
Faisal mengatakan kepada Dahlia bahwa dia belum mengetahui siapa penjaminnya. Lalu Dahlia meletakan ponselnya di nakas dan segera menuju kamarnya Richard.
Dahlia membuka pintu kamar Richard setelah Richard menyahut. Dahlia agak terpana melihat kamar yang belum pernah dia masuki sebelumnya, interior kamar yang indah dengan nuansa warna golden. Isi kamarnya juga tertata rapi, ya tentu saja itu semua karna kesetiaan bibi Mun yang selalu menata kamarnya Richard. Buku-buku yang tertata rapi yang Dahlia duga itu semua buku mengenai teori berbisnis, dan terlihat juga beberapa koleksi miniatur superhero favorit Richard. Dahlia tersenyum geli namun dia baru inget bahwa dia akan mengecek keadaan Richard yang ternyata sedang tertutup rapat oleh selimut,yang terlihat hanya kepalanya.
Dahlia agak terkejut karna setelah dipegang keningnya, rupanya Richard demam.
" Badanmu demam Rich!" seru Dahlia.
Richard membuka matanya. " Aku ga papa Li, paling cuma kecapean aja."
" Aku panggilin dokter ya," saat Dahlia akan beranjak tangannya ditahan Richard.
" Ga usah Li. Tolong ambilkan saja obat, minta sama bi Mun. Di kotak obat ada paracetamol sama antibiotik."
" Mau aku ambilin makan sekalian?"
" Boleh tapi sedikit aja."
Dahlia segera turun ke bawah dan meminta tolong bi Mun untuk mengambilkan obat dan dia sendiri mengambil makanan. Bi Mun juga agak terkejut mendengar Rich sakit, namun Dahlia menenangkannya kalo Rich cuma sedikit demam.
" Oya bi. Bu Sarah kemana ya. Aku jarang banget liat beliau di rumah," tanya Dahlia.
" Bibi juga ga tau non Lia. Yang jelas dia sering pulang malam dan paginya bangun siang."
Dahlia menggelengkan kepala. Dia heran walaupun dia itu ibu sambung, tapi naluri keibuannya sangat minim. Yang penting baginya hanya kebutuhannya sendiri.
πππ
Richard sudah tertidur karna efek obat yang dia minum. Dahlia menyelimutinya namun saat akan beranjak dari tempat tidur, genggaman tangan Richard sangat erat. Akhirnya Dahlia pun mengalah dan menunggu sampai Richard benar-benar terlelap. Tapi yang terjadi malah dia ikutan tertidur.
Jam 1 dini hari Richard terbangun. Dia tersenyum rupanya Dahlia tertidur di sampingnya dan mereka sedang berhadapan. Richard ikut menyelimuti Dahlia dan mendekatkan hidungnya ke hidung Dahlia. Dia tidak ingin membuang kesempatan itu.
β€β€β€β€β€
.
.
.
.
__ADS_1
Richard segera mengambil ponselnya dan memotret pose dengan hidungnya menempel di hidung Dahlia dan foto diambil dari atas muka mereka. Tentu saja Dahlia tidak terbangun, kecuali jika Rich menempel bibirnya ke bibir Dahlia, mungkin saja Dahlia terbangun. Tapi Richard tidak ingin memanfaatkan kesempatan di dalam ketiduran..
Dahlia terbangun jam 6 pagi. Dia kaget karna ketiduran lama di kasurnya Richard. Mungkin karna efek saking empuknya.
Sebelum beranjak dari ranjang, Dahlia mencoba memegang keningnya Richard dan dia lega karna demam Rich sudah turun. Entah kenapa tangannya mulai turun memegang pipi Richard sambil bergumam dalam hati.
Apa aku memang sudah mencintaimu Rich?
Namun Dahlia langsung menepis keraguan itu. Dia buru-buru keluar dari kamar sebelum Richard bangun. Kenyataannya, Richard memang sudah bangun tapi dia pura-pura masih memejamkan matanya. Richard pun tersenyum setelah Dahlia keluar dari kamar. Hatinya seperti berbunga-bunga. Hidupnya sering dikelilingi wanita-wanita cantik dan seksi, bahkan teman-teman Vina juga banyak yang mendekati Rich, namun Rich tidak pernah merasakan perasaan yang mendebarkan itu. Richard malah risih melihat keganjenan mereka. Berbeda dengan Dahlia, posturnya memang ga terlalu tinggi seperti Vina dan buah dadanya juga ukuran standar. Tapi tanpa dia ngegym pun, tubuhnya sudah kencang karna aktifitasnya kesehariannya. Bahkan dengan tubuh mungilnya, dia malah punya tenaga seperti laki-laki.
πππ πππ
Baru Dahlia sampai di kantor, dia mendapat kiriman gambar dari Richard yang sedang memakai sepatu. Richard meminta Sita untuk mengambil fotonya. Dahlia tersenyum melihat foto itu. Setelah tau Dahlia sudah membuka pesan gambar itu, Richard mengiriminya pesan teks.
π¨ " Hayo, pasti senyum-senyum sendiri ya liat fotoku yang tampan?" kata Rich dengan pedenya.
Dahlia semakin melebar senyumnya.
" Iya nih aku senyum-senyum sambil membayangkan betapa senangnya tante Citra kalo tak kirimin foto ini juga. π "
Dahlia semakin terbahak. " Kamu mau ngegym Rich? Emang udah baikan?"
π¨" Cuma mau jogging bentar. Udah baikan kok, lagian cuma keliling komplek aja. "
" Ya udah. Jangan lupa istirahat dan minum obatnya lagi."
π¨" Siyap bos. Udah dulu ya. π"
Lagi-lagi Dahlia mendapat kiss bye dari Richard.
πππ πππ
Istirahat siang tiba. Dahlia hendak mengirim pesan kepada Richard apa dia sudah makan siang dan minum obat atau belum. Namun belum dia mengirim pesan itu, ada notif pesan masuk duluan, tapi itu dari Okan.
Ya, semalam Okan mengirim beberapa pesan namun baru sempat Dahlia balas tadi pagi. Okan hendak mengajaknya makan siang bareng. Dahlia mengiyakan karna memang hanya makan siang biasa dan juga ada Olivia juga.
Kebetulan perusahaan Okan ga terlalu jauh dari Wiratama Land.
Sore pun tiba. Dahlia dan Olivia membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu langsung dari kantor menuju rumahnya Faisal.
__ADS_1
Sedangkan Richard dan Alex sudah sampai di cafe tempat diadakannya Vina merayakan ulang tahun. Untung saja Hendra sedang ke luar kota urusan bisnis, jadi Rich tidak perlu ketemu dengan papanya Vina. Rich menceritakan semua tentang pertemuannya kemarin dengan Hendra. Tentu saja dalam hati Alex senang karna Richard semakin galau. Makanya, di pestanya Vina, Alex juga merencanakan sesuatu.
Di pesta Rich sedikit merasa terhibur karna memang sudah lama dia tidak berpesta. Apalagi dia bertemu dengan banyak teman lamanya. Alex menyuruh salah satu teman SMA yang dulu akrab dengan Rich untuk membujuknya meminum alkohol. Rich pun berusaha menolaknya. Alex tak kehabisan akal. Dia menyuruh Vina untuk mengambilkan koktail untuk Rich tapi Alex sudah mencampurinya dengan vodka dengan jenis Devil Springs yang kadar alkoholnya sangat tinggi (bukan obat tidur/obat perangsang ya gengs π)
Tanpa Rich menaruh curiga dia pun meminumnya karna yang dia tau itu hanya minuman koktail biasa. Setelah 1 gelas habis, Rich terbawa suasana pesta yang menyebabkan dia lupa akan janjinya. Dia sudah agak mabuk.
Di kediaman Wijaya, akhirnya mereka makan malam tanpa Richard walaupun suasana tetap menyenangkan karna kedua orang tua Faisal yang punya selera humor. Dahlia mencoba tetap tenang di depan keluarganya Faisal, walau di dalam hatinya dia memendam rasa kecewa. Dia juga menjelaskan alasan bahwa Richard masih ada urusan penting yang mendadak.
" Jadi ulang tahun cewe itu adalah urusan pentingnya?" goda Olivia dengan berbisik.
Dahlia hanya menatap Olivia dengan tatapan sendu.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Dahlia dan Olivia berpamitan karna tadi saat makan malam, Olivia mendapat pesan dari Okan untuk menjemputnya di bengkel mobil karna mobilnya tiba-tiba mogok saat hampir menabrak nenek-nenek di jalan.
Bersamaan dengan Dahlia yang mendapat telfon dari Alex.
" Iya Alex ada apa?"
[" Apa Dahlia sudah selesai acara makan malamnya?"]
Dahlia teringat bahwa Alex yang memaksa mengajak Richard. " Iya udah. Kenapa?"
[" Bisa Dahlia jemput Richard sekarang? Karna dia mabuk."]
" Mabuk??" kaget Dahlia.
" Ya udah, pulang sama Alex kan bisa." jawab Lia dengan ketus.
[" Oh ga bisa Lia, karna acaranya belum selesai dan temen-temen meminta aku buat tetap disini,"] akting Alex.
" Ya udah aku kesitu sekarang."
Alex tersenyum. [" Ok. Aku share lokasinya ya. Kebetulan rumah Faisal dan Vina ga terlalu jauh kok."]
Alex tersenyum menang. Setiap dia merencanakan sesuatu memang selalu berhasil. Kali ini rencana apa lagi ya?
Terima kasih yang masih setia sampe part ini.
Jangan lupa like,komen dan votenya.
Terima kasih. π
__ADS_1