
Setelah tiga puluh menit lamanya Amera menunggu Al yang sedang menyelesaikan lekerjaannya di tuanh kerjanya. Akhirnya Al pun kembali ke kamar. Amera berusaha tersenyum, meski dia tahu kalau suaminya akan tetap dingin yanpa ekspresi.
"Udah selesai, mas?" Amera bertanya saat Al sudah naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelahnya.
"Hem," jawabnya singkat sambil menoleh ke arah Amera sekilas.
Amera membenarkan posisi duduknya ke posisi yang lebih nyaman. Setelah itu ia kembali membuka suara berusaha mencari topik pembicaraan dengan suaminya. Sebelum itu, dia menghembuskan napas panjangnya secara perlahan.
"Emm.. Mas. Tadi papa titip salam buat kamu. Lain kali kalo kamu gak sibuk, kita main ke coffe shop-nya papa, yah."
"Iya," jawabnya singkat.
"Oh, iya, mas. Tadi juga, waktu aku pulang dari coffe shop-nya papa, aku ketemu sama temen lama aku. Dia lagi cari pekerjaan katanya. Kira-kira, di kantor kamu ada lowongan pekerjaan buat temen aku, gak? Jadi cleaning service juga gak apa-apa," Al kembali menoleh sambil menatap dingin istrinya.
"Kamu pikir kamu siapa? Gak sembarang orang busa masuk apalagi kerja di kantor saya! Termasuk temen kamu itu!" ujar Al tegas.
"Maaf, mas. Iya, aku emang bukan siapa-siapa. Aku cuma mau bantu temen aku. Itu aja kok, mas. Kalo di kantor kamu emang gak bisa, iya gak apa-apa. Siapa tau kamu butuh asisten rumah tangga lagi. Soalnya aku kasihan sama Neni. Rumah sebesar ini dia sendiri yang bersihin. Apalagi kan sekarang dia lagi sakit," mendengar kalimat barusan, seketika emosi Al sedikit reda.
"Neni sakit?" pertanyaan Al barusan membuat Amera menganggukan kepalanya.
"Sakit apa?" tanyanya lagi, dia terlihat sedikit khawatir.
"Neni demam, badannya menggigil. Aku udah coba bujuk dia buat ke rumah sakit. Cuma dianya gak mau. Terus aku kompres biar demamnya turun. Dan Alhamdulillaahnya sekarang suhu tubuhnya udah kembali normal lagi," ujarnya memberi tahu. Al pun menghirup napas lega mendengarnya.
"Kasian Neni, mas. Kalo dia ada temennya kan pekerjaannya bisa sedikit lebih ringan. Dia juga gak bakal terlalu kecapean," tambah Amera, namun Al masih diam.
"Kasihan juga temen aku, mas. Kalo dia bisa kerja di rumah ini, dia bukan cuma jadi temen buat meringankan pekerjaan Neni. Tapi juga meringankan biaya rumah sakit ibunya yang lagi di rawat," Al sontak menoleh ke istrinya.
"Ibu temen kamu lagi sakit?" rupanya Al mulai tertarik dengan pembicaraannya bersama istrinya.
"Iya, mas," ujar Amera membenarkan.
"Temen aku ini udah coba ngelamar kerja ke Amora Caffe dan beberapa tempat. Tapi belum dapet kerja juga. Kasian dia," seketika Al tertegun. Entah apa yang saat ini dia pikirkan. Yang jelas, mendengar seorang ibu sedang sakit itu membuat Al merasa iba. Pria itupun kembali bertanya.
"Tapi temen kamu itu perempuan atau laki-laki?" Amera mengulum senyum mendapat pertanyaan dari Al barusan.
__ADS_1
"Ya perempuan lah, mas. Mana ada aku temen laki-laki. Kenapa? Kamu cemburu kalo misalkan temen aku ini laki-laki?" godaan Ameravmembuat Al gugup dan salah tingkah.
"Apaan sih. Gak jelas!" ujar Al berusaha menghindari godaan istrinya. Tak ingin Amera akan lanjut menggodanya, Al pun turun dari tempat tidurnya kemudian keluar dari kamar setelah tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.
"Mas Al. Maaas.." teriakan manja Amera tidak di gubris oleh Al, pria itu justru mempercepat langkahnya agar segera keluar dari kamarnya.
Sementara Amera tersenyum geli sambil menatap punggung suaminya yang tidak mau menoleh saat dia panggil. Dia sudah mulai jahil terhadap suaminya. Rupanya usahanya membuka hati untuk Al mulai dia rasakan.
Di luar kamar, Al mengetikan pesan pada seseorang.
Sen. Saya ada tugas buat kamu malam ini juga. Tolong kamu...
Setelah pesan terkirim, pria itu menyandarkan kepalanya di balik pintu seraya menghembuskan napas sedikit kasar.
***
Papa Abdi meraba bantal serta tempat tidur di sampingnya. Awalnya matanya masih terpejam, namun ketika tangannya tidak menemukan sosok yang dia cari, matanya seketika terbuka dengan sempurna.
"Mama kemana ya? Kok pagi-pagi banget dia udah gak ada?" gumamnya.
Sementara mama Anba, kini tengah berada di dalam mobil taksi online. Dia sengaja bangun lebih pagi dari biasanya lantaran harus pergi ke rumah sakit, tempat dimana dulu putrinya di larikan ke sana pada saat kecelakaan. Guna menyelidiki kembali tentang kasus kematian putrinya itu.
Maafin aku ya, pah. Aku pergi tanpa izin dulu sama kamu. Aku harus cari tau lagi kasus kematian Indah-putri kita. Aku harus selidiki ini sendiri.
Saat mama Anna tenggelam dengan segala pemikirannya, suara dering panggilan masuk membangunkan lamunannya.
"Papa?" ujarnya begitu melihat nama yang muncul di layar ponsel. Dia nampak sedikit panik.
"Papa pasti mau nanya aku dimana sekarang. Atau, papa mau larang aku buat gak usah selidiki ini lagi," pikirnya.
"Lebih baik aku gak usah angkat dulu telpon papa kali ya?" kemudian mama Anna membiarkan telpon dari suaminya begitu saja.
Sementara di rumah, papa Abdi menatap ponselnya cemas. Lantaran mama Anna tidak biasanya tidak mengangkat telpon darinya.
"Mama kenapa gak angkat telpon dari aku ya?" pikirnya.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan mama beneran nekad cari tau lagi soal kematian Indah? Makanya mama pergi gak pamit dulu sama aku. Mama juga gak mau angkat telpon aku," papa Abdi baru saja ingat kalau semalam mama Anna mengatakanbkaan tetap mencari tahi lagi soal kematian putri mereka.
***
Di ruang tengah rumah Al. Amera tengah membujuk suaminya untuk sarapan. Namun Al tetap saja menolak.
"Aku udah cape-cape loh, mas. Bangun pagi-pagi nyiapin sarapan buat kamu. Sarapan dulu ya?!" untuk kesekian kalinya Amera membujuk, dan hasilnya tetap sama.
"Saya gak laper, Amera! Kamu aja yang sarapan sendiri. Saya mau ke kantor sekarang."
"Tapi, mas-"
"Permisi, pak bos, bu Amera!" kedatangan Mali ikut menghentikan langkah Al yang hendak pergi.
"Iya, ada apa?"
"Begini, pak bos. Mali mau lapor, di luar ada perempuan yang mengaku sebagai asisten rumah tangga baru di rumah ini. Jadi gimana, pak bos. Apa itu benar?"
"Suruh dia masuk!"
"Siap, pak bos!" Mali dengan sigap menuruti perintah Al.
"Asisten rumah tangga baru? Siapa, mas?" Amera menatap suaminya dengan rasa penasaran. Padahal baru semalam tadi Amera meminta asisten rumah tangga baru kepada suaminya, itupun Al tidak setuju. Tapi kenapa tiba-tiba ada orangbyang datang mengaku sebagai asisten rumah tangga baru di rumah ini?
Belum sempat Al menjawab pertanyaan istrinya. Namun Mali sudah kembali bersama perempuan tadi yang mengaku sebagai asisten rumah tangga baru di rumah ini.
"Ini, pak bos," Mali memberi tahu Al dan Amera, mereka berdua menoleh ke arah perempuan itu.
Sontak Amera terkejut dengan kedatangan perempuan yang mengaku sebagai asisten rumah tangga baru di rumah ini.
___
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara LIKE, KOMEN, VOTE, dan beri HADIAH ya! Agar aku makim semangat buat update.
Follow juga ig aku @wind.rahma
__ADS_1