Terjebak Wasiat Dan Perjanjian

Terjebak Wasiat Dan Perjanjian
Listrik Padam


__ADS_3

" Rich kamu apa-apaan si main tarik-tarik aja." protes Dahlia saat sampai di kamarnya Richard sambil menarik tangannya.


" Trus ngapain juga ke kamarmu, pake dikunci segala."


Richard yang sekarang sudah bisa menahan emosi jika berhadapan dengan Dahlia langsung berubah ekspresi yang tadinya garang menjadi kalem, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu lost control.


" Loe ada hubungan apa sama Okan?" tanya Rich merendahkan suaranya tapi dengan tatapan tajam.


" Ga ada. " jawab Lia.


Richard mendekat lagi sehingga Dahlia memundurkan langkahnya.


" Gue tanya lagi ada hubungan apa loe sama Okan? Apa dia mantan loe?" tanya Rich lebih serius dengan tatapan menyelidik.


Dahlia melipat kedua tangannya di dadanya. " Kalo iya dia itu mantan aku kenapa? Apa urusannya sama kamu?"


Richard gelagapan, dia juga bingung apa urusannya, mau bilang karna mereka berteman tapi seperti kurang meyakinkan.


Namun bukannya Richard menjawab pertanyaan Dahlia, dia malah terus memajukan kepalanya ke arah Dahlia yang membuat Dahlia memundurkan kepalanya lalu mengangkat jarinya dan


PLETAKKK


" Arrghhhhh!!!" pekik Richard.


" Rasain!!" maki Dahlia yang menjitak jidat Richard.


Dahlia tersenyum puas dan bergegas meninggalkan Richard yang masih meringis kesakitan. Sebenarnya dia buru buru pergi juga karna takut Richard menahannya lagi dan tidak bisa menghindar rasa gugupnya.


***


Malamnya Richard menelfon Alex untuk menanyakan keadaan perusahaan.


[ " What's up farm boy? Lama banget ga ngasih kabar?" ] tanya Alex setelah memasang earphone ke telinganya.


" Gue baik. Sorry disini juga sibuk. Lagian tiap hari gue mesti bangun jam 5 pagi. Bisa bayangin ga loe?" jawab Rich yang menertawakan kebiasan barunya itu.


[ " Gila!! Yang bener aja. " ] jawab Alex ga percaya.


" Oya, gimana kabar perusahaan? Gue denger dari sekretarisnya Dahlia kalo dia mencurigai ada koruptor di perusahaan."


Alex langsung menghentikan aktifitasnya yang sedang mengupas buah.


" Ga disangka ya. Gue kira yang gue denger itu hoax. Dan loe tau siapa yang dia curigain?"


[ " Siapa?" ]


" Roni Permana. Gue juga udah ga suka dengan dia dari dulu. Gayanya belagu banget kaya bos besar. "

__ADS_1


Alex menghela nafas. [ " Memangnya sekretarisnya Dahlia mencurigai Roni atas dasar apa?" ]


" Katanya Roni itu memasukan data fake company yang akan mengikuti tender. " kata Rich yang dia dengar dari penjelasan Faisal dan Olivia saat mereka mengunjungi ke perkebunan.


[ " Apa dia punya bukti?" ]


" Maka dari itu gue minta dia untuk mencari buktinya dulu."


[ " Trus apa yang mesti gue lakuin?" ] tanya Alex.


" Gue minta loe awasin si Roni itu. Gue takutnya ada yang nyuruh dia dan bawa-bawa staff yang lain."


[ " Ok. Serahin semuanya ke gue." ] ucap Alex yang tersenyum sinis tapi tentu saja Rich tidak dapat melihatnya.


" Thanks ya Lex. Gue ngandelin loe. "


Setelah berbincang-bincang sedikit Richard menutup telfonnya karna dia pun sudah mengantuk, padahal jam masih menunjukkan pukul 20.30.


Tidak seperti saat di Jakarta, pantang baginya untuk tidur awal karna kerjaan di kantor yang santai tidak terlalu membuatnya lelah. Sedangkan di perkebunan, Richard merasa pekerjaannya menguras tenaga yang mengakibatkannya mudah lelah dan mengantuk. Namun jika setelah tidur yang cukup, paginya dia merasa fresh lagi. Paling hanya pegal-pegal karna belum terbiasa.


Lama kelamaan dia sudah terbiasa bahkan dia merasa tidak memerlukan ngegym dan jogging lagi seperti kebiasannya di Jakarta.


Namun ada satu hal yang membuat kantuknya hilang, yaitu rasa penasarannya terhadap Dahlia. Sebenarnya ada hubungan apa Dahlia dan Okan, lalu kenapa dia merasa penasaran dan gelisah.


Tiba-tiba hujan turun lebat karna tadi sore langit memang sudah mendung.


*** *** ***


" Lembur?? Lagi ngerjain apa? Biasanya jam segini udah masuk kamar." tanya Rich yang muncul tiba-tiba di pintu.


Dahlia menoleh sejenak lalu kembali menatap laptop didepannya. " Cuma buka email aja karna tadi aku check ada laporan keuangan dari Olivia...."


Richard mengangguk namun Dahlia melanjutkan lagi. " Dan juga ada email balasan dari perusahaannya Okan. "


Richard menoleh lagi. " Email apaan?"


" Katanya dokumen sudah lengkap bahkan sudah dapat Nota Persetujuan dari Bea Cukai. Jadi tinggal mengambil barangnya saja kesini. "


" Kamu sendiri ngapain?" tanya balik Dahlia


" Gue ga bisa tidur. "


Dahlia tertawa. " Kenapa? Tante gangguin kamu lagi?"


" Gue mik...." belum Richard melanjutkan perkataannya, terdengar suara dering ponselnya Dahlia, seperti nomor baru namun Dahlia segera mengangkatnya.


" Haloo!! Siapa ya?" tanya Dahlia.

__ADS_1


[ " Ini aku Li. Maaf malem-malem aku nelfon, karna Angga bilang kamu belum reply email yang dia kirim. Apa kamu memang sedang sibuk?" ] tanya balik orang itu yang tak lain adalah Okan.


" Oh..kak Okan. " sahut Dahlia sambil menoleh ke arah Richard sejenak. Richard yang mendengar nama Okan entah kenapa menjadi kesal.


" Mmm, memangnya harus sekarang ya kak. Soalnya emailnya saja baru aku buka ini karna dari tadi siang aku juga lupa naruh ponselku dimana."


[ " Oh. Ya udah ga apa-apa. Aku tau kamu pasti sangat sibuk. Ya sudah lebih baik sekarang istirahat. Selamat malam." ]


" Selamat malam." ucap Dahlia menutup telfonnya.


Malem-malem nelfon cuma nanyain itu? Dasar aneh, chat aja kan bisa. Trus kenapa dengan dia loe bisa selembut itu Li. Beda kalo ke gue. batin Richard.


Lagi-lagi Richard hanya bisa bergejolak dengan hatinya karna masih ragu untuk mengungkapkannya. Lalu dia berdiri.


" Udah malem, lebih baik loe istirahat. Lagipula di luar hujannya lebat dan udaranya dingin, loe kan bisa ngerjainnya di kamar, " ucap Rich dengan datar.


" Iya, ini juga udah mau selesai."


Kirain mau nemenin aku disini. batin Lia.


Dahlia ingin menahan Rich untuk menanyakan yang tadi Rich ingin katakan namun dia urungkan karna terlihat Rich seperti sedang tidak mood.


" Yah, batrenya lowbat lagi. " gerutu Dahlia yang lupa mencharge ponselnya.


Dan setelah kepergian Richard, Dahlia berniat menghentikan pekerjaannya tapi saat akan beranjak, tiba-tiba listrik padam.


Awalnya Dahlia mencoba untuk tenang dengan memejamkan matanya dan mengatur nafasnya. Lalu dia berteriak memanggil ibunya, tantenya dan tentu Richard pun dipanggil. Namun lama-lama dia tidak dapat menahan rasa takutnya. Hujan yang lebat juga membuat tidak ada yang dapat mendengar suaranya.


Ingatan masa kelamnya kembali muncul dan phobianya kembali membuatnya trauma.


" Tolongg!!! Ibu.. Tante...Richard. " teriak Dahlia yang sudah tidak dapat menahan tangisnya sambil meringkuk dilantai dan memeluk kedua kakinya.


Beberapa lama kemudian, pintu terbuka dan ada cahaya yang menyorotnya. Suara laki-laki terdengar memanggil nama Dahlia yang membuat Dahlia mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


" Lia. " panggil Rich sambil memegang ponsel untuk menyalakan senternya.


Saat Rich memegang pundak Dahlia, sontak Dahlia kaget dan menghindar.


" Jauhi aku! Tolong jangan ganggu aku kak Okan. "


" Lia! Lia! Lia! Ini aku. Lihat ini aku Richard. Coba buka matamu. " ucap Richard yang berusaha menenangkan Dahlia.


" Aku ga mau. Aku takut. " ucap Dahlia yang masih terus menangis sesenggukan.


Richard menarik Dahlia dan memeluknya dengan erat. Lalu dia segera menggendong Dahlia ala bridal style untuk dibawa ke kamarnya Dahlia.


Mohon maaf jika cerita kurang berkenan, tapi tetep mohon dukungannya ya.

__ADS_1


Salam author 😘


__ADS_2