TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 18


__ADS_3

Disa menatap cermin wastafell toilet wanita di gedung pernikahan kakaknya sambil tersenyum menyeringai melihat pantulan wajahnya di sana. Beberapa rencananya berjalan dengan mulus seperti yang dia harapkan.


"Mulai sekarang, Revan jadi milik gie seutuhnya. Perempuan itu bukan lagi pengahalang antara gue dengan Revan. Revan juga akan bisa lagi deket-deket sama perempuan itu. Gue bakalan bikin Revan benci setengah mati sama perempuan itu," lagi-lagi Disa tersenyum penuh kelicikan.


Disa mengambil ponsel di dalam tas di tangannya, kemudian ia menyopot salah satu sim card miliknya. Benda kecil itu kini ia genggam di dalam tangannya.


"Untung gue berhasil dapetin nomer mamanya Revan, tadi. Dan gue yakin, mama sama papanya Revan udah liat foto yang gue kirim. Dengan begitu, mereka pasti akan ikut membenci mantan pacar putranya," kelicikan gadis itu memang tidak dapat di tebak, lantaran ia selalu saja punya rencana agar tujuannya tercapai.


Bayangan On


Pagi-pagi sekali Disa datang ke kantor Revan dengan membawa paper bag berukuran kecil di tangannya. Kemudian ia tersenyum ketika melihat pujaan hatinya sudah ada di ruangan kebesarannya. Ia berjalan mendekat ke arah pria itu lalu memberikan paper bag tersebut yang berisi pakaian yang sengaja ia beli couple dengan yang saat ini ia pakai guna menghadiri acara pernikahan kakaknya.


Setelah berhasil membujuk Revan untuk ikut dengannya ke acara pernikahan tersebut, pria itu pun akhirnya menurut untuk ganti baju. Saat itu Disa mulai menjalankan aksinya, ia mengambil ponsel Revan yang tergeletak di atas meja. Awalnya Disa menggerutu lantaran ponsel pria itu menggunakan password. Tapi sedetik kemudian ingatannya seolah mendukung rencananya.


Dulu, sewaktu mereka masih dekat, Revan menggunakan tanggal lahir sebagai password hp nya. Dan sekarang apa salahnya mencoba memasukkan tanggal lahir pria itu di kolom password tersebut.


Senyuman di bibir gadis tersebut mengembang dengan sempurna. Itu artinya ia berhasil membuka password hp milik Revan. Jari-jarinya mulai lincah ia gerakan di layar hp tersebut, mencari sesuatu yang belum kunjung ketemu. Ketika yang ia cari sudah ia temukan, secepat mungkin dia mengambil ponselnya di tas. Kemudian menyalin kontak seseorang di sana. Mendengar pintu kamar mandi ruang kerja Revan sudah terdengar akan di buka, Disa semakin tergesa-gesa menaruh kembali hp tersebut di tempat semula.


Dan satu hal lagi, pada saat acara ijab kobul di mulai. Diam-diam Disa mengambil foto sang kakak dengan Amera sebagai sepasang pengantin, tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Revan yang duduk di sampingnya. Kemudian mengirim foto tersebut ke nomer telpon yang berhasil dia dapatkan dari ponsel Revan.


Bayangan Off


Tidak mau membuat Revan menunggunya terlalu lama. Disa akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke tempat di mana Revan tengah menunggunya. Namun, pada saat ia keluar dari toilet, seorang wanita paruh baya tidak sengaja menabraknya.


"Ya ampun, kalau jalan lihat-lihat, dong!" Disa mengomeli wanita paruh baya tersebut, tidak tahu kenapa wanita tersebut malah menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat ia artikan. Merasa risih, Disa memilih untuk meninggalkan wanita tetsebut.

__ADS_1


***


Satpam di rumah Alan yang bertugas menjaga gerbang tengah menunggu kepulangannya. Lantaran tidak biasanya bosnya ini pergi dari pagi sampai malam hari. Matanya yang kian menyipit menandakan kalau dirinya mengantuk. Beberapa kali juga mulutnya menguap. Padahal, dia sudah meminum kopi sebanyak dua gelas. Tapi tetap saja hal itu tidak bisa mengusir rasa kantuknya.


"Udah jan segini kok pak bos belum pulang juga, ya? Masa iya Mali harus nyeduh kopi lagi," ujarnya sambil menggaruk tengkuknya yang mungkin terasa gatal.


Tidak berapa lama, klakson mobil terdengar. Dengan cepat mali bangun dari duduknya lalu lari ke arah gerbang.


"Mali, buka gerbang!" teriak Alan yang baru saja pulang.


"Siap pak bos!" Mali membuka pintu gerbang tersebut kemudian menutupnya kembali setelah mobil Alan masuk ke pelataran rumahnya.


Sementara di dalam mobil, Amera yang mulai saat ini menjadi istri Alan tentunya akan tinggal bersama pria itu. Dan ini pertama kalinya ia menginjakan kaki di tempat kediaman keluarga Permadi.


"Ikut saya!" kalimat Alan membangunkan Amera dari segala pemikirannya. Sebelum Alan benar-benar mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah, ia sempat memerintahkan satpam tersebut untuk membawakan koper dari dalam bagasi mobil.


"Mali, tolong kamu bawakan koper yang ada di dalam bagasi mobil saya, ya!" perintah Alan membuat Mali terlonjak kaget akibat melamun. Ia benar-benar tetkejut melihat bosnya pulang bersama bersama perempuan selain Disa dan ibu bosnya.


"Si-siap, pak bos!" jawab Mali sedikit terbata. Alan dan Amera sudah lebih dulu memasuki rumah ketika ia masih menurunkan kopet dari bagasi mobil.


"Mali heran, deh. Kemarin mbak Disa yang bawa-bawa koper pergi dari rumah. Sekarang pak bos bawa perempuan sama koper. Perempuan yang pak bos kira-kira siapa, ya? Apa jangan-jangan pacaranya kali, ya? Kalo beberan pacarnya, pak bos emang paling bisa deh milihnya. Jarang bawa perempuan ke rumah, sekali bawa cantik sama body-nya, bukan maen. Mantap pastinya. Huhuyyy.."


Amera berjalan mengekori Alan sampai mereka terhenti di sebuah ruangan yang bisa Amera tebak itu pasti kamar Alan. Ada rasa takut di benak Amera untuk tidur satu atap satu ruangan satu ranjang dengan Alan. Padahal pria ity sudah menjadi suami sahnya.


Alan yang semula berdiri membelakangi Amera, kini berbalik sampai mereka kini berdiri berhadapan.

__ADS_1


"Ini kamar saya. Kamu boleh tidur di kamar ini juga. Tapi saya minta sama kamu, jangan pernah sentuh apapun yang menjadi milik saya pribadi. Paham?!" gadis yang berdiri di hadapannya terkesiap, mengapa Alan tiba-tiba berubah menjadi pria dingin dan menyeramkan seperti sekarang ini.


Apa ini sifat asli dari Alan Permadi? Dan seketika pertanyaan mengapa pria itu menikahinya kini kembali muncul di kepalanya.


***


Amera baru saja bersih-bersih badannya lalu mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan duduk di samping Alan yang sudah lebih dulu ada di sana. Suaminya tampak serius dan fojus menatap layar laptopnya. Ia tahu, kalau Alan adalah orang sibuk, seperti yang pernah di katakan mana Anna kalau dia merupakan CEO di perusahaannya.


Ini merupakan malam pertama bagi Amera dan Alan setelah sah menjadi sepasang suami istri. Mungkin bagi kebanyakan orang, malam pertama adalah sesuatu yang paling mereka tunggu-tunggu. Berbeda halanya dengan Amera dan Alan, mereka seakan acuh dan tidak perduli mengenai hal itu.


Tidak ada sapaan atau apa, Amera memutuskan untuk tidur lebih dulu. Ia berpikir Alan masih sibuk dengan setumpuk pekerjaannya. Jadi mungkin suaminya tidak akan melakukan apapun malam ini padanya.


Pernikahan macam apa ini, tanpa cinta dan sentuhan malam pertama.


Amera membalikkan tubuhnya membelakangi Alan, seketika ia teringat pesan papanya malam itu untuk tetap menghormati Alan sebagai seorang suami.


Aku tidak tahu pernikahanku akan berakhir seperti apa. Tapi aku janji akan mencoba menjadi seorang wanita layaknya istri pada umumnya.


Setetes air matanya turun membasahi pipi yang sialnya tidak mau berhenti, sampai pada akhirnya Amera pun terlelap. Alan melirik istrinya sekilas, ada perasaan bersalah dia pada wanita yang saat ini tidur di sampingnya.


___


VOTE, VOTE, VOTE sebanyak-banyaknya. Tambahkan ke rak FAVORIT untuk mendapat notifikasi update lanjutan ceritanya.


Follow ig @wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2