucapannya sendiri.
Richard yang tadinya kesal menjadi luluh melihat Dahlia tertawa renyah. Mereka pun pulang karna sudah sangat kelelahan.
πΉπΉπΉ
Di mansion bibi Mun yang ketiduran di meja dekat dapur, dikagetkan dengan panggilan Alex.
"Ada apa nak Alex?"
"Saya mau meminta kunci kamarnya Richard."
"Memangnya buat apa?" tanya bi Mun penasaran.
"Karna ada sesuatu yang mau saya ambil di kamarnya Richard."
"Apa nak Alex sudah meminta izin pada nak Richard?" tanya bi Mun.
"Sudah, Richard sendiri yang nyuruh saya untuk ngambil sendiri," ketus Alex.
Bibi Mun terlihat ragu. "Tapi, biasanya nak Richard memberi tahu bibi dulu."
Alex yang sudah kehilangan kesabarannya mendekati bi Mun dan mencengkeram kedua lengan bi Mun dengan keras.
"Saya sudah bilang, Richard yang nyuruh saya buat masuk sendiri. Kenapa bibi ga percaya sama saya."
Bibi Mun meringis kesakitan. "Ya...ya percaya. Tapi tolong lepaskan dulu."
Setelah menyerahkan kunci kamar Richard, bi Mun mengikuti Alex menuju kamar Richard. Setelah dicari di beberapa laci di meja kerja Richard dan BINGO Alex menemukan yang dia cari. Mata Alex juga terbelalak melihat sebuah cek tergeletak di bawah map yang baru dia ambil. Wajahnya menyeringai, ide licik mulai timbul.
"Kenapa bibi masih di sini! Minggir.. " usir Alex melihat bibi Mun yang masih membuntutinya.
Bibi Mun turun ke bawah dan menunggu Richard pulang. Namun saat melewati ruang keluarga, Bi Mun melihat nyonya Sarah sedang mengendap-endap. Karna curiga, bi Mun mengikutinya.
__ADS_1
Walaupun agak remang-remang karna lampu besar sudah dimatikan, namun Bi Mun tetap melihat dengan jelas bahwa nyonya Sarah sedang mengambil salah satu vas bunga ukuran agak besar yang terbuat dari porselen.
Dengan penuh keberanian, bibi Mun menghampirinya.
"Nyonya sedang apa?" tanya bi Mun yang sukses membuat Sarah terperanjat.
"Bibi!!! Kamu ngagetin saya saja," teriak Sarah.
"Saya kan hanya bertanya nyonya sedang apa? Dan kenapa vas itu ada di tangan nyonya?"
"Bukan urusan kamu, kamu itu hanya pelayan dan sekarang pergi sana" usir Sarah dengan kesal.
"Maaf nyonya, ini memang bukan urusan saya tapi barang itu juga bukan hak nyonya. Jadi perbuatan nyonya ini sama saja dengan mencuri. Apa nyonya tidak takut jika tuan Richard tau?"
"Kamu berani sama saya ya," emosi Sarah semakin menjadi.
Sarah meletakkan vas itu dan langsung menyakiti bibi Mun dengan mencubit kedua lengannya. Dan terjadilah perkelahian kecil namun tidak didengar Kiky dan Sita karna mereka sedang berada di kamarnya yang berada di rumah belakang. Bi Mun yang umurnya sudah tua itu pun tidak dapat melawan. Sedangkan Alex yang sehabis dari kamarnya Richard mendengar keributan kecil, lalu mengintip di balik ruangan. Bukannya melerai, Alex malah merasa puas karna melihat orang yang menghalangi rencananya tersiksa.
Untung saja terdengar suara mobil Richard yang baru datang. Bi Mun buru-buru menghampiri Richard dan Dahlia sambil memegangi lengan kirinya yang kesakitan.
Namun baru Rich akan bertanya pada bi Mun, mamanya nyelonong menyambut Richard seolah-olah mengucapkan selamat datang sambil cipika cipiki.
"Kamu sudah pulang nak? Kenapa pulangnya larut?" basa basi mamanya.
Richard agak heran, lebih-lebih Dahlia curiga melihat raut muka Bi Mun yang terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Iya tadi kita lembur mah," jawab Rich lalu bertanya kepada bi Mun yang ada di belakang mamanya. "Bi Mun ada apa?"
"Ti...tidak ada nak. Apa nak Rich mau bibi buatin sesuatu?"
"Oh, tidak perlu bi karna Rich ingin langsung tidur. Bibi juga istirahat saja," jawab Rich dan mengajak Dahlia ke atas.
Dahlia ingin bertanya pada bi Mun, namun Sarah juga masih ada di sampingnya dan sedang menatapnya dengan raut muka bencinya. Akhirnya Dahlia pun mengikuti Richard, walaupun dengan rasa khawatir.
"Rich!" panggil Dahlia saat Richard akan membuka pintu.
"Hmm. Kenapa Li?" tanya Rich.
"Kamu ga ngerasa aneh dengan bibi? Beliau seperti menyembunyikan sesuatu. Coba deh kamu bicara dengannya. Kayanya tadi mau memberi tahu kamu sesuatu tapi sepertinya mamamu mencegahnya," terang Dahlia yang membuat Richard juga khawatir.
Richard pun turun lagi ke bawah dan menghampiri kamarnya bi Mun namun sudah diketuk berapa kali tidak ada jawaban. Pikirnya mungkin bi Mun sudah tertidur. Jadi dia naik ke atas lagi ke kamarnya.
"Bi Mun sudah tertidur. Aku tanyain besok aja. Udah sana kamu juga tidur," ucap Rich pada Dahlia yang masih kepikiran.
Richard memajukan langkahnya. "Udah sana istirahat. Atau mau aku kelonin nih."
"Heyyyy!" Dahlia buru-buru masuk ke kamarnya.
Setelah Dahlia membersihkan diri, ada notif pesan gambar masuk yang ternyata dari Richard. Padahal orangnya saja ada di seberang kamarnya.
__ADS_1
π¦"Pacarnya siapa sih ini. Cute banget" goda Richard.
π©" π€π€π€ " balas Dahlia.
π¦"Selamat malam. Mimpi indah. Love you ππππππππππππππππππ΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄π΄
Dahlia tidak membalas lagi. Karna Rich pasti sudah tertidur. Saat Dahlia akan memejamkan mata, dia pun perlahan untuk mematikan lampunya dan berusaha untuk menghilangkan phobianya.
*** *** ***
Meja makan terisi satu lagi yaitu Alex. Sedangkan Sarah selalu makan setelah Dahlia dan Richard pergi bekerja. Saat Alex sedang mencuci tangannya, ponselnya yang tergeletak di meja makan berbunyi.
"Lex. Ponsel loe bunyi," seru Richard.
"Gue angkat telfon dulu," kata Alex yang mengambil ponselnya buru-buru.
Dahlia berpura-pura akan mengambil sesuatu di kamarnya. Tapi sebenarnya Dahlia mengintip Alex yang sedang menerima telfon karna penasaran.
Dahlia hanya mendengar samar-samar karna agak jauh jangkauannya. Namun Dahlia merasa ada hal yang tidak beres dan akan terjadi sesuatu.
πππ πππ
Alex mengajak Richard untuk makan siang di luar. Dahlia sempat mencegahnya namun ada salah satu karyawan bagian administrasi memintanya untuk menandatangani beberapa dokumen. Akhirnya Dahlia pun tertahan dan Richard tetap pergi dengan Alex.
Mereka tiba di restaurant yang cukup formal. Disana Rich dan Alex bertemu dengan Hendra yang sedang bersama dengan rekan kerjanya. Hendra pun mengajak Alex dan Rich untuk bergabung.
Richard menatap Alex dan Alex pun mengangguk walaupun sebenarnya Richard enggan untuk bergabung.
"Sudahlah Rich, lupakan yang sudah berlalu. Anggap saya ini ayahmu sendiri," ungkap Hendra.
Ayah macam apa yang mengharap imbalan. gerutu Rich dalam hati.
"Richard, ini rekan kerja om namanya Pak Tanu Subroto. Beliau juga mengenal dengan mendiang ayah dan kakekmu."
Richard dan pak Tanu bersalaman. Belum lama mereka berbincang sambil menunggu makanan datang, ponsel Alex berbunyi dan dia izin sebentar untuk mengangkat telfon.
"Bagaimana persiapan pelelangan proyeknya Rich? Apa kamu yakin perusahaanmu akan menang," tanya Hendra.
"Tentu saya yakin om. Team saya sudah menyiapkan semuanya dengan teliti," jawab Rich.
"Ngomong-ngomong pak Tanu ini pernah membantu kakekmu memenangkan setiap pengadaan tender loh Rich. Siapa tau kamu membutuhkan bantuan beliau."
Penawaran dari Hendra sukses membuat mulut Richard terkunci untuk mengatakan ya atau tidak. Pikirannya sudah membayangkan berbagai jalan pintas untuk menuju kesuksesan.
πππ πππ
Apakah Richard akan mengambil tawaran itu?
Tunggu jawabannya di part selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya.
Salam author π