Terjebak Wasiat Dan Perjanjian

Terjebak Wasiat Dan Perjanjian
Berteman


__ADS_3

Sore harinya, sehabis membersihkan diri Richard senyum-senyum sambil memegang peperbag yang diberikan Dahlia,yang ternyata isinya adalah beberapa kaos oblong untuk dikenakan Richard saat bekerja. Lalu dia mengingat tadi siang bagaimana bisa dirinya menuruti kemauan Dahlia untuk menjual bunga, sementara menjual produknya sendiri saja dilakukan oleh pihak marketing.


***


Sudah seminggu, Richard semakin mengerti pekerjaannya di perkebunan, walaupun kadang dia masih keras kepala dan semaunya sendiri.


Namun kedekatannya dengan Dahlia sebagai teman, bukan sebagai partner kerja bukan sebagai atasan dan bawahan membuat mereka tidak canggung lagi walaupun untuk sekedar berdebat.


Flashback on


Suatu malam, Dahlia menghampiri Richard yang sedang duduk santai didekat kolam sambil membawakan minuman.


" Nih, wedang jahe." ucap Dahlia.


Richard menyesapnya. " Ahhh!!! Pedas."


Dahlia tersenyum. " Tapi itu bagus buat badanmu biar hangat. Ibuku memaksaku untuk membuatkannya untukmu."


" Jadi ini bukan loe yang bikin?" tanya Richard menghentikan minumnya.


" Aku yang bikin.... tapi karna disuruh ibu."


ucap Dahlia sambil tersenyum.


Gue kira loe yang inisiatif sendiri.


" Tapi...Ya anggep juga karna seharian ini hasil kerja kamu bikin aku terkesan." lanjut Dahlia.


" Terkesan gimana?" tanya Richard heran.


Dahlia mulai menjelaskan waktu memenuhi ajakan ayahnya Joe mengunjungi perkebunan sayurnya. " Ya pertama karna tadi kamu mau menolong Joe mendorong mobil saat hujan, lalu kamu mau meminta maaf duluan karna sudah memulai pertengkaranmu dengan ayahnya Joe."


Richard tersenyum tengil. " Ya,kalo ada yang baik sama gue gue juga bakal baik ke mereka."


Dahlia memukul lengan Richard. " Mulai lagi sombongnya."


Richard terkekeh. " Udah, itu aja?"

__ADS_1


" Ada lagi, tapi kayanya kamu ga mau tau."


" Apaan?" tanya Richard penasaran.


Dahlia menjelaskan alasan yang paling bikin terkesan adalah karna Richard berinisiatif meminta bantuan mang Udin buat menanam bunga Krisan dari nol. Karna dulu waktu Richard menyombongkan diri karna sudah menjual banyak bunga, dia bilang bahwa pekerjaannya mudah, ga perlu otak buat berpikir. Makanya Dahlia kecewa dan memberi tantangan kepada Richard untuk menanam bunga Krisan dari nol tanpa diberi arahan. Jika Richard berhasil dalam waktu tiga bulan, maka Dahlia akan menganggapnya satu tahun dan selesai perjanjiannya.


Tetapi tidak disangka, Richard malah membeli bibit yang sudah tumbuh agak besar ditempat lain yang pads akhirnya daunnya mengering dan berjamur karna kondisi tiap bibit berbeda-beda.


Richard mengerutkan dahinya. " Hah!!! Cuma itu bikin loe terkesan. Berarti besok gue bakal menanamnya lagi ke semua lahan."


" Sombong. Kenapa harus semua lahan?"


" Ya biar kamu tambah terkesan." ceplos Richard yang membuat Dahlia menganga.


Richard memandang Dahlia sejenak. Dia memandang gadis tomboy rambut pendek tubuh mungil tapi manis didepannya itu agak lama. Dahlia yang seperti salah tingkah memutuskan untuk pergi ke kamarnya namun tangannya ditahan Richard.


" Tunggu bentar. Makasih ya."


Dahlia mengangguk. " Hmm."


Richard menahannya lagi. " Bentar dulu. Loe ga perlu lagi canggung sama gue. Sekarang kita berteman. Panggil gue Rich aja." ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


" Kalo gitu panggil aku Lia aja. "


Flashback off


Ya, teman. Mereka sepakat untuk menggunakan status itu agar tujuan mereka dapat tercapai dengan cepat sesuai permintaan kakek Suryo.


***


Faisal sudah sampai di lobi apartemen Olivia pagi-pagi buta agar pulangnya tidak terlalu larut malam karna perjalanan jauh. Mereka berdua sepakat akan mengunjungi perkebunan jika weekend, tentu saja dengan membawa banyak dokumen-dokumen yang harus ditandatangani Dahlia. Sebelum berangkat mereka singgah terlebih dahulu di kediaman Wiratama karna bibi Mun menitipkan sesuatu untuk Richard.


Di perjalanan entah hanya perasaan Faisal atau memang ada sesuatu, tapi dia merasa kalau Olivia seperti mendiamkannya. Apa karna tadi dia menjemputnya terlalu pagi atau ada hal lain. Hingga saat Faisal menepikan mobilnya di minimarket, Olivia keluar dari mobil untuk membeli minuman tanpa mengatakan apapun terhadap Faisal.


Saat selesai, Olivia tidak melihat Faisal di mobilnya. Akhirnya dia menunggu di luar.


" Hufftt!!! Aku juga ga bisa tidur semalam. Karna sudah menjadi obat nyamuk diantara kalian berdua." gumam Olivia.

__ADS_1


Olivia teringat kemarin sore saat pulang ngantor dia sendiri memaksa untuk ikut makan malam bersama ibunya Faisal, namun ternyata di kediaman Wijaya sudah ada tamu yang membuat Faisal kaget. Dia adalah Tiara mantan kekasihnya Faisal yang baru datang dari Perancis. Tiara dan Olivia pun berkenalan. Karna Tiara menganggap Olivia hanya sebatas teman kerja Faisal, maka dia pun berniat untuk mendekati Faisal lagi.


" Aku jadi menyesal....." belum Olivia menyelesaikan ucapan penyesalannya, Faisal sudah berdiri di belakangnya.


" Kamu menyesal kenapa?" tanya Faisal.


Olivia membalikkan badannya dan langsung menyerahkan minuman cappucino yang tadi dia beli. "Nih,buat kamu."


Faisal menyesapnya sedikit. " Makasih ya. Tapi dari mana kamu tahu kalo aku suka cappucino?"


" Tentu saja aku tau dari ibumu." jawab Olivia tersenyum menampakkan semua gigi putihnya.


" Kamu sudah ga marah ?" tanya Faisal.


" Hmm, memangnya siapa yang marah?"


Muka Faisal yang dingin pun gelagapan.


" Ehhh, aku kira kamu marah karna dari tadi di jalan kamu diem terus."


Olivia tersenyum senang karna menangkap sebuah kesimpulan." Jadi diam-diam tuan pengacara merhatiin aku ya."


Faisal melotot seperti tertangkap basah.


" Ngga!!! Biasanya kan kamu itu nyerocos ga ada hentinya. Jadi aku pikir...ah sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan lagi."


Olivia tersenyum menang.


***


Dahlia sudah menyuruh Riyanti untuk menghubungi perusahaan jasa pengurusan ekspor yang direkomendasikan Richard, karna kali ini Dahlia tidak ada waktu dan tenaga untuk mengurusnya sendiri. Jika segala sesuatunya sudah diurus oleh jasa ekspor, tentu saja pekerjaannya menjadi ringan. Dahlia hanya perlu menyiapkan produknya saja yang akan diekspor.


" PT OKTA LOGISTIC." sebut Riyanti yang memegang kartu nama perusahaan jasa ekspor tersebut.


Riyanti langsung berkutat pada laptopnya untuk mencari informasi profil perusahaan tersebut, apakah bonafit atau tidak. Ternyata perusahaan tersebut berada di Jakarta dan merupakan cabang baru yang belum lama buka.


Setelah selesai mengisi form rencana ekspor, Riyanti meminta Dahlia untuk mengeceknya kembali sebelum form itu dikirim lewat email. Dahlia mengecek dan melengkapinya seperti kuantitas produk dan jenis armadanya.

__ADS_1


Dahlia agak ragu setelah membaca alamat email yang dituju, namun segera dia tepis pikirannya dan akhirnya dia mengklik send karna dia juga mendengar suara mobil Faisal sampai didepan rumahnya.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan komen kalian ya,like juga boleh,bagi sedekah buat ngevote juga boleh 😁😁 (ngarep)


__ADS_2