
Hari itu Dahlia sudah disibukkan dengan pekerjaan yang banyak karna ditinggal olehnya selama kurang lebih 20 hari. Untung saja mang Udin dapat menghandel pekerjaannya karna dia juga dibantu oleh anaknya yang baru saja menyelesaikan kuliahnya.
Dahlia juga harus mengajari Richard seperti mengajari karyawan baru. Makanya Richard baru diberi tugas-tugas ringan seperti menyiram dan memetik bunga seperti yang sudah pernah dia lakukan sebelumnya.
Dahlia mengeluh karna baru pertama Richard bekerja sudah datang terlambat, padahal semalam sudah diberitahu untuk bangun lebih awal.
Alangkah terkejutnya Dahlia melihat Richard yang baru datang ke kebun diantar oleh tante Citra.
" Hey!! Kamu itu mau ngapain pake pakaian kaya gitu? Ini bukan kantor, tuan Richard!!! " protes Dahlia karna Rich menggunakan kemeja casual yang dimasukkan dan sepatu fantovel.
" Kenapa emangnya? Gue bisa kok." jawab Rich dengan percaya diri namun nyalinya menciut saat melihat luwing didepannya.
Tante Citra lah penolongnya dan segera membuangnya dengan menendang si kaki seribu tersebut. Dahlia dan mang Udin terkekeh melihatnya.
***
Karna sudah terlambat, akhirnya Dahlia hanya mengirim bunga ke supermarket, sedangkan pengiriman bibit ke toko-toko bunga dan koperasi tani sudah dikirim oleh pekerja lain.
Dia pun mengajak Richard yang telah selesai menyiram
Dahlia mendengus kesal karna beberapa penjual di supermarket menolaknya karna dia datang kesiangan.
"Maaf ya Lia. Tadi padahal banyak yang nyariin bunga-bunga kamu. Lagipula saya kira kamu masih di Jakarta." ucap salah satu penjual tetap bunga Krisan.
" Eh, ngomong ngomong ini siapa Lia. Kok tampan pisan, pacar kamu ya?" tanya ibu penjual itu yang melihat Rich berdiri di belakang Dahlia sambil tangannya memegang troli.
Dahlia langsung menjawab cepat. " Bukan bukan bu. Dia ini.....karyawan baru saya." jawab Dahlia dan lengannya langsung ditarik oleh Rich.
" Gue ini bukan karyawan loe."
" Udah diem aja, kamu mau kita dianggap pacaran, atau kamu mau aku bilang kalo kamu pemilik perusahaan besar." ucap Lia dengan lirih.
Setelah berbincang bincang sejenak karna keakraban Dahlia dengan beberapa penjual dia pun memutuskan keluar dari supermarket menuju parkiran dengan perasaan kecewa.
Richard yang melihatnya merasa iba. Dia pun berinisiatif menanggung kesalahan karna dia lah yang menyebabkan pengiriman terlambat.
" Loe mau gue tanggung jawab?"
Dahlia menoleh sehabis menaruh krat bunga itu kembali. " Apa maksudmu?"
__ADS_1
" Gue bakal tanggung jawab. Gue bayar semua bunga ini."
" Hah!! Memangnya mau kamu apakan dengan semua bunga-bunga ini?" tanya Dahlia dengan heran.
" Ga tau. Gue buang mungkin. Yang penting kan udah gue beli."
Dahlia emosi. " APA????"
Setelah bernegosiasi dan cukup panjang ceramah yang didapat dari bos cewe mungil itu, akhirnya Richard menerima tantangan dari Dahlia. Bahwa jika dia bisa menjual habis bunga ke orang-orang yang ada disekitar, maka jangka waktu yang ada di perjanjian akan Dahlia kurangi tiga bulan.
Dan benar saja, setelah diajari beberapa kali oleh Dahlia untuk melakukan penawaran, Richard sukses membuat orang yang berlalu lalang di luar supermarket tertarik untuk mendekat dan membelinya. Tentu saja mayoritas pembelinya adalah kaum perempuan walaupun tujuan mereka untuk wefie atau sekedar ingin mencolek pipinya.
Tapi banyak kaum pria juga yang tertarik karna rayuan Richard agar membelinya untuk diberikan kepada pasangannya.
*****
Dahlia menepikan truknya di taman sejenak sebelum kembali ke perkebunan untuk sekedar meregangkan otot apalagi dia kasihan melihat Richard melakukan pekerjaan yang tidak pernah dia lakukan. Mereka duduk sejenak di pinggiran taman.
"Nih makan!" Dahlia memberikan makanan yang dia beli sewaktu Rich sibuk melayani pembeli.
" Apaan nih!!" tanya Rich yang heran karna melihat makanan yang jarang dia jumpai.
" Ini namanya lotek dan yang itu empal atau gepuk daging sapi. Cobain aja dulu."
" Hmmm!!! Lumayan. Enak juga." Lalu dia teringat sesuatu dan mengambilnya di saku bajunya. " Oya nih, hasil jualan gue tadi. Gimana, gue hebat kan tadi?" tanya Rich dengan pedenya.
" Ya tadi kamu hebat juga bisa ngejual semua bunganya. Bahkan ga jarang yang membeli sampai 3 buket. Tapi ngomong-ngomong makasih ya." ucap Dahlia.
Richard tersenyum geli mengingat kejadian tadi.
" Gimana ga beli banyak. Karna gue kasih hadiah bagi yang membeli lebih 3 buket."
" Hah!!! Hadiah? Hadiah apaan?"
" Gue kasih cium di pipi." jawab Rich dengan santainya tapi sukses membuat Dahlia kaget tapi dia mencoba bersikap wajar.
" Awalnya itu permintaan mereka. Eh, lama-lama yang lainnya juga pada ikutan."
Tanpa sadar Dahlia berucap. " Hmm, sayang ya udah laku semua. Kalo ga aku bakal beli semua dan ikut mengantri."
__ADS_1
DEG
Richard reflek langsung menoleh.
" Benarkah?" tanyanya dengan tatapan penasaran dan menyelidik.
Dahlia menghentikan kegiatan mengunyah makanannya.
Bodoh Lia. Kamu sadar ga ngomong apaan. Lia
" Aku bercanda." jawabnya dengan cepat.
Tapi kali ini gue ngerasa kalo loe ga bercanda.
batin Rich sambil tersenyum tapi sebentar doang.
Dahlia membuang tatapan agar tidak salah tingkah.
*****
Richard masuk ke kamarnya setelah membersihkan diri. Lalu dia mengambil paperbag yang tadi diberikan oleh Dahlia sewaktu mereka pulang.
Richard tersenyum-senyum sendiri sambil mencoba beberapa kaos oblong yang dibelikan Dahlia.
Sedangkan Dahlia di ruang kerja pribadi namun agak terbuka dengan nuansa seperti rumah kayu dengan beberapa pot bunga yang sengaja dibuat oleh ayahnya dulu. Dia sedang memeriksa laporan keuangan yang baru diantar oleh Riyanti anaknya mang Udin.
" Catatan kamu rapi juga Ri. Aku ga yakin kamu belum mendapat tawaran kerja dari perusahaan manapun." ucap Dahlia.
" Sebenarnya udah ada tawaran kerja ke luar negri bos Lia, hanya saja aku ga tega ninggalin bapak." jawab Riyanti dengan ragu.
Dahlia menoleh. Dia tau Riyanti bimbang karna mereka memang hanya tinggal berdua semenjak ibunya meninggal tiga tahun yang lalu. Dan sebagai anak perempuan, dia tidak tega meninggalkan bapaknya sendirian.
" Kamu yang sabar ya Ri. Kamu pasti cepat dapet pekerjaan yang kamu inginkan karna aku tau kamu itu pintar. Lagipula sebenarnya mang Udin ga kesepian juga. Dia kan bisa tinggal disini sewaktu-waktu." tawar Dahlia.
Riyanti tersenyum. " Ya tentu saja bapak ga mau. Tapi makasih ya bos, aku seneng kok bisa membantu pekerjaan bos Lia."
Dahlia tertawa mendengar Riyanti yang terus memanggilnya bos. " Kita ini sepupu Riri, kamu kan bisa panggil aku mba atau kak."
Mereka berduapun tertawa. Lalu Riyanti teringat sesuatu. " Oya bos,eh mba.. Maaf aku belum sempet menyimpan agendanya ke laptop. Kemarin aku dapet buyers. Mereka adalah perusahaan teh dan kosmetik dari Jepang dan Cina katanya mereka ingin kita mengekspor bunga Krisan produksi kita." ucap Riyanti sambil menyerahkan ponselnya.
__ADS_1
" Benarkah? Wah, berarti kita harus menyiapkannya dari sekarang. " jawab Dahlia dengan sumringah.
Mohon dukungannya ya dengan ngelike,komen dan vote. Terima kasih