TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 58


__ADS_3

"Mama ... Mama dengerin aku dulu, mah! Iya, aku memang salah. Salah banget. Karena aku udah ngerusak harga diri aku. Itu karena aku berpikir, dengan aku melukkan itu semua, Revan akan jadi milik aku seutuhnya. Karena apa yang sudah Al lakukan ternyata gak ngerubah apapun. Revan tetap mengejar-ngejar Mbak Amera dan aku benci itu, " jelasnya seraya terisak.


"Dan kamu harus ingat, sayang! Apa yang sudah kamu lakukan pun belum tentu akan merubah apapun sama dengan apa yang sudah Al lakukan seperti yang kamu ucapkan barusan!" Seketika Disa dibuat bungkam oleh ucapan mamanya barusan.


Gue ngelakuin semua ini supaya gue hamil. Dengan begitu Revan mau nggak mau harus nikahin gue dan dia jadi milik gue seutuhnya. Tapi gimana kalau gue nggak hamil? Semua yang gue lakuin pun bakal sia-sia.


Bisa menggeleng keras. Enggak. Revan pasti akan jadi milik aku, ma. Revan cuma milik aku!" Tiba-tiba saja Disa histeris.


Mama Ressa langsung memeluk tubuh putrinya itu.


"Istighfar, sayang. Kamu nggak boleh seperti ini!"


Keduanya saling memeluk dan menumpahkan air mata di sana.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Arsen sudah ada di halaman rumah seseorang. Ia berdiri di depan pintu gerbang rumah tersebut.


"Menurut alamat yang Pak Al kasih, mudah-mudahan ini beneran rumah dokter Handoko, "ujarnya seraya mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah tersebut.


Tidak berapa lama, seorang security rumah tersebut berjalan menghampiri Arsen.


"Bapak siapa? Ngapain berdiri di sini?" Tanya security tersebut.


"Iya, Pak. Saya Arsen. Jadi saya ke sini ingin bertemu dengan dokter Handoko Wijaya. Apa benar ini rumah beliau?"


Bukannya menjawab pertanyaan Arsen, security itu justru malah menatap pria itu dari ujung kaki sampai ujung kepaa. Dilihat dari penampilannya, sepertinya Arsen bukan orang sembarang. Begitu pikir security itu.


"Iya, ini rumahnya. Bapak Alada perlu apa dengan dokter Handoko?" Tanya security itu seperti mengintrogasi.


"Maaf Pak, untuk itu saya tidak bisa memberitahu karena ini sifatnya privasi. Tapi yang jelas, saya ada kepentingan dengan beliau."


"Ya sudah, kalau begitu Bapak tunggu sebentar di sini! Saya lapor dulu sama dokter Handoko."


"Baik, Pak." Ujar Arsen menurut.


Tidak Berapa lama, security itu pun kembali. Kemudian membuka pintu gerbang.

__ADS_1


"Bapak boleh masuk!" Kata security setelah membuka pintu gerbangnya.


"Iya, Pak. Terima kasih banyak! " Ucap Arsen sebelum kemudian dia kembali ke mobilnya guna memarkirkan di pelataran rumah dokter Handoko.


Setelah diperbolehkan masuk oleh security rumah tersebut, Arsen dipersilakan duduk di kursi ruang tamu guna menunggu dokter Handoko yang katanya sedang sarapan. Seorang wanita menghampiri dengan membawa minuman di nampan.


"Silakan diminum, Pak!" Ujar wanita tersebut setelah meletakkan gelas berisi minuman di meja.


"Terima kasih. " ucap Arsen.


"Sama-sama, Pak. "Ujar wanita itu sebelum kemudian dia pergi.


Arsen pun menyeruput minuman hangat yang disuguhkan barusan, lalu kembali menunggu tuan rumah tersebut.


Lima menit berlalu, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu pun keluar menemuinya. Arsen segera bangkit berdiri ketika tuan rumah datang


"Silakan duduk!" Ucap tuan rumah mempersilahkan Arsen untuk duduk kembali.


"Baik, Pak. Terima kasih." Ucap Arsen seraya tersenyum sopan.


Ketika mereka berdua sudah duduk, dokter Handoko pun mulai membuka percakapan.


"Iya.Pak Dokter. Jadi saya datang ke sini karena ada kepentingan dengan Pak Dokter. Saya ingin menanyakan soal pasien kecelakaan sembilan belas tahun lalu yang di larikan ke rumah sakit Puja Medika atas nama Indah Arandita, bocah yang usianya sekitar tiga tahunan. Apa benar, dokter yang menangani pasien atas nama Indah itu?"


Dokter Handoko tampak berpikir.


"Pasien kecelakaan sembilan belas tahun lalu atas nama Indah Arandita anak usia tiga tahun. Iya, sepertinya saya yang menangani anak itu." Kata dokter yang membuat perasaan lega di hati Arsen.


"Tapi saya tidak tahu pasien mana yang bernama Indah Arandita. Karena pada saat itu ada dua anak yang mengalami kecelakaan yang sama di tempat yang sama seperti anak yang anda maksud."


Hal tersebut menciptakan kerutan dalam di kening Arsen.


"Maksud dokter gimana ya?" Tanya Arsen tidak begitu paham.


"Begini Pak, ketika kecelakaan itu, ada dua anak perempuan yang dilarikan ke rumah sakit Puja Medika sebagai korban. Keduanya saya tangani. Hanya saja salah satu dari mereka tidak dapat kami selamatkan. Dan yang satunya lagi, Alhamdulillah tidak apa-apa. Hanya mengalami luka ringan saja dan langsung dibawa pulang oleh orang tuanya pasca diobati."

__ADS_1


Kemudian Arsen mengangguk-anggukan kepalanya mencoba memahami penjelasan dokter Handoko.


"Kalau boleh saya tahu, anda ini siapanya pasien korban kecelakaan itu ya? Soalnya, minggu lalu pun ada dua orang pasangan suami istri yang menanyakan hal serupa."


Pertanyaan dokter barusan membuat Arsen agak sedikit gugup, namun setelah mendengar alasan beliau menanyakan siapa dirinya itu membuatnya mengerti, lalu penasaran dengan siapa dua orang itu?


"Saya salah satu pihak keluarganya. Oh ya, kalau saya boleh tahu juga, dua orang yang dokter maksud itu siapa ya?"


"Mereka orang tua salah satu korban kecelakaan yang meninggal. Sepertinya mereka masih belum bisa menerima kenyataan kalau putrinya itu meninggal. Maka dari itu mereka sampai datang ke sini untuk nanya-nanya lagi."


Arsen semakin dibuat penasaran sekaligus bingung dengan ucapan dokter.


"Nanya-nanya gimana maksudnya, dok?"


"Dia menanyakan orang tua anak yang mengalami luka ringan itu. Dari nama sampai ciri-cirinya Seperti apa. Saya juga tidak tahu kenapa mereka sampai bertanya sejauh itu. Padahal jelas-jelas kalau putri mereka sudah meninggal. "


Lagi-lagi Arsen menganggukan kepalanya.


Dua orang yang mengaku sebagai orang tua salah satu korban kecelakaan itu. Apa mereka Pak Abdi dan Bu Anna ya? Apa mereka juga sedang menyelidiki kasus kematian putrinya?


"Pak Dokter? "


"Iya."


"Waktu dua orang itu menanyakan nama dan ciri-ciri orang tua anak yang satunya lagi itu, Pak Dokter jawab apa?"


Pria berusia sekitar enam puluh tahunan itu menghela napas panjang, lalu menghembuskan napas itu secara perlahan.


"Saya bilang ke mereka, kalau saya lupa nama orang itu. Tapi yang saya ingat, ciri-ciri orang itu yang jelas laki-laki dan mempunyai tahi lalat di bagian ujung batang hidungnya," jelas dokter. Sontak membuat Arsen teringat sesuatu.


Kenapa ciri-cirinya mirip sekali dengan alm. Papanya Pa Alu, ya? Apa ini semua memang ada hubungannya dengan permintaan Pak Al untuk menyelidiki semua ini. Pikir Arsen.


"Oh begitu ya, Pak. Kalau begitu, terima kasih banyak atas informasinya, Pak Dokter. Saya pamit pulang."


"Oh iya, iya, sama-sama. Silahkan! "

__ADS_1


Keduanya bangkit berdiri dari duduknya, kemudian Arsen pergi setelah berpamitan dengan dokter barusan.


_Bersambung_


__ADS_2