
"Kenapa? Masih marah sama saya?" tanya Al ketika melihat ekspresi wajah Amera datar. Mereka saat ini tengah duduk berselonjor sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran rempat tidur.
"Maaf! Saya kan udah minta maaf. Kenapa kamu masih diemin saya?" Al mengulang pertanyaannya lantaran Amera masih belum mau membuka suara.
Amera menghembuskan napas panjang, lalu menoleh ke arah suaminya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Aku cuma bingung aja, mas. Sebenernya apa yang kamu mau dari aku?" nada bicara Amera terdengar parau. Al terdiam mendengar pertanyaan istrinya.
"Maksud kamu apa?" Al bertanya dengan nada bicara normal. Dan suasana kamar saat ini terlihat sangat serius.
"Dulu, sebelum kita ketemu. Hidup aku emang sudah berantakan. Mama, orang yang aku pikir mama kandung aku, membenci aku ketika dia berpikir aku yang sudah membuat adik aku celaka sampai dia meninggal. Dia bilang, aku bukan putri kandungnya," Amera meghela napas panjang, Al menatap Amera dengan kasihan. Suasana kini berubah mengharu biru.
"Sampai akhirnya, Revan datang mewarnai hidup aku. Waktu terus berjalan. Suatu hari, aku nyaris di tabrak oleh seorang laki-laki dan memberi aku kartu nama. Kebetulan waktu itu aku lagi butuh banget pekerjaan. Aku memutuskan untuk menemui laki-laki itu di antar oleh Revan. Dan ternyata di sana dia ketemu sama dengan perempuan di masalalumya. Yaitu Disa-adik kamu," Air mata Amera sudah menggenang di pelupuj matamya.
"Semenjak pertemuan itu, warna yang Revan lukiskan di hidup aku mendadak luntur. Tanpa sepengetahuan aku, Revan kembali mengenang bahkan mungkin mengulang masalalunya sama Disa. Dan kamu. Masuk ke dalam kehidupan aku secara tiba-tiba. Kamu melamar bahkan meminta aku buat menikah sama kamu. Tidak ada cinta di antara kita. Bahkan sikap yang kamu berikan pun tidak menunjukkan ada cinta di sana. Aku jadi berpikri, apa semua ini ada hubungannya dengan kembalinya Disa sama Revan. Makanya kamu nikahin aku?"
Seperti mendapat petir di siang bolong, Al tidak menyangka kalau Amera bisa berpikir sejauh itu. Dia berusaha menetralisir kegugupannya agar Amera tidak curiga padanya.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh. Sekarang kamu tidur! Udah malem," pria itu mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Jawab dulu, mas!"
"Kalau kata suami tidur. Tidur!" ujar Al lagi. Amera tidak memiliki kekuatan untuk berdebat dengan Al. Makanya, kali ini dia memilih menuruti kata suaminya saja. Lantaran percuma, Al pasti tidak akan mengatakan alasan mengapa dia menikahinya.
Al menatap Amera yang tidur memunggunginya. Ada rasa bersalah di dalam bemak Al ketika melihat Amera menangis atas sikapnya. Di tambah lagi, cerita Amera barusan mengenai kehidupannya menambah rasa bersalahnya.
Maafin saya, Ra. Saya belum bisa mengatakan alasan yang sebenarnya.
***
"Pah, nanti siang aku mau ke Glamour Butik. Boleh gak?" Mama Anna bersama suaminya pagi ini sudah ada di coffe shop-nya.
__ADS_1
"Kamu mau beli baju lagi?" mama Anna pun menggeleng.
"Bukan, pah. Bukan aku. Jadi, waktu di acara pernikahan anak temen aku kemarin, temen aku yang lain itu tertarik sama gaun yang aku pake. Dia nanya-nanya aku beli dimana, terus dia minta aku buat temenin dia ke sana," ujar mama Anna memberi tahu.
"Oh, iya. Iya kamu pergi aja. Tapi jangan terlalu lama!"
"Iya, pah. Cuma sebentar, kok. Abis itu aku balik lagi ke sini," setelah berpamitan dengan suaminya, mama Anna langsung pergi bersama teman perempuannya yang sudah menunggu di parkiran.
***
"Mas, hari ini aku mau ke coffe shop-nya papa. Udah lama juga kan aku gak ketemu sama papa sama mama," saat ini Amera tengah berada di halaman rumah guna mengantar Al yang hendak pergi ke kantor.
"Yaudah, nanti saya minta Arsen buat anterin kamu. Soalnya saya ada meeting hari ini."
"Gak usah, mas. Lagian aku bisa naik taksi online," tolaknya.
"Kalo begitu kamu gak usah pergi! Kalo kamu kenapa-napa lagi di jalan saya juga yang repot!" alibi Al, padahal dia tidak mau kalau Amera sampai ketemu lagi dengan Revan.
"Sebentar, saya telpon Arsen dulu," Al merogoh ponselnya di saku jas hitam yang saat ini dia kenakan. Kemudian mendial nomer Arsen di layar ponsel tersebut.
"Halo, Sen. Kamu ke rumah saya sekarang ya! Tolong antar istri saya ke coffe shop papa Abdi!" setelah mendapat jawaban 'iya' dari sebrang sana, Al pun menutup sambungan telponnya.
"Nanti Arsen-asisten pribadi saya ke sini. Dia yang akan antar kamu ke coffe shop papa Abdi," kata pria itu segera di angguki oleh istrinya.
"Iya, mas."
"Yaudah, saya pergi!" Al hendak melangkahkan kaki dari hadapan Amera. Tetapi Amera dengan cepat meraih tangan Al kemudian mencium punggung tangannya.
"Hati-hati mas!" di sertai senyum yang terbit di kedua sudut bibirnya, tubuh Al seketika terasa membeku. Jantungnya berpacu dengan cepat. Al tidak dapat berkata-kata dengan perlakuan Amera saat ini.
"Iya," jawab Al sedikit gugup, sebelum kemudian dia cepat-cepat memasuki mobilnya dan keluar dari pintu gerbang.
__ADS_1
***
"Assalamu'alaikum, pah."
"Wa-alaikumussalam warrahmatullahi wabarokatuh. Amera?" jawab papa Abdi sedikit terkejut sekaligis senang mendapati putrinya datang ke coffe shop-nya. Amera oun segera menyalami papa Abdi.
"Papa gimana kabarnya?" tanya Amera sedikit khawatir.
"Papa baik, papa baik-baik aja, nak. Kamu ke sini sama siapa? Suami kamu-Al mana?" papa Abdi mencari seseorang di belakang putrinya.
"Aku barusan di antar pak Arsen, asisten pribadinya mas Al. Soalnya mas Al gak bisa ikut karena ada meeting di kantornya hari ini," ada ekspresi kecewa di rait wajah papa Abdi lantaran Amera tidak datang bersama suaminya.
"Oh, begitu. Yaudah, duduk dulu, nak!" Amera pun duduk di samping papa Abdi.
"Emmm.. Mama mana, pah? Kok mama gak ada di sini?" tanyq Amera ketika tidak menemukan mama Anna di sana.
"Mama tadi pergi, katanya nganter temennya beli baju di butik adiknya Al-Disa," Amera mengerutkan dahi.
"Butik adiknya mas Al?" papa Abdi mengangguk.
"Iya. Emang kamu gak tau kalau adiknya Al itu punya butik? Kata mama sih itu butik baru "
"Enggak. Aku sama sekali gak tau. Justru aku baru tau dari papa. Soalnya semenjak aku nikah sama mas Al, aku belum lernah ketemu sama Disa-adiknya itu," penjelasan Amera membuat papa Abdi mengerutkan kening heran.
"Kok bisa?"
"Mas Al bilang kalau Disa tinggal di Apartemen. Aku juga pernah nanya-nanya sama Neni-asisten rumah tangga tentang mamanya mas Al. Neni bilang mamanya mas Al emang lagi di luar negeri. Katanya ada urusan gitu."
"Berarti Al gak bohong soal keluarganya. Tapi, apa mamanya mas Al sudah tau kalau kalian sudah menikah?" mendengar pertanyaan papanya barusan, Amera pun menggeleng lemah.
___
__ADS_1
Jangan lupa tambahkan ke rak buku favorit ya. Dan follow akun ig @wind.rahma