
"Bu Amera ngapain malem-malem di luar ya? Pak bos juga dari semalem belum pulang-pulang. Bu Ressa juga, baru pulang dari luar negri udah main lergi lagi aja. Ck, sebenernya ini ada apa ya?" Mali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Satpam itu lebih di kejutkan lagi oleh klakson mobil yang terdengar keras. Mobil tersebut sudah ada di luar pintu gerbang. Dia segera lari, guna membuka pintu gerbang tersebut.
Amera yang juga mendengar klakson mobil tersebut yang ternyata berasal dari mobil suaminya segera bangkit dari duduknya. Sunyumnya seketika terbit. Namun ia sedikit bingung lantaran ada mobil lain yang menyusul mobil suaminya. Yaitu mobil milik Disa.
Tanpa berpikir apapun lagi, Amera berjalan menghampiri Al dan mama Ressa yang baru saja turun dari mobil. Tidak bisa Amera pungkiri, ada perasaan takut saat mama Ressa berjalan lebih mendekat kemudian berdiri tepat di hadapannya.
Jantung Amera seketika berpacu lebih cepat dari biasanya. Terlebih wanita paruh baya itu menatapnya serius. Yang bisa dia lakukan saat ini diam dengan sedikit menundukkan wajahnya. Tangannya pun kembali mengeluarkan keringat dingin.
Suasana cukup menegangkan, dan terasa mencekam bagi Amera.
"Kamu.." ucap mama Ressa dingin pada Amera, membuat perempuan itu semakin kehilangan mentalnya.
"Kamu adalah menantu saya!' wajah Amera yang semula menunduk kini mendongak dan membalas tatapan mama Ressa. Terlebih wanita paruh baya itu kini tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.
"Kamu menantu mama," tambahnya lagi.
Senyum di bibir Amera pun mengembang dengan sempurna sebelum kemudian ia menghambur ke pelukan mama Ressa. Baginya, hal ini membayar lebih pertemuan pertama mereka kemarin yang terkesan tidak baik.
Entah. kenapa Al yang menyaksikan hal tersebut merasa sangat hangat ketika mama dan istrinya bisa seperti sekarang ini. Berbeda halnya dengan Disa yang merasa sedikit iri melihat kedekatan di antara mereka. Dia langsung melipir pergi masuk ke rumah lebih dulu, membuat Al menoleh dan mengerutkan dahinya.
Disa kenapa ya? Apa jangan-jangan dia gak suka melihat mama dekat sama Amera? Pikirnya.
***
Pagi harinya, keluarga Permadi sedang sarapan. Mereka saat ini berada di meja makan.
"Kamu yakin mau balik ke Apartemen?" tanya mama Ressa pada Disa. Sebelumnya Disa sudah menceritakan perihal tempat tinggalnya saat ini pada mamanya.
Disa pun mengangguk. "Iya."
"Kenapa kamu gak tinggal di sini aja, Sa? Biar rumah ini rame!" ujar Amera menimpali. Hal tersebut membuat aktivitas sarapan Disa terhenti. Ia langsung melayangkan tatapan tidak suka pada Amera.
"Gak usah so akrab deh, lo! Inget ya, lo bisa tinggal di rumah ini menjadi bagian keluarga Permadi juga berkat gue!" Disa beranjak dan langsung meninggalkan meja makan setelah mengatakan hal tersebut pada Amera.
Bisa mama Ressa lihat dari sikap Disa, kalau putrinya tidak begitu menyukai Amera. Guna mendinginkan suasana yang sempat memanas, mama Ressa melemparkan senyuman pada Amera.
"Maafin sikap Disa, ya! Gak usah kamu masukin ke hati, dia emang agak sensitif anaknya," Amera pun mengangguk.
__ADS_1
Apa maksud omongan Disa ya? Kenapa dia nilang kalau aku bisa masuk ke dalam keluarga ini berkat dia? Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan hancurnya hubungan aku sama Revan?
Al memperhatikan Amera yang kini tengah melamun. Dia pikir kalau istrinya ini pasti sedang mencerna baik-baik soal ucapan Disa.
"Mama benar, kamu gak usah mikirin omongan Disa!" ucap Al membuyarkan lamunan perempuan itu.
Amera pun menoleh ke arah suaminya. "I-iya, mas."
"Kalo begitu saya berangkat ke kantor, yah. Mah, aku berangkat ya!" pria itu beranjak dari kursinya setelah menyalami mama beserta istrinya.
"Hati-hati, mas!"
"Hati-hati, my son!"
"Iya."
***
Mama Anna kembali ke dalam mobilnya dengan raut wajah kecewa, lantaran seseorang yang hari ini dia datangi sedang tidak ada di rumah alias sedang pergi ke luar kota. Seseorang tersebut merupakam warga yang dulu memberikan seputar informasi tentang putrinya yang di bawa ke Rumah Sakit oleh orang yang kebetulan lewat jalan sana.
"Minggu depan kita coba datang lagi ke sini ya, mah. Sekarang kita langsung ke coffe shop aja!" kata papa Abdi dan mama Anna pun mengangguk lemah.
Sementara di PT. Permadi Jaya, ruangan Al. Arsen memberikan beberapa dokumen penting kepada bosnya itu.
"Tadi bu Meli menitipkan ini ke saya, pak. Katanya hari ini dia gak bisa masuk karena ibunya mendadak masuk rumah sakit."
"Iya. Tadi juga dia sudah memberi tahu saya. Terima kasih ya, Sen!"
"Iya, pak. Sama-sama," Arsen hendak bangun dari tempat duduknya, namun dia teringat sesuatu.
"Oh ya, pak. Beberapa hari lalu, saya gak sengaja melihat mbak Disa keluar dari Apotek," Al langsung mengerutkan dahi mendengarnya.
"Apotek? Ngapain?"
"Iya. Jadi waktu itu saya mau membeli obat untuk mama saya, kemudian gak sengaja melihat mbak Disa di sana. Mbak Disa terlihat membeli obat di Apotek itu. Setelah dia pergi dari sana, saya coba menanyakan ke bagian kasirnya. Dan kasir itu bilang mbak Disa termyata membeli sebuah obat untuk halusinasi."
"Obat halusinasi?"
"Betul, pak."
__ADS_1
Al jadi ingat saat dia menelpon Disa pagi-pagi sekali dan Disa mengatakan dia sedang di jalan saat akan menyusul mencari mamanya.
"Kamu liat dia kapan dan jam berapa, Sen?"
"Sekitar dua hari yang lalu dan jamnya sekitar pukul empat sore, pak," penjelasan Arsen barusan membuat Al menyimpulkan sesuatu.
Disa beli obat sore-sore dan paginya dia lagi di jalan. Apa jangan-jangan malamnya dia pergi ke suatu tempat atau ketemuan sama Revan ya?
"Terima kasih atas infonya, Sen!"
"Iya. Sama-sama, pak."
"Kalau ada apa-apa yang berhubungan dengan keluarga saya, segera lapor saya!"
"Baik, pak. Kalau begitu, saya kembali ke ruangan saya."
"Silahkan!"
***
Mama Anna beserta suaminya tengah makan siang di resto terdekat.
"Pah, gimana kalau nanti malam kita ajak Amera sama Al makan malam di rumah kita? Terus, mereka suruh ajak Disa juga," papa Abdi pun menghentikan aktivitas makannya sebentar.
"Iya, boleh. Terserah kamu aja, mah. Aku sih setuju-setuju aja," mama Anna tersenyum bahagia seraya bergelayut manja di lengan suaminya.
"Yaudah kalo gitu aku coba chat Amera dulu ya, pah," kata mama Anna penuh semangat.
Papa Abdi menghela napas panjang seraya memperhatikan wajah istrinya yang nampak bahagia. Setelah sebelumnya merasa kecewa lantaran penyelidikan mereka soal kebenaran putrinya masih hidup terhenti.
Aku tau, mah. Tujuan kamu mengajak Al sama Amera makan malam itu bukan mereka. Tapi Disa.
___
Mohon dukungannya ya dengan cara LIKE, KOMEN, VOTE, beri HADIAH ❤❤❤ juga.
Tambahkan juga ke RAK FAORIT kalian🤗🤗
Follow ig @wind.rahma
__ADS_1