
Bayangan on
"Permisi! Ini ada apa ya? Kok pada ngumpul di sini?" Beberapa orang membalikan tubuhnya mendengar pertanyaan mama Anna, termasuk Pak Sugandi.
Bayangan off
Itu kan Bu Ana?? Pak Sugandi dalam hati.
Tanpa pikir panjang lagi, dia segera menghampiri Mama Anna dan papa Abdi yang tengah duduk menunggunya. Mereka yang melihat tuan rumah sudah datang menemui, segera bangkit berdiri.
"Selamat sore, Pak Sugandi." Sapa mama Anna dan papa Abdi hampir bersamaan.
"Iya, sore. Silakan duduk!" Ucap pak Sugandi mempersilahkan mereka untuk duduk kembali.
"Bapak sama ibu ada perlu apa ya sama saya?" tanya Pak Sugandi memulai percakapan.
"Em, iya. Jadi begini Pak, kami datang ke sini untuk menanyakan sesuatu sama bapak. Pak Sugandi masih ingat kecelakaan sembilan belastahun lalu dekat taman sini?" Pak Sugandi kemudian mengangguki pertanyaan Mama Ana.
"Iya, Bu. Saya masih ingat."
"Iya, Pak. Waktu itu Pak Sugandi kan yang bilang ke saya, korban kecelakaan yang merupakan putri saya itu dilarikan ke rumah sakit Puja Medika oleh seseorang yang kebetulan lewat. Betul begitu, Pak? "
"Ya, Bu." jawab Pak Sugandi.
Mama Anna dan papa Abdi merasa sedikit lebih lega mendengarnya, lantaran Pak Sugandi masih ingat kejadian itu.
"Tapi anehnya, Pak. Oang itu mengaku sebagai orang tua dari anak yang satunya lagi itu," ujar Mama Anna lagi kemudian dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Lalu menunjukkan sesuatu pada Pak Sugandi.
"Tolong bapak lihat baik-baik orang ini! Apa ini orang yang membawa putri saya dan anak yang satunya itu ke rumah sakit?"
Mama Anna memperlihatkan foto yang diam-diam dia ambil pada saat menjenguk Mama Ressa. Dan foto tersebut merupakan foto Papanya Al.
Pak Sugandi terdiam sambil memperhatikan foto di ponsel mama Anna. Ia jadi ingat obrolannya ditelepon tadi siang dengan Qrsen.
Bayangan on
"Saya minta tolong sama Pak Sugandi untuk tidak memberikan informasi apapun terkait kasus kecelakaan Putri Bu Anna dan Pak Abdi. Nanti saya akan transfer lagi lima puluh juta untuk tambahan modal bisnis Bapak." Pinta Arsen yang disetujui oleh Pak Sugandi.
"Baik, Pak."
"Dan satu hal lagi. Jangan sampai Pak Sugandi ceritakan soal ini apalagi sampai sebut-sebut nama saya di depan mereka!"
"Iya, Pak. Saya mengerti."
Bayangan off
"Maaf, Bu. Saya tidak ingat jelas wajah orang itu. Lagipula, kejadiannya juga sudah cukup lama" Ucap pak Sugandi.
"Bapak yakin tidak ingat sedikitpun wajah orangnya? Coba deh Pak perhatikan sekali lagi!" Pinta Mama Anna sedikit memaksa..
__ADS_1
"Sekali lagi saya minta maaf, Bu. Saya benar tidak ingat jelas wajahnya."
"Tapi, Pak-"
"Ma ... " ucap papa Abdi lirih.
"Mungkin pak Sugandi memang tidak ingat jelas wajah orang itu. Kita pulang aja yuk!"
"Tapi, pa-"
"Terima kasih atas informasinya ya, pak Sugandi. Maaf kalau kedatangan kami sampai mengganggu waktunya." Ucap papa Abdi.
"Iya, Pak. Sama-sama."
"Kalau begitu kita pamit. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Tapi aku belum selesai bicara, Pa." Papa Abdi tetap mengajak Mama Anna untuk pulang saja.
Sampai di mobil, Mama Anna mengomeli suaminya.
"Kamu itu kenapa sih Pah? Ini tuh satu-satunya cara agar kita bisa tahu semuanya. Dan aku yakin Kalau Pak Sugandi tahu sesuatu, Pa!" Seru mama Anna.
"Iya, Ma. Tapi kan pak Sugandi bilang kalau dia tidak ingat jelas wajah orang itu dan kita gak bisa maksa dia, ma. Lagipula ini bukan satu-satunya cara supaya kita bisa tahu kebenarannya. Amera juga kan bakal bantu kita cari bukti di rumah Al. Dan mudah-mudahan Amera dapat petunjuk di sana, ya?!"
Mama Anna pun terdiam. Yaang dibicarakan Papa Abdi memang ada benarnya.
"Iya, pa." ucapnya akhirnya menurut. Kemudian mereka memutuskan untuk pulang.
Pak Sugandi melihat papa Abdi dan mama Anna sudah pergi dari pelataran rumahnya. Anehnya ia merasa bersalah pada mereka.
"Maafin saya Bu Anna, saya tidak bisa memberitahu yang sebenarnya. Lagipula pak Arsen sudah banyak bantu saya." Ucapnya seraya mengingat pertemuan pertamanya dengan Arsen.
Jadi, pada saat itu pak Sugandi melihat Arsen tengah berdiri tidak jauh dari rumah Papa Abdi dan Bu Anna. Pada saat ia tanya, justru Arsen malah yang jadi tanya-tanya seputar keluarga Amera. Arsen akan memberinya sejumlah uang jika dirinya bisa memberikan seputar informasi keluarga itu. Kebetulan saat itu usahanya sedang mengalami kebangkrutan, akhirnya ia menerima tawaran Arsen.
Kemudian Pak Sugandi memberikan informasi seputar keluarga Amera yang ia tahu. Pada saat kecelakaan itu pak Sugandi melihat Mama Anna tengah memarahi anak kecil yang duduk di dekat pohon dan mengatakan kalau anak itu bukanlah Putri kandungnya dan ia membenci anak itu lantaran ia pikir anak itu yang tak lain merupakan Amera telah menjadi penyebab kematian putrinya yaitu Indah. Setelah Mama Anna pergi yang mungkin pergi ke rumah sakit guna mengetahui kondisi Indah, Pak Sugandi menghampiri Amera yang tengah menangis. Lalu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Amera mengatakan kalau mama Anna bukanlah mama kandungnya. Dan mama kandungnya meninggal pada saat melahirkannya.
Dan itu yang Pak Sugandi ceritakan pada Arsen. Kemudian Arsen menceritakannya pada Al pada saat pria itu akan menikahi Amera.
***
Malam sekitar pukul delapan.
Amera tengah duduk menyandar di sandaran tempat tidur sambil memikirkan percakapannya tadi siang bersama Mali.
Mali bilang kalau asisten rumah tangga di sini namanya bi Narsih. Kira-kira bi Narsih itu tahu Fisa waktu kecil nggak ya? Aku coba kasih tahu mama sama papa deh, sekalian juga sama alamatnya. Pikir Amera kemudian mengirimkan pesan pada Papa Abdi.
Setelah selesai, ia menaruh ponselnya di atas nakas. Perhatiannya teralih pada suara sendawa yang terdengar sesekali mual seseorang dari balik pintu kamar mandi.
"Itu mas Al kenapa ya? Apa jangan-jangan dia sakit?" Tanpa pikir panjang lagi, ia segera turun dari tempat tidur lalu bergegas menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Mas ... Mas Al ... Kamu kenapa mas?" Amera berusaha mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi tersebut.
Tidak berapa lama, Al keluar dengan wajah sedikit pucat. Hal tersebut membuat Amera kian cemas.
"Ya ampun, Mas Al. Kamu kenapa? Kok muka kamu pucat sih? "Amera meraba pipi dan kening suaminya.
"Apaan sih. Orang saya nggak apa-apa Kok." jawab pria itu seraya mengalihkan tangan Amera.
"Gak apa-apa gimana? Orang muka kamu pucat kayak gini terus barusan aku dengar kamu mual-mual kan? Kamu masuk angin kali ya? Sini biar aku kerokin aja ya? "
"Apanya yang dikerokin?" Tanya pria itu setengah panik saat Amera menggandeng lengannya menuju tempat tidur.
"Ya punggung kamu lah, mas. Masa iya kamu masuk angin aku kerokin kumis kamu!" Pria itu spontan memegangi bagian kumis yang sudah mulai tumbuh lagi.
"Kamu tunggu di sini aku mau nyari minyak angin sama koin dulu," ucapnya lagi.
Sementara Al duduk di tepi ranjang.
Tidak Berapa lama, Amera kembali dengan membawa minyak angin dan koin.
"Sekarang kamu buka baju kamu, Mas" Pinta Amera membuat Al mengernyit.
"Hah, ngapain? Sebenarnya kamu mau ngapain Saya sih?" Protesnya.
"Ya kan aku bilang mau kerokin kamu Mas. Biar anginnya hilang."
"Pakai koin?"
"Ya iya."
"Nggak ah nggak, saya nggak mau, nanti badan saya luka-luka lagi." Ujar pria itu sambil beranjak dari tempat tidur, namun Amera segera menarik lengan suaminya sampai terjatuh ke atas tempat tidur.
Amera membuka paksa baju suaminya dengan duduk di atas punggung menindih suaminya tersebut.
"Kamu mau ngapain sih? Ini pelecehan tahu namanya!" Ujar pria itu setengah berteriak, namun Amera tidak menggubris. Setelah berhasil membuka baju suaminya, ia segera mengerok punggung suaminya itu.
"Aawww .. Aarrghh .. Amera, stop! Aarrghh .."
Pria itu berteriak saat Amera mengerokinya. Tubuhnya yang tidak mau dia membuat kamera sedikit kesulitan.
Antara sakit dan geli Al rasakan, sehingga mulutnya tidak juga mau berhenti teriak-teriak.
"Aaww .. Amera, saya bilang stop, STOP ..!! Geli tau gak?!"
"Bentar doang kok Mas. Ntar juga bakal enak kok! "Ujar Amera dengan santai.
Percakapan mereka barusan didengar oleh Neni yang kebetulan lewat depan pintu kamar lantaran Al teriak, dia jadi penasaran dengan menghentikan langkah di sana.
"Ternyata Mbak Amera ganas juga masalah begituan. Mas Al sampai nggak kuat nahan gelinya!" Ujar Neni sambil cekikikan.
__ADS_1
_Bersambung_