
"Mera, sayang. Mama ambil makanan dulu sebentar di rumah, yah. Kamu jaga adik kamu, ok?!" seorang wanita yang bernama Anna itu tampak sedang bicara dengan putrinya yang berusia sekitar lima tahun. Saat ini mereka sedang berada di sebuah taman dekat rumah.
"Ok, mah," jawabnya dengan nada bicara yang terdengar begitu menggemaskan.
Setelah mengambil beberapa potong roti coklat ti tangannya, Anna segera kembali ke taman dimana kedua putrinya sedang bermain. Tidak baik juga meninggalkan bocah yang masih usia dini terlalu lama, walaupun jarak rumah dan taman tersebut tidak begitu jauh.
Saat Anna kembali, ia tidak menemukan kedua putrinya di sana. Perasaan cemas mulai muncul, terlebih tidak jauh dari tempat berdirinya ada beberapa warga yang sedang bergerombol. Anna memutuskan untuk mencari tahu apa yang membuat mereka bergerombol seperti itu. Sekalian menanyakan juga apakah mereka melihat kedua anak perempuannya.
"Permisi! Ini ada apa, yah? Kok pqda ngumpul di sini?" beberapa orang membalikkan tubuhnya mendengar pertanyaan Anna, dan satu orang di antara mereka mewakili menjawab.
"Ini, bu. Barusan ada dua anak perempuan jadi korban tabrak lari. Untungnya mereka sudah di larikan ke rumah sakit oleh orang baik yang kebetulan lewat sini," mendengar penjelasan salah satu warga tersebut membuat Anna semakin panik, pasalnya kedua putrinya saat ini tidak ada. Tanpa sadar, ia menjatuhkan kotak makanan di tangannya.
"Di bawa ke rumah sakit mana ya, pak?"
"Rumah sakit Puja Medika," perasaan Anna semakin tidak tenang, tubuhnya mulai melemas. Ia takut kalau korban tabrak lari tersebut merupakan kedua putrinya.
Di tengah kepanikannya, kedua bola matanya menangkap seorang anak perempuan yang tengah duduk di bawah pohon. Anna segera menghampiri anak tersebut.
"Mera.." panggilnya lirih, membuat anak perempuan yang sedang menangis dengan membenamkan kepalanya di kedua lututnya itu mendongak.
"Mamaaaa.." Amera menghambur ke pelukan Anna, tapi wanita itu tidak membalas pelukan putrinya. Dengan cepat ia melepas pelukan Amera, dan berjongkok menyamakan berdiri mereka.
"Mera, kamu kenapa menangis? Adik kamu mana? Mera jawab mama! Adik kamu mana?" tanya mama Anna tidak sabar menunggu jawaban Amera, ia sedikit mengguncang-guncangkan bahu anak itu agar segera menjawab pertanyaannya.
"Ade.. Hiks.. Hiks.. Ade..." jawab Amera gugup seraya terisak.
"Kenapa, Mera? Ada apa?"
"Ade ketabrak mobil, mah," mata Anna membulat sempurna, seolah tidak percaya dengan jawaban yang di katakan putrinya.
"Apa? Ketabrak? Kenapa bisa, Mera? Mama udah bilang sama kamu untuk jaga adik kamu. Kamu ini jagain adik kamu aja gak becus, ya! Mulai saat ini, stop panggil saya dengan sebutan 'Mama'. Saya bukan ibu kamu. Mengerti?!" Anna mendorong keras tubuh Amera sampai terjatuh ke tanah. Kemudian ia pergi meninggalkan bocah tersebut menuju rumah sakit yang di katakan warga tadi untuk memastikan kondisi putrinya.
__ADS_1
"Mama.. Maafin Mera, mah... Mama..." yang saat ini bisa Amera lakukan hanyalah menangis, terlebih mama yang ia anggap sebagai ibu kandungnya itu baru saja mengatakan kalau dirinya bukanlah ibu kandungnya.
"Mah, bangun! Mama," pak Abdi menepuk-nepuk pipi istrinya yang berkeringat sambil mnggumamkan nama putrinya.
"Bangun, mah!" wanita paruh baya itu membuka mata dan menemukan suaminya tengah menatap cemas ke arahnya. Di peluknya tubuh besar suaminya dengan erat, menghirup banyak-banyak oksigen setah napasnya tersengal-sengal. Meredakan ketakutan sekaligus menghilangkan deru napas yang memburu akibat mimpi buruk yang kini datang kembali. Setelah bertemu dengan gadis yang menabraknya di toilet pernikahan Amera tadi siang.
Pak Abdi membelai lembut rambut istrinya yang berada tepat di lekukan lehernya. Mencoba menenangkannya dari mimpi buruknya barusan.
"Mama kenapa, mah? Mama mimpi buruk?" melihat istrinya masih kelihatan ketakutan, pak Abdi kembali menenangkannya.
"Minum dulu, mah. Biar mama lebih tenang!" mama Anna pun menurut, ia minum hampir setengahnya. Setelah melihat istrinya lebih tenang, papa Abdi kembali menanyakan hal yang sama.
"Cerita sama aku, mah. Mama mimpi buruk apa? Soalnya mama belum gak pernah seperti ini," ia menatap istrinya lekat, ada perasaan khawatir yang nampak di kedua bola matanya.
"Aku mimpi tentang kecelakaan yang menimpa putri kita hari iti, pah. Aku benar-benar takut sekali."
"Ssttt.. Mama tenang, yah! Kita do'akan putri kita semoga dia tenang dan bahagia di surga," tutur pak Abdi sang suami.
"Iya, pah. Tapi aku sekarang kok merasa ada yang janggal ya, pah," kalimat mama Anna menciptakan kerutan di kening suaminya.
"Waktu itu Dokter bilang kalau wajah dan tubuh putri kita hancur sampai beliau menyatakan kalau putri kita tidak dapat di selamatkan. Tapi kenapa kita sama sekali tidak di perbolehkan melihat jasad putri kita. Aku rasa ada yang aneh deh, pah," seketika papa Abdi tertegun, tapi ia berusaha untuk tidak berprasangka buruk.
"Kamu benar, mah. Tapi bisa saja beliau memiliki maksud yang baik. Beliau tidak mau membuat hati kita semakin hancur ketika melihat keadaan putri kita," mama Anna menghembuskan napasnya, ingin rasanya ia menceritakan kejadian tadi siang di depan pintu toilet kalau ia melihat wajah yang mirip sekali dengan putrinya. Tapi ia rasa kalau saat ini bukan waktu yang tepat. Lain kali ia pasti akan memberi tahu soal ini, setelah ia mengetahui siapa gadis pemilik wajah itu.
"Lebih baik kita tidur lagi, yuk! Kamu harus banyak istirahat."
"Iya, pah," jawabnya.
***
"Hari ini aku masakin dia apa, yah?" Amera tengah berdiri di dekat pantry dapur. Setelah selesai melaksanakan shalat subuh, ia berniat memasak untuk suaminya sarapan seperti yang tadi malam ia pikirkan kalau mulai hari ini dia akan berusaha menjadi seorang layaknya istri.
__ADS_1
"Apa aku masakin nasi goreng aja, yah?" ujarnya lagi setelah beberapa saat berpikir.
"Nasi goreng aja kali, ya? Biar simple," ujarnya lagi. Setelah itu Amera menyiapkan beberapa bahan dan beberapa bumbu. Tapi dia belum tahu dimana tempat bumbu dan lain sebagainya. Akhirnya ia memutuskan mencari ke sekitar pantry.
Al baru saja membuka mata dari tidurnya. Begitu matanya terbuka, ia seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu.
"Kemana, dia?" tanyanya ketika dia tidak menemukan Amera di sana.
"Apa jangan-jangan dia pergi?" dengan cepat pria itu turun dari tenpat tidur untuk mencari keberadaan Amera.
Neni, sang asisten rumah tangga yang memiliki wajah ceria kini sedang melantunkan nada lagu kesukaannya. Sambil berjalan ke arah dapur untuk memulai kembali aktivitas rutinitasnya. Tiba-tiba saja, matanya di buat membulat sempurna ketika melihat sosok perempuan sedang mebuka laci-laci pantry dapur. Neni menarik tubuhnya untuk bersembunyi di balik tembok sambil memperhatikan apa saja yang akan di lakukab perempuan itu.
"Ibu Ressa, mbak Disa, kan udah gak ada di rumah ini. Sekarang cuma ada Neni satu-satunya perempuan di rumah ini. Lah terus itu siapa ya? Kalau kuntilanak kan gak mungkin, rambutnya pendek sama gak bolong juga punggungnya. Apa jangan-jangan maling, yah?" perasaan Neni berubah takut kalau perempuan yang di lihatnya ini benar-benar seorang maling.
Kedua bola bola mata Neni menangkap sebuah sapu yang tidak jauh dari tempat berdirinya saat ini. Ide dan beberapa cara untuk mengusir perempuan tersebut mulai muncul di kepalanya. Dia mengambil sapu tersebut kemudian berjalan mengendap-endap ke arah target. Begitu jaraknya sudah dekat, perlahan Neni layangkan gagang sapu di tangannya. Dan...
"Mau ngapain?" pertanyaan tersebut berasal dari seseorang yang menangkap gagang sapu dari belakang Neni. Begitu Neni membalikkan tubuhnya, sudah ada Al berdiri di hadapannya. Perempuan yang tak lain adalah Amera pun ikut membalikkan tubuhnya begitu ada orang lain di dapur selain dirinya.
"Ma-mas Al, anu mas. Ini-" Neni terlihat gugup.
"Ada apa ya?" tanya Amera heran begitu melihat Al dan perempuan yang tidak di kenalinya tengah ribut. Dari pakaian yang di pakai Neni, Amera bisa menebak kalau dia sepertinya pelayan di rumah ini.
Alih-alih memberi jawaban, pria itu justru memberikan pertanyaan yang sama pada Amera. "Kamu juga, ngapain di sini?"
"Ini aku mau masakin kamu nasi goreng, mas. Tapi aku belum tahu bumbu-bumbunya tempatnya di mana. Makanya aku cari," seketika Al terdiam mendengar panggilan Amera yang di berikan untuknya. Ini pertama kalinya Amera memanggil dengan sebutan 'Mas'. Mungkin Amera hanya menghargai kalau dirinya sudah menjadi suaminya.
"Gak perlu! Saya ada meeting pagi ini dan saya buru-buru ke kantor," tanpa menunggu Amera berkata lagi, Al sudah melipir pergi dari sana. Amera hanya bisa menghembuskan napas melihat bagaimana sifat asli suaminya.
Dan sekarang, hanya ada Amera dan Neni di sana. Neni masih terlihat bingung dengan percakapan majikan sekaligus perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Sebenarnya perempuan ini siapanya mas Al? Itu yang ada di pikiran Neni.
___
__ADS_1
VOTE dan tambahkan ke favorit.
Follow ig @wind.rahma