
Terima kasih yang sudah BACA sampai part ini. Happy reading!!! Selalu jaga kesehatan.
πππ
"Jadi bapak sering menangani pelelengan?" tanya Richard.
"Ya. Saya ini sudah senior. Jika ada proyek-proyek besar, saya sering menanganinya. Bahkan jika sampai mereka memenangkannya, nilainya pasti sampai ratusan juta," terang Subroto.
"Jadi pak Tanu ini juga pernah menangani pelelangan sampai ke level international loh Rich," tambah Hendra.
"Pak Suryo adalah orang yang pintar dengan ide-ide cemerlangnya dan juga selalu melihat masa depan," puji pak Tanu.
"Oh, jika tidak. Mana mungkin Wiratama Land bisa sampai sebesar ini. Tapi apa kamu bener-bener yakin akan menang Rich?"
"Saya yakin om dan saya harus menang," jawab Richard.
"Semua perusahaan pasti mempunyai pikiran seperti itu. Mungkin pak Tanu bisa memberikan nasihat untuk anak saya ini pak," ucap Hendra kepada Tanu.
"Ya bisa. Tapi.....tentu saja melalui beberapa langkah."
Richard dan Hendra saling bertatapan. Jika Hendra menatap Richard dengan penuh harap. Sedangkan tatapan Richard penuh tanda tanya dan merasa ada aura settingan di tempat itu. Mulai dari Alex yang menerima telfon sampai bujukan pak Tanu yang padahal mereka baru bertemu. Richard juga tidak langsung mempercayai bahwa kakeknya pernah mengambil langkah ini.
Saat Alex kembali, mereka sudah tidak membahasnya lagi. Dan mereka pun menyelesaikan makan siangnya.
*** ***
Roni kaget saat membuka pintu dan ternyata Alex yang datang.
"Kenapa loe kaget? Bukannya gue udah bilangΒ kalo gue bakal mampir?" ketus Alex.
"Sa..saya pikir pak Alex akan datang nanti malam......."
Suara wanita di dalam memanggilnya. "Siapa yang datang sayang?"
Sarah kaget melihat Alex. "Alex!!! Apa yang kamu lakukan disini?"
Alex tersenyum sinis. "Selamat sore, bu Sarah."
Rupanya, Sarah baru tau kalo Roni sudah keluar dari penjara. Dan langsung menemui kekasihnya itu setelah ditelfon karna membutuhkan money.
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan Alex? Apa Richard yang menyuruh kamu untuk memenjarakan Roni lagi?" tanya Sarah dengan suara cemprengnya setelah mereka duduk.
Alex dan Roni saling berpandangan sambil menertawakan kecemasan Sarah.
"Memangnya bu Sarah pikir siapa yang mengeluarkannya dari penjara" tanya balik Alex.
Raut muka Sarah berubah. "Apa maksudmu? Apa kamu yang mengeluarkannya? Jadi kamu juga ga percaya kalo Roni itu tidak bersalah kan?"
"Saya ini bukan orang yang tega menelantarkan anak buah saya sendiri."
Sarah pun awalnya tidak percaya. Alex yang dari dulu dipandang sebelah mata karna statusnya yang hanya anak angkat, tidak menyangka bahwa dialah yang menjadi penolong.
__ADS_1
"Terima kasih banyak ya Lex. Saya ga menyangka kamu orang yang baik. Tidak seperti Dahlia perempuan norak itu."
Mendengar nama Dahlia, mulut Alex jadi gatal untuk memberi tahu sesuatu agar suasana semakin panas.
"Apa bu Sarah ga tau status Dahlia selain sebagai pemegang kekuasaan di mansion Wiratama?"
Sarah mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Dahlia dan Richard........" Alex menggantung ucapannya lalu melanjutkan lagi dengan tegas. "Memiliki hubungan spesial."
Seketika mata Sarah terbelalak dengan muka yang penuh emosi. "Apa katamu? Kamu jangan ngada-ngada ya Lex. Saya tau kamu selalu iri dengan Richard. Tapi saya tidak percaya selera Rich akan serendah itu!"
Alex menyunggingkan sudut bibirnya. "Jika anda ga percaya, tanyakan saja pada anakmu sendiri."
Tak berselang lama, Sarah buru-buru pergi.
Lagi-lagi Alex dan Roni hanya saling bertatapan seolah-olah mereka sedang menertawakan kebodohan wanita itu.
"Kenapa si loe masih berhubungan dengan wanita itu? Dia itu bodoh," maki Alex.
"Pak Alex ga tau si..Dia itu ibarat bank buat saya pak," keluh Roni.
"Dia itu udah ga punya apa-apa. Semuanya itu milik Richard. Dan soal duit........" Alex mengambil sesuatu di saku celananya.
"Nih!!! Itu baru uang muka. Sisanya setelah pekerjaan selesai," kata Alex sambil melempar amplop coklat itu dengan agak kasar.
Mata Roni terbelalak melihat isi dalam amplop tersebut. "Wahhh! Kenapa ini banyak sekali pak Alex."
β€β€β€β€β€
"Richard! Mama mau tanya sesuatu," kata Sarah yang menahan Richard dan Dahlia saat akan berangkat ke kantor.
"Ada apa mah?"
"Apa benar kamu berpacaran dengan dia?" tanya Sarah dengan serius sambil menunjuk Dahlia dengan mukanya.
Richard menoleh ke arah Dahlia sejenak. "Memangnya kenapa mah?"
"Jawab saja. Jangan jawab dengan pertanyaan," kesal Sarah.
Richard membuang nafas. "Ya. Rich pacaran dengan Dahlia."
Dahlia menoleh dengan cepat. Selain karna pengakuan Richard, dia juga kaget karna Richard menggenggam tangan Dahlia. Sarah lebih kesal mendengar pengakuan dari Richard sendiri ketimbang mendengarnya dari Alex. Dia pun meluapkan emosinya dengan mengatai Dahlia bahwa dia tidak sepadan dengan keluarga Wiratama.
Dahlia sedikit menundukan kepalanya tapi sambil menata kesabarannya seolah dia tau hal ini akan terjadi jika sudah berurusan dengan hati dan perasaan.
"Apa mama ga inget dulu kakek pernah memberi kesempatan sewaktu papa saya membawa mama agar bisa menyesuaikan dengan keluarga Wiratama," bela Richard.
Sarah terdiam sejenak. Memang uang dan dan tahta bisa melupakan jati dirinya dulu yang seorang anak dari kalangan orang biasa.
"Jadi bisakah mama memberi Dahlia kesempatan? Lagipula kakek juga tidak pernah memandang status seseorang, apalagi orang sebaik Dahlia."
__ADS_1
Richard menarik tangan Dahlia. "Ayo Li."
Sesampainya di luar mansion, Dahlia melepas tangan Richard.
"Kamu marah Li?" tanya Richard.
"Aku ga marah. Karna apa yang dikatakan oleh mamamu itu memang benar kan?" kata Dahlia lalu berjalan meninggalkan Richard menuju mobil yang akan siap berangkat.
β€β€β€β€β€
Tibalah saatnya hari pelelangan. Richard, Faisal dan Olivia sudah menyiapkan semua dokumen. Richard melihat raut muka Dahlia yang masih terdiam sewaktu mereka tiba di kantor.
"Kamu masih kepikiran ucapan mamaku tadi?" tanya Richard.
Dahlia tersenyum dan menggeleng. "Ngga Rich. Apa semua dokumen sudah diteliti lagi?"
"Iya sudah. Memangnya kenapa? Kamu ga biasanya ragu jika menyangkut pekerjaan." Lalu Rich memegang kedua pundak Dahlia. "Li, percayalah. Menang atau tidak perusahaan akan baik-baik saja."
Dahlia tersenyum lega dan keduanya saling bertatapan cukup lama. Faisal yang sedang berada di depan mereka pun tersenyum dan berdehem.
"Ehemm!! Maaf, bukannya saya mengganggu tapi sebentar lagi kita akan berangkat," sela Faisal.
Olivia menghampiri mereka. "Mobil sudah siap pak Richard."
Mereka pun berangkat dengan optimis dan tidak akan mengira apa yang akan menimpa pada mereka. Dan benar saja setelah mereka sampai, baru saja masuk di lobi terlihat ketegangan dari para peserta perusahaan lain. Dahlia dan Olivia saling bertatapan kemudian Olivia berinisiatif untuk bertanya kepada resepsionis.
"Ada apa ini mba?"
Jawaban resepsionis mengejutkan mereka. "Pelelangan dibatalkan."
"APA!!!!" teriak Richard dan lainnya bersamaan.
"Apa yang terjadi?" tanya Faisal.
Belum resepsionis itu menjawab, dua orang bertubuh tinggi menghampiri Richard.
"Selamat siang pak Richard, kami dari kepolisian. Mohon pak Richard untuk ikut kami datang ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian."
Faisal menyela. "Atas dasar tuduhan apa?"
"Ada yang melapor bahwa pak Richard Wiratama telah menyuap seseorang untuk memenangkan pelelangan ini."
BOOM!!!
π¨π¨π¨π¨π¨
Sampe situ ga asap bomnya gengs??ππ
Kayanya kok ga selese2 masalahnya Richard ya??
Stay tune di part selanjutnya. Minta like,komen dan votenya ya. Thank you. π
__ADS_1