TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 46


__ADS_3

Mama Ressa melihat Amera dari kejauhan sedang duduk di bagku taman belakang rumahnya. Kemudian ia memutuskan untuk menghampiri menantunya itu.


"Mama boleh ikut duduk?" Amera sedikit terlonjak saat tiba-tiba suara mama Ressa terdengar tepat di sampingnya.


lBoleh. Duduk, mah!" ujar Amera sopan. Mama Ressa pun tersenyum lalu duduk di bangku yang muat untuk dua orang saja itu.


"Mama boleh tanya-tanya sesuatu sama kamu? Maksudnya, mama ingin mengenal menantu mama ini lebih jauh lagi," Amera sedikit gugup di buatnya.


"Boleh, mah. Mama mau tanya soal apa?" mama Ressa menghela napas guna memulai perbincangan di antara mereka.


"Kamu kenal Al sudah lama?" seketika Amera terdiam, bingung jawabnya harus seperti apa.


"Aku.. Aku awalnya sama sekali gak kenal mas Al. Kita ketemu gak sengaja. Waktu itu mas Al nyaris nabrak aku, terus dia ngasih kartu namanya siapa tau aku butuh bantuannya. Waktu itu kebetulan aku lagi butuh bangrt kerjaan, terus aku coba hubungi mas Al melalui nomer yang tertera di kartu namanya. Pertemuan kita terlalu singkat dan aku juga belum begitu mengenalnya. Tapi suatu hari mas Al tiba-tiba datang ke rumah buat lamar aku," begitu jelasnya.


"Lalu, apa yang membuat kamu menerima lamaran Al sampai kalian menikah?" rasa penasaran mama Ressa kian bertambah.


"Jujur, pada saat mas Al lamar aku, posisi aku saat itu masih punya pacar. Kami sudah menjalin hubungan selama dua tahun. Tapi, dia belum juga menunjukkan keseriusannya. Dan pada saat ada laki-laki yang datangvke rumah untuk melamar aku, papa berpikir laki-laki itu serius sama aku. Dan itu mas Al," mama Ressa mengangguk-anggukan kepalanya mendengar cerita Amera.


"Terus pada saat Al menikahi kamu, apa kamu pernah bertanya tentang keluarganya?" Amera tentunya mengangguk.


"Iya, mah. Aku menanyakannya bahkan jauh sebelum kita melangsungkan pernikahan ini. Mas Al bilang papanya sudah meninggal. Dan mama sedang ada di luar negri. Aku sempat ragu, tapi setelah diam-diam menanyakan kebenarannya ke Neni, ternyata yang di katakan mas Al itu benar. Masalah pernikahan kita ini, aku pikir mama tau sejak lamaran. Tapi ternyata mas Al menyembunyikan hal ini dari mama. Aku sama sekali gak tau soal itu."


"Ya. Memang. Al ini memang memiliki sifat introvert. Semua kepribadiannya cukup dia yang tau. Bahkan mama gak tau, dia pernah punya pacar atau belum sebelum kalian menikah. Karna setiap kali mama tanya soal pasangan, Al selalu menghindar. Dia paling gak suka di tanya soal perempuan. Mama sempat takut kalau anak mama ini gak nikah-nikah. Tapi sekarang, ketakutan mama ini sudah di gantikan oleh kebahagiaan. Karena akhirnya mama punya menantu yang cantik seperti kamh," Amera pum tersenyum mendengarnya. Namun seketika senyum itu luntur saat hal tersebut bertentangan dengan kenyataannya.


"Kalau mama bahagia, kenapa mama pergi saat tau kalau mas Al sudah menikah?" mendapat pertanyaan seperti itu, senyum mama Ressa pun ikut memudar.


"Mama cuma shock waktu itu. Maafin mama, ya!"


"Terus apa yang membuat mama percaya sama alasan mas Al? Dan, apa alasan yang di katakam mas Al sama mama?" Amera menatap sendu mama Ressa, berharap mama Ressa akan memberi jawaban yang selama ini ia pertanyakan.


"Emmm.. Al bilang..," Amera sudah tidak sabar ingin mendengar lanjutan kalimat mama Ressa. Suasana kini cukup menegangkan.


Suara notifikasi pesan masuk dari hp Amera membelah ketegangan yang terjadi barusan. Hal itu membuat mama Ressa sedikit lega lantaran tidak harus mengatakan yang sejujurnya.

__ADS_1


Amera membuka pesan yang masuk ke hp nya barusan.


Ra. Mama sama papa mau undang kamu sama Al makan malam di rumah. Soalnya semenjak kalian menikah, belum pernah kalian datang ke rumah. Datang, ya? Jangan lupa ajak Disa juga!


Setelah membaca pesan yang di kirim mama Anna barusan, Amera merasa sedikit heran.


Mama ajak aku sama mas Al makan malam? Tumben. Tapi kenapa harus ajak Disa juga, ya? Apa maksud mama acara makan malam antar keluarga aku sama keluarga mas Al?


"Pesan dari siapa?" tanya mama Ressa mengeluarkan Amera dari segala pemikirannya.


"Emm, dari mama aku, mah. Mama ngundang aku sama mas Al makan malam. Disa juga. Mungkin maksudnya acara makan malam keluarga. Oh, ya. Mama sama papa aku kan belum tau kalau mama sudah kembali. Mama mau ikut juga kan? Biar mama kenal sama mama papa aku," ucap Amera penuh harap.


"Boleh. Mama ikut."


"Tapi aku boleh minta satu hal sama mama?" mama Ressa mengerutkan dahinya.


"Apa?"


"Oke. Mama janji gak akan ceritain masalah ini," Amera memeluk mama Ressa, seperti dua orang yang sudah lama akrab antara menantu dan mertua.


"Makasih ya, mah..!"


"Sama-sama, sayang."


***


Saat ini Disa berada di depan Caffe Amora.


"Gara-gara mbak Amera, gue jadi bete kayak gini. Gue seneng sih kalo dia sama Al itu beneran saling suka, yang penting gak ada kesempatan lagi buat dia deket sama Revan. Tapi gue gak suka aja kalo mama bisa sedekat itu sama dia," Disa mendecak sebal serta terus menggerutu.


Seketika emosinya teralihkan oleh panggilan masuk ke ponselnya. Begitu di lihat layar hp nya menampilkan nomer tanpa nama.


"Nomer siapa ya?" pikirnya.

__ADS_1


Lanataran hp nya terus berdering, akhirnya Disa mengangkat telpon tersebut.


"Halo?"


"Halo, Disa. Ini mbak Amera. Kamu sibuk gak? Mbak rencananya mau ajak kamu makan malam di rumah orang tua mbak. Kamu bisa kan?"


Perempuan itu tentunya lebih di buat kesal lantaran penelpon itu ternyata Amera.


"Lo dapet nomer gue dari siapa? Mama? Gak usah so asik deh, lo. Lo gue mau apa makan malam sama keluarga lo? ENGGAK! Gue ada urusan yang lebih penting. Dan asal lo tau ya, malam ini gue udah ada janji dinner sama Revan. Kita mau ngedate. Bye!" Disa mwmatikan saluran telpon begitu saja.


Entah kenapa, mendengar Disa menyebut nama Revan membuat hati Amera sedikit terusik. Bukan karena Amera masih memiliki perasaan terhadap laki-laki itu, tapi karna ucapan Disa yang mengatakan:


"Inget, ya! lo bisa tinggal di rumah ini menjadi bagian dari keluarga Permadi juga berkat gue!"


Kembali ke Disa, perempuan itu memukul stirnya cukup keras.


"Herrgh... Kenapa sih lo itu nyebelin banget!! Bisa-bisanya lo so asik sama gue," Disa terus mencerca. Guna menetralisir emosinya, perempuan itu memutuskan untuk masuk ke dalam kafe.


Di tengah emosinya yang kian memuncak, ponselnya kembali berdering. Tanpa melihat layar hp nya, perempuan itu langsung mengangkat telpon tersebut dengan sergap.


"Udah gue ingetin sama lo gak usah so asik sama gue!" ujar Disa seraya membentak.


"Siapa yang kamu maksud so asik itu, Disa?" suara datar barusan membuat Disa langsung mengecek nama yang tertera di layar hp nya. Dia langsung membulatkan kedua bola matanya sempurna.


"Mati, gue!" umpatnya.


____


Haiii semua...


Maaf ya lama banget gak update, mengingat cuaca lagi kurang baik, jadi kesehatan aku sedikit terganggu. Mulai hari ini Insha Allah kembali up lagi🤗


Semoga kalian pun sehat selalu😊

__ADS_1


__ADS_2