
"Mama kemana aja ya? Udah tiga jam lebih dia belum kembali juga ke sini," papa Abdi mencemaskan mama Anna lantaran belum kembali juga dari butik guna mengantarkan temannya.
Tidak berapa lama, mama Anna pun kembali. Ia berjalan dengan tatapan kosong.
"Mah, kamu kemana aja? Kok lama banget," papa Abdi belum menyadari istrinya yang terlihat aneh. Begitu sadar kalau istrinya sedang tidak baik-baik saja, dia kembali cemas.
"Kamu kenapa, mah? Mah?" sentuhan papa Abdi di bahu mama Anna membangunkannya dari lamunam.
"Heh? Iya, pah. Ada apa?" nada bicara mama Anna terdengar gugup.
"Duduk dulu, mah," papa Abdi merengkuh bahu mama Anna kemudian mendudukannya di sofa.
"Kamu kenapa, mah? Ada apa? Cerita sama aku!" papa Abdi sangat cemas lantaran mama Anna tidak biasanya terlihat seperti sekarang.
"Aku baik-baik aja, pah. Emangnya aku kenapa?" ujar mama Anna berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Mah, aku kenal sama kamu itu udah puluhan tahun. Aku tau, aku begitu mengenal kamu. Ada apa, mah? Apa yang kamu tutupi dari aku?" papa Abdi menatap lekat istrinya.
Mama Anna menghembuskan napas pelan, sepertinya dia memang harus menceritakan perihal ini pada suaminya.
"Emm... Pah. Kamu masih ingat gak, kalau beberapa hari yang lalu aku pernah mimpi buruk tentang putri kita lagi?" papa Abdi pun mengangguk.
"Iya, mah. Aku ingat. Kenapa?"
"Jadi begini, pah. Siangnya itu, sebelum aku mimpiin itu. Waktu di acara pernikahan Al sama Amera , aku sempat ke toilet. Aku gak sengaja nabrak perempuan yang wajahnya mirip sekali dengan Indah-putri kita, pah. Terus aku mutusin buat cari tau siapa perempuan itu. Dan tadi, di butik aku nemuin foto perempuan itu terpampang di sebuah pintu ruangan. Dan ternyata perempuan itu-" mama Anna menggantungkan kalimatnya. Hal itu tentunya menggelitik rasa penasaran papa Abdi.
"Perenpuan itu siapa, mah?"
"Perempuan itu, dia Disa, pah. Adiknya, Al."
"Disa adiknya Al?" mama Anna mengangguk. Appa Abdi jadi mengulang ingatannya pada saat Al mengenalkan Disa sebagai adiknya. Awalnya papa Abdi pun merasakan hal yang sama seperti mama Anna. Tapi papa Abdi menepis pikiran tersebut lantaran itu hal yang yang tidak mungkin.
"Aku mau cari tau sial kematian putri kita, pah. Karena aku merasa ada yang janggal. Bener gak sih, pah?" tanya mama Anna membangunkan papa Abdi dari ingatannya.
"Papa rasa tidak perlu, mah. Karena, bisa aja kan semua itu cuma kebetulan. Kebetulan Disa memang mirip putri kita," tutur papa Abdi. Tapi mama Anna akan tetap kekeh pada pendiriannya.
"Enggak, pah. Enggak ada yang kebetulan. Kalau kamu gak mau ikut buat cari tau lagi soal kematian putri kita. Biar aku sendiri." ujarnya tidak bisa di ganggu gugat.
***
__ADS_1
Saat ini Amera dalam perjalanan lulang bersama Arsen. Tiba-tiba dia meminta Arsen untuk menghentikan mobilnya pada saat dia melihat perempuan yang wajahnya begitu familiar.
"Pak Arsen, stop, pak! Stop!" Arsen pun menghentikan mobilnya, lalu melirik Amera dari kaca spion yang menggantung di depannya.
"Ada apa, bu?"
"Saya mau turun dulu sebentar, pak," pria itu kemudian mengangguk.
"Baik, bu."
amera membuka pintu samping mobil kemudian keluar, guna menghampiri perempuan yang di lihatnya barusan.
"Itu kan Vira," ujarnya lirih.
"Viraaa.." panggilnya setengah berteriak, membuat perempuan yang berjalan dengan jarak kurang lebih lima meter dari belakang mobilnya pun kini menoleh.
"Amera," ujar Vira begit menoleh, melihat siapa orang yang baru saja meamnggil namanya.
"Iya, itu Amera. Ameraaaa..." Vira menghambur ke arah Amera dengan merentangkan kedua tangannya. Hal tersebut di sambut hangat oleh Amera sampai akhirnya mereka pun saling berpelukan.
"Gue kangen banget sama lo," ujar Vira setelah melepaskan pelukannya.
"Oh, iya, lo kok ada di Jakarta? Ngapain?" mendengar pertanyaan Amera, ekspresi wajah Vira yang semula bahagia kini berubah sedih.
"Sebelumnya gue minta maaf ya sama lo, karena waktu itu gue ngebatalin pertemuan kita. Emak gue masuk rumah sakit dan harus di rawat di sana. Sampai sekarang, emak gue masih di rawat dan semua itu butuh biaya besar. Makanya gue ke Jakarta buat cari kerja. Tapi, gue belum juga dapet kerjaan. Gue udah coba ngelamarke Amora Caffe sampe beberapa rumah udah gue coba. Tapi ya udah gitu, hasilnya tetap sama. Gue gak di terima," Amera menatap prihatin temannya ini. Dia bisa merasakan bagaimana ada di posisi Vira.
"Lo yang sabar, ya! Nanti gue coba bantu lo cari pekerjaan. Kalo ada, nanti gue bakal kabarin lo. Yah?!" Vira mengangguk pasrah, Amera mengusap-usap bahu temannya itu.
"Iya, Ra. Sebelumnya gue makasih, ya. Lo emang temen gue yang paaaaling baik," pujinya terharu, memang sedari dulu hanya Amera yang paling mengertikan dirinya.
"Sama-sama, Vir. Oh, iya, lo mau kemana sekarang? Lo tinggal dimana? Biar lo bareng aja sama gue," perempuan itu menolak lembut ajakan Amera.
"Gak usah, Ra. Makasih. Gue mau cari kerja lagi."
"Oh, gitu. Yaudah kalo gitu, gue duluan ya."
"Iya. Hati-hati, ya!" demgan berat hati Amera pun harus pergi, padahal ia masih ingin ngobrol banyak dan berlama-lama dengan Vira.
"Jalan lagi, pak!" ujar Amera pada Arsen ketika sudah masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Baik, bu."
***
"Nen.. Neniii..." Amera melangkah lebih dalam lagi ke arah dapur, namun dia tidak menemukan sosok yang saat ini ia cari.
"Neni kemana, yah? Kok tunben aku panggil dia gak nyaut," Anera mengerutkan kening, berpikir kira-kira Neni pergi kemana.
"Apa aku coba cek ke kamarnya kali, ya? Siapa tau dia ketiduran," Amera pun berjalan memutuskan untuk mengecek Neni di kamarnya.
"Nen, Nenii.." sambil mengetuk pintu Amera memanggilnya. Tidak ada sahutan juga. Akhirnya Amera mencoba membuka gagang pintu kamar Neni.
"Gak di kunci. Aku coba masuk aja, deh," ujarnya, lalu membuka pintu kamar tersebut secara perlahan. Kemudian masuk.
"Neenn.." panggilnya lagi, setelah masuk ke kamar Neni.
Seketika Amera terkejut saat mendapati Neni terbaring di atas tempat tidur dengan selimut yang membalut sekujur tubuhnya, kecuali bagian kepala.
"Astagfirullah, Nen. Kamu kenapa?" Amera sontak panik sekaligus cemas menadapati Neni sedang menggigil.
"Huhuhu..huhu.. Neni dingin, mbak. Huhuhu.." Neni berusaha menjawab pertanyaan Amera meski bibirnya gemetar, wajahnya tampak pucat. Amera menempelkan punggung tangannya di dahi Neni.
"Ya ampun, kamu deman. Kita ke rumah sakit sekarang yah!" kecemasan Amera kin bertambah. Sementara Neni menggeleng lemah.
"Gak isah, mbak. Neni cuma demam biasa aja, kok. Huhuhu.."
"Tapi kamu harus segera di obatin, Nen," Neni tetap menolak ajakn Amera untuk membawanya ke rumah sakit. Amera takut kalau Neni kenapa-napa.
"Yaudah kalo gitu, kamu tunggu sebentar, ya! Saya ambil kompresan dulu buat kamu. Biar suhu tubuh kamu turun," tanpa mendengar jawaban Nei lagi, Amera segera beranjak dari sana.
Tidak berapa lama, Amera kembali dengan membawa semangkuk air dan handuk kecil di tangannya. Ia segera mencelupkan handuk kecil tersebut ke dalam mangkuk berisi air. Kemudian menempelkannya ke dahi Neni setelah dia peras.
"Mudah-mudahan demam kamu cepet turun ya, Nen," Amera menatap Neni kasihan. Lantaran sedari tadi dia terus saja menggigil tanpa henti.
Sepuluh menit setelah di kompres dengan beberapa kali mencelupkan handuk kecil tersebut lalu menempelkannya lagi di dahi Neni berulang kali. Neni pun akhirnya tidur. Suhu tubuhnya sudah mulai turun. Amera baru bisa pergi guna membiarkan Neni yang saat ini sedang beristirahat dan tertidur pulas.
___
Like, komen, vote dan jangan lupa kasih hadiah ya. Hehe. Supaya saya makin semangat buat update.
__ADS_1
Follow ig @wind.rahma