
Bayangan On
"Kamu gak kenapa-napa? Apa ada yang luja?" tanya Revan pada Amera.
"Aku baik-baik aja. Makasih ya karena kamu udah nolongin aku."
Bayangan Off
Revan saat ini tengah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia terus saja kepikiran tentang Amera, terlebih tempo hari dia sudah menyelamatkan perempuan itu dari tiga preman yang nyaris memperk*sanya.
Padahal Amera sudah jelas-jelas mengkhianati aku. Tapi entah kenapa aku tidak bisa sepenuhnya membenci dia.
Revan menghembuskan napas setelah menghela napas panjang seraya mengusap wajahnya sedikit kasar. Tiba-tiba saja suara notifikasi mengalihkan perhatiannya. Pria itu segera meraih ponselnya menggunakan tangannya yang panjang. Begitu di buka pesan tersebut, kedua bola matanya sengaja ia buka sedikit melebar kemudian bangun sambil menatap layar hp penuh ketidak percayaan.
Van, aku mau ketemu kamu besok di Amora Caffe jam sepuluh pagi. Ada yang mau aku bicarain sama kamu.
"Amera mau ketemu aku?" ujarnya sumringah.
"Apa jangan-jangan dia mau minta maaf karena tadi dia gak bisa ketemu aku. Makanya dia ngajak aku ketemuan sebagi gantinya," pria itu benar-venar bahagia saat ini. Ia sudah tidak sabar ingin segera besok. Kemudian dengan kelincahan jemarinya ia mengetikan balasan untuk Amera.
Ok.
Setelah itu Revan kembali meletakan ponselnya di atas nakas. Kemudian tidur guna menyambut hari esok.
***
Pagi-pagi sekali Neni sudah bangun guna memulai semua aktivitasnya. Sambil melantunkan lagu favoritnya dia berjalan menyusuri ruang tamu. Tiba-tiba saja kakinya menginjak sesuatu yang membuatnya meringis kesakitan.
"Aawww.. Aduh, ini apaan sih?" Neni mengambil benda yang sudah melukai kakinya itu. Ketika di lihat, matanya membulat sempurna lantaran benda yang telah melukai kakinya itu ternyata sebuah kepingan pecahan kaca keramik. Dan begitu melihat ke sekeliling lantai, ternyata banyak sekalikepingan pecahan kaca kramik yang berserakan.
"Waduh, waduh.. Ini siapa ini yang udah sembarangan mecahin cangkir di sini? Bikin kerjaan Neni nambah banyak aja nih orang. Kalo mas Al sampe tau bisa gawat ini," ujarnya setengah panik. Beberapa saat terdiam, ada satu orang yang patut dia curigai sebagai pelaku pemecah cangkir.
"Hah, gak salah lagi ini pasti kerjaan Mali, nih. Awas aja tuh si Mali, Neni bakal bikin perhitungan sama dia. MALIIIII...!" teriaknya sambil melipir pergi, guna melabrak itu satpam.
__ADS_1
Sementara di kamar Al. Pria itu sudah tampak rali dengan stelan jas kantornya. Ia sudah siap berangkat ke kantor pagi ini. Di bukanya pintu kamar, kemudian ia tutup kembali pintu dengan rapat.
Ketika hendak melangkahkan kaki, matanya menangkap seorang perempuan yang tidur dalam posisi duduk di sebelah pintu kamarnya. Perempuan tersebut merupakan istrinya yang semalam tidur di sana lantaran Al tidak juga membukakan pintu kamarnya.
Beberapa helai rambutnya menutupi wajah perempuan tersebut, ada perasaan bersalah Al saat melihat wajah istrinya. Hatinya sempat tergerak untuk membangunkan istrinya, namun pada saat tangannya nyaris menyentuh bahu perempuan di hadapannya ini, niatnya segera di urungkan. Dia menarik kembali tangannya, kemudian melipir pergi meninggalkan istrinya yang masih tertidur di lantai.
Kelopak mata Amera mulai bergerak-gerak, begitu membuka matanya dia melihat suaminya berjalan melewatinya begitu saja. Amera langsung bangun.
"Mas Al," ucapnya lirih, lalu bangkit berdiri guna mengejar ketertinggalan langkah suaminya.
"Mas Al tunggu, mas! Mas Al" teriaknya.
Neni saat ini sedang mengobrak-abrik pos satpam sambil meneriakan nama Mali dengan suara tujuh oktafnya. Membuat tubuh satpam rumah ini yang hendak menyeruput kopi terlonjak kaget, sehingga kopinya tumpah berceceran di bajunya. Neni menarik lengan Mali dan menyeret keluar pos satpam.
"Ya ampun mbeb Nen, ngapain sih pagi-pagi udah teriak-teriak narik-narik Mali segala? Mau ngajak Mali ke tempat sepi ya? Kalo gitu bisik-bisik aja mbeb Nen!" kekesalan di raut wajah perempuan itu semakin bertambah.
"Enak aja sembarangan kalo ngomong! Mali, Neni gak mau tau pokoknya kamu harus tanggung jawab!" ujar Neni tegas menciptakan kerutan dalam di kening Mali.
"Amit-Amit ya Allah. Mali! Sembarangan banget sih kamu kalo ngomong!"
"Ya terus tanggung jawab apa dong mbeb Nen?" tanya Mali bingung.
"Di ruang tamu, banyak banget pecahan kaca kramik cangkir. Pasti kamu kan yang udah mecahin cangkir di sana. Ngaku gak?!" tuduhan Neni justru membuat Mali semakin kebingungan.
"Cangkir apaan sih, mbeb Nen? Mali gak pernah mecahin apapun selama kerja di sini."
"Alah ngaku aja deh kamu Mali! Kalau enggak, Neni bakal kasih tau mas Al biar kamu di pecat sekalian!" ujar Neni mengancam.
"Mbeb Neni. Mbeb Nen kan tau kalo Mali ngopi aja gak pernah pake gelas ataupun cangkir. Tuh buktinya, Mali selalu pake muk besar biar kenyang," seketika Neni terdiam.
Benar juga ya, Mali kan gak pernah pake gelas atau cangkir kalo ngopi ataupun minum. Terus siapa dong yang udah mecahin cangkir di ruang tamu. Masa iya di rumah ini ada makhluk halus.
Neni bergidik. Di tengah perdebatannya dengan Mali, teriakan Amera seolah mengalihkan perhatian mereka. Neni beserta Mali menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Mas al tunggu, mas! Aku bisa jelasin, mas!" Amera berjalan mengejar langkah Al.
"Mali buka gerbang!" teriak Al. Mendengar perintah dari sang majikan, Mali langsung lari.
"Siap pak bos!"
Mobil pun melesat keluar dari gerbang setelah Mali membukakan gerbangnya. Tidak memperdulikan Amera yang masih mengerjar sambil menepuk-nepuk pintu bagian samping mobil.
"Mas Al. Maaasss...!" teriaknya dengan napas yang tersengal-sengal. Sayangnya Al tidak juga mau berhenti untuk mendengarkan penjelasan istrinya.
Dari sana Neni dapat menyimpulkan sepertinya pelaku pemecah cangkir bukanlah Mali. Tapi ada hubungannya dengan apa tang saat ini ia lihat di depan matanya.
***
Sementara di kantor Revan. Pria itu semangat sekali menyelesaikan setumpuk pekerjaannya, lantaran pria itu harus segera pergi guna menemui perempuan yang semalam sudah membuat nyenyak tidurnya. Senyum di bibirnya kini mulai memudar, pada saat seseorang masuk ke ruangannya yang lagi-lagi masuk tanpa izin.
"Pagi, sayang.." ucap seseorang itu, membuat Revan memutar bola matanya malas.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Revan dingin.
"Aku kangen sama kamu, sayang. Makanya aku dateng ke sini buat ketemu sama kamu," pria itu sama sekali tidak menggubris, ia tetap fokis pada layar laptopnya.
"Oh, iya, sayang. Aku mau tanya sesuatu sama kamu deh. Sebenernya cincin kemarin itu kamu beli buat siapa sih?" Revan menoleh ke arah Disa sekilas.
"Bukannya kamu gak mau tau soal itu. Toh, cincinnya juga udah kamu ambil."
"Iya, sih, sayang. Tapi ya, aku penasaran aja sekarang itu cincin buat siapa?" Revan menatap Disa heran.
Kenapa tiba-tiba Disa penasaran dengan cincin itu, ya? Apa jangan-jangan dia tau sesuatu soal cincin itu? Pikir Revan dalam hati.
___
Jangan lupa tambah ke favorit dan follow ig saya @wind.rahma
__ADS_1