TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 55


__ADS_3

Mama Ressa duduk di belakang kemudi. Matanya terus mengalirkan air mata yang tak kunjung surut. Tatapannya kosong.


Aku tidak menyangka kalau putriku Disa akan melakukan hal yang di luar batas. Dia merusak harga dirinya sendiri demi seorang laki-laki. ungkin salahku juga, hanya karena aku begitu menginginkan anak perempuan, begitu aku mendapatkannya, aku memanjakannya dengan memberi apapun yang dia minta. Sampai sekarang dia berpikir kalau apa yang dia inginkan harus dia dapatkan.


Mama Resa terisak menahan sesak di dadanya. Sampai akhirnya sopir pribadinya memberitahu kalau mereka sudah sampai di pelataran rumah. Mama Ressa menyapu air mata di pipinya. Sebelum kemudian dia turun dari mobil.


Neni baru saja selesai membersihkan meja ruang tengah menggunakan kemoceng yang masih dia pegang di tangannya. Dia segera Menyapa Ibu bosnya begitu Mama Ressa pulang.


"Eh, ibu Ressa udah pul ... lang," sapaan Neni barusan sama sekali tidak di gubris oleh Mama Ressa. Beliau melewati Neni begitu saja, Neni mengerutkan kening heran.


"Ibu Ressa kenapa ya? Kok tumben sikapnya dingin. Bahkan sapaan Neni pun nggak dibales. Kenapa ya?"


Neni mematung di tempat seraya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


Tidak lama setelah mobil Al datang, mobil Disa pun menyusul masuk ke pelataran rumah. Perempuan itu turun dari mobilnya dan memasuki rumah dengan langkah tergesa-gesa.


Al dan Amera kini sudah berada di depan pintu kamar mama Ressa. Mereka mengetuk pintu kamar beberapa kali namun mama Ressa tidak juga membukakan pintunya. Al cemas kalau mamanya kembali sakit, melihat kondisinya yang belum stabil.


"Mungkin mama butuh waktu untuk sendiri, Mas. Aku tahu gimana perasaan Mama, pasti sekarang hatinya sangat hancur dan terluka. Saat anak perempuannya mencoreng harga dirinya demi seorang laki-laki," tutur Amera.


"Nanti kita bicara lagi sama mama saat hatinya sudah tenang ya?!" Imbuh Amera.


Yang dikatakan Amera ada benarnya. Tidak ada salahnya kalau Al mengikuti saran istrinya.


"Iya." Jawab Al setelah memikirkan saran istrinya.


Disa datang saat Al dan Amera hendak melangkahkan kaki dari sana.


"Mama mana? Gue mau jelasin ke mama, " Disa menatap Al dan Amera secara bergantian.


"Mau jelasin apa? Mending sekarang kamu kembali ke apartemen. Mama akan lebih hancur kalau kamu maksa buat jelasin ini sekarang!" Ujar Al tegas.


"Gak bisa! Gue mau ketemu sama Mama!" Kata Disa kekeh.


"Saya gak mau melihat Mama saya sakit karena ulah kamu. PAHAM?!" Bentakan Al berhasil membuat tubuh Disa terlonjak, baru kali ini ia mendengar ini padanya.

__ADS_1


Begitupun dengan Amera, dia terkejut melihat suaminya semarah ini, terlebih kata-kata Al barusan membuatnya terheran.


Mama saya? Kenapa Mas Al bilang begitu? Bukannya mamanya Itu mamanya Disa juga.


"Pokoknya gue bakal stay di sini sampai Mama mau dengerin penjelasan gue!" Disa tetap kekeh.


Amera tidak ingin ada pertengkaran diantara kakak beradik ini. Mlihat Al yang sudah dalam puncak amarah, ia segera membawanya pergi dari hadapan Disa.


"Mas, kita ke kamar aja yuk! Lagian adik kamu nggak akan bisa nemuin Mama selama Mama nggak Bukain pintunya. "


Akhirnya Al pun menurut, mereka meninggalkan Disa dan pergi ke kamarnya. Sampai di kamar, Amera duduk di tepi ranjang sambil melamun. Almenatap wajah istrinya kemudian ikut duduk di samping Amera.


"Ngelamunin apa?"


Amera sedikit terlonjak kemudian menggeleng.


"Gak kok, aku nggak ngelamunin apa-apa."


"Terus barusan apa?"


"Itu barusan bengong, itu bukan ngelamun?"


Amera menghela napas.


"Aku gak habis pikir aja mas sama Disa. Bisa-bisanya dia ngelakuin hal yang menurut aku bodoh. Apalagi dia sampai ngehalalin segala cara untuk dapetin Revan, termasuk bikin Revan mengira kalau dia itu aku, dengan obat itu."


"Iya. Jadi Disa itu memang dimanja sama Mama sama Papa dulu. Semua yang dia inginkan mereka kasih buat dia. Jadi sekarang dia melakukan cara supaya keinginannya tercapai. Dia berpikir kalau kamu udah rebut Revan dari dia, makanya dia mati-matian buat dapetin Revan lagi," ujar Al tanpa sadar kalau dia sudah sedikit membocorkan separuh rahasianya.


Disa berpikir kalau aku rebut Revan? Terus mati-matian buat dapetin Revan lagi. Padahal aku gak pernah ngerebut Revan dari siapapun. Karena waktu itu Revan sempat bilang kalau dia memang pernah dekat dengan seseorang tapi orang itu justru meninggalkannya sebelum mereka mempunyai hubungan apa-apa. Di sini justru Disa yang ngerebut Revan dari aku.


"Mas Al." Panggil Amera lirih setelah kesenyapan di antara mereka terjadi beberapa saat.


"Hm?"


"Aku boleh tanya sesuatu?"

__ADS_1


"Apa?"


"Barusan kamu bilang kalau Disa mati-matian buat dapetin Revan lagi, apa pernikahan kita ini adalah salah satu caranya?"


"Ngomong apa sih? Nggak usah ngelantur. Nggak usah mikir yang enggak-enggak. Jangan bikin saya tambah pusing!" Ujarnya sebelum kemudian meninggalkan Amera di kamarnya.


Tanpa Al mengatakan yang sebenarnya, Amera sudah sangat yakin kalau pernikahannya pasti ada kaitannya dengan rusaknya hubungannya dengan Revan yang disebabkan oleh Disa.


Kalau kamu ada di balik ini semua, aku bakal kecewa banget sama kamu, Mas.


***


Di tempat lain, Arsen terlihat sedang menghubungi seseorang di telepon.


"Halo, selamat siang. Apa benar ini dengan Pak Sugandi?"


Raut wajah Arsen berubah lega, sepertinya orang yang dia telepon memanglah Pak Sugandi.


"Siang, iya saya Sugandi Anda siapa ya? Kok bisa punya nomor HP saya?"


"Saya Arsen, yang waktu itu pernah menanyakan seputar keluarga Bu Amera. Bapak masih ingat?"


"Oh iya, saya ingat. Ada perlu apa sampai telepon saya?"


"Ya.Jadi begini, pak Sugandi. Tadi pagi saya ke rumah bapak, tapi satpam di sana bilang kalau Pak Sugandi sedang tidak ada di rumah. Terus saya dapat nomor bapak dari satpam rumah bapak. Saya mau menanyakan soal adik Bu Amera yang meninggal. Apa Bapak tahu dulu saat kecelakaan dia dibawa ke rumah sakit mana? "


"Oh, iya, iya. Kalau tidak salah, Putri Bu Anna dibawa ke rumah sakit Puja Medika waktu itu."


"Rumah Sakit Puja Medika?"


"Iya."


"Baik, kalau gitu terima kasih banyak atas informasinya, Pak. Selamat siang."


Usai mendapatkan informasi tersebut, Arsen kemudian menutup teleponnya. Lalu ia segera pergi menuju Rumah Sakit tersebut.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2