
Happy reading gengs. Maaf kalo masih ada typo dan cerita kurang menarik.
Dahlia ragu untuk membalas ucapan Richard, namun dia pun juga ingin mengutarakan isi hatinya.
" Maaf Rich bukannya aku munafik. Tapi aku rasa ini terlalu cepat. Aku juga masih belum yakin. Lagi pula kita masih terikat dengan perjanjian ini kan."
Richard mengerutkan dahi dan melepaskan tangan Dahlia. " Tapi perasaan aku ga ada hubungannya sama sekali dengan perjanjian atau wasiat kakek Li."
" Aku tahu Rich. Tapi aku ga mau orang lain menganggap bahwa aku hanya menggunakan kesempatan ini untuk memanfaatkanmu. Apalagi banyak orang yang tidak menyukaiku."
Richard menghela nafas. " Baiklah jika kamu ga yakin aku mengerti. Kita masih punya banyak waktu dan aku bisa menunggu."
Rich kembali memegang kedua tangan Dahlia. " Tapi yang perlu kamu tahu kalo aku sangat serius dan setelah perjanjian ini selesai, aku akan melamar kamu."
Hati Dahlia serasa berdesir mendengar kalimat yang pertama kali dia dengar. Haruskah dia langsung menerimanya?
Saat Dahlia akan mengatakan sesuatu lagi, ada ketukan pintu dari luar.
Mereka pun mencoba menetralisir pikiran dan hati masing-masing dan kembali ke tempat duduknya. Rupanya Faisal yang datang.
" Bu Dahlia, ini ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani dari bagian Sertifikasi," ucap Faisal sambil menyerahkan dokumen itu.
" Loh, kok mas Faisal yang nganter? Olivia mana?" tanya Dahlia basa-basi untuk menetralkan rasa gugupnya.
" Olivia tadi sakit perut ingin ke toilet, jadi biar saya saja yang nggantiin."
" Oh gitu."
Faisal menangkap suatu ketegangan di ruangan itu. Dia melirik Dahlia dan Richard bergantian sampe beberapa kali.
" Oya bu Lia, hari ini saya mau minta ijin pulang awal karna di rumah saya kedatangan Oma dan Aunty saya dari Bogor."
Dahlia mengangkat kepalanya. " Oh iya mas. Ga apa-apa."
Richard mendengar itu jadi teringat sesuatu bahwa hari itu dia ada janji dengan seseorang. Dia pun berpamitan kepada Dahlia dan Faisal. Dahlia hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah Richard pergi, Faisal mencoba mencairkan suasana dengan berbasa basi seputar tender.
" Oya bu Li, kata Olivia besok bu Lia mau ke perkebunan?"
" Iya mas," jawab Dahlia sambil menyerahkan dokumen kepada Faisal.
" Tapi pelelangan tender diadakan satu minggu lagi, saya harap hari itu bu Lia sudah ada disini."
__ADS_1
" Mas Faisal tenang aja. Aku ga lupa kok. Yang penting sekarang aku mau nyelesein ekspor bunganya dulu."
Faisal mengangguk." Oh ya, tadi ada apa dengan tuan Richard? Sepertinya dia sedang terburu-buru."
" Oh, katanya dia ada janji ketemu dengan pak Hendra Gunawan. Tapi saya ga tau urusan apa. Memangnya kenapa mas?" tanya balik Dahlia.
Faisal buru-buru menggeleng. " Oh ga ada apa-apa. Kalo begitu saya pamit dulu."
Faisal berjalan keluar ruangan sambil berpikir. Dia jadi inget tadi pagi saat dia akan masuk ruangan Richard yang mana saat itu Dahlia sedang menemui Olivia. Karna pintu agak terbuka jadi Faisal berniat untuk tidak mengetuknya. Saat Alex sedikit berteriak tentang keterkejutannya mengenai Richard yang dimintai menikahi Vina, Faisal samar-samar mendengarnya.
*** ***
Richard sampai di depan restoran yang sudah diberitahukan sebelumnya lewat pesan singkat yang dikirim om Hendra. Saat Rich tiba, om Hendra sudah sampai disana.
" Maaf om kalo saya terlambat," sapa Richard.
Om Hendra tersenyum. " Ga apa-apa, om juga belum lama."
Richard memilih untuk memesan minuman saja, walaupun agak lapar karna dia tidak sempat makan siang tadi. Setelah berbasa-basi seputar perusahaan, Om Hendra menanyakan soal hubungan Rich dengan Vina.
" Bagaimana hubungan kamu dengan Vina? Ada perkembangan kan? Maaf kalo anak om itu agak slengean, semaunya sendiri, tapi jika kamu serius dengannya dia pasti mau berubah."
" Tapi Vina mencintai kamu."
Richard menggeleng. " Tidak om. Vina bukan mencintai saya. Dia hanya terobsesi dengan saya. Karna semua teman Vina memiliki pasangan yang seprofesi dengan saya.
Raut muka Hendra memanas. " Maksud kamu Vina itu matre?"
" Bukan itu maksud saya om," jawab Rich agak sesal.
" Apa kamu lupa Richard bagaimana dulu terpuruknya kamu saat kehilangan kedua orang tua kamu. Saya ini yang membantu membesarkan kamu, mengajari kamu tentang bisnis bahkan ayah saya juga pernah membantu kakekmu disaat perusahaannya hampir pailit."
" Saya ga pernah lupa Om. Dan saya sangat berterima kasih atas segala bantuan dari Om. Bahkan jika om meminta saya untuk memberikan investasi lagi terhadap perusahaan om akan saya berikan, hanya saja saya butuh waktu. Tapi yang perlu om tau, dibalik kesuksesan saya sekarang, ada peran kakek di belakang saya, bukan Om. Permisi!"
Richard berdiri namun saat akan melangkah ancaman halus Hendra menghentikannya.
" Apa kamu tidak takut Om mencabut saham di perusahaan kamu? Soal investasi itu, om sudah lama tidak menginginkannya lagi karna om sudah mendapat investor lain. Sedangkan perusahaanmu membayar keuntungan kepada pemegang saham saja belum becus."
Richard mengernyitkan dahi dan kembali duduk. " Maaf om, perusahaan saya secara keuangan memang sedang terancam tapi penyebabnya bukan seperti yang diberitakan kemarin. Jika om sudah mendapat investor lain, kenapa om masih mengancam saya? Apa yang sebenarnya om rencanakan?"
Hendra tertawa sinis. " Om tidak merencanakan apapun. Om hanya mengikuti arus saja. Justru yang perlu kamu awasin adalah orang di sekitar kamu."
__ADS_1
" Tapi bukannya orang itu sudah dipenjara?" tanya Richard kembali menerka-nerka.
Hendra kembali tertawa seakan-akan menertawakan kebodohan Richard.
" Rupanya kamu seperti papamu ya, masih belum mengerti persaingan bisnis."
Saat akan berjalan meninggalkan Rich namun terhenti karna hendak mengatakan sesuatu.
" Ingat Richard! Besok ulang tahunnya Vina. Jangan kecewakan dia," ucapnya sambil menepuk pundak Richard.
*** *** ***
Mobil Olivia sampai depan mansion Wiratama jam 5 sore. Semenjak Okan pindah ke Jakarta, dia memang dibelikan mobil mini cooper oleh kakaknya itu agar mudah untuk bepergian kemana-mana.
" Mampir dulu yuk," ajak Dahlia.
" Hmm. Ga deh, hari ini aku capek," tolak Olivia.
" Tadi aku tawarin aku yang nyetir ga mau."
" Yang cape itu telingaku Li, dengerin curhatan kamu sepanjang jalan." ledek Olivia.
Dahlia mencubit perut Olivia. Setelah Olivia berpamitan, Dahlia melihat mobil Rich sudah terparkir di garasi. Dia pun segera masuk.
" Mba Lia udah pulang? Perlu saya siapin makan malam sekarang mba?" tawar Kiky saat Dahlia masuk.
" Nanti aja Ky, aku belum laper. Emm, tuan Richard udah lama pulangnya?"
" Belum lama si mba. Tapi dia juga ga mau makan katanya ga enak badan dan pengen langsung tidur."
" Oh,ya udah. Biar nanti aku bangunin buat makan malamnya," jawab Dahlia lalu segera naik ke atas menuju kamarnya.
Malamnya setelah Dahlia menyelesaikan sedikit pekerjaan di kamarnya, dia hendak keluar kamar untuk mengajak Richard makan makam, namun ada suara notif ponselnya tanda ada pesan masuk. Betapa terkejutnya Dahlia membaca pesan itu yang ternyata dari Faisal bahwa Roni sudah bebas dan ada yang mengeluarkannya dengan membayar jaminan.
Siapa orang itu???
Tunggu di part selanjutnya.
Stay tune di karya saya, dan mohon dukungannya ya.
Terima kasih.
__ADS_1