TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 51


__ADS_3

Mobil Papa Abdi kini sudah terparkir di depan gerbang rumah Al. Beliau membuka kaca samping mobil untuk memastikan apakah ini benar rumahnya. Saat melihat nomor rumahnya dari tembok gerbang ternyata benar.


"Ini beneran rumahnya? Amera beruntung punya suami seperti Al. Dia harus berterima kasih sama mama karena mama yang udah menerima lamaran Al untuk dia waktu itu," ujar Mama Anna sambil menatap takjub rumah Al dari luar gerbang.


Mali, yang melihat sebuah mobil terparkir di depan gerbang rumah majikannya segera menghampiri.


"Maaf, bapak sama ibu keluarga Bu Amera?" Sebelumnya Mali sudah diberitahu oleh Al kalau ada orang dengan wajah seperti di dalam HP kamera yang diperlihatkan kepada Mali itu datang harus disambut dengan sopan. Lantaran itu merupakan keluarga istrinya.


"Iya, kami orang tuanya Amera. Apa ini benar rumah Al?" Tanya papa Abdi balik. Satpam tersebut pun mengangguk.


"Betul, Pak. Sebentar ya, Mali bukakan gerbang dulu!"


"Iya. Terima kasih ya." Ucap Papa Abdi.


Mali pun membuka gerbang dan mobil Papa Abadi pun masuk ke dalam pelataran rumah Al. Begitu turun dari mobil, Mali menawarkan diri untuk mengantarkan keduanya masuk ke rumah. Papa Abdi dan mama Anna pun mengangguk setuju lalu mereka mengikuti langkah Mali.


"Tunggu sebentar ya Pak, Bu! Saya lapor Bu Amera dulu."


"Iya, silakan!"


Saat hendak mengetuk pintu kamar Ammera kebetulan Neni lewat. "Mali, ngapain kamu mau ngetuk-ngetuk kamar Mas Al?"


Neni menyipitkan matanya mencurigai satpam tersebut. "Jangan macam-macam ya kalau masih betah kerja di sini!" Ujar Neni lagi memberi ancaman.


"Ya elah sembarangan mben Nen. Emangnya Mali ini kelihatan mau maling apa? Mali cuma mau ngasih tahu Bu Amera, Keluarganya udah datang. Sekarang nungguin di rumah di ruang tamu," kata Mali menjelaskan.


"Oh. Ya udah, biar Neni aja yang kasih tahu Mbak Amera. Mbak Amera lagi nungguin Ibu Ressa di kamarnya."


"Oke deh, mbeb Nen. Kalau gitu Mali balik jaga gerbang sekaligus jagain Mbeb Nen dari orang-orang yang mau jahatin. Hehehe ..."


"Hoekss.." Neni menjulurkan lidahnya berasa ingin muntah mendengar gombalan Mali.


"Udah sana balik, hus hus," usirnya.


Mali pun pergi sambil melambaikan tangannya, membuat Neni tambah sebal saja. Neni pun meninggalkan tempat berdirinya saat ini, menuju kamar mama Ressa.


"Permisi, Ibu Ressa!" Neni mengetuk pintu kamar mama Ressa pelan, terdengar teriakan dari dalam kamar.


"Masuk, Nen gak dikunci!" Teriakan tersebut berasal dari suara mama Ressa.


Pintu pun terbuka menampakan Neni dari balik pintu. "Ini Ibu Ressa, Mbak Amera. Kata Mali, di depan ada keluarga Mbak Amera nungguin di sana."


"Kamu suruh mereka ke sini aja ya! Soalnya saya gak bisa nemuin dia ke sana. Badan saya masih agak lemas," kata Mama Resa.


"Baik ibu." Neni menggangguk kemudian keluar dari kamar mama Ressa untuk menemui kedua orang tua Amera.

__ADS_1


Tidak berapa lama, Neni kembali bersama Papa Abdi dan mama Anna yang membawa parcel buah di tangannya.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh .." ucap papa Abdi dan mama Anna segera di jawab oleh mama Ressa dan juga Amera.


"Waalaikumsalam Pa, mah," Amera menyalami kedua orang tuanya. Begitupun dengan mama Ressa. Ini merupakan pertemuan pertama antara besan.


"Saya Abdi titik Papanya Amera."


"Saya Anna, mamanya."


"Ressa, mamanya Al."


Mereka saling mengenalkan diri masing-masing. Pertemuan pertama Mereka terlihat hangat sekali.


"Bagaimana kondisinya saat ini, Bu?" Tanya Mama Anna.


"Alhamdulillah. Sudah lebih membaik Bu Anna."


"Syukurlah Bu Ressa. Oh ya, ini saya bawakan buah-buahan untuk Bu Ressa, mudah-mudahan cepat membaik ya," Mama Ressa menerima parcel buah tersebut.


Amera berinisiatif untuk membantunya menaruh di atas nakas.


"Terima kasih ya, Bu Ana Pak Abdi!"


"Sama-sama, Bu Ressa."


Di dalam foto tersebut terdapat dua orang pasangan suami istri, yakni Mama Ressa dan suaminya. Tatapan Mama Anna terfokus pada wajah pria di dalam foto tersebut, terutama pada bagian ujung batang hidungnya.


Bayangan on


"Kalau namanya saya lupa, tapi untuk ciri-cirinya saya masih ingat. Beliau laki-laki dan mempunyai tahi lalat di bagian ujung batang hidungnya."


Bayangan off


"Maaf Bu Ressa, itu foto Bu Ressa sama suaminya, ya?"


Pertanyaan Mama Anna membuat semua pasang mata menatapnya, terutama Papa Abdi yang saat ini merasa heran dengan mama Anna.


"Iya, Bu Anna. Itu foto saya sama suami saya. Papanya Al."


"Oh, iya ya." Mama Annna mengangguk-anggukan kepalanya.


Kenapa Mama sampai menanyakan hal itu ya? Pikir Papa Abdi heran.


Kenapa kebetulan sekali ya? Ada tahi lalat di bagian ujung batang hidung suaminya Bu Ressa. Aneh. Bu Ressa juga sedari tadi mengenalkan dirinya sebagai mamanya Al. Dan mengenalkan suaminya sebagai Papanya Al aja, kenapa tidak mengenalkan diri mereka sebagai orang tuanya Disa juga?

__ADS_1


***


Arsen menghentikan mobilnya di tempat pemakaman umum. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu saat turun dari mobil. Pria itu menyusuri pemakaman sambil mencari nama makam yang saat ini ia cari. Sampai akhirnya makam itu pun ketemu. Iya bertemu dengan seorang pria tua yang membawa cangkul di bahunya.


"Permisi, mang. Saya mau tanya, pengurus makam di sini siapa ya?"


Pria tua itu menatap penampilan Arsen dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Kebetulan saya sendiri, Pak. Nama saya Wawan. Bapak ada keperluan apa ya di sini? "


"Iya, jadi tadi saya habis ziarah ke makam keluarga saya di sini. Makamnya ada di sebelah sana. Barusan saya lewat sini, ada ranting lumayan besar jatuh ke makam ini. Terus saya bantu untuk buang," jelas Arsen, mang Wawan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oh begitu ya, Pak. Memang beberapa makam yang ada di bawah pohon ini seringkali kejatuhan ranting. Saya dan pengurus makam lainnya kerap menanggung biaya jika ada makam rusak apabila tertimpa ranting yang besar."


"Oh, begitu ya mang. Kalau Boleh saya tahu, Mang Wawan menjadi pengurus makam ini sudah berapa lama? Dan Mang Wawan tahu nggak ini makan siapa?"


"Saya menjadi pengurus makam di sini sudah hampir 20. Makam anak ini kebetulan jenazah yang pertama kali dikuburkan saat saya pertama kali menjadi pengurus makam ini. Saya ikut menguburkannya juga waktu itu, Pak," jelas Mang Wawan.


"Kasihan banget anak ini, Pak. DUlu waktu meninggalnya jasadnya hancur. Apalagi bagian wajahnya. Proses pemakamannya juga agak lama karena darah dari jasad anak ini terus saja keluar. Saya jadi gak tega, apalagi melihat orang tuanya yang nangis sampai pingsan-pingsan. "


Arsen menyimak cerita Mang Wawan.


"Kalau begitu saya duluan ya, Pak. Saya mau cek orang yang mau gali kuburan lagi di sebelah sana," pamit mang Wawan.


"Iya mang, silakan."


Setelah mang Wawan pergi, Arsen pun kembali ke tempat dia memarkirkan mobilny. Ia merogoh ponselnya di saku jas hitam yang dikenakannya. Lalu mendial nomor Al di sana. Al yang saat ini sudah ada di ruangan kantornya langsung mengangkat telepon begitu melihat layar HP nya memunculkan nama Arsen.


"Halo, Sen. Gimana, kamu udah nemuin makamnya?"


"Iya, Pak. Saya sudah menemukan makam anak itu, barusan pengurus makamnya bilang, kalau makam itu adalah makam yang dikuburkan saat beliau pertama kali menjadi pengurus makam di sini. "


"Terus apa dia itu tahu banyak soal makam itu, Sen?"


"Iya, Pak. Barusan beliau cerita sama saya kalau beliau juga ikut dalam proses pemakamannya. Katanya saat proses pemakaman jasad anak itu mengeluarkan banyak darah karena kondisi tubuhnya hancur."


"Jadi sudah bisa dipastikan kalau makam itu asli?"


"Betul, Pak. Bahkan pengurus makamnya bilang, orang tua dari anak ini juga ikut menyaksikan proses pemakamannya."


"Terima kasih banyak atas informasinya, Sen! "


"Sama-sama, Pak."


Setelah menutup sambungan teleponnya, Al memikirkan kembali ucapan Arsen barusan. Dia menaikkan kakinya ke kaki yang satunya lag. Mata dan pikirannya menunjukkan kalau dirinya tengah berpikir keras.


Kalau makam itu beneran asli, sebenarnya itu jasad siapa?

__ADS_1


Al mengusap wajahnya sedikit kasar sambil menghembuskan napas lelah.


_Bersambung_


__ADS_2