
"Mas, lepasin aku, mas! Aku bisa jelasin semuanya ke kamu. Mas Al," Amera menahan kesakitan ketika Al menarik lengannya dari dalam keffe Amora menuju parkiran. Pria itu baru melepaskan cengkraman tangan tersebut sedikit kasar.
"Mau jelasin apalagi? MAU JELASIN APALAGI?" Al kembali membentak Amera, sehingga tubuh wanita itu tersentak ke belakang. Bibirnya gemetar, bahkan kakinya sudah tidak kuat lagi menopang beban tubuhnya.
Tapi Amera harus bisa meluruskan semua kesalahpahaman ini. Tidak perduli kalau mereka sekarang sudah menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang.
"Mas, kamu bisa gak sih? Sebentar aja dengerin penjelasan aku? Ujar Amera penuh keberanian.
"Semua yang kamu pikirkan itu sama sekali gak benar. Aku memang bohong sama kamu soal cincin yang hilang di kamar mandi. Itu karena aku lupa dimana terakhir kali aku menyimpannya," tambah perempuan itu.
"Karena kamu sebut-sebut nama Revan terus, aku memutuskan untuk ketemu sama dia. Aku cuma mau tau dari mana dia bisa mendapatkan cincin itu. Dia bilang, kalau cincin itu dia temuin di taksi. Dan itu membuat aku ingat, terakhir kali aku memakai cincin itu di taksi yang sama. Sekarang terserah kamu mau percaya atau enggak sama aku. Karena memang itu kenyataannya," Al terdiam mendengar penjelasan Amera yang di selingi isak tangisnya. Awalnya Al tidak akab semudah itu percaya dengan Amera, tapi suara pesan WhatsApp bunyi berasal dari ponselnya.
Revan bilang kalau cincin itu dia temuin di taksi. Dia gak tau siapa pemiliknya.
__ADS_1
Pesan tersebut di kirim oleh Disa. Al menghembuskan napas panjang setelah membaca pesan tersebut.
Berati Amera gak bohong. Kalau cincin itu memang hilang.
Al menatap Amera yang masih menangis tanpa menatapnya. Tangannya sibuk menghapus air matanya yang sialnya tidak mau berhenti.
"Saya minta maaf, saya terlalu kasar sama kamu! Saya cuma gak suka di bohongi," ucap Al dengan nada lembut. Tapi Amera belum juga mau menatapnya balik.
"Maaaf.." ucap Al sekali lagi. Amera melirik Al sekilas, tanpa mengucapkan sesuatu.
"Di maafin, gak?" ucap Al lagi untuk kesekian kalinya, Amera hanya menganggukkan kepalanya tanpa membalas tatapan Al.
"Al menghembuskan napas lega lantaran Amera mau memaafkan sikapnya hari ini dan kemarin sampai membuat Amera menangis.
__ADS_1
"Kalo gitu kita pulang. Ayo, pulang!" Al membukakan pintu samping mobil untuk Amera, perempuan itu pun menurut masuk ke dalam mobil.
Setelah menutup pintu mobil tersebut. Al berjalan mengitari mobilnya guna ikut masuk ke dalam mobilnya juga. Setelah itu, mobil melesat pergi dari halaman parkir Kafe Amora.
***
Revan, yang saat ini sudah dalan perjalanan pulang masih tidak mengerti dengan pertemuannya bersama Amera. Dia pikir ada sesuatu lain yang ingin Amera bicarakan di pertemuan tadi. Justru Amera hanya membahas soal cincin entah milik siapa.
"Disa, Amera, mereka seolah ingin tau mengenai cincin yang aku temukan di taksi. Sebenarnya ada apa dengan cincin itu, dan siapa pemiliknya?" hal tersebut begitu menggelitik rasa penasaran Revan.
"Aku harus tanyakan ini sama Disa kalau dia datang ke kentor lagi. Aku yakik, Disa tau sesuatu mengenai cincin itu," ujarnya lagi.
Revan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi guna kembali ke kantornya. Pekerjaannya belum sempat terselesaikan lantaran dia memilih untuk menemui Amera tadi yang ternyata cuma membahas cincin tidak jelas. Di tambah lagi kedatangan Al yang membuat mereka semakin salah paham.
__ADS_1
___
Tambahkan ke rak buku dan follow ig @wind rahma