
Sebenarnya perempuan ini siapanya mas Al? Itu yang ada di pikiran Neni.
"Kamu asisten rumah tangga di sini?" pertanyaan Amera membuyarkan lamunan Neni.
"I-iya, mbak. Kenalin, Neni," dia mengulurkan tangan dan segera di jabat oleh Amera.
"Amera."
"Kalau boleh tau, mbak ini siapanya mas Al? Kok mbak bisa ada di sini?" rasa penasarannya kian bertambah.
"Saya istrinya mas Al," jawaban Amera membuat Neni sangat terkejut, bahkan ia lupa kalau matanya saat ini hampir copot lantaran melotot terlalu berlebihan.
"HAH..? ISTRINYA MAS AL???" suara tujuh oktafnya nyaris membuat telinga Amera kesakitan. Neni benar-benar tidak percaya dengan pengakuan Amera.
"Mbak serius istrinya mas Al?" ulangnya, masih ingin meyakinkan. Lantaran selama bertahun-tahun dia bekerja di kediaman keluarga Permadi tidak pernah rasanya Al membawa atau mengenalkan seorang perempuan ke keluarganya. Amera hanya menganggukan kepala membenarkan.
"Tapi kok bisa, mbak? Maksud Neni gini loh, mbak. Mas ini kan tipe laki-laki yang cuek kalai bahasa gaulnya itu introvert. Dan, mas Al ini orangnya galak," Amera senyum tertahan mendengar kalimat terakhir Neni.
"Terus mas Al juga gak pernah ngenalin satu perempuan pun ke keluarganya," seketika Amera tertegun. Ucapan Neni barusan membuatnya semakin bingung. Kalau Al memang seperti yang di katakan Neni, lalu kenapa Al dengan mudah melamarnya bahkan menikahinya.
Aku semakin yakin, kalau ada yang mas Al tutupi dari aku. Pasti ada alasan tertentu, kenapa dia menikahi aku. Tapi apa?
Amera jadi ingat ketika papa Abdi menanyakan orang tua Al di acara pernikahan. Waktu itu kalau papanya sudah meninggal dan mamanya sedang ada di luar negeri. Dan yang bisa hadir hanyalah adiknya-Disa. Apa mungkin Al betkata jujur?
"Emmm... Neni, saya boleh tanya sesuatu gak sama kamu?" Neni mengangguk antusias.
"Boleh. Mbak Amera mau nanya apa sama Neni?"
__ADS_1
"Apa benar kalau mamanya mas Al sekarang lagi di luar negeri? Dan, papanya udah gak ada?" ada perasaan ragu awalnya untuk menanyakan hal itu pada Neni, tapi Amera harus tau kebenarannya.
"Oh, itu benar, mbak. Ibu Ressa mamanya mas Al emang lagi di Singapur. Katanya ada urusan. Dan papanya mas Al udah meninggal sekitar satu bulanan," Amera menganggukan kepalanya beberapa kali, berarti Al memang tidak bohong soal keluarganya.
"Memangnya mas Al gak pernah cerita sama mbak Amera?" Amera hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Oh iya, Nen. Kalau bisa, jangan sampai mas Al tau kalau saya menanyakan soal ini sama kamu, yah!" pinta Amera penuh harap. Neni pun mengangguk dan siap menjaga rahasia soal ini.
"Ok, mbak."
"Ya udah kalau begitu saya mau siapin baju mas Al kerja. Lain kali kita ngobrol lagi, ya," Neni mengiyakan sebelum akhirnya Amera pergi dari tempat berdirinya. Amera menatap kepergian Amera dengan tatapan orang yang masih kebingungan.
***
"Assalamu'alaikum mah, pah," salam dari seorang pria yang baru saja pulang ke rumahnya membuat kedua orang tua yang tengah menunggu kedatangannya bangun dari sofa ruang tamu.
"Walaikun salam, Revan. Kamu kemana aja sih, Van? Kenapa semalam kamu gak pulang? Mama cemas sama kamu," perasaan khawatir seirang ibu untuk anaknya memang tidak bisa di pungkiri, terlebih Revan merupakan putra semata wayangnya.
Bu Marina meraba tubuh Revan saat melihat pakaian putranya kusut serta lusuh.
"Kamu sebenarnya kemana siu, Van? Jawab mama! Jangan bikin mama tambah cemas, dong!"
"Aku kemarin main ke rumah temen aku, mah. Terus aku ketiduran, mungkin aku terlalu kecapean," jawab Revan bohong, tidak mau kalau alasan yang sebenarnya membuat mamanya semakin cemas.
"Tapi bau alkohol di baju kamu ini tidak bisa membohongi kami, Van. Kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! Apa ini ada hubungannya dengan Mera?" pak Indra yang semula diam pun ikut menimpali. Ia tidak suka ada kebohongan.
"Maksud papa apa?" tanya Revan seolah tidak tau apa-apa.
__ADS_1
"Jadi begini, kemarin mama kamu dapet foto yang di kirim oleh seseorang. Di dalan foto itu terdapat Ameta sedang menikah dengan pria lain. Apa kamu tahu soal itu?" seperti mendapat pukulan keras, tubuh Revan kini mematung. Dari mana mereka tahu pernikahan Amera, dan siapa pengirim foto yang mereka maksud?
"Iya, Van. Awalnya mama emang sempat percaya dan hampir aja terhasut. Tapi setelah papa bilang kalau itu mungkin foto editan, mama sedikit lebih lega. Dan sekarang mama tanya, mana yang benar, Van?" kedua orang tua Revan tidak sabar menunggu jawabannya. Suasana kini berubah menjadi tegang.
Setelah berapa lama menunggu jawaban dari putranya, akhirnta Revan mau membuka suara.
"Benar, mah. Amera memang menikah dengan pria lain. Selama ini dia selingkuh dari aku," seolah di lempari bom atom, hati bu Marina kini meledak dan rasanya sangat hancur setelah Revan membenarkan hal tersebut. Tubuhnya melemas, hatinya panas tesulut emosi.
"Selingkuh? Kenapa itu bisa terjadi, Van? Mama pikir Amera perempuan baik-baik, tapi nyatanya dia tidak lebih dari seorang pengkhianat," bu Marina sangat geram, ia tidak terima dengan apa yang sudah Amera lakukan pada putranya.
"Awas aja kalau nanti mama ketemu dia, mama pasti akan memberinya pelajaran!" tambah wanita paruh baya tersebut," pak Indra berusha menenangkan istrinya, walaupun dia sendiri juga merasa kecewa.
***
"Mama sebenarnya ada masalah apa, mah? Aku perhatiin sejak kamu mimpi buruk semalam, kamu jadi melamun terus," papa Abdi dan mama Anna yang saat ini sudah ada di coffe shop tengah beristirahat untuk makan siang. Tapi melihat istrinya yang terus saja melamun membuatnya khawatir.
"Aku gak apa-apa kok, pah. Mungkin itu perasaan kamu aja," jawab mama Anna bohong. Jelas-jelas sedari tadi dia melamun. Bahkan beberapa pegawainya saja sampai heran ketika melihatnya tidak seperti hari-hari biasanya.
"Ya sudah. Kalau begitu kita makan siang dulu di restorann biasa, yah," ajakan papa Abdi segera di angguki mama Anna.
"Iya, pah," jawabnua sambil berusaha tersenyum.
Maafin aku, pah. Aku terpaksa harus bohongin kamu saat ini. Nanti, kalo aku udah ketemu sama perempuan yang memiliki wajah sama persis dengan wajah putri kita. Aku pasti akan kasih tau kamu.
"Ayo, mah. Kok ngelamun lagi, sih," ujar papa Abdi saat istrinya masih duduk di sofa tempat mereka beristirahat di coffe shop-nya.
___
__ADS_1
Tambahkan ke rak buku favorit kalian ya dan jangan lupa untuk VOTE sebanyak-banyaknya.
Follow ig @wind.rahma