
Setelah berhasil menenangkan para wartawan dan berjanji akan memberikan jawabannya nanti setelah mengadakan rapat, Faisal menyuruh Richard dan Dahlia untuk segera menuju ke lantai atas.
Rapat pun dimulai. Betapa terkejutnya Richard mendapat laporan dari Alex bahwa ada 120 rumah yang belum terselesaikan pembangunannya. Olivia juga memberikan informasi bahwa dari laporan keuangan, pengeluaran perusahaan memang sedang membengkak, dengan alasan untuk keperluan tender. Oleh karena itu, ada pihak yang menerima dana dari luar dengan dalih untuk keperluan pembangunan perumahan. Yang lebih mengejutkan lagi orang itu adalah Roni Permana.
" Sialan!!! Dimana orang itu?" tanya Rich dengan geram.
" Sebentar pak Richard, kita ga boleh gegabah untuk mengambil keputusan. Lebih baik sekarang kita mencari cara dulu agar bisa menenangkan media."
Faisal menambahkan. " Bu Dahlia benar, kita harus mencari alasan yang tepat karna tadi kita sudah terlanjur berjanji untuk melakukan wawancara hari ini juga."
" Tapi apa yang mau kita sampaikan? Apa kita bakal bilang yang sebenarnya kalo kita menerima sogokan dana dari perusahaan lain? Tentu saja perusahaan bakal kehilangan kredibilitas."
" Untuk masalah itu, sebaiknya kita rahasiakan dulu. Karna jika wartawan menilai bahwa kita menerima dana itu, pasti akan mengakibatkan efek samping pada proyek lain. Tapi, soal pak Hendra......
Beliau mengancam akan menarik semua saham di perusahaan ini."
Richard mengangguk. " Soal om Hendra, biar saya yang ngurus. Sekarang yang terpenting adalah kepercayaan customer."
" Memang sebenarnya apa mau pak Hendra itu pak Richard?" tanya pak Ridwan.
Richard terlihat ragu-ragu untuk menjawab.
" Ehh, hanya masalah bisnis. Beliau ingin saya memberikan investasi untuk cabang perusahaannya yang baru."
Semua orang mengangguk, kecuali Dahlia. Dia tidak begitu yakin dengan jawaban Richard.
Akhirnya setelah diputuskan bahwa Richard yang harus memberikan klarifikasi pada media, Dahlia dan Olivia pun membantu menyiapkan semua informasi yang barangkali akan dipertanyakan oleh para wartawan.
Richard terlihat grogi saat akan berjalan keluar dari ruangannya. Dahlia yang melihat raut muka Rich, ikut menenangkannya.
" Rich! Kamu harus tenang. Kamu pasti bisa membantu perusahaan melewati masalah," ucap Dahlia sambil memegang pundak Richard dan membuat Rich tersenyum dan sedikit tenang karna merasa disemangati oleh Dahlia.
*** ***
Wawancara pun dimulai. Namun di pertengahan, Richard malah dihadapkan dengan masa yang berhasil menerobos masuk dan akan melakukan demo. Mereka adalah para pemilik rumah yang tidak terima mendengar berita tersebut karna mereka merasa sudah melunasi pembayaran. Dahlia dan lainnya khawatir karna melihat Richard meremas kertas yang ada didepannya dan berjalan menghampiri orang-orang tersebut.
Sesaat mata Rich memerah karna berusaha meredam emosi sambil mengepal kedua tangannya. Namun hal tidak diduga terjadi dan membuat suasana menjadi hening. Rich mengatupkan kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya seperti orang yang sedang memohon. Semua kejadian itu tak luput dari jepretan kamera dari wartawan, apalagi saat Rich memulai pembicaraan.
" Saya Richard Putra Wiratama. Saya meminta maaf yang setulus-tulusnya atas kejadian ini. Rumah adalah tempat dimana kalian merasakan kehangatan dan kebahagiaan. Karna itulah kakek saya memilih untuk mendirikan perusahaan ini. Mungkin jika beliau tau kejadian ini, beliau pasti sedih. Saya pun juga sedih. Namun saya sebagai cucunya berjanji pada kalian bahwa saya akan bertanggung jawab atas kesalahpahaman ini. Rumah yang sudah kalian percayakan pada kami, akan kami bangun dengan sebaik-baiknya, karna rumah kalian adalah rumah kami juga."
Salah seorang dari pendemo itu mendekat dan memegang tangan Rich.
" Saya percayakan rumah saya padamu, nak Richard," ucap salah seorang bapak-bapak kemudian diikuti oleh yang lainnya.
__ADS_1
Richard pun lega mendapat respon baik. Semua yang menjadi saksi pun tersenyum dan bertepuk tangan mendengar pengakuan Richard yang sudah termasuk menjawab semua pertanyaan para wartawan. Namun ternyata ada dua pasang mata yang tidak menyukai hal tersebut.
*** ***
Sesampainya di ruangan, Richard menyuruh Olivia untuk memanggil Roni. Sialnya saat Olivia masuk ke ruangannya, dia sudah kabur duluan. Namun setelah keluar dari basement, dia sudah dihadang oleh beberapa mobil polisi yang sudah siap menangkapnya. Richard dan lainnya keluar untuk melihat penangkapan Roni.
" Tapi bagaimana polisi bisa kesini?" tanya Olivia dengan heran.
Alex melangkah. " Saya yang menelfon polisi."
Rich dan Faisal mengangguk, tapi tidak dengan Dahlia dan Olivia. Mereka saling bertatapan.
*** *** ***
Richard dan Dahlia sampai di mansion malam harinya. Bibi Mun dan lainnya menyambutnya dengan senang, apalagi sikap Richard yang berubah menjadi hangat kepada semua art.
" Nak Richard! Kesayangan bibi sudah pulang. Bibi kangen sekali," ucap bi Mun yang tak kuasa menahan air matanya sambil memeluk Richard.
" Richard juga kangen dengan bibi. Bibi sehat kan?"
Bibi Mun melepas pelukannya. " Bibi sehat semuanya juga sehat agar bisa terus menjaga peninggalan kakekmu disini dengan baik."
Setelah temu kangennya selesai dan makan malam, Richard dan Dahlia bergegas menuju kamarnya karna hari itu sangat melelahkan. Saat akan menuju kamarnya, mama Sarah memanggil Richard untuk berbicara.
" Rich, bagaimana keadaanmu?" tanyanya basa basi.
" Rich, kamu kok tega menjarain Roni. Dia itu kan belum terbukti bersalah."
Richard menatap mamanya dengan serius.
" Belum terbukti mama bilang? Dia itu hampir saja menghancurkan perusahaan kakek dan Rich harus diem aja?"
" Kamu memang sudah berubah Rich. Pasti karna perempuan kampung itu, iya kan?"
" Ya. Dan harusnya mama berterima kasih padanya. Karna Dahlia, mata dan hati Rich jadi terbuka lebar agar Rich tidak menjadi gila harta dan kekuasaan."
Tidak mau lama-lama berdebat, Richard segera meninggalkan mamanya yang masih kesal.
*** *** *** ***
Malamnya Richard tidak bisa tidur. Dia pun akhirnya membangunkan Dahlia yang memang kamar mereka berhadapan.
Tok tok tok
__ADS_1
" Ada apa?" tanya Dahlia.
" Aku ga bisa tidur," jawab Rich yang masih memicingkan matanya.
Dahlia tertawa. " Kenapa? Ini kan rumahmu sendiri."
" Aku lapar. Buatin aku sesuatu. Shiftnya Kiky dan Sita kan udah tutup."
Dahlia menggelengkan kepala pertanda heran. Setelah beberapa menit, seporsi nasi goreng dihidangkan.
Rich memandang Dahlia saat menyantap satu suapan. " Makasih ya Li. "
" Ga masalah. Cuma nasi goreng," jawab Lia dengan santai.
" Bukan. Makasih karna kamu udah bikin aku sadar."
Dahlia terkekeh. " Memangnya tadinya kamu ga sadar?"
" Ya. Aku ga sadar bahwa ternyata kamu ini orang yang istimewa," ucap Rich dengan serius.
Dahlia tersenyum namun segera mengalihkan pandangannya karna tidak mau berlama-lama. " Oya, aku ke Bandung lusa aja. Karna pengiriman bunga ditunda 2 hari."
" Benarkah? Berarti besok kamu ngantor lagi ya?" pinta Rich dengan antusias.
Dahlia mengangguk.
*** *** *** ***
Pagi-pagi sekali Alex datang ke ruangan Richard yang baru datang. Sedangkan Dahlia sedang menemui Olivia.
" Rich, gue masih penasaran apa yang om Hendra inginkan dari loe?" tanya Alex to the point.
" Loe penasaran amat Lex,"
" Ya, gue kan juga peduli sama loe. Gimana pun juga gue sodara loe yang paling deket. Salah kalo gue peduli sama loe?"
Rich sedikit merasa bersalah. " Iya iya. Sorry gue cuma agak frustasi aja permintaan om Hendra. Masa dia nyuruh gue buat nikahin Vina. Gila ga tuh! "
Alex menyunggingkan bibirnya sedikit.
Ya. Loe yang bakal gila Rich setelah tau apa yang bakal gue lakuin. batin Alex.
Terima kasih yang masih mendukung dan mengikuti cerita sampai dibab ini. Maaf juga karna ga bisa up tiap hari dikarenakan kesibukan didunia nyata.
__ADS_1
Masih memohon dukungannya ya, dengan like,komen dan votenya.
Terima kasih. Salam author π