
Dering ponsel milik Al berbunyi mengeluarkan nama Neni di layar hp-nya. Dia langsung mengangkat telpon tersebut lalu menyambungkannya menggunkan earphone yang kerap ia pakai saat mengemudikan mobil.
"Halo, Nen. Kenapa?"
"Halo, mas Al. Neni cuma mau ngasih tau kalau mbak Amera gak ada di rumah," nada cemas Neni membuat Al pun ijut mencemaskan Amera. Al takut kalau Amera kabur dari rumah kemudian kembali ke orang tuanya lalu menceritakan hal yang sebenarnya.
"Maksud kamu Amera pergi? Coba sekarang kamu tanya sama Mali, Amera pergi kemana?"
"Udah coba Neni tanyain, mas. Tapi Mali juga gak tau kalau mbak Amera pergi kemana. Bilangnya sih mau pergi sebentar tapi udah sore kayak gini mbak Amera belum pulang juga," Al terdiam sejenak, kalau Amera bilang cuma pergi sebentar, itu artinya dia akan kembali.
"Ya udah, kalau begitu saya akan coba hubungi dia. Kalau nanti dia udah pulang jangan lupa telpon saya lagi!" pinta Al sebelum mematikan sambungan.
Setelah sambungan telpon dengan asisten rumah tangganya terputus, Al segera mendial nomer telpon Amera. Tapi sayangnya nomer Amera tidak aktif, hal itu menciptakan kerutan dalam di kening Al.
"Belum sehari aja udah bikin saya repot," ujar Al pada dirinya.
Al melajukan kecepatan mobilnya dua kali lipat dari sebelumnya. Hari mulai gelap sementara Amera harus segera di temukan. Paling tidak Neni mengabarinya kalau Amera sudah ada di rumah. Sampai akhirnya Al nelihat sepasang laki-laki dan perempuan yang tak asing di matanya sedang berbicara di tempat yang sepi. Mereka tampak akrab sehingga Al menghentikan mobilnya kemudian turun dari mobil guna menghampiri kedua orang tersebut. Mereka tampak sedang mengobrol.
"Apa kamu mau pulang? Biar aku antar," tawar pri itu pada seorang wanita di hadapannya. Mereka tak lain merupakan Revan dan Amera.
"Tidak perlu!" ujar Al memecah obrolan di antara mereka. Amera menoleh dan tentunya terkejut melihat Al kini sudah berdiri di hadapannya.
"Laki-laki macam apa anda, yang beraninya menemui perempuan yang sudah bersuami?" Al melontarkan makian kepada Revan, yang di balas senyum seringai olehnya.
"Suami? Suami macam apa yang tega membiarkan istrinya pergi sendirian dan hampir menjadi santapan tiga preman yang lapar akan perempuan?" balas Revan tak kalah sengit.
Mendengar kalimat Revan barusan membuat Al melirikan matanya pada Amera yang saat ini berdiri di sampingnya. Al bisa melihat ketakutan dalam wajah istrinya. Hal tersebut membuatnya bertanya-tanya.
"Maksud anda apa?" tanya Al.
"Harusnya anda berterima kasih sama sama. Karena istri anda baru saja hampir di jadikan santapan oleh tiga orang laki-laki sekaligus," kata Revan menjelaskan. Kemudian memilih pergi daripada ada kesalahpahaman lagi.
"Kalau begitu saya permisi!" pamitnya melipir pergi dari hadapan Al dan Amera.
Al terdiam masih kurang paham dengan apa yang di katakan Revan. Tapi melihat sisa air mata serta ketakutan di wajah istrinya membuat Al berpikir kalau sesuatu buruk telah terjadi pada Amera.
"Lain kali kalau pergi harus izin saya dulu! Saya tidak mau hal-hal seperti ini terjadi lagi," ujar Al dengan tegas.
"Tapi, mas-"
__ADS_1
"Ayo pulang!" belum sempat Amera menjelaskan, tapi Al sudah lebih dulu melipir dan masuk ke dalam mobilnya.
***
"Mas Al, tunggu, mas! Aku mau jelasin ke kamu," Amera mengejar langkah Al yang lebih dulu masuk ke dalam rumah setelah mereka berdua sampai di rumah. Amera harus menjelaskan kejadian yang sebenarnya, dia tidak mau kalau Al sampai berselisih paham dengan Revan.
"Mau jelasin apalagi, sih?" Al terpaksa menghentikan langkahnya saat Amera mendahului dan menghadangnya. Amera menatap suaminya lekat, sambil mengatut deru napasnya yang tersengal-sengal akibat mengejar ketertinggalan langkah suaminya.
"Aku cuma mau minta maaf sama kamu, mas. Aku tadi terpaksa pergi dari rumah tanpa izin kamu dulu. Aku buru-buru, jadi aku tadi mau beli sesuatu di minimarket. Dan di perjalanan pulang, ojek online yang aku tumpangi mendadak pulang karena harus pergi ke rumah sakit, aku di turunkan di jalan tadi. Terus tiba-tiba beberapa orang yang menggoda aku dan dia juga mau berbuat hal yang tidak senonoh sama aku, mas," Amera berusaha menjelaskan, berharap Al akan percaya dengan ucapannya.
"Lalu gunanya hp kamu apa? Kenapa kamu gak nelpon saya saat keadaan genting seperti itu? Kenapa bisa ada Revan di sana?"
"Itu dia, mas. Hp aku mati karena ku lupa charger tadi malam. Kalau soal Revan aku juga gak tau kenapa dia bisa ada di sana. Tapi aku bersyukur banget sih karena dia datang tepat waktu dan nyelamatin aku dari orang-orang itu," mendengar kalimat terakhir Amera tidak tau kenapa membuat Al seakan ingin marah. Padahal seharusnya dia juga bersyukur. Karena Revan, istrinya tidak jadi bahan santapan para preman yanh sedang lapar akan perempuan.
"Revan? Saya rasa ikatan di antara kalian terlalu kuat. Sehingga saat kamu dalam bahaya pun dia bisa muncul kapan saja untuk nyelamtin kamu," setelah mengatakan hal barusan, Al pergi dari hadapan Amera ke kamar dengar raut wajah kesal. Sementara Amera menghela napas setelah menarik napas panjang.
"Mas Al ini kenapa ya? Kok dia bisa sebenci itu sama Revan. Tapi, yaudahlah. Yang penting mas Al percaya kalau aku bertemu dengan itu secara kebetulan," Amera menghirup napas lega.
Entah kenapa, meyakinkan Al dan membuatnya untuk mempercayai perkataannya itu sesuatu yang harus dia lakukan. Padahal dia belum atau tidak mencintai suaminya itu. Tapi kenapa hal itu harud dia lakukan layaknya sepasang suami istri pada umumnya. Begitupun dengan Al yang merasa kesal sekaligus marah saat ada pria lain lain yang mencoba menjadi pahlawan untuk istrinya. Terlebih pria itu merupakan mantan pacar dari istrinya.
Amera yang semula masih berdiri di tempat segera menyusul Al ke kamar.
***
Amera menatap Al yang tidur memunggunginya. Seketika kejadian tadi sore terlintas di pikirannya. Apalagi pertanyaan Al yang di lontarkan kepada Revan.
"Laki-laki macam apa anda, yang beraninya menemui perempuan yang sudah bersuami?"
Kalimat terakhir itu seolah bersarang di kepala Amera.
Aku tidak tahu, apa alasan mas Al menikahi aku. Merusak hubungan antara aku dengan Revan. Aku pikir mas Al juga tidak memiliki perasaan sama aku. Sikapnya juga tidak menunjukkan kalau dia suka sama aku. Tapi kenapa di depan Revan tadi, dia bersikap seolah takut kalau Revan akan kembali merebut aku dari dia.
Amera menghembuskan napas panjang, beberapa kali mengatur detu napasnya juga guna menetralisir sakit di bagian perutnya. Dengan sedikit memijat menggunakan tangannya sendiri guna mengurangi rasa sakitnya. Keringat dingin mulai membasahi dahi sampai ke leher, semua yang dia lakukan berakhir sia-sia. Sakitnya justru kian bertambah, pinggangnya pun ikut terasa panas.
Tak kuasa menahan sakit, Amera sedikit menggerakan tubuhnya berguling kesana kemari. Di selingi ringisan akibat menahan sakit yang tak tertahan. Terkadang PMS bisa semenyiksa ini.
Merasa tubuhnya ikut tergoyang, Al pun yang semula tertidur pulad terbangun. Di lihatnya Amera sedang mengulinh-guling di sampingnya, hal itulah yang menjadi penyebab tempat tidur bergoyang ternyata.
"Kenapa?" tanya Al, matanya belum sepenuhnya terbuka. Awalnya ia ingin memarahi Amera lantaran sudah merusak tidur pulasnya. Tapi mendengar ringisannya, Al mengurungkan niat tersebut.
__ADS_1
"Perut aku sakit banget, mas. Hiks.. Hiks.." Amera tak kuasa menahan sakitnya, sampai akhirnya ia menangis sesenggukan. Melihat istrinya menahan kesakitan sampai menangis, Al pun di buat panik.
"Sakit? Sakit gimana? Apa saya perlu panggilkan Dokter atau kita ke rumah sakit sekarang?" Al sontak bangun dari tempat tidurnya lalu mengajak Amera untuk pergi ke rumah sakit sekarang juga. Dia benar-benar panik. Tapi Amera menggeleng menolaknya.
"Gak perlu, mas. Ini cuma sakit biasa aja, kok."
"Sakit biasa gimana, kamu sampe nangis gini. Pokoknya kita ke rumah sakit sekarang. Jangan bikin saya tambah repot lagi nantinya!" ujar Al tegas. Awalnya Amera berpikir kepanikan Al karena dia cemas. Tapi nyatanya dia tidak ingin di repotkan nantinya dia kenapa-napa.
"Aku cuma butuh kain aja, mas. Biasanya kalau perut aku lagi sakit kayak gini aku ikat pake kain," pinta Amera tak mengurangi ringisannya.
"Tapi itu kan bisa bahaya. Gimana kalau perut kamu nantinya kenapa-napa. Saya lagi juga kan yang repot!"
"Gak akan bahaya, mas Al. Lagian perut aku biasa sakit kalau lagi datang bulan kayak gini," seketika Al terdiam, dia pikir sesuatu yang buruk yang menyebabkan perut istrinya sakit. Ternyata cuma lagi datang bulan aja. Dan para pria menyepelekan hal itu dengan mengatakan 'cuma'.
"Yaudah, tinggu sebentar!" Al pun mencari secarik kain di lemarinya, namun tidak ada kain ddi sana. Sebagai gantinya, Al mengambil dasi lamanya yang mudah-mudahan bisa Amera pakai.
"Saya gak punya kain yang kamu maksud, ini bisa di pake juga kan?" Amera meraih dasi dari tangan Al.
"Bisa kok, mas. Makasih, ya!" kemudian dasi tersebut segera Amera ikatkan di bagian perutnya. Sementara Al keluar dari kamarnya.
Tidak berapa lama, Al kembali dengan membawa segelas air putih di tangannya. Dan Amera terkejut pada saat Al memberikan air tersebut untuknya.
"Minum!" ujar Al ketika Amera justru malah menatapnya. Amera pun mengangguk gugup.
"I-iya," dia langsung meneguk air minum tersebut sampai setengahnya. Amera tidak menyangka kalau Al akaj memberikan perhatian seperti ini untuknya.
"Gimana? Udah enakan?" tanya Al memastikan, lantaran Amera sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Udah. Makasih ya, mas," ucapnya seraya tersenyum.
"Hem. Sekarang tidur! Kalo besok masih sakit, saya akan bawa kamu ke rumah sakit," kemudian Al bersiap-siap untuk tidur lagi.
"Iya, mas," ucap Amera menurut. Dia ikut memejamkan matanya setelah sekilas melirik suaminya yang saat ini tidur menghadap ke arahnya. Senyumnya kembali terbit dari keduatl sudut bibirnya.
___
Tambahkan ke favorit ya dan jangan lupa VOTE.
Follow ig @wind.rahma
__ADS_1