
Di lain tempat, Ibu Ratna yang sedang menunggu Dahlia untuk makan siang di rumah akhirnya memutuskan untuk mencarinya ke kebun.
Rupanya Dahlia sedang melamun di gubug tempat biasa dia beristirahat, sedangkan pekerja lainnya juga terlihat sedang memakan makan siang mereka dengan ditemani mang Udin. Sedangkan Riyanti sedang pergi ke kota karna ada panggilan interview tempat dia melamar pekerjaan. Bu Ratna menghampiri Dahlia dan mengajaknya makan.
"Lia belum laper bu," ucap Dahlia.
"Kamu belum laper atau kamu sedang rindu dengan seseorang?" tebak ibunya.
Dahlia menoleh dengan kilat dan nyengir kuda. "Emang keliatan ya bu?"
Ibunya memang selalu tau apa yang sedang dirasakan oleh anak semata wayangnya itu. Dan Dahlia sendiri tidak bisa merahasiakan apapun dari ibunya.
"Kalau rindu kenapa ga kesana aja? Lagipula pekerjaan disini tidak terlalu sibuk kan," ucap bu Ratna lagi sambil duduk di sebelah Dahlia.
Dahlia terdiam sambil berpikir. "Lia cuma gugup kalo ketemu sama Richard bu. Apalagi....... "
"Apalagi dia pernah melamar kamu?" sela bu Ratna.
Dahlia tersentak mendengar pertanyaan ibunya. "Kenapa ibu bisa bilang begitu?"
"Karna dia juga pernah mengatakan itu pada ibu," terang bu Ratna.
Flashback
Suatu hari Richard menemani bu Ratna untuk mengantar pesanan kue di salah satu langganannya. Dan setelah itu mereka pergi ke pasar. Di pasar orang-orang yang memang mengenal bu Ratna malah menggosipkan bahwa bu Ratna sudah memiliki suami baru yang umurnya lebih muda darinya. Bu Ratna tentu saja merasa tertohok dengan tuduhan itu.
Richard memang sudah kedua kalinya menemani Bu Ratna ke pasar setelah kurang lebih lima bulan dia bekerja di perkebunan. Bu Ratna pun dengan tenang menjelaskan yang sebenarnya namun rupanya ada yang tidak percaya dan sedikit julid. Karna Richard tidak tega melihat Bu Ratna dituduh yang negatif, akhirnya Richard mengumumkan kepada semua orang yang ada di pasar itu bahwa dia adalah calon suaminya Dahlia. Bu Ratna juga kaget dengan pengakuan Rich. Namun dia menyuruh Richard untuk tidak menceritakan hal ini kepada Dahlia.
Keesokan harinya, Bu Ratna menghampiri Richard yang sedang mengkroscek pekerjaan kantor yang pernah dibawa oleh Faisal.
"Sedang sibuk nak Richard?" tanya bu Ratna.
Richard mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Ga kok bu. Cuma lagi liat-liat kertas saja."
Bu Ratna ikut tersenyum. "Boleh ibu duduk disini?"
"Tentu saja bu," jawab Richard dengan ramah.
Bu Ratna mulai menanyakan apa yang menjadi unek-uneknya mengenai kejadian kemarin.
Richard menarik nafas panjang. "Maaf jika perkataan saya membuat ibu bingung. Tapi apa yang saya katakan memang mewakili perasaan saya bu. Saya mencintai Dahlia dan saya ingin restu dari ibu untuk melamar Dahlia."
Bu Ratna seolah sedang flashabck saat dia dilamar oleh ayahnya Dahlia. Dan karna melihat ketulusan dari Richard, Bu Ratna pun merestuinya tapi dengan syarat Richard harus berusaha sendiri dan menyelesaikan dulu amanat dari kakeknya. Richard pun menyanggupinya.
Flashback off
"Benarkah? Tapi buat apa kalo dia juga mengatakan hal itu kepada wanita lain."
Bu Ratna mengerutkan kening. "Memangnya kamu tau siapa yang mengirim pesan itu?"
Dahlia menggeleng. "Lia ga tau bu, karna udah berapa kali Lia hubungi tetep ga bisa nyambung."
"Kenapa kamu ga coba menceritakan ini kepada Richard? Tadi kan di TV Richard mengumumkan bahwa dia dan wanita itu tidak akan menikah."
Dahlia kaget. Memang dari kemarin dia sama sekali tidak pernah update berita baik di TV maupun di ponselnya.
__ADS_1
"Lia Lia. Yang namanya menjalin hubungan ya pasti ada masalah. Kalo kalian bersikap dengan dewasa pasti akan ada jalan yang terbaik untuk kalian agar tidak terjadi salah paham," ucap bu Ratna lalu berdiri.
"Ayo makan dulu!" ajak bu Ratna lagi lalu meninggalkan Dahlia yang masih memikirkan perkataan ibunya.
πππ
Di kantor, Faisal menghampiri ruangan Richard dan memberitahukan bahwa dia mendapat info dari temannya yang bekerja sebagai jaksa bahwa pengacara yang mengeluarkan Roni dari penjara merupakan suruhan dari seseorang yang bekerja di perusahaan Wiratama.
Namun jaksa itu tidak memberitahukan secara rinci siapa orangnya.
Siapa orangnya? Apa Alex yang membayar pengacara itu? batin Richard.
Tadinya Rich menaruh curiga lagi pada Alex namun dia tepis lagi pikiran itu, karna mengingat Alex sudah banyak berjasa bagi perusahaan (disini author menyayangkan betapa tolilnya si Richard π).
*** *** ***
Sudah dua hari ini Richard disibukkan dengan pekerjaannya menjelang persiapan pelelangan tender. Dia sebenarnya galau karna Dahlia belum juga datang atau setidaknya membalas semua pesannya.
Tiba-tiba ada suara tidak asing mengagetkan Richard yang sedang melamun.
"Ngelamunin aku?" suara itu tak lain adalah Dahlia.
Richard mengerjap matanya beberapa kali.
"Dahlia!!!" teriak Rich kegirangan dan segera berhambur memeluk Dahlia.
Di saat yang bersamaan, Alex membuka pintu ruangan karna setau dia Rich sedang sendirian maka dia tidak mengetuk pintu. Betapa terkejutnya Alex melihat pemandangan di depannya itu.
Rupanya loe balik lagi. gumam Alex senyum menyeringai.
"Rich!!! Aku ga bisa nafas," pekik Dahlia sambil memukul pundak Richard.
Rich melepas pelukannya. "Maaf. Karna aku takut kamu cuma ilusi. Ternyata kamu nyata. ..........Aku merindukanmu."
Dahlia pun tidak dapat memungkiri bahwa dia juga merindukan orang yang ada di depannya itu.
"Aku juga merindukanmu," sahut Dahlia.
Richard tersenyum dan menuntun Dahlia untuk duduk di kursi sofa setelah Dahlia meletakan tas slempang di kursi kerjanya.
"Kamu kapan dateng? Kenapa ga ngabarin aku kalo mau kesini? Trus kenapa selama ini kamu ga pernah ngabarin aku?"
Dahlia kesal mendengar rentetan pertanyaan dari Richard. "Perlu aku jawab semuanya?"
Richard malah tertawa. Senang rasanya membuat Dahlia kesal. Dahlia pun menjelaskan semuanya bahwa dia marah pada Rich tentang ciuman itu, foto-foto yang tersebar di media sosial, tapi Dahlia sendiri juga mengerti bahwa Richard hanya dijebak.
"Rich, tapi soal pesan suara itu...."
Richard segera memotong ucapan Dahlia.
"Jadi kamu tau soal pesan suara itu?"
Dahlia mengangguk. "Aku ga tau siapa pengirimnya. Tapi aku tau betul suara itu. Itu suara kamu Rich."
Dahlia menunduk dan terisak. Rich memegang kedua tangan Dahlia dengan erat. "Kamu percaya aku kan Li? Itu memang suara aku, tapi itu sama sekali bukan kalimat yang aku ucapkan karna Vina sudah memanipulasinya."
__ADS_1
"Maka dari itu dari kemarin aku frustasi. Aku pikir dengan kita bicara pikiranku jadi tenang agar bisa mencari solusi masalahku dengan Om Hendro. Tapi kamu malah mengabaikan aku. Bahkan kamu lebih memilih Okan daripada menunggu penjelasan dari aku," ungkap Richard dengan perasaan sedih.
Dahlia memegang kedua pipi Richard.
"I Love you tuan Richard Wiratama."
"I love you too."
Richard melepas tangan Dahlia kemudian menggeser duduknya hingga berdekatan dan menarik Dahlia ke dalam pelukannya.
"Li," panggil Richard yang membuat Dahlia mendongak kepalanya.
Saat kedua hidung mereka sudah bersentuhan, Richard memiringkan kepalanya dan segera ******* bibir Dahlia dengan penuh rasa rindu. Dahlia hanya bisa memejamkan matanya. Lumayan lama ciuman itu, tapi saat tangan Rich akan meraba kancing depan kemeja Dahlia, Dahlia buru-buru membuka mata dan melepas bibirnya namun hidung mereka masih menempel.
"Maaf Rich. Aku ga ingin terlalu cepat," ucap Dahlia sambil menarik nafas.
Richard mengangguk. "Aku yang minta maaf Li karna aku ga bisa menahannya."
"Aku ngerti. Kita masih punya banyak waktu kok."
Richard menaikan alisnya sebelah dan tatapannya sedikit menggoda. "Untuk?"
"Tentu saja.......untuk menyelesaikan pekerjaan lah," ucap Dahlia sambil tertawa dan berlari menuju meja kerjanya.
Richard kembali menghampiri Dahlia lagi.
"Kamu mau ngapain?"
"Kerja lah. Kamu pikir ngapain aku dateng kesini."
Richard meletakkan kertas yang ada di tangan Dahlia dan menariknya untuk berdiri.
"Kita kencan yuk!"
"Rich, ini lagi jam kerja."
Richard melihat jam tangannya dan menunjukannya pada Dahlia. "Bentar lagi waktu istirahat. Udah ayo, kita datang telat ga masalah."
"Ga masalah katamu?" tanya Dahlia dengan melotot.
Richard mengambil tas Dahlia. "Iya lah. Kan kamu bosnya."
Dahlia tidak menjawab lagi karna Rich sudah menarik tangannya.
πππ πππ
Di ruangannya, Alex menelfon seseorang yang sekarang sudah menjadi pengangguran.
Siapa lagi orangnya kalo bukan si Roni.
"Gue punya tugas loe?"
M**inta dukungannya terus ya para readers.
See you in the next part.
__ADS_1
Salam author π**