
Happy reading gengs. Selalu jaga kesehatan ya..
Di saat jam istirahat tiba, Olivia yang masih berada di ruangannya, kedatangan tamu yang tak terduga.
"Selamat siang Olivia!" sapa Tiara dengan ramah.
Olivia yang sedang mencari dokumen di kabinet membalikkan badannya dan dia agak terkejut namun setelah itu dia tersenyum.
"Oh, mba Tiara. Selamat siang. Mencari pak Faisal ya? Sepertinya tadi dia sedang keluar."
"Saya ga mencari Faisal. Tapi saya ingin berbicara denganmu. Kamu ada waktu kan?" tanya Tiara dengan penuh harap dan Olivia pun mengangguk.
Sesampainya di salah satu kedai kopi tak jauh dari kantor, Olivia memulai obrolannya.
"Mba Tiara, ada hal yang mau diomongin ke saya?" tanya Olivia penasaran.
"Tidak ada kok mba Oliv, saya cuma ingin mencari teman ngobrol saja. Faisal selalu sibuk. Mba Olivia mau kan jadi teman saya?"
Gila!!! Aku bela-belain ga mesen makanan, ternyata cuma mau ngomongin ini?hufttt...umpat Olivia dalam hati.
"Tentu saja mba Tiara saya mau kok," jawab Olivia agak ragu.
"Benarkah? Tapi sepertinya kamu kurang yakin. Apa mba Olivia takut saya mencurigai sesuatu?" selidik Tiara.
Muka Olivia meredup. Dia seperti mencium bau-bau bisa ular yang siap melumpuhkan mangsanya. Dengan kata lain, Olivia merasa Tiara sudah mengetahui bahwa dia dan Faisal hanya berpura-pura pacaran. Makanya, Olivia harus tetap waspada.
"Ga ada yang perlu di curigai kok mba Tiara. Saya ini bukan tipe orang yang egois yang tega menyakiti orang hanya demi ambisi kita," jawab Olivia sambil sesekali menyeruput vanilla latte less sugarnya itu.
"Maksud saya jika yang mba Tiara maksud tentang pekerjaan, ya memang saya ini bukan karyawan tetap di perusahaan Wiratama. Namun karna kepercayaan dari teman saya, ya saya terima pekerjaan ini, bukan karna semata-mata gaji yang besar. Jadi tidak ada yang perlu dicurigakan," terang lagi Oliva dengan santainya.
Tiara seperti kehabisan pertanyaan. Akhirnya dia pun mengalihkan topik pembicaraan dengan membahas gaya hidup mereka.
*** ***
Richard dan Dahlia menikmati kebersamaan mereka walaupun hanya sekedar jalan-jalan di mall karna memang waktu mereka yang terbatas, tapi sudah cukup untuk mengobati rasa rindu mereka. Setelah cukup berjalan-jalan, berfoto bersama dengan gaya konyol mereka dan membeli beberapa barang, mereka memutuskan untuk makan siang di salah satu resto yang ada di mall tersebut.
"Rich, kamu ngerasa aneh ga si? Dari tadi banyak orang-orang pada ngeliatin kita terus, bahkan mereka kaya curi-curi pandang sama kamu," kata Dahlia pada Rich yang baru duduk sambil membawa nampan berisi makanan.
Richard melihat sekeliling dan memang di resto tersebut juga ada beberapa orang yang memperhatikan mereka berdua.
"Mungkin mereka iri sama kamu Li, bisa jalan berdua dengan pria tampan dan imut kaya aku."
Dahlia hanya memutar kedua bola matanya. "Iya iya deh. Kamu memang selalu jadi pusat perhatian. Yang penting jangan sampai bikin skandal aja kaya kemarin."
Richard menelan makananannya yang baru dia lahap dengan susah payah mendengar sindiran Dahlia. Hal itu malah mengingatkan janjinya pada Vina. Namun Rich ingin melupakannya sejenak.
"Udah lah, jangan bahas itu lagi," kata Richard tapi dia melihat Dahlia yang masih diam.
__ADS_1
"Jadi kamu mau jadi pusat perhatian? Bisa aja si, nanti aku undang salah satu jurnalis biar bikin berita hangat dengan tajuk A DARK WOMAN STEAL A LONELY MAN'S HEART."
Reflek Dahlia langsung melempar kentang goreng ke arah Richard. "Memangnya kamu pikir aku wanita malam?"
Richard terbahak. "Kan emang kamu takut kegelapan?"
"Dan kamu pria kesepian?" ledek Dahlia.
"Udah udah ayo makan. Kita lanjutin ngobrolnya pas dinner nanti."
Dahlia mengerutkan kening. "Dinner? Seperti makan malam biasa maksud kamu?"
"Ga dong. Kita akan dinner berdua di tempat yanggggggg romantis," jawab Rich berlebihan.
Dahlia berbinar. "Benarkah? Dimana?"
"Di kantor. Kita lembur," canda Richard.
"RICHARDDDDD!!!!"
Mereka pun melanjutkan makan siang karna setelah itu mereka akan kembali ke kantor.
Sesampainya di kantor, Olivia dan Faisal sudah menyiapkan bahan rapat. Rapat itu membahas mengenai proyek perumahan yang sempat tertunda dan akan dilanjutkan setelah pelelangan tender. Richard yakin perusahaannya akan menang dari pelelangan itu, karna keuntungannya akan digunakan untuk mendanai proyek perumahan tersebut yang sempat kacau balau.
Setelah rapat selesai, Alex meminta izin kepada Richard bahwa malam ini dan seterusnya dia ingin tinggal sementara di mansion. Richard pun mengizinkan. Dahlia yang mendengar hal itu sebenarnya sedikit cemas.
Di mansion, Kiky mendapati lagi barang antik yang menghilang. Lalu dia menghampiri Sita dan bibi Mun yang sedang membereskan dapur.
"Sit, apa kamu yang memindahkan guci yang ada di rak pajang?"
"Kamu ini gimana si Ky? Mana ada yang berani memindahkan barang antik kepunyaan tuan Suryo tanpa seijinnya tuan Richard," sahut Sita.
"Memangnya hilang lagi Ky?" tanya bi Mun dengan cemas.
"Iya bi," jawab Kiky dengan ketakutan.
"Aneh sekali ya. Padahal rumah sudah dipasang CCTV tapi setelah diperiksa tidak ada yang mencurigakan," tambah Sita.
"Atau jangan-jangan nyonya Sarah pencurinya bi," duga Kiky.
Bibi Mun menyela. "Hust! Jangan bicara sembarangan."
"Tapi siapa lagi bi kalau bukan orang dalam yang tau setiap sudut kamera terpasang," balas Kiky.
Bibi Mun terdiam. Ucapan Kiky ada benarnya, karna mungkin saja Sarah memang mengambil beberapa barang antik untuk dijual. Kakek Suryo memang hobi mengoleksi barang antik yang jaman dahulu belum ada nilainya namun sekarang justru bernilai jutaan. Dulu beliau memiliki keinginan jika akan menjual barang-barang antiknya, akan didonasikan kepada yang membutuhkan seperti panti asuhan. Hanya saja keinginannya tidak ditulis dalam surat wasiat.
πππ
__ADS_1
Rupanya Richard dan Dahlia memang benar-benar lembur. Walaupun hanya sebentar, namun malamnya Richard ada janji dengan pak Barata salah satu koleganya dari perusahaan konstruksi. Pak Barata sendiri yang memilih untuk bertemu di restaurant malam ini juga karna pukul 21.00, dia akan terbang ke Jepang untuk perjalanan bisnis.
Akhirnya Richard memutuskan untuk membersihkan diri di kantor saja. Demikian juga dengan Dahlia. Untung saja tadi di mall Dahlia membeli beberapa pakaian.
Jam 7 malam mereka menuju restaurant tempat mereka menemui pak Barata yang ternyata juga baru datang. Di tengah perbincangan, Richard menerima pesan dari Alex.
π¨ "Rich, dimana loe nyimpen dokumen untuk pelelangan?"
Richard mengerutkan dahi membaca pesan Alex lalu ada pesan lagi.
π¨ "Gue mau check siapa tau masih ada yang harus di tinjau ulang."
Tak lama kemudian Alex tersenyum membaca balasan dari Richard.
π¨ "Ada di laci kamar gue. Kuncinya ada di bibi."
Setelah satu setengah jam sekalian makan malam mereka pun menyudahi pertemuan itu. Saat menjabat tangan Dahlia, pak Barata mengucapkan sesuatu.
"Saya benar-benar tidak menyangka bahwa Presiden Direktur perusahaan Wiratama masih muda dan cantik," ucap Barata.
Dahlia tersenyum ramah. "Bapak bisa saja. Saya hanya menjalankan tugas dari mendiang kakek Suryo."
"Tapi tentu saja karna otak anda juga yang briliant. Apa anda sudah berumah tangga?" tanya Barata dengan tatapan genitnya.
Dahlia bergidik ngeri melihat tatapan itu. Richard pun berdehem dengan keras.
"Eghmmm... Dia sudah punya bertunangan pak." sahut Richard.
"Owh, benarkah? Tapi kenapa tidak memakai cincin?" tanya Barata melirik ke jari tangan Dahlia.
Dahlia menatap Richard sejenak. "Mungkin karna belum yakin dengan pilihannya."
Richard merasa tertohok mendengar jawaban Dahlia.
"Kalau begitu, jika bu Dahlia merasa kesepian, bu Dahlia hubungi saya saja. Mungkin saja bu Dahlia bersedia mau menjadi istri saya yang keempat," kata Barata sambil memberikan kartu namanya.
"Oh, tentu pak."
Setelah kepergian pak Barata, Richard langsung mengambil kartu nama yang masih dipegang Dahlia kemudian merobeknya.
"Kenapa dirobek?" seru Dahlia.
"Kamu ga denger tadi kamu mau dijadiin istri keempat?" kesal Richard.
Sampai sini dulu lah. See you in the next part.
Jangan lupa like,komen dan vote nya ya.
__ADS_1