TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 15


__ADS_3

"Ya ampun, mas Al. It-itu kenapa mukanya bonyok kayak gitu?" Neni yang super heboh langsung panik melihat Alan yang baru saja pulang dalam keadaan babak belur.


"Gak apa-apa. Saya habis pemanasan tadi," ujar Alan sambip menyentuh bagian sudut bibirnya yang lebam.


"Mas Al ini gimana, sih? Muka bonyok kayak gitu di bilang habis pemanasan. Apa Neni perlu panggilkan Dokter?" dengan sigap Neni mencari hp di saku baju khasnya sebagai seorang pelayan.


"Gak perlu, saya gak kenapa-napa!" Neni menghentikan aktivitas mencari benda pipih miliknya, dan kini ia kembali menawarkan sesuatu pada Alan.


"Kalau begitu Neni ambilkan kompresan ya, mas Al. Sama Neni buatkan minuman hangat," Alan mengangguk pasrah, tidak ingin lama-lama meladeni asisten rumah tangganya yang hebohnya super duper akut.


Tidak berapa lama, Neni kembali dengan membawakan semangkuk air berisi sapu tangan dan segelas teh manis hangat di nampan. Ia menaruh nampan tersebut di meha hadapan Alan yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Makanya, mas Al. Cepetan cari jodoh, biar kalau sakit ada yang ngobatin," seketika Alan melayangkan tatapan dinginnya, yang menbuat siapa saja yany melihatnya akan merasa takut.


"Masuk ke kamar kamu atau keluar dari rumah ini?!" Neni menundukkan wajahnya, tidak lagi berani melirik majikannya yang sudah siap menerkamnya. Meskipun demikian, Neni tetap melontarkan godaan pada sang majikan.


"Ma-maaf, mas Al. Jangan galak-galak dong, mas! Nanti susah loh dapet jodohnya," Neni segera mengatupka bibirnya membentuk garis luru, kemudian ia pergi dari hadapan Alan sebelum pria itu benar-benar menjadikan dirinya sebagai mangsa.


"NENIIIII...!" teriakan Alan membuat Neni lari terbirit-birit menuju kamarnya.


***


Pagi ini Amera nampak sedang mencari sesuatu di tasnya. Beberapa kali ia memeriksa isi tadnya, bahkan laci nakas serta kolong tempat tidurnya. Barang yang ia cari tetap saja tidak di temukan.


"Kok cincin itu gak ada, ya?" rupanya itu yang sedang Amera cari sampai membuatnya lelah lantaran ia tidak juga menemukannya.


"Perasaan waktu itu aku taro cincin itu di tas ini, deh. Kok sekarang bisa gak ada, ya? Apa jangan-jangan jatuh kali, ya?" gadis itu mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia memakai dan melepaskan cincin lamaran Alan. Tetapi sekeras apapun ia mengingat-ingat, tetap saja ia tidak mengingatnya.


Sebenarnya bukan Alan yang Amera takutkan, melainkan mama sambungnya. Pasti bu Anna akan mengintrogasi dirinya layaknya seorang tersangka. Lebih baik pagi ini Amera tidak okut sarapan untuk menghindari hal itu terjadi. Saat ini dia sudah nampak rapih, dengan tas kecil di tangannya lalu keluar dari kamar.


"Mah, pah. Aku pamit keluar sebentar, ya. Aku ada janji sama teman lama aku," Amera berpamitan kepada kedua orang tuanya yang tengah sarapan, sambil berusaha menutupi sebelah tangannya agar mamanya tidak curiga.

__ADS_1


"Iya, nak. Hati-hati, ya!" ucap pak Abdi sambil mengusap lembut pangkal rambut putrinya ketika bersalaman.


"Memangnya kamu mau kemana? Pergi sama siapa?" pertanyaan bu Anna ini bukan merupakan bentuk sebuah kepedulian, melainkan bentuk introgasinya.


"Aku rencananya mau ketemu dia di Panorama Caffe. Mama tenang aja, teman lama aku ini perempuan," Amera tersenyum tipis pada mamanya untuk meyakinkan ucapannya. Karena mungkin mamanya ini pikir kalau ia akan bertemu dengan laki-laki lain selain Alan. Mamanya menatapnya ragu seolah tidak percaya.


"Ya sudah," akhirnya bu Anna mengizinkan setelah mendapat isyarat berupa anggukan dari suaminya. Dan Amera merasa lega, gadis itu melipir meninggalkan ruang makan.


Pada saat Amera membuka pintu untuk keluar, tiba-tiba ia di kejutkan oleh seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu entah sejak kapan.


"Selamat pagi," sapa pria itu sambil mengembangkan senyumnya.


***


"Al, muka kamu kenapa? Kok lebam?" bu Anna menunjukkan kekhawatirannya. Saat ini mereka tengah berkumpul di sofa ruang tamu.


"Iya, nak Al. Apa kamu habis berantem dengan seseorang?" pak Abdi pun tak kalah khawatir.


"Syukurlah kalau kamu tidak kenapa-napa. Lain kali hati-hati, nak Al!" setidaknya pak Abdi merasa lega, begitupun dengan bu Anna.


Berbeda halnya dengan Amera, bu Anna melirik wajah gadis itu yang sama sekali tidak menunjukkan kekhawatirannya saat Alan dalam kondisi seperti sekarang ini.


"Mera, kok kamu diem aja, sih? Kamu gak mau nawarin Alan buat obatin lukanya?" ucapan bu Anna membuat semua pasang mata di sana ikut menatap Amera.


Amera yang sedari tadi melamun dan terlihat gelisah seakan terkejut melihat semua orang di sekeliling menatapnya. Ia pun tidak begitu mendengar jelas pertanyaan bu Anna. Bagaimana tidak, Amera memikirkan janji pertemuannya dengan teman lamanya yang tadi ia maksud. Gara-gara Alan datang, ia jadi tidak di perbolehkan pergi oleh mamanya. Lantaran Alan lebih pentint dari teman lamanya itu. Dan saat ini Amera merasa tidak enak jika pertemuan mereka harus di batalkan.


Menyadari gadis di sampingnya itu melamun, Alan kemudian mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan maksud dan tujuannya datang ke rumah itu. Tapi sebelum itu Alan menanyakan sesuatu, saat ia baru saja menyadarinya.


"Cincin kamu mana? Kenapa tidak kamu pakai?" pertanyaan Alan membuat mata Amera membulat sempurna. Pasalnya cincin itu hilang. Dan sekarang, ia harus memberikan alasan apa? Sebelum mamanya memberi sederet pertanyaan, ia harus lebih dulu memberi pria itu jawaban.


"Emmm..." Mera tampak sedang berpikir. "Sebelumnya aku minta maaf karena cincin itu hilang waktu aku mandi kemarin. Sebenarnya aku mau kasih tau hal ini, tapi aku takut kamu marah," jawab Amera bohong. Lantaran ia juga tidak tahu cincin itu hilang di mana.

__ADS_1


"Tidak masalah kalau cincin itu hilang, karena saya bisa saja membelikannya lagi untuk kamu," jawaban pria itu membuat Amera merasa lega. Tapi setelah mendengar lanjutan kalimatnya, seketika Amera tercengung tidak percaya.


"Meskipun cincin tersebut hilang. Saya akan melanjutkan pernikahan ini dalam waktu tiga hari lagi," bukan hanya Amera, pak Abdi serta bu Anna pun ikut terkejut mendengar keputusan Alan.


"Pernikahan? Maksud kamu apa, sih? Bisa gak, jangan membuat keputusan sendiri seperti ini?!" Amera tentu saja tidak terima, ia tidak habis pikir dengan pria yang satu ini.


"Iya, Al. Kenapa harus mendaddak, kita belum ada persiapan apa-apa. Kenapa harus terburu?" pak Abdi pun ikut memberinya sederet pertanyaan.


"Ya karena saya serius dengan Amera. Saya tidak mau ada laki-laki lain yang membuatnya menangis lagi," kalimat terakhir Alan membuat pak Abdi mengerutkan keningnya bingung.


"Menangis lagi? Siapa yang sudah berani membuat kamu menangis, nak? Mera, jawab papa, sayang?!" Amera terdiam, tidak seharusnya Alan membahas hal ini di depan papanya. Lantaran hal itu membuat pak Abdi begitu khawatir. Belum sempat Amera menjawab pertanyaan papanya, tapi Alan sudah lebih dulu mengatakannya.


"Revan Prahesta."


"Revan? Apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat Amera menangis?" tanya pak Abdi dengan tidak sabar menunggu jawaban Alan, pria itu memang akan sangat marah jika ada laki-laki yang menyakiti putrinya.


"Udahlah, pah. Gak apa-apa, kok. Aku cuma mengakhiri hubungan aku sama Revan. Aku cuma sedih aja, makanya aku nangis," jelas Amera pada papanya, ia sengaja menutupi kebenarannya lantaran tidak mau melihat papanya lebih marah lagi ketika tahu Revan memakinya dengan sebutan 'Munafik'.


"Lagian kamu itu apaan, sih. Kamu liat kan, gara-gara kamu bahas hal ini papa jadi khawatir!" Amera menatap Alan kesal.


"Mera, sayang. Kamu tidak boleh menyalahkan Al seperti itu. Justru papa akan sangat khawatir kalau papa gak tahu apa aja yang terjadi sama kamu, nak," tutur pak Abdi memberi pembelaan terhadap Alan.


Setelah beberapa saat keheningan terjadi di antara mereka. Alan pun kembali bicara guna mengatakan maksud dan tujuannya.


"Oh iya om, tante, Amera. Saya ke sini untuk menyampaikan hal tersebut. Dan untuk persiapan pernikahan sudah saya urus semuanya. Kalian tidak perlu lagi memikirkan hal itu. Dan saya minta sama Amera, untuk tidak pergi kemanapun selama tiga hari ke depan! Saya tidak mau terjadi sesuatu sama kamu," ucapan Aoan di angguki oleh pak Abdi dan bu Anna. Sementara Amera hanya bisa pasrah dengan keputusan ini.


___


Jangan lupa like, VOTE, dan tambahkan ke rak favorit yaaaa!


Follow akun ig saya @wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2