Terjebak Wasiat Dan Perjanjian

Terjebak Wasiat Dan Perjanjian
Pasrah


__ADS_3

Happy reading gengs!!


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Angga sekretaris Okan dan beberapa karyawan bagian ekspedisi sudah selesai mengurus pengiriman produk beserta administrasinya. Sedangkan Okan yang matanya terasa berat ingin tidur sejenak karna semalam tidurnya kurang nyenyak ditambah lagi tadi pagi dia bangun awal karna perjalanan cukup jauh. Okan memang dari semalam sudah berniat untuk mengantar Dahlia pulang, toh siangnya Angga juga akan datang sekaligus menjemputnya.


Dahlia menyuruh Okan untuk beristirahat di kamarnya Richard setelah mendapat ijin dari ibunya. Setelah hampir 2 jam tidur, akhirnya Okan terbangun karna Dahlia membangunkannya untuk makan siang. Sedangkan ibu dan tante Citra sudah makan duluan karna setelah itu mereka pergi untuk menemui kerabat.


"Li, kamu udah baikan sama Richard?" tanya Okan to the point.


Dahlia agak tersentak mendengar pertanyaan Okan. "Maksudnya gimana kak?Memang kapan kita marahan?"


"Kamu ga usah nyembunyiin perasaan kamu. Aku udah bisa nebak dari tatapan mata kamu kalo semalem kamu frustasi atau lebih tepatnya.......patah hati, tapi sekarang kaya sumringah gitu."


Dahlia menelan makanannya agak susah payah karna dibumbui dengan pertanyaan Okan.


"Kita ga ada hubungan apa-apa kok kak, buat apa juga patah hati," elak Dahlia.


Okan mengerutkan keningnya tapi mendengar jawaban itu dia tersenyum. "Benarkah? Berarti aku masih ada kesempatan?"


Belum Dahlia menjawab, ponselnya mendapat notif pesan dari nomor yang belum dia simpan tapi kali ini bukan pesan teks atau gambar melainkan pesah suara. Lalu didekatkanlah ponsel itu ke telinganya karna dia putar dengan volume rendah dan begitu terkejutnya Dahlia karna suara itu adalah suara racauan Richard saat mabuk yang sudah diedit oleh si pengirim.


"Vina aku mencintaimu. Vina aku ingin menikahimu....." belum selesai pesan suara itu diputar, Dahlia mematikannya.


Seketika matanya menggenang dan dadanya terasa sakit seperti ditusuk. Dahlia hendak pergi meninggalkan Okan.


"Lia kamu kenapa?" tanya Okan.


"Maaf kak, aku mau istirahat," jawab Dahlia dengan lirih.


"Ok. Aku juga mau pulang. Tapi kamu beneran istirahat ya. Kalo ada apa-apa kamu bisa cerita ke aku."


Dahlia hanya mengangguk dan meninggalkan Okan yang masih dipenuhi pertanyaan. Okan sebenarnya tidak tega melihat Dahlia sedih namun dia juga tidak ingin memaksa agar Dahlia mau bercerita walaupun dia sudah tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Ngga, tolong kamu cari semua informasi tentang perusahaan Wiratama Land, termasuk skandal mereka," perintah Okan sesampainya di mobil.


Angga heran dan membalikan badannya. "Memangnya buat apa bos? Kita mau kerja sama dengan mereka?"


Okan menghela nafas. "Mungkin sebentar lagi. Oya, tadi kamu kemana aja?"

__ADS_1


Angga tersenyum. "Tadi aku lagi ngobrol sama Riyanti bos."


"Riyanti saudaranya Dahlia?"


Angga mengangguk dan Okan hanya tersenyum mendengarnya. Okan senang dan semoga saja Angga secepatnya menemukan pengganti setelah ditinggal menikah oleh kekasihnya dulu.


"Udah ayo jalan."


"Siap bos!"


πŸ’πŸ’πŸ’ πŸ’πŸ’πŸ’


Taksi yang ditumpangi Richard sudah sampai di depan kediaman Hendra. Sebelum masuk, Rich melihat lagi ponselnya karna menunggu balasan dari Dahlia. Tentu saja dengan suasana hati sekarang ini, Dahlia tidak mau membalas pesan dari Richard. Yang ada Rich malah mendapat pesan-pesan dari para pemegang saham dan investor yang agak terganggu mengenai berita tersebut.


Richard mulai mengutarakan keinginannya setelah Hendra sendiri yang membukakan pintu dan mempersilahkan Rich duduk.


"Begini Om, Om pasti sudah tau mengenai berita soal semalam. Saya hanya ingin mengajak Vina untuk melakukan klarifikasi bahwa semalam tidak terjadi apa-apa diantara kami," ucap Rich dengan baik-baik karna masih menghargai Hendra sebagai orang tua.


Hendra menghela nafas. "Sepertinya susah nak Rich, Vina juga sedih karna dia digosipkan sebagai wanita murahan. Mungkin hanya kamu yang bisa membujuknya."


Rich heran. Apaan ini?


Richard tetap kekeh. "Tapi maaf om, saya belum memikirkan pernikahan dulu, karna yang om tau saya belum menyelesaikan wasiat dari kakek saya dan juga kondisi perusahaan yang belum stabil."


"Kenapa Rich? Apa karna perempuan itu?" terdengar suara Vina yang berjalan menghampiri mereka.


"Vin, kita perlu bicara," tegas Richard.


"Buat apa? Kalo hanya untuk membersihkan nama loe, maaf gue ga bisa Rich. Karna gue pun juga ga tahu mengenai semalam. Gue juga dijebak," bohong Vina.


Richard pun tidak percaya dengan jawaban Vina namun dia tahan emosinya dan berusaha untuk berpura-pura baik di depan papanya Vina.


"Kalo gitu gue ingin kita makan siang di luar. Bukankah kita lama ga pernah jalan berdua?" ajak Richard.


Dan akhirnya setelah mendapat izin dari papanya, mobil Vina melaju menuju resto yang agak privasi agar tidak mendapat perhatian dari publik. Ya memang Rich bukanlah entertainer, tapi untuk kasus sebuah perusahaan besar apalagi menyangkut skandal orang-orang di dalamnya, hal itu sangatlah berharga bagi para wartawan yang khusus meliput berita bisnis. Apalagi pebisnis muda yang tampan dan kece bak model (menurut author si😁).


❀❀❀ ❀❀❀


Vina meletakan pisau dan garpunya dengan kesal. Dia terpaksa menghentikan makan karna nafsu makannya hilang melihat Rich yang berada di depannya tidak berbicara sedikit pun setelah mereka sampai di restaurant.

__ADS_1


"Kamu kenapa si Rich? Tadi ngajakin aku jalan tapi dari tadi kamu nyuekin aku terus," kesal Vina.


Richard pun menghentikan makan kemudian meneguk minumannya.


"Gue kan cuma ngajakin makan, bukan kencan, ya kan?"


Vina terdiam lalu Rich melanjutkan. "Sekarang loe bisa ngerasain jalan berdua dengan orang yang ga mencintai loe. Tersiksa kan?"


"Trus selama ini hubungan kita apa Rich?" suara Vina mulai terisak.


Rich menghela nafas. "Maaf kalo selama ini loe menganggap kita pacaran padahal kita jarang pergi berdua karna kita pasti selalu pergi rame-rame. Tapi jujur gue cuma nganggep loe sahabat Vin sama kaya waktu kita kecil bareng."


Setelah Vina agak tenang akhirnya dia pun bersedia mengundang pers untuk memberi klarifikasi.


"Ok. Aku akan mengaku kepada publik bahwa kita berdua sama-sama dijebak dan berpura-pura bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa........." Vina menggantung kalimatnya dan Rich mulai mencurigai apa yang akan dikatakan Vina.


"Tapi aku mau kamu tetap menikahi aku."


Belum Rich menjawab, Vina mengeluarkan ponselnya. "Kalo tidak, aku akan menyebarkan pesan suara ini kepada perempuan kampung yang kamu sukai itu."


Rich meraih ponsel itu dan membelalakan matanya mendengar ucapan itu lalu dengan segera dia mengahapusnya. "Gak!! Gak mungkin gue ngomong ini. Ini pasti akal-akalan loe aja, loe udah ngeditnya kan?"


"Percuma aja kamu hapus Richie, karna aku udah punya salinannya."


Richard menggertakan giginya namun masih dia berusaha untuk menahan emosinya agar tidak meluap. "Ok. Gue akan turutin kemauan loe. Tapi gue minta waktu setidaknya sampai perusahaan kakek bener-bener udah stabil."


Vina tersenyum dan mengangguk. "Makasih Richie. Aku janji besok di kantor papa aku undang semua wartawan-wartawan terkenal. Kamu juga dateng ya."


Richard mengangguk setelah itu dia pulang dengan naik taksi online. Vina sudah menawarkan untuk mengantarnya tapi Rich menolak. Untung saja depan rumah sudah sepi dari para wartawan.


πŸ’πŸ’πŸ’ πŸ’πŸ’πŸ’


Keesokan harinya selesai dari kantornya Hendra dan selesai dengan berita itu, Rich kembali ke kantornya dengan lesu dan tidak bersemangat. Begitu pula hari-hari kedepannya dia lalui dengan termenung. Alex yang melihatnya jadi kasihan.


"Rich, bukannya masalah gosip itu udah kelar? Kok loe masih sedih gitu. Cengeng banget," celetuk Alex.


Richard menatap Alex dengan sinis. Entah karna kata-kata Alex yang membuatnya tersinggung, atau karna dia sudah mencurigai sesuatu tentang Alex?


Mungkin ceritanya makin membagongkan ya gengs.🀣 Tapi moga aja bisa terjawab semua. Stay tune ya.

__ADS_1


Salam author 😘


__ADS_2