Terjebak Wasiat Dan Perjanjian

Terjebak Wasiat Dan Perjanjian
Bertemu


__ADS_3

Dahlia memeluk Olivia dengan erat karna rasa kangen mereka. Saking lamanya mereka berpelukan, Faisal pun sampai berdehem.


" Ehemm.."


Dahlia dan Olivia terkekeh dan melepaskan pelukannya. Setelah itu Dahlia bersalaman dengan Faisal.


" Apa kabar bu Lia?" tanya Faisal.


" Baik mas Faisal. Ya begini lah, disini sama saja sibuknya. Ayo, kita masuk. Kebetulan ibu dan tante Citra habis selesai sarapan."


Bu Ratna dan tante Citra menyambut kedatangan mereka, apalagi Olivia sudah dianggap seperti anak mereka sendiri karna sewaktu kuliah Olivia sering menginap di rumahnya Dahlia.


Dahlia menyuruh Olivia dan Faisal untuk menunggunya di ruang kerjanya yang terkesan santai dan nature dengan beberapa hiasan tanaman bunga dan berada didekat kolam sambil membawa beberapa cemilan. Dia sendiri akan memanggil Richard untuk membahas masalah pekerjaan kantor.


Setelah kurang lebih 3 jam mereka pun selesai. Richard kembali ke kebun sebentar sebelum makan siang sambil membawa beberapa snack dan cemilan yang dibawakan bibi Mun lewat Faisal dan akan dia bagikan ke beberapa pekerja di kebun. Dan Dahlia mengajak Olivia dan Faisal melihat-lihat pemandangan sejenak.


" Hmm, disini udaranya sejuk. Ga seperti di kota, pantesan saja bos kita betah," sindir Olivia tanpa menoleh ke arah Dahlia.


Faisal tersenyum dan menyahut. " Ya benar, dan sepertinya udara disini membuat orang cepat berubah."


Dahlia mengerutkan dahi. Dia sebenarnya tahu siapa yang mereka maksud, tapi dia jaim untuk mengakuinya.


" Kalian ini ngomongan apaan si?" tanya Dahlia dengan sedikit kesal.


" Tapi memang benar bu Lia, tuan Richard seperti ada perubahan pada sikapnya. Tidak seperti waktu kalian baru pertama bertemu. Dan sepertinya kali ini dia sangat menekuni pekerjaannya." ucap Faisal.


Dahlia sedikit tersenyum. " Benarkah?"


Faisal mengangguk. " Ya. Saya juga sempat bertanya-tanya, secepat itukah tuan Richard berubah?"


. " Ya mudah-mudahan aja mas, dia bisa jadi pribadi lebih baik lagi. Jadi nanti kalo perjanjian selesai, dia bisa jadi pemimpin yang diharapkan kakek."


Faisal mengangguk dan setelah itu dia meminta ijin untuk ke toilet. Sementara Dahlia dan Olivia menuju dapur menyiapkan makan siang.


***


Dahlia baru teringat sesuatu yang ingin dia tanyakan kepada Olivia selagi menyiapkan menu makan siang.


" Liv, aku mau tanya sesuatu tentang kakakmu."


" Kenapa Li? Serius amat."


" Waktu kamu bilang dia akan berkunjung kesini, apa dia berencana menetap di Indonesia?" tanya Dahlia penuh hati-hati karna dia tidak ingin Olivia curiga.


Olivia mengangguk. " Iya Li. Papaku menyuruh dia untuk mengurus cabang perusahaan yang baru buka di Jakarta. Memangnya kenapa, tumben kamu nanyain kak Okan?"


" Ga apa apa kok." jawab Dahlia dengan tenang namun pikirannya penuh tanda tanya.

__ADS_1


" Oya, kamu udah ada hasil penyelidikan mengenai orang yang melakukan korupsi di perusahaan?" tanya Dahlia mengalihkan perhatian.


" Tentu. Kamu tebak siapa?"


" Apa Roni orangnya?" tebak Dahlia.


" Tepat sekali. Aku juga curiga sama itu orang. Masa dia cuma manager Pemasaran tapi mobilnya lebih mahal dari punyanya pak Richard. Trus ada juga yang pernah lihat kalo pak Roni itu sering bolak balik ke kasino sama pacarnya. Siapa lagi kalo bukan mamanya pak Richard." ucap Olivia dengan sedikit kencang dan membuat Dahlia menepuknya takut Richard mendengar.


" Tapi kamu harus cari buktinya dulu." perintah Dahlia yang dijawab anggukan oleh Olivia.


***


Sudah 2 bulan Richard bekerja di perkebunan.


Suatu hari, Riyanti mendekati Richard yang sedang menyiangi gulma (semacam hama) pada kuncup bunga yang sudah mulai tumbuh dengan menggunakan gunting tanaman.


" Wah, kuncup bunga yang ditanam aa Richard sudah mulai tumbuh dengan bagus nih."


Richard tersenyum. " Iya nih Ri. Udah aku cek semua juga ga ada yang kering dan berjamur."


" Berarti aa Richard ga perlu bekerja disini sampai setahun ya, soalnya kan udah nyelesein tantangan dari mba Dahlia."


Richard melihat Dahlia yang lewat didepannya dan mengucap sesuatu dengan sedikit meninggikan suaranya. " Kata siapa gue bakal berhenti kerja disini."


Seketika Dahlia menoleh tapi membalikkan badannya lagi memunggungi Richard.


Richard pun tersenyum menanggapi perkataan Riyanti. " Tentu aja. Gue betah disini. Betah banget" ucap Richard dengan lantang sambil menekankan kalimat terakhir.


Dahlia tersipu malu dan tidak bisa menahan senyumnya tapi tentu saja Richard tidak bisa melihatnya karna Dahlia masih memunggunginya. Akhirnya dia memutuskan pergi ke arah yang agak jauh.


Tiba-tiba tante Citra datang memanggil Richard.


" Ayang Richard. Dahlia mana ya? Soalnya ada yang mencarinya."


" Dahlia barusan aja pergi. Memangnya tamu siapa tante?"


" Tante ga tau si. Tapi orangnya ganteng. Eh, tapi tetep gantengan ayang Richard si." ucap tante Citra sambil mencolek perutnya Richard.


Richard merasa risih. " Ehhh, ok ok. Biar aku aja yang temuin dulu." lalu Richard menyuruh Riyanti untuk memanggil Dahlia.


***


Richard menemui dua orang yang sedang menunggu di ruang tamu.


" Iya ada yang bisa saya bantu?" sapa Richard.


Kedua orang itu menoleh.

__ADS_1


" Okan!!!" panggil Richard.


Flashback


Sorenya setelah Faisal dan Olivia berpamitan pulang Dahlia mendapat laporan dari Riyanti bahwa ada email Pemberitahuan Penolakan dari perusahaan jasa ekspor.


Dahlia segera berlari menuju ke ruang kerjanya untuk melihat email tersebut.


" Mba, katanya besok pimpinannya akan berkunjung kesini untuk meminta data yang lebih lengkap lagi." ucap Riyanti sehabis membaca pesan di ponselnya.


Dahlia terkejut. " Hah!!! Kamu tau dari mana? Kenapa ga lewat email saja?"


" Sekretarisnya mengirim pesan ke ponselku, tapi dia ga memberitahu alasannya kenapa ingin kesini."


Tanpa Dahlia menaruh curiga dia pun menyuruh Riyanti untuk mengirim alamat lengkap sekaligus share lokasi.


Sementara di ruang kerjanya, Okan tersenyum senang setelah menyuruh Angga sekretarisnya mengirim pesan ke Riyanti. Kesempatannya untuk bertemu dengan Dahlia terbuka lebar.


" Bos, apa ga terlalu berlebihan kita harus mengunjungi ke perkebunan itu. Kita kan bisa memintanya lewat email saja. Lagi pula kan ini tugasnya Kepala Lapangan. Ngapain bos repot-repot terjun langsung. Bos kan hanya perlu menunggu hasilnya saja." ucap Angga dengan heran.


" Unfortunately, I've taken over this job. Aku udah mengambil alih pekerjaan ini Ngga. Udah udah, besok kamu juga tau. Sekarang kamu pulang saja. Siapkan tenaga buat besok." ucap Okan sambil menepuk pundak sekretarisnya.


Tapi b**aru kali ini bos sepertinya terlihat senang.


Flashback off


" Richard!!! Ngapain loe disini?" sapa Okan dengan sedikit terkejut.


" Gue kerja disini." jawab Richard.


Okan terkejut lagi. " Hah!! Loe kan penerus perusahaan kakek loe. Kok bisa kerja disini. Atau jangan-jangan yang loe maksud kerja di perkebunan kampungan yang pemiliknya sok berkuasa itu, disini maksud loe?" tanya Okan sambil tertawa meledek.


Richard tertawa malu. " Iya. Tapi ga usah kenceng-kenceng ngomongnya, ntar yang punya denger."


Jadi Richard kenal dengan Dahlia. batin Okan.


" Tamunya siapa Rich?" teriak Dahlia dari dalam dan seketika raut wajahnya berubah.


Kak Okan??? Berarti bener dugaanku.


" Eh Li. Ini pimpinan perusahaan jasa ekspor sekaligus temen gue. Tapi gue belum nanyain urusannya apaan. Lagian apa loe ga punya kuota internet sampe harus dateng jauh-jauh kesini Kan? Nih pake punya gue unlimited."


" Sialan loe!" pekik Okan.


" Ya, gue cuma mau minta kelengkapan data aja karna pihak Bea Cukai menolak data yang sekretaris gue kirim. Sekaligus gue pengen survey produk yang mau diekspor, sekalian ketemu sama pemilik perkebunan." ucap Okan sambil melirik Dahlia.


" Apa kabar Lia. " sapa Okan sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2