
Prakkk..
Preman itu berhasil menjatuhkan hp pak Abdi, ia segera menyerang pak Abdi dengan pukulan lumayan keras. Setelah itu, ia meminta semua uang yang ada di kasir. Kasirpun memberikan seluruh jumlah uang yang ada di sana.
Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, ketiganya langsung pergi begitu saja. Sementara para pekerja di sana dan bu Anna menghampiri pak Abdi yang sudah tergeletak di lantai.
"Papa...." bu Anna berteriak sambil menangis, ia melihat ujung bibir suaminya lebam.
"Pa-papa ba-baik baik kok, ma.. uhuk..uhuk.." pak Abdi memegang perutnya yang juga di tendang oleh preman tadi.
"Pa..kita ke rumah sakit sekarang, ya. Mama takut papa kenapa-kenapa," kecemasan bu Anna terhadap suaminya begitu tinggi.
"Tante, om Abdi kenapa?" pertanyaan seseorang membuat bu Anna, dan pak Abdi yang tengah menahan kedakitan pun mengalihkan pandangan.
Seorang laki-laki berdiri di hadapan mereka, agak sedikit mengejutkan karena yang datang adalah Alan.
"Alan.. Alan tolong tante, tadi di sini ada perampokan dan salah satu preman menyerang papa," jelas bu Anna pada Alan.
"Iya, tante," dengan sigap Alan membantu bu Anna membangunkan pak Abdi, ia merengkuh tubuh pak Abdi dan akan membawanya ke rumah sakit.
Sampai di mobilnya, Alan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah membantu pak Abdi naik ke mobilnya bersama bu Anna. Melihat kepanikan di wajah bu Anna, Alan pun ikut cemas.
"Pa.. Papa tahan sebentar, ya!" bu Anna tidak tega melihat suaminya tengah kesakitan di bagian perutnya, sudut bibirnya pun kini terlihat mengeluarkan setitik darah.
"Mama harus kasih tahu Amera, pa," bu Anna mencari hp di tasnya. Setelah ketemu, ia segera menghubungi Amera.
***
Di dalam taksi, Amera duduk di kursi belakang kemudi. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi serta kepala dengan mata terpejam. Air matanya seketika mengalir di pipinya.
Amera membuka matanya, ia membuka tasnya dan mengambil cincin yang sengaja di simpan di sana. Untung saja ia sempat melepasnya tadi pagi. Kalau tidak, Revan pasti akan menanyakan soal cincin itu.
Pikiran Amera di buyarkan oleh suara dering panggilan masuk, ia menaruh cincin yang sedang ia pegang itu di jok tepat di sampingnya untuk mengambil hp di dalam tasnya.
"Halo, ma.." Amera berusaha mengatur suaranya yang sedikit parau akibat menangis, tangan kanannya sibuk menyapu bekas air matanya.
"Mera, kamu dimana?"
"Aku di jalan, ma. Kenapa, kok mama kayak panik gitu?"
"Sekarang juga kamu ke rumah sakit Puja Medika. Mama sama Alan lagi bawa papa kamu kesana,"
"Papa? Papa kenapa, ma?" Amera langsung panik, kenapa dengan papanya.
"Nanti mama ceritain, sekarang juga kamu rumah sakit, ya!"
"Iya, ma." setelah itu bu Anna mematikan sambungannya.
"Ya Allah.. Papa kenapa?" Amera menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, ia ingin cepat-cepat sampai ke rumah sakit dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Pak, kita putar balik aja ke rumah sakit Puja Medika," ujar Amera pada sopir taksi.
"Baik, bu," sopir itu kemudian mengangguk.
***
__ADS_1
Setelah sepuluh menit menunggu Dokter memeriksa suaminya, akhirnya Dokter pun keluar bersama dua orang perawat.
Bu Anna yang semula duduk di deretan bangku besi yang ada di depan ruangan, kini berdiri untuk menanyakan keadaan suaminya.
"Dok, bagaimana dengan suami saya? Suami saya baik-baik saja, kan?" bu Anna bertanya dengan tidak sabar.
"Iya, bu. Suami anda baik-baik saja. Ibu tenang saja, tidak ada luka yang serius," jelas Dokter tersebut.
"Syukurlah kalau begitu. Saya sudah bisa lihat suaminya saya di dalam?"
"Tentu saja, bu. Kalau begitu, saya permisi," Dokter bersama kedua perawat yang semula berdiri di depan pintu ruangan akhirnya pergi dari sana.
Alan yang tadi duduk menemani bu Anna di deretan kursi besi itu kini bangun, dan menyusul bu Anna ke dalam ruangan.
"Pa..papa baik-baik saja, kan? Ini masih sakit, gak?" bu Anna meraba perut sang suami, ia benar-benar cemas akan suaminya.
"Gak apa-apa kok, ma. Udah mendingan," jawab pak Abdi sembari tersenyum sekilas, agar kekhawatiran istrinya ini berkurang.
"Jujur, mama takut banget kalau papa kenapa-kenapa."
Pak Abdi meraih buah tangan istrinya. "Iya, ma. Mama tenang aja, mama gak usah khawatir. Mama kan lihat sendiri, kalau papa baik-baik saja."
"Iya, pa."
Bu Anna dan pak Abdi menengok ke arah Alan, ketika Alan masuk ke ruangan.
"Gimana kondisi om?" tanya Alan, ia berdiri di samping pak Abdi bersama bu Anna.
"Alhamdulillaah, om baik-baik saja. Nak Alan, terima kasih banyak ya sudah membantu mama Anna membawa om ke sini," ucap pak Abdi berterima kasih.
"Iya, Alan. Terima kasih, ya. Tante gak tahu kalau gak ada kamu tadi," bu Anna juga ikut berterima kasih.
Selang beberapa detik, pak Abdi mersa sedikit bingung dengan Alan. Kemudian ia bertanya pada Alan.
"Oh iya, kok kamu bisa tahu coffe shop kita? Bisa pas gitu datangnya."
Pertanyaan pak Abdi membuat Alan sedikit terhenyak. Ia merasa gugup juga, namun dengan perasaan yang tenang, Alan dapat menutupi kegugupannya itu.
"Oh, itu. Emmm.. kebetulan emang saya mau ke sana tadi. Saya tahu tempat itu dari Amera," Alan memasang senyumanya, agar pak Abdi dan bu Anna tidak mencuriganya yang macam-macam.
"Oh, begitu," pak Abdi mengangguk dan percaya saja.
"Ngomong-ngomong Amera, katanya Amera bilang kalian ada ketemuan. Kenapa kamu bisa pergi ke coffe shop?"
"Janji ketemuan?" Alan tidak mengerti dengan apa pertanyaan bu Anna, sejak kapan ia ada janji untuk ketemuan.
"Iya, ketemuan. Tadi Amera bilang begitu kan, pa?" bu Anna bertanya pada suaminya dan di angguki oleh pak Abdi.
"Iya, nak Alan. Tadi pagi Mera bilang sama kita katanya dia pergi mau ketemuan sama kamu," pak Abdi membenarkan istrinya.
"Tapi saya gak ada janji sama sekali sama Amera, om, tante," jawab Alan.
"Terus dia pergi kemana?" bu Anna mulai agak marah lagi pada Amera karena telah membohonginya.
"Tapi tadi mama sempat telpon Mera, kan? Dimana katanya?"
__ADS_1
"Tadi dia bilangnya di jalan, pa. Apa jangan-jangan dia ketemu sama Revan?" bu Anna mencurigai Amera, pasalnya ia tidak suka kalau Amera masih menemui Revan.
Mendengar nama Revan di sebut-sebut di depannya, Alan berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Oh iya om, tante. Kalau boleh saya tahu, sebenarnya tadi itu ada kejadian apa?"
"Jadi tadi ada tiga preman yang merampok coffe shop kita, Al. Mereka menodong papa dengan pisau, ketika papa mau nelpon polisi buat ngelaporin, salah satu dari mereka menyerang papa," bu Anna menjelaskannya pada Alan.
"Iya, nak Alan. Untunglah mereka tidak sampai menggunakan pisaunya untuk menyerang saya," pak Abdi ikut menambahkan.
"Oh, begitu. Terus, om sama tante ada niat untuk laporin ke polisi?"
"Untuk kejadian ini, saya akan berusaha menhikhlaskan saja. Karena saya masih di beri keselamatan oleh Allah dari kejahatan preman perampok itu," tutur pak Abdi.
"Tapi, pa. Kita harus usut kejadian ini sampai tuntas. Uang kita bagaimana? Belum lagi kita kan harus bayar hutang soal modal yang dulu kita pinjam," rupanya bu Anna tidak setuju dengan keputusan suaminya.
"Ma, soal uang nanti kita bisa cari lagi, ya. Yang terpenting sekarang, papa baik-baik saja," tutur pak Abdi lagi.
Mendengar percakapan pak Abdi dan bu Anna, Alan jadi ada niat baik untuk membantu mereka.
"Maaf om, tante, kalau saya lancang dengar pembicaraan kalian barusan. Kalau mau, saya bisa kaih kalian modal yang besar untuk membuka coffe shop itu lagi. Dan saya akan bantu om sama tante untuk bayar hutang yang tante tadi bicarakan," tawar Alan pada mereka.
"Tidak, tidak usah nak Al. Terima kasih sudah mau bantu kami, tapi kami tidak mau merepotkan siapapun termasuk nak Al," pak Abdi menolak penawaran dari Alan.
"Sama sekali tidak merepotkan, om. Saya akan sangat senang sekali kalau om dan tante menerima tawaran dari saya," Alan mencoba meyakinkan pak Abdi dan bu Anna untuk menerima tawarannya.
Pak Abdi melirik istrinya, bu Anna nampak menganggukkan kepalanya. Bu Anna sangat berharap sekali, kalau suaminya ini menerima tawaran dari Alan.
"Kalau nak Al niatnya baik dan ikhlas, kami akan terima tawarannya. Terima kasih banyak, nak Al.." pak Abdi meraih buah tangan Alan, lalu mengusap punggung tangannya sebagai tanda berterima kasihnya.
Bu Annak nampak bahagia, karena akhirnya suaminya menerima tawaran modal yang sangat besar dari Alan.
Tidak lama kemudian, nampak Amera datang dan masuk ke ruangan setengah berlari. Deru napasnya terdengar sangat keras dan terengah-engah.
"Papa... Papa kenapa, pa? Papa baik-baik saja, kan? Apa yang sebenarnya terjadi sama papa?" setelah menghambur memeluk papanya, Amera memberi pertanyaan dengan terbondong-bondong, ia sama sekali tidak menyadari kalau ada Alan di sana.
"Tadi ada sedikit insiden di coffe shop kita. Alhamdulillaah nya papa baik-baik saja. Ada nak Alan yang sudah membantu papa," jawab pak Abdi.
"Alan?" Amera menengok ke samping mamanya, dan benar saja, ada Alan di sana.
"Kok bisa, pa?" Amera masih tidak paham.
"Nanti papa ceritain di rumah, ya."
"Iya, pa."
Sebenarnya Amera masih tidak paham, kenapa ada Alan di saat ada kejadian di coffe shop. Amera menatap Alan menggunakan ujung ekor matanya. Mencoba mencerna baik-baik, apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Suara notifikasi pesan masuk berasal dari hp Alan, ia segera mengambil hp dari saku jasnya.
Tugas sudah berjalan dengan semestinya, pak.
Sebuah pesan yang di kirimkan oleh Arsen, asisten pribadinya Alan Permadi.
***
__ADS_1
NB: Apa yang kalian pikirkan tentang Alan setelah mendapat pesan dari Arsen? jnagan lupa untuk tambahkan ke favorit.
Follow ig: @wind.rahma